
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Dini baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang harus ia kerjakan, ia pun turun ke lobby. Namun sesampainya ia di lobby, ia tidak menemukan keberadaan Dimas di sana.
Dinipun mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Dimas.
"Halo Dimas, kamu masih di kantor?" tanya Dini saat Dimas sudah menerima panggilannya.
"Iya, maaf sayang aku telat jemput kamu," jawab Dimas.
"Nggak papa, aku bisa pulang sendiri kok," ucap Dini.
"Nanti malem aku ke rumah kamu setelah pekerjaanku selesai, love you sayang!"
"Love you too," balas Dini lalu mengakhiri panggilannya.
Saat Dini memasukkan ponselnya ke dalam tas tiba tiba seseorang menepuk pundaknya, membuatnya terkejut dan segera membawa pandangannya ke arah belakangnya.
"Andi!"
Andi hanya tersenyum melihat Dini yang terkejut.
"Kamu mau ketemu kak Adit?" tanya Dini.
"Iya, kamu ngapain di sini? nungguin siapa?"
"Aku..... tadinya nunggu Dimas, tapi dia masih sibuk ternyata," jawab Dini.
"Aku anter kamu pulang kalau gitu, kamu tunggu bentar ya, aku temuin kak Adit dulu!"
"Aku bisa pu....."
Dini menghentikan ucapannya karena Andi berlari begitu saja meninggalkannya. Dinipun duduk di bangku yang ada di lobby untuk menunggu Andi.
Tak lama kemudian Andi kembali, Dinipun beranjak dari duduknya saat melihat Andi berjalan ke arahnya.
"Mau langsung pulang?" tanya Andi.
"Ke home store dulu ya!"
"Oke," balas Andi.
Andi mengendarai mobilnya ke arah home store bersama Dini, sesampainya di home store merekapun segera naik ke balkon.
"Mungkin udah ada seseorang di hatinya Andi, yang bikin Andi susah buka hatinya buat perempuan lain,"
Ucapan Adit kembali terngiang di telinga Dini, membuat Dini ingin menanyakannya secara langsung pada Andi.
"Kamu kapan cuti Din?" tanya Andi pada Dini.
"Besok hari terakhir Ndi, lusa udah cuti," jawab Dini.
"Kamu nggak ada niat buat resign?" tanya Andi.
"Sejauh ini sih belum ada, aku suka kerja sama kak Adit Ndi," jawab Dini.
"Bukannya dia galak ya kalau di kantor?"
"Banget!"
"Tapi kamu malah suka kerja sama dia!"
"Aku belajar banyak dari kak Adit Ndi, nggak cuma tentang pekerjaan tapi juga banyak hal lain di luar pekerjaan, kak Adit udah kayak kakak aku sendiri," ucap Dini.
"Iya, dia emang kakak yang baik," balas Andi.
Dini memainkan jari jarinya di atas meja, ia ragu apakah ia harus menanyakan hal itu pada Andi atau tidak.
Sebagai sahabat ia ingin tau siapa sebenarnya yang diam diam Andi cintai selama ini. Ia ingin tau siapa perempuan beruntung yang sudah mendapatkan hati sahabatnya itu.
"Ada yang mau aku tanyain sama kamu, aku nggak tau kamu mau jawab apa enggak," ucap Dini.
"Kamu mau tanya apa?"
"Mmmmm..... sebenernya apa alasan kamu putus sama Aletta dulu?"
"Kan kamu tau Aletta sendiri yang ngajak putus, aku udah jelasin semuanya kan sama kamu."
"Iya sih, kamu bilang kamu belum bisa cinta sama Aletta dan Aletta tau tentang itu, apa mungkin karena udah ada seseorang yang kamu cintai yang bikin kamu nggak bisa cinta sama Aletta?"
Andi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Dini. Kejadian itu sudah berlalu sangat lama dan Dini baru menanyakan hal itu padanya.
"Kenapa kamu tiba tiba tanyain masalah itu?" balas Andi bertanya.
"Aku cuma baru kepikiran aja, siapa perempuan yang udah berhasil bikin kamu jatuh cinta selama ini," jawab Dini.
"kamu, cuma kamu yang bikin aku jatuh cinta, jatuh sedalam dalamnya tanpa bisa aku hentikan," ucap Andi dalam hati.
"Aku?" tanya Dini dengan menunjuk dirinya sendiri, membuat Andi seketika terkejut bukan main.
"Haahh... apa?"
"Jangan bilang gara gara kamu deket sama aku, Aletta jadi berpikir kalau kamu sebenarnya suka sama aku!" ucap Dini.
Andi masih terdiam seolah pikirannya kosong tiba tiba.
__ADS_1
"Atau mungkin sebenarnya kamu suka sama Anita, iya?" terka Dini.
"Anita? kenapa Anita?"
"Perempuan pertama yang deket sama kamu selain aku adalah Anita, kalian dulu deket banget, bisa jadi dia cinta pertama kamu dan itu yang bikin kamu nggak bisa buka hati kamu buat Aletta, iya kan?"
"Kamu kayaknya harus istirahat deh Din daripada mikir yang enggak enggak," ucap Andi yang kesal dengan teori yang Dini jelaskan.
Baru saja Andi berpikir jika Dini tau bahwa perempuan yang Andi cintai selama ini adalah dirinya sendiri.
Namun tiba tiba saja Dini berpikir jika perempuan itu adalah Anita yang jelas jelas masih mengejar Dimas saat mereka masih kuliah.
"Aku tadinya nggak mikirin hal ini Ndi, tapi kak Adit bilang kalau kamu nggak bisa cinta sama Aletta bisa jadi karena kamu udah mencintai perempuan lain yang....."
Dini seketika membungkam mulutnya sendiri saat tanpa sengaja membocorkan percakapannya dengan Adit tadi siang.
"Kak Adit? kamu cerita sama kak Adit tentang Aletta?" tanya Andi yang tampak semakin kesal pada Dini.
"Maaf," ucap Dini pelan karena merasa bersalah.
"Kamu cerita apa aja sama kak Adit?"
"Aku bilang kalau kamu dulu pacaran sama Aletta dan putus karena kamu bilang kamu nggak bisa cinta sama Aletta," jawab Dini tanpa berani membawa pandangannya pada Andi.
"Dan kamu berpikir kalau aku nggak bisa cinta sama Aletta karena aku cinta sama Anita?" tanya Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan menundukkan kepalanya.
Andi lalu berdiri dari duduknya dan menghembuskan napasnya kasar. Gara gara ucapan Adit, Dini berpikir jika Andi mencintai Anita dan itu membuat Andi sangat kesal.
Dini yang merasa bersalah lalu ikut berdiri dan memeluk Andi dari belakang.
"Aku minta maaf Ndi, nggak seharusnya aku ceritain masalah pribadi kamu sama kak Adit," ucap Dini.
Andi hanya diam saat Dini memeluknya. Mereka memang sudah bersepakat untuk lebih menjaga jarak, namun itu bukanlah hal yang mudah mengingat 26 tahun kebersamaan mereka selama ini.
Kebiasaan dan hal hal kecil yang sering mereka lakukan membuat mereka tanpa sadar melanggar batas yang sudah mereka tetapkan.
Andi lalu melepaskan tangan Dini yang melingkar di pinggangnya. Melangkah maju dan menghadap Dini saat mereka sudah berjarak.
Dini hanya diam dengan menundukkan kepalanya, ia merasa Andi sedang marah padanya. Bisa jadi sangat marah karena Andi melepaskan tangannya begitu saja tanpa balik memeluknya seperti biasa.
Andi menghembuskan napasnya pelan, lalu kembali mendekat pada Dini dan memegang kedua bahu Dini.
"Aku nggak marah sama kamu, asalkan kamu jangan berpikir terlalu jauh sebelum kamu tau kebenarannya," ucap Andi.
Dini hanya diam, entah kenapa dalam hatinya ia menunggu Andi untuk merengkuh dirinya ke dalam pelukan Andi.
"Aku minta maaf," ucap Dini pelan.
Andi menyerah, ia tidak bisa membiarkan Dini seperti itu di hadapannya. Andi lalu menarik Dini dan mendekapnya ke dalam pelukannya.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Andi.
Tepat saat Andi baru saja memeluk Dini, Aletta datang, melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi.
Aletta tersenyum tipis lalu kembali menuruni tangga dan meninggalkan home store.
Aletta berjalan ke arah mini market di seberang home store Andi. Berdiam diri beberapa saat di sana sebelum akhirnya kembali ke home store setelah membeli 3 minuman dan beberapa makanan ringan.
Aletta menarik napasnya dalam dalam sebelum melangkahkan kakinya untuk kembali menaiki tangga.
Saat sudah berada di atas, ia tidak menemukan Dini di sana, hanya ada Andi yang sedang duduk merenung menatap jalan raya.
Aletta lalu menghampiri Andi dan duduk di sebelahnya.
"Mikirin apa sih?" tanya Aletta mengejutkan Andi, tapi Andi tidak terkejut sama sekali dengan kedatangan Aletta.
"Kamu kok nggak kaget sih, nggak seru deh!"
"Ya ampun Aletta, kamu di sini, aku kaget banget!" ucap Andi yang membuat Aletta melayangkan tinjunya di lengan Andi.
"Nggak usah lebay!" ucap Aletta sambil mengeluarkan isi dari dalam kantong belanjanya.
"Kenapa kamu keluar lagi?" tanya Andi.
"Keluar dari mana maksud kamu?" balas Aletta bertanya sambil memberikan satu botol minuman pada Andi.
"Kamu liat itu?" tanya Andi sambil menunjuk halaman depan home storenya.
"Apa?" tanya Aletta tak mengerti maksud Andi.
"Aku bisa liat kamu dari sini," ucap Andi.
Aletta hanya diam dengan mengalihkan pandangannya dan menyeruput minuman miliknya.
"Kenapa Ta?" tanya Andi dengan memutar bahu Aletta agar menghadap ke arahnya.
"Aku.... aku emang mau beli minum dulu sebelum ke sini," jawab Aletta beralasan.
Andi lalu menarik kantong belanja Aletta dan mengeluarkan sisa isinya.
"Kenapa ada 3 botol minuman?" tanya Andi.
Aletta menghembuskan napasnya kasar menyadari kebodohannya. Ia salah sudah berusaha membohongi laki laki yang sudah tidak dipertanyakan kecerdasannya.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu sengaja beli 3 karena yang dua buat kamu sendiri atau buat aku, karena aku tau kamu nggak suka minuman susu dan kamupun tau kalau aku juga nggak suka," lanjut Andi.
"Oke oke, aku kalah," balas Aletta dengan memutar kedua bola matanya.
"Hahaha.... jadi kenapa turun lagi? karena ada Dini di sini?"
"Karena aku liat kamu pelukan sama dia dan aku nggak mau ganggu kalian," jawab Aletta.
Andi hanya tersenyum dan mengacak acak rambut Aletta.
"Dia dimana sekarang?" tanya Aletta sambil mengedarkan pandangannya.
"Barusan dijemput Dimas," jawab Andi.
Aletta hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Andi.
"Kamu cemburu?" tanya Andi yang sengaja menggoda Aletta.
"Nggak ada alasan buat aku cemburu Ndi," balas Aletta ketus.
"Hahaha.... oke oke."
Andi dan Aletta membicarakan banyak hal sampai matahari mulai tenggelam.
Andi lalu berniat untuk mengajak Aletta pulang dan bertemu mamanya. Andi lalu berdiri dari duduknya dan menarik tangan Aletta.
"Ikut aku!"
"Kemana?" tanya Aletta sebelum ia ikut beranjak dari duduknya.
"Ikut aja, ayo!"
Alettapun mengikuti Andi untuk turun dari balkon. Andi membuka pintu mobilnya untuk Aletta, namun Aletta ragu untuk masuk.
"Kasih tau dulu mau kemana?" tanya Aletta.
"Ke rumah, mama mau ketemu kamu," jawab Andi.
"Kamu gila!" pekik Aletta tak percaya.
"Kenapa? apa yang salah?" tanya Andi tak mengerti.
"Kamu liat penampilan aku Ndi, mana mungkin aku bisa temuin mama kamu dengan penampilan kayak gini!"
"Nggak ada yang salah sama penampilan kamu Ta, ayo!"
"Enggak, nggak mau, gila kamu ya!" ucap Aletta menolak dan berlalu meninggalkan Andi untuk duduk di bangku yang ada di sana.
Aletta duduk dengan celana jeans panjang, kaos polos dan kemeja jeans, rambut panjang diikat ekor kuda dan tanpa make up di wajahnya.
Ia tau siapa keluarga Andi saat itu dan ia merasa sedang bunuh diri jika ia menemui mama Andi dengan penampilannya yang seperti itu.
Sejak Aletta bekerja di perusahaan fashion, ia memang merubah penampilannya. Ia meninggalkan pakaian lamanya yang jauh dari kata girly bahkan saat di luar kantor.
Namun hari itu ia sengaja merubah kembali penampilannya seperti saat ia masih kuliah karena ia merasa Andi lebih menyukainya dengan penampilan seperti itu.
Jika ia tau Andi akan mengajaknya untuk menemui mamanya, ia pasti akan mengenakan pakaian layaknya perempuan anggun pada umumnya.
"Ta, mama nggak akan menilai kamu cuma dari penampilan kamu, percaya sama aku!" ucap Andi berusaha membujuk Aletta.
"Gimana kalau setelah mama kamu liat aku yang kayak gini, mama kamu minta kamu buat jauhin aku!"
"Hahaha..... kamu kebanyakan liat sinetron Ta, aku tau gimana mama, mama nggak kayak gitu," ucap Andi.
"Tapi....."
"Ada aku di sana Ta, aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu, termasuk mama," ucap Andi berusaha meyakinkan Aletta.
"Gimana kalau aku ganti baju dulu? kita mampir ke....."
"Kelamaan Ta, udah ayo!" ucap Andi sambil menarik tangan Aletta dan kembali membuka pintu mobilnya untuk Aletta.
Dengan ragu Aletta melangkahkan kakinya untuk masuk ke mobil Andi. Ia berharap jika ia tidak melakukan hal yang salah dengan mempercayai ucapan Andi.
"Kamu tau kakak ku kan Ta?" tanya Andi pada Aletta.
"Iya tau, Aditya Putra, CEO muda tampan dan dingin, terkenal tegas dan keras di kantor, iya kan?"
"Kamu akan tau gimana dia kalau di luar kantor dan aku harap kamu nggak terkejut nanti," ucap Andi.
Aletta hanya diam dengan menelan ludahnya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat ia bertemu dengan mama dan kakak Andi nanti.
Aletta tau mereka adalah keluarga terhormat dengan perusahaan besar yang sukses. Sedangkan ia sendiri datang menemui mereka dengan pakaian layaknya anak jalanan yang derajatnya jauh di bawah mereka.
Itu lah yang Aletta pikirkan selama di perjalanan menuju ke rumah Andi. Wajahnya terlihat tegang bahkan lebih tegang daripada saat ia sidang untuk kelulusannya.
"Jangan berpikiran terlalu jauh Ta," ucap Andi yang menyadari kegugupan Aletta.
"Aku belum siap Ndi, kita beli baju aja gimana?"
"Nggak perlu, kamu nggak perlu jadi orang lain di hadapan keluarga ku," ucap Andi.
Aletta memejamkan matanya berusaha menghalau pikiran pikiran negatif yang memenuhi kepalanya.
"Everything will be okay Ta, percaya sama aku," ucap Andi dengan menggenggam tangan Aletta.
__ADS_1
Aletta seketika membuka matanya saat Andi menggenggam tangannya. Ia membawa pandangannya pada Andi dan saat itu juga Andi memberikan senyumnya pada Aletta.
Aletta pun tersenyum dan merasa bunga bunga dalam hatinya kembali bermekaran.