Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Biarkan Aku Egois!


__ADS_3

Gelap masih menyelimuti malam dengan angin yang berhembus pelan. Andi masih berada di rumah Dini.


Melihat foto kenangan lamanya bersama Dini membuat Andi semakin tidak ingin melepaskan Dini dari pelukannya.


"kamu yang menemani Dini dari kecil dan kamu yang selalu bisa memberikan Dini kebahagiaan, jangan menyerah atas perasaan kamu, ibu yakin Dini akan jauh lebih bahagia bersama kamu,"


Ucapan ibu Andi membuat Andi semakin bertekad untuk mengungkapan perasaannya pada Dini.


Ia tak peduli pada apa yang terjadi setelahnya, bagi Andi apapun yang terjadi Dini berhak tau tentang perasaannya yang sudah lama ia pendam selama ini.


"Andi, kamu kenapa?" tanya Dini yang merasa Andi sedang tidak baik baik saja.


"Aku nggak mau lepasin kamu Din," ucap Andi dengan suara lirih.


"Ndi, kamu....."


"Aku sayang sama kamu Din, aku....."


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas membuat Andi segera melepaskan pelukannya pada Dini.


Dinipun menerima panggilan Dimas.


"Halo sayang, kamu udah tidur? apa aku ganggu tidur kamu?"


"Enggak kok, aku belum tidur, ada apa?"


"Besok aku jemput kamu sepulang kerja, jam 4 tepat, aku janji kali ini aku nggak akan kecewain kamu," ucap Dimas.


"Jangan tinggalin pekerjaan kamu cuma buat ke toko bunga Dimas, aku bisa....."


"Enggak sayang, aku tau beberapa hari ini aku terlalu sibuk, aku minta maaf ya!"


"Nggak papa, aku ngerti," balas Dini.


"Besok aku akan pulang lebih awal dan sampai di tempat kerja kamu tepat jam 4, kita beli semua bunga yang kamu mau," ucap Dimas meyakinkan.


"Oke, kamu akan dapat hukuman kalau kamu telat!" balas Dini senang.


"Oke sayang, ya udah aku lanjut kerjain presentasi ku dulu ya, love you!"


"Love you too," balas Dini.


Panggilan berakhir. Dini lalu menaruh ponselnya dengan wajah berseri.


"Kenapa?" tanya Andi.


"Besok Dimas jemput aku di kantor," jawab Dini dengan tersenyum senang.


"Bukannya dia lagi sibuk?" tanya Andi.


"Iya, beberapa hari ini emang dia lagi sibuk banget dan aku sering ngeluh sama kamu karena Dimas terlalu sibuk, tapi sekarang aku tau kalau dia tetap berusaha buat sempetin waktunya buat siapin pernikahan kita dan aku tau dia kerja keras buat masa depan kita," jawab Dini.


"Dimas akan jadi suami yang sangat sibuk Din, mungkin dia nggak akan punya banyak waktu buat kamu, kamu nggak keberatan dengan hal itu?"


Dini menggeleng pelan dengan senyum di wajahnya. Ia ingat bagaimana Dimas bekerja keras demi bisa pindah ke perusahaan utama dengan cepat.


Dimas bahkan tidak mempedulikan kesehatannya karena hal itu.


"Aku yakin dia bisa bagi waktunya dengan baik dan aku akan jadi istri yang baik dengan mendukung dan memberi semangat suamiku nanti," jawab Dini yang membuat Andi kembali "tertampar" dengan keras.


"istri?" batin Andi dalam hati.


Dini lalu menarik tangan Andi dan menggenggamnya.


"Terima kasih karena udah jadi bagian terbaik dalam hidupku," ucap Dini dengan menatap wajah sahabatnya itu.


"Jadi, apa yang bikin kamu sedih sekarang?" lanjut Dini bertanya


"Aku sedih karena semakin dekat tanggal pernikahan kamu, aku semakin ingin memiliki kamu dan aku semakin nggak bisa merelakan kamu dengan Dimas, maaf karena udah memiliki perasaan yang egois ini, maaf karena sudah menjadi sahabat yang buruk buat kamu," jawab Andi dalam hati.


"Andi, kamu nggak mau cerita sama aku?" tanya Dini membuyarkan lamunan Andi.


"Aku.... aku cuma nggak mau apa yang ada di album foto ini cuma jadi kenangan buat kita," jawab Andi.


"Kamu bukan cuma kenanagan Ndi, kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku," ucap Dini.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


Malam semakin larut, Andipun berpamitan pulang.


**


Pagi kembali menyapa, Andi pergi ke rumah Dini untuk mengantarkan Dini berangkat ke kantor.


"Kalau Ica sama Aca tau kamu anterin aku lagi, mereka pasti heboh banget!" ucap Dini saat mereka sudah berada dalam perjalanan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Andi.


"Mereka pikir kamu suka sama aku, padahal aku udah jelasin kalau kita udah bersahabat lama dan...."


"Apa aku nggak boleh suka sama kamu?" tanya Andi yang membuat Dini terdiam seketika.


"Emang kamu nggak suka sama aku?" lanjut Andi bertanya.


"Aku... aku... aku suka sama kamu, kamu baik, pinter dan.... dan kamu adalah sahabat terbaik ku," jawab Dini gugup.


Andi hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Dini.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari mama Dimas dan Dini segera menerima panggilan itu.


"Halo ma."


"Halo Din, mama cuma mau ingetin, satu Minggu sebelum hari pernikahan kamu, kamu harus udah siapin gaunnya ya, kalau belum dapat juga kita balik ke butik yang kemarin lagi, gimana?"


"Tapi di butik itu nggak ada gaun yang menarik buat Dini ma," balas Dini.


"Waktu kamu satu Minggu sayang, setelah itu mama yang akan menentukan gaun yang akan kamu pakai," ucap mama Dimas.


"Iya ma, Dini akan dapatin gaun itu sebelum satu Minggu," balas Dini.


"Good, mama tutup dulu ya teleponnya, bye sayang!"


Panggilan berakhir. Dini mengembuskan napasnya pelan lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Ada apa Din? soal gaun lagi?" tanya Andi.


"Iya, mama kasih aku waktu satu Minggu buat dapatin gaun yang aku mau," jawab Dini.


"Kalau kamu belum dapet gaunnya?"


"Mama yang akan cariin," jawab Dini tak bersemangat.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dini. Ia sudah bertekad untuk tidak memberikan gaun hasil desain nya pada Dini jika Dini akan mengenakannya bersama Dimas.


Untuk sesaat ia membiarkan dirinya menjadi seseorang yang egois.


Sesampainya di tempat kerja Dini, Dini segera keluar dari mobil Andi Sedangkan Andi segera melanjutkan perjalanannya ke arah home store.


"setidaknya kamu harus tau apa yang selama ini aku rasain Din, setelah itu terserah kamu, apa kamu mau masih tetap menganggap aku sahabat atau enggak, kalaupun kamu jauhin aku karena hal itu, setidaknya aku tau Dimas bisa menjaga kamu dengan baik saat aku udah jauh dari kamu," batin Andi dalam hati.


Ia merasa sudah terlalu lama bersabar dengan cinta dalam hatinya. Jika dulu ia menganggap Dimas bisa memberikan segalanya daripada dirinya, maka saat itu ia merasa jika dirinya pun bisa memberikan apapun yang Dini inginkan, bahkan kebahagiaan lebih dari yang Dimas berikan pada Dini.


"apa aku egois? enggak, aku nggak egois hanya karena mengungkapkan perasaan yang udah lama aku simpan sendiri, sekarang saatnya Dini tau sebelum semuanya terlambat," batin Andi dalam hati.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Dimas berada di lobby perusahaan Adit. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan meminta asistennya untuk menghandle sisanya.


Kepindahan Dimas yang baru saja terjadi, jabatan baru yang dipegangnya dan pernikahannya yang sebentar lagi akan di laksanakan membuat Dimas harus pintar mengatur waktunya jika ingin semuanya berjalan lancar.


Meski sang mama siap untuk menyiapkan semuanya, tapi Dimas mengerti jika Dinipun ingin terlibat dalam persiapan pesta pernikahannya sendiri.


Namun kesibukan Dimas terkadang membuat Dini harus rela menyiapkannya sendiri bersama sang mama atau bersama Andi.


Dimas tidak masalah dengan hal itu selama Dini bisa mendapatkan apa yang ia mau.


Namun di sisi lain, Dimas juga merasa bersalah jika hal itu terus terjadi dan takut membuat Dini terbebani dengan kesibukannya di kantor.


Dimaspun berusaha mengatur waktunya dengan baik tanpa mengabaikan Dini dan bersama sama menyiapkan pesta pernikahan mereka.


Sudah 15 menit Dimas berada di lobby, beberapa orang yang melihat Dimaspun saling berbisik.


Mereka baru mengetahui jika Dimas adalah CEO baru perusahaan terbesar di sana dan tentu saja karena wajah tampannya yang membuat para gadis memandang tak berkedip pada Dimas.


Di sisi lain, Dini yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya segera keluar dari ruangannya dan memastikan pada Adit jika sudah tidak ada lagi yang harus ia kerjakan.


Dini mengambil ponselnya dan tidak melihat Dimas yang menghubunginya.


"apa kamu masih sibuk? kamu bahkan nggak hubungin aku dari pagi," batin Dini dalam hati.


Dini kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berjalan ke arah lift tak bersemangat.


"Andi jemput kamu lagi?" tanya Ica yang hanya dibalas gelengan kepala Dini.


"Jangan sedih gitu dong, Andi pasti lagi sibuk jadi nggak bisa jemput kamu," ucap Ica.


"Aku nggak nunggu Andi kok, aku nunggu......"


Dini menghentikan ucapannya saat ia melihat Dimas duduk di lobby. Diantara banyaknya orang yang ada di lobby, pandangan Dini seketika tertuju pada Dimas yang berada di sana.


Aura ketampanan Dimas memang menjadi magnet bagi siapapun yang berada di sana.

__ADS_1


"Dimas," lanjut Dini dengan senyum di wajahnya.


Seketika Ica dan Aca membawa pandangan mereka ke arah Dini memandang dan menggeleng tak percaya saat Dini berjalan menghampiri Dimas.


Ica dan Aca lebih tak percaya lagi saat Dimas berdiri dari duduknya, menyambut Dini, memeluk dan mencium kening Dini.


Ica seketika berteriak dan Aca segera membungkam mulut Ica meski ia sendiri juga terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Mereka tau Dimas bukanlah laki laki sembarangan. Laki laki yang diidamkan banyak perempuan itu ternyata milik Dini, teman baik mereka.


"Gila, Dini bener bener gila, bisa bisanya dia diem aja punya pacar kayak Dimas," ucap Ica dengan menggelengkan kepalanya.


"Bukan kayak, itu emang Dimas, Dimas Raditya Adhitama, Dini bener bener levelnya di atas kita Ca!" ucap Aca.


"Iya iya bener," balas Ica dengan menganggukkan kepalanya cepat.


Dini dan Dimas lalu berjalan keluar kantor. Dimas mengendarai mobilnya ke arah toko bunga yang sudah Dini tentukan sebelumnya.


Mereka lalu memesan berbagai macam bunga sesuai dengan list yang sudah Dini buat.


"Kamu tadi kenapa nggak bilang kalau udah dateng?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku sengaja nunggu kamu sayang, aku nggak mau ganggu pekerjaan kamu," jawab Dimas.


"Kamu beneran datang jam 4?"


Dimas menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Dini.


"Kamu dari pagi nggak ada kabar, aku pikir kamu sibuk banget dan nggak sempet jemput aku," ucap Dini.


"Maaf sayang, maaf karena beberapa hari ini aku terlalu sibuk sama pekerjaanku, aku akan atur waktuku sebaik mungkin supaya bisa nemenin kamu siapin semuanya," ucap Dimas.


"Yang penting kamu selalu jaga kesehatan kamu Dimas, aku bisa siapin semua ini sama mama atau Andi kalau kamu lagi sibuk," balas Dini.


"Kamu akan menikah dengan aku Andini, aku yang harusnya nemenin kamu, bukan mama apalagi Andi," ucap Dimas.


"Kamu cemburu ya?" tanya Dini menggoda Dimas.


"Enggak," jawab Dimas singkat dengan mengalihkan pandangannya dari Dini.


Dini hanya tersenyum gemas lalu memeluk Dimas dengan manja.


Dimaspun membalas pelukan Dini dan mencium keningnya.


Jika hubungan yang didasari dengan rasa percaya, saling mengerti dan komunikasi yang baik maka masalah akan cepat teratasi tanpa harus ada yang merasa tersakiti lebih jauh.


Itulah yang Dini dan Dimas sedang usahakan saat itu.


**


Di sisi lain Andi yang masih berada di home store sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyatakan perasaannya pada Dini.


Andi lalu mengingat A yang memberinya surat, Andipun akan melakukan hal yang sama dengan memberikan Dini sebuah surat.


Andi lalu mengambil kertas dan bulpen untuk mencurahkan semua isi hatinya yang terpendam selama ini.


Semua yang ia rasakan pada Dini selama ini ia tuangkan dalam tulisan di atas kertas putih. Sebuah foto dirinya dan Dini saat masih kecil ia tempelkan di atas amplop biru yang sudah ia siapkan.


Ia akan mengungkapan perasaanya secara langsung pada Dini setelah Dini membaca surat itu terlebih dahulu.


Ia tidak peduli apa yang terjadi setelah Dini mengetahui perasaannya, ia hanya ingin Dini mengetahuinya sebelum ia menyesal karena sudah memendamnya terlalu lama.


Andi lalu pergi ke rumah Dini, namun Dini belum pulang dari kantornya. Andipun meminta izin pada ibu Dini untuk masuk ke kamar Dini dengan alasan meminjam buku milik Dini.


Ibu Dinipun mengizinkan Andi untuk masuk ke kamar Dini. Andi lalu meletakkan surat dengan amplop berwarna biru itu di atas sebuah buku yang ada di meja Dini.


Ia tau setiap malam Dini selalu membaca buku dan buku yang dibacanya pasti ia letakkan di meja yang ada di dekat ranjangnya.


Dengan begitu sudah dipastikan jika malam itu Dini akan melihat surat itu dan membacanya.


"biarkan aku egois Din, sekali ini saja," batin Andi dalam hati lalu keluar dari kamar Dini dan berpamitan pada ibu Dini untuk pulang.


**


Di sisi lain, Dimas sudah dalam perjalanan mengantarkan Dini pulang.


Mereka mengobrol di rumah Dini sebelum akhirnya Dimas meninggalkan rumah Dini.


Dini lalu masuk ke kamarnya, merebahkan badannya beberapa saat sebelum mandi.


Saat Dini beranjak dari ranjangnya, ia melihat sebuah amplop biru di atas bukunya.


Dini lalu membawa langkahnya ke arah meja dan mengambil sebuah amplop biru dengan foto dirinya dan Andi di depannya.


"Andi, kapan dia kesini?"


Dini lalu membuka amplop itu dan mengeluarkan isi dari dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2