
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dimas masih berada di rumahnya dan bersiap untuk menemui Dini.
Setelah berpamitan pada mama dan papanya, Dimas lalu membawa mobil sang papa ke rumah Dini.
Sesampainya di sana, Dini menyambutnya dengan sebuah pelukan.
"Kamu tadi pulang sama Andi?" tanya Dimas.
"Iya, dia nganterin aku pulang," jawab Dini.
"Sayang, aku mau ketemu Andi," ucap Dimas.
"Jangan Dimas, dia masih marah sama kamu, tunggu kemarahannya mereda dulu!"
"Aku harus ketemu dia sekarang Andini, aku harus tunjukin sesuatu sama dia, kamu juga!"
"Kamu mau nunjukin apa?" tanya Dini.
"Sesuatu yang akan bikin kamu dan Andi tau gimana Anita sebenernya," jawab Dimas.
"Maksud kamu?"
"Kamu akan tau jawabannya nanti sayang, sekarang ikut aku buat ketemu Andi," jawab Dimas.
Dini lalu kembali masuk ke dalam rumah, mengambil ponselnya dan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, kamu dimana?" tanya Dini saat Andi sudah menerima panggilannya.
"Aku masih di gedung home store yang baru Din, kenapa?"
"Aku kesana sekarang ya!"
"Aku jemput kamu aja!"
"Jangan, ini aku udah di jalan kok," ucap Dini beralasan.
"Oke, nanti masuk aja, aku ada di lantai dua."
"Oke, bye."
Dini mengakhiri panggilannya lalu memberi tahu Dimas jika Andi berada di gedung home store yang baru.
"Apa di sana udah ada komputer atau laptop?" tanya Dimas.
"Setau ku udah ada satu komputer di sana, kenapa?"
"Aku butuh komputer nya nanti, kita ke sana sekarang."
Dimas lalu mengendarai mobilnya ke arah gedung home store Andi yang baru. Sesampainya di sana Dimas dan Dini segera turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung.
"Sepi banget sayang," ucap Dimas pada Dini.
"Mungkin yang lainnya udah pada pulang," balas Dini.
Sebelum mereka naik ke lantai dua, Dini menahan tangan Dimas membuat Dimas menghentikan langkahnya.
"Kalian gak akan berantem lagi kan?" tanya Dini khawatir.
"Kamu tau aku nggak pernah nyerang Andi duluan sayang," jawab Dimas.
Dini menganggukkan kepalanya lalu menggandeng tangan Dimas untuk diajak naik ke lantai dua.
Di sana sudah ada Andi yang menunggu Dini. Andi tidak tau jika Dini datang bersama Dimas.
"Kamu nggak bilang kalau kamu sama dia!" ucap Andi pada Dini.
Dini lalu melangkah ke arah Andi dan menggenggam tangan Andi, ia tidak ingin terjadi perkelahian lagi di antara Andi dan Dimas.
"Aku mohon dengerin Dimas dulu, setelah ini terserah kamu mau gimana, tapi tolong kasih Dimas kesempatan buat jelasin semuanya," ucap Dini.
Andi hanya diam dengan menatap Dimas yang berdiri tak jauh darinya. Sedangkan Dimas hanya diam meski ia cemburu melihat Dini yang menggenggam tangan Andi di hadapannya.
"10 menit, setelah itu aku nggak akan ragu buat hajar dia lagi," ucap Andi pada Dini.
"Oke, sekarang aku mau pinjem komputer kamu," ucap Dini.
"Buat apa?" tanya Andi.
"Aku juga nggak tau, ada yang mau Dimas tunjukin ke kita," jawab Andi.
"Ada di lantai satu," ucap Andi lalu menggandeng tangan Dini dan mengajaknya turun ke bawah.
Andi berjalan melewati Dimas begitu saja tanpa melepaskan tangan Dini dari genggaman nya.
Dimas hanya tersenyum tipis lalu mengikuti Andi dan Dini.
__ADS_1
"Oke, sekarang kalian liat apa yang sebenarnya terjadi di tempat parkir tadi!" ucap Dimas lalu menyalakan komputer itu dan menancapkan flashdisk di sana.
Dimas lalu membuka sebuah file video yang ia dapat dari dashcam mobil yang ada di tempat parkir itu.
Keberuntungan seperti sedang memihak pada Dimas, di saat Andi dan Dini terkecoh oleh kelicikan Anita, Dimas bisa mendapatkan rekaman video beserta suara dari mobil yang ada di belakangnya.
Dini dan Andi fokus memperhatikan apa yang ada di layar komputer saat itu. Dimas memperlihatkan dari awal Anita mendatanginya sampai Anita menamparnya dan ia kehilangan kontrol emosinya lalu menampar Anita.
Yang membuat Dini dan Andi membelalakkan matanya tak percaya adalah saat Anita memukul dirinya sendiri sampai terluka sesaat sebelum Andi datang.
Setelah video berakhir, Andi dan Dini hanya saling pandang. Semua percakapan Dimas dan Anita terdengar dengan jelas dalam rekaman itu.
"Aku nggak peduli, aku nggak akan berhenti buat berusaha dapetin kamu Dimas, sampe kapanpun kalian nggak akan bahagia selama ada aku di sini!"
Ucapan Anita seperti merasuk jauh ke dalam pikiran Dini. Beberapa saat yang lalu ia merasa bersalah dan meminta maaf dengan tulus pada perempuan yang akan menghancurkan kebahagiaan nya.
Ia tidak habis pikir pada apa yang Anita lakukan. Ia merasa sangat bodoh karena berhasil masuk dalam kelicikan yang Anita buat.
Sedangkan Andi begitu kecewa pada Anita yang ia pikir sudah berubah. Ia mengerti apa yang Anita rasakan, ia mengerti seperti apa takdir memposisikan Anita dengan tidak adil, namun kebohongan yang Anita berikan padanya benar benar membuatnya kecewa.
Kesalahan di masa lalu kembali terulang tanpa Andi sadari. Saat Anita tiba tiba masuk dalam kehidupan nya dan merusak kebahagiaan gadis yang dicintainya dengan semua akal bulusnya.
Andi begitu mempercayai Anita dan sekarang Anita telah mengecewakan nya dan menghancurkan kepercayaan nya.
"Dia belum berubah Ndi, dia nggak akan berubah," ucap Dimas pada Andi yang ia tau sangat percaya pada Anita.
"Aku tau kamu kecewa sama dia, tapi dia masih Anita yang dulu, Anita dengan segala rencana liciknya buat dapetin Dimas," ucap Dini dengan menatap ke dalam mata Andi.
Andi lalu menundukkan kepalanya lemah. Ia tidak bisa berpikir apapun karena kekecewaan nya pada Anita.
Dini lalu mendekat dan memeluk Andi, berusaha untuk menenangkan Andi yang masih tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya.
Dimas hanya diam melihat Dini memeluk Andi, ia tau Andi memang sedang membutuhkan Dini saat itu.
"Maafin aku Din," ucap Andi yang masih berada dalam pelukan Dini.
"Bukan salah kamu Ndi," balas Dini lalu melepaskan Andi dari pelukannya.
Andi lalu membawa pandangannya pada Dimas dan menghampiri Dimas.
"Sorry," ucap Andi dengan mengulurkan tangannya.
"It's okay," balas Dimas dengan menerima uluran tangan Andi.
Dini lalu mendekat, memeluk Andi dan Dimas bersamaan. Mereka bertiga pun saling berpelukan.
Semuanya terjadi dengan tiba tiba dan berakhir dengan tiba tiba. Meski belum benar benar berakhir, setidaknya mereka kembali bersama, Andi, Dini dan Dimas.
"Kamu ajak Dimas naik Din, aku bikinin kalian minum!" ucap Andi pada Dini.
Dini menganggukkan kepalanya lalu mengajak Dimas ke balkon setelah Dimas mencabut kembali flashdisk nya.
Dini dan Dimas berdiri di balkon, memandang hamparan gelap di langit malam.
"Waktu cepet banget berlalu ya, baru beberapa jam yang lalu aku masih ngerasa bersalah sama Anita dan sekarang aku tau seperti apa Anita sebenernya," ucap Dini.
"Kebohongan nggak akan pernah menang sayang," balas Dimas dengan memeluk Dini dari belakang.
"Kamu bener, aku minta maaf karena udah berpikir kamu yang ngelakuin sama Anita," ucap Dini.
Dimas hanya diam dengan mencium leher bagian belakang Dini, membuat Dini segera berbalik menghadap Dimas.
Dimaspun menarik pinggang Dini agar mereka semakin dekat. Dimas tersenyum lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Dini.
Saat mendengar suara langkah kaki, Dini segera mendorong Dimas dan menjauh beberapa langkah dari Dimas.
"Coklat hangat datang," ucap Andi lalu menaruh nampan berisi 3 gelas minuman hangat di atas meja.
Dini lalu mengambil satu gelas untuk Dimas dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
"Aku mau ke toilet bentar, toiletnya dimana?" tanya Dini pada Andi.
"Di sana, lurus aja!" ucap Andi menunjukkan letak toilet.
"Aku ke toilet bentar ya," ucap Dini sambil memberikan minuman hangatnya pada Andi.
Kini hanya ada Andi dan Dimas di balkon.
"Sorry atas sikap gue tadi siang," ucap Andi pada Dimas.
"Sejauh yang gue tau, lo ngelakuin itu waktu lo marah sama gue karena Andini dan sekarang lo ngelakuin itu karena Anita?"
"Sekarang gue emang tau kalau dia belum berubah, tapi apa lo pernah berpikir kenapa dia ngelakuin itu? dia nggak sadar sama hal buruk yang dia lakuin karena dia masih terobsesi sama lo!"
"Lo masih belain dia?"
__ADS_1
"Gue nggak belain dia Dim, apa yang dia lakuin emang salah dan tamparan lo ke dia juga nggak bisa gue benarkan, lo bisa ngelakuin hal itu karena lo nggak bisa kendaliin emosi lo, gimana nanti kalau lo sama Dini?"
"Jangan pernah berpikir kalau gue bakalan ngelakuin hal itu sama Andini Ndi!"
"Kenapa? mereka sama sama perempuan, Dini juga bisa bikin lo marah kan?"
"Gue cinta sama Andini, dia tujuan hidup gue selama ini, gue nggak mungkin nyakitin Andini dengan sengaja!"
"Gue nggak tau lagi Dim, gue nggak tau apa gue bisa lepasin Dini buat lo!"
"Maksud lo apa Ndi? lo mau pisahin gue sama Andini?" tanya Dimas sambil menaruh gelas di meja.
"Gue nggak mau Dini ngerasain apa yang Anita rasain, gue nggak mau Dini ngerasain perlakuan kasar lo!" jawab Andi.
"Apa selama ini gue pernah kasar sama Andini? enggak Ndi, gue selalu berusaha bahagiain dia!"
"Itu karena dia masih jadi tujuan hidup lo, nggak ada jaminan kalau lo nggak akan ngelakuin itu sama dia waktu lo udah dapetin dia sepenuhnya, setelah kalian menikah dan...."
Dimas lalu mendekat dan mencengkeram kerah leher Andi dengan cepat, membuat Andi menghentikan kata katanya dan minuman hangat yang ia pegang tumpah mengenai tangannya.
"Jaga ucapan lo Ndi, nggak ada yang tau seberapa besar cinta gue buat Andini, termasuk lo dan lo nggak berhak buat men-judge gue cuma karena apa yang gue lakuin sama Anita, mereka berbeda Ndi dan gue tau pasti apa yang harus dan nggak harus gue lakuin!" ucap Dimas dengan penuh emosi.
"Gue nggak mau Dini jatuh ke tangan yang salah!"
"Andini milik gue, dia bahagia sama gue dan itu udah cukup buat lo nggak ganggu hubungan gue sama Andini, itu yang selalu lo bilang sama gue!"
Andi lalu melepaskan tangan Dimas darinya dengan kasar dan menatap Dimas dengan tajam.
"Satu kali aja gue tau lo nyakitin Dini, gue nggak akan diem Dim, gue akan pastiin kalau Dini nggak akan temui lo lagi karena gue sendiri yang akan jaga dia seumur hidup gue!" ucap Andi penuh ketegasan.
Dimas diam dengan mengepalkan kedua tangannya siap untuk menghajar Andi. Saat Dimas hendak melayangkan tangannya pada Andi, suara langkah Dini membuat Dimas mengurungkan niatnya.
"Lampunya kenapa remang banget sih Ndi? jadi agak merinding!" tanya Dini yang berjalan menghampiri Andi dan Dimas.
"Iya belum sempet ganti, nanti aku ganti lampunya," jawab Andi.
Dini menganggukkan kepalanya lalu mengambil minuman miliknya di meja. Saat Dini berjalan, tanpa sengaja ia menginjak minuman Andi yang tumpah di lantai, membuat Dini terpeleset di depan Andi dan dengan cepat Andi menahan tubuh Dini.
Dimas yang melihat hal itu hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun. Ia ingin marah namun ia berusaha menahannya karena tidak ingin Dini tau masalahnya dengan Andi.
"Kamu nggak papa?" tanya Andi sambil membantu Dini kembali berdiri.
"Nggak papa, makasih," jawab Dini.
Dimas lalu menarik tangan Dini, membuat Dini segera mendekat pada Dimas.
"Minum punya ku aja," ucap Dimas sambil memberikan minumannya pada Dini.
"Makasih," balas Dini lalu menyeruput minuman milik Dimas.
"Hmmm.... perfect vibes," ucap Dini menirukan Dimas saat mereka berada di pantai.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Karena aku berdiri di sini, liat langit yang indah, liat jalan raya yang rame, minum coklat hangat dan yang paling penting ada kamu dan Andi di sini," jawab Dini dengan membawa pandangannya pada Andi dan Dimas bergantian.
Andi hanya tersenyum tipis sambil mengusap rambut Dini.
"Kamu bahagia?" tanya Andi pada Dini.
"Banget, ada kamu dan Dimas, kalian yang bikin aku bahagia," jawab Dini.
"kamu dan Dimas? apa nggak cukup aku aja yang jadi sumber kebahagiaan kamu Andini? kenapa selalu ada Andi diantara kita!" batin Dimas dalam hati.
"Aku akan selalu bahagiain kamu sayang," ucap Dimas dengan menarik pinggang Dini dan mencium keningnya.
"Iya, aku percaya sama kamu," balas Dini dengan menatap mata Dimas.
Andi hanya tersenyum tipis dengan memandang ke arah jalan raya.
"Kita pulang sekarang sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Nggak bisa nanti aja?" balas Dini yang enggan untuk pulang.
"Kamu harus istirahat Din, besok kita ketemu lagi!" sahut Andi.
"Buat apa?" tanya Dini.
"Buat bahas masalah yang belum selesai," jawab Andi dengan menatap tajam ke arah Dimas.
"Kalian masih berantem?" tanya Dini dengan membawa pandangannya pada Andi dan Dimas bergantian.
"Anita masih menganggap kalau kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi di tempat parkir tadi, jadi kita harus bicarain apa yang sebaiknya kita lakuin ke depannya nanti," jawab Dimas.
"Ketemu di sini aja, jam 4 udah nggak ada siapa siapa di sini!" ucap Andi.
__ADS_1
"Oke, kita pulang dulu," balas Dimas lalu menggandeng tangan Dini untuk diajak pulang.
Dini hanya diam memperhatikan Dimas dan Andi, ia yakin terjadi sesuatu diantara mereka.