Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Penyelesaian


__ADS_3

Dini mengejar Adit yang keluar dari ruangan meeting. Saat ia baru saja keluar, ia berpapasan dengan seorang laki laki yang sangat ia kenal.


"Kamu di sini Din? ikut meeting?" tanya si laki laki yang merupakan papa Dimas.


"Iya Pa, papa juga?"


"Iya, ini kamu mau kemana? bentar lagi mulai loh!"


"Ada masalah Pa, Dini salah bawa flashdisk yang isinya materi meeting, Dini harus gimana Pa?"


"Kamu tenang dulu, kamu yakin flashdisk yang kamu bawa salah? barangkali ada flashdisk lain di tas kamu?"


"Nggak ada Pa, cuma ada flashdisk ini di tas Dini, sekarang Pak Adit marah banget sama Dini, nama baik perusahaan bisa rusak karena kecerobohan Dini."


"Jangan panik Din, tenangin diri kamu dulu, siapa aja yang ngerjain materi meeting itu?"


"Saya sama Pak Jaka Pa, Pak Jaka juga ikut kesini," jawab Dini.


"Bagus, kamu udah pelajari materi yang kamu buat?"


"Sudah Pa, tapi Dini baru pelajari materi yang Dini buat, rencana nanti bagian Pak Jaka, beliau sendiri yang presentasi."


"Sekarang kamu kejar Adit, yakinin dia buat kembali masuk ke ruangan meeting, karena presentasi kamu akan percuma kalau nggak ada Adit, nggak akan ada masalah selama kamu menguasai dengan baik materi yang kamu buat, bagian Jaka biar dia sendiri yang bertanggung jawab, seharusnya dia juga sudah menguasai materi yang dia buat sendiri," jelas papa Dimas.


"Tapi Pa...."


"Nggak ada waktu lagi Din, 5 menit lagi meeting di mulai, kamu harus bisa bujuk Adit buat masuk, papa yakin kamu pasti bisa, oke?"


Dini menganggukkan kepalanya yakin. Ucapan papa Dimas seperti hembusan angin dingin yang menerpa ketandusan dirinya saat itu.


"Terima kasih pa, Dini cari Pak Adit dulu," ucap Dini lalu segera berlari mencari Adit.


Dilihatnya Adit yang sudah memasuki mobilnya bersama Jaka. Dinipun berusaha untuk menghentikan mobil Adit.


"Pak Rudi tolong berhenti pak," ucap Dini dengan berdiri di depan mobil Adit.


Rudi yang berada dibalik kemudi pun mematikan mesin mobilnya.


"Pak Adit tolong kasih saya kesempatan pak, saya akan bertanggung jawab atas kelalaian saya, saya....."


"Cukup Din, lebih baik kita kembali sebelum nama baik perusahaan tercoreng karena ulah kamu, jalan Rud!"


"Jangan Pak Rudi, saya mohon Pak Adit, kasih saya kesempatan terakhir, kalau saya gagal saya akan terima konsekuensi apapun yang akan Pak Adit berikan."


"Termasuk keluar dari perusahaan," lanjut Dini pelan.


"Kamu tau apa yang saya pertaruhkan kalau saya masuk sekarang? keluarnya kamu dari perusahaan tidak akan membuat nama perusahaan menjadi baik setelah kamu menghancurkannya Dini!"


"Saya mengerti pak, saya tidak akan meminta Pak Adit untuk memaafkan saya, tapi tolong izinkan saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan, ini tanggung jawab saya pak, izinkan saya menyelesaikannya dengan cara saya sendiri."


"Kamu bahkan nggak bawa materi meeting Din, apa yang mau kamu sampaikan di depan petinggi perusahaan perusahaan besar di sana?" sahut Jaka.


"Saya sudah mempelajarinya dengan baik pak Jaka, saya yakin saya bisa, saya......"


"Kamu nggak bisa melakukan semuanya semau kamu sendiri Din, ada hal hal yang....."


"Oke, ini kesempatan terakhir buat kamu," ucap Adit lalu keluar dari mobilnya.


"Tapi Pak....."


Adit dan Dini lalu kembali ke ruang meeting, begitupun Jaka yang pada akhirnya mengikuti mereka.


Meeting dimulai. Satu jam berlalu, tiba bagi Dini dan Jaka untuk memulai presentasi mereka.


"Selamat siang Bapak dan Ibu yang terhormat, saya Dini perwakilan dari perusahaan X yang dipimpin oleh Pak Adit, sebelumnya saya mohon maaf karena materi presentasi yang akan saya sampaikan tidak ada dalam bentuk file, hal itu karena kelalaian saya yang salah membawa flashdisk, sekali lagi saya mohon maaf, jika Bapak dan Ibu tidak berkenan, dengan berat hati saya dan tim akan meninggalkan ruangan meeting sekarang."


Beberapa saat semua yang ada di sana saling berbisik, membuat Dini, Adit dan Jaka semakin tegang.


"Menurut saya pribadi itu bukan masalah, selama kamu bisa mempresentasikan dengan baik," ucap Pak Tama yang diikuti anggukan kepala seluruh anggota meeting yang hadir.


Dinipun mulai mempresentasikan materinya dengan baik, pertanyaan pertanyaan dari para perwakilan perusahaan lain bisa ia jawab dengan baik.


"Dini bener bener persiapan materi meeting nya dengan baik, tanpa naskah dan file nya pun dia bisa menguasai materinya dengan baik, seorang Dini yang belum berpengalaman bisa melakukan hal itu?" batin Jaka dalam hati.


Tiba giliran Jaka untuk melanjutkan presentasi Dini, namun Jaka ragu. Ia tampak gugup, membuat Adit segera mengambil alih posisi Jaka.


Tepat jam 12 meeting selesai. Dini sudah tidak peduli lagi kemarahan seperti apa yang akan Adit berikan padanya.


"Selamat Dini, kamu melakukannya dengan baik," ucap salah seorang CEO dari perusahaan lain.


"Terima kasih pak," balas Dini dengan senyum manisnya.


Ia tidak menyangka akan mendapat respon yang baik meski ia melakukan kesalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.


"Pak Adit memang selalu tepat memilih perwakilan perusahaan, presentasinya sangat bagus pak," ucap yang lain.


"Selamat Dit, elektabilitas kamu memang sudah tidak diragukan lagi, papa kamu pasti bangga melihat kamu sekarang," ucap salah seorang petinggi perusahaan teman papa Adit.

__ADS_1


"Terima kasih om," balas Adit.


"Aditya Putra, kamu memang selalu penuh kejutan ya!" ucap Pak Tama pada Adit.


"Jadi kejutan buat Adit kapan om?"


"Hmmmm, dia masih fokus sama bisnisnya sendiri, om nggak akan maksa dia Dit."


Adit mengangguk anggukkan kepalanya. Sama seperti Dini, ia juga tidak menyangka akan mendapat respon yang positif karena kesalahan yang Dini lakukan.


"Om boleh pinjam dia sebentar?" tanya Pak Tama sambil membawa pandangannya ke arah Dini yang berdiri tak jauh dari tempat Adit dan Pak Tama.


"Boleh om, silakan!"


Pak Tama pun menghampiri Dini dan memberikan selamat pada Dini.


"Papa bangga sama kamu," ucap Pak Tama.


"Terima kasih pa, berkat bantuan papa juga," balas Dini.


"Gimana kalau nanti malem kita makan malam di rumah, udah lama juga kan kamu nggak main ke rumah?"


"apa Dimas belum cerita sama mama papa? aku harus gimana sekarang? aku harus jawab apa?" batin Dini bertanya tanya.


"Apa kamu ada janji lain?"


"Maaf Pa, tapi Dini harus lembur hari ini," jawab Dini mencari alasan.


"Oke, papa tunggu lain waktu ya!"


"Iya Pa."


Pak Tama lalu berjalan meninggalkan Dini untuk kembali ke kantornya.


"apa mereka baik baik aja?" tanya Pak Tama dalam hati.


"Saya ada keperluan lain, kalian bisa kembali ke kantor sendiri," ucap Adit pada Dini dan Jaka.


"Baik pak," jawab Dini dan Jaka kompak.


Adit lalu meninggalkan tempat meeting bersama Rudi, sedangkan Dini dan Jaka segera kembali ke kantor menggunakan taksi.


"Selamat Din, presentasi kamu bagus banget!" ucap Jaka pada Dini.


"Terima kasih pak, mungkin ini presentasi saya yang terakhir," balas Dini dengan tersenyum pahit.


"enggak, Dini nggak boleh pergi dari perusahaan, Pak Adit nggak boleh kehilangan pegawai seperti Dini, sekarang aku tau kenapa Pak Adit pilih Dini, walaupun belum berpengalaman dia memang bisa diandalkan!" ucap Jaka dalam hati.


Dini menggeleng pelan. Meski ia mendapat respon yang positif, ia tetap melakukan kesalahan yang membuat Adit marah.


"apa aku harus mengakui kesalahan ku? apa Pak Adit akan maafin aku? enggak, Pak Adit sama Dini pasti benci banget sama aku, aarrgghh kenapa aku ngelakuin hal bodoh itu sih!" batin Jaka merutuki dirinya sendiri.


Sesampainya di kantor, Dini segera masuk ke ruangannya, ia kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda karena meeting.


Tak lama kemudian Jaka masuk dengan membawa sandwich di tangannya.


"Makan Din, saya lihat dari kemarin kamu nggak makan siang," ucap Jaka sambil menaruh satu kotak sandwich di atas meja kerja Dini.


"Ini buat saya?" tanya Dini tak percaya.


Jaka mengangguk lalu meninggalkan ruangan Dini.


"Terima kasih pak," ucap Dini setengah berteriak.


Dini lalu melanjutkan pekerjaannya sampai jam pulang tiba. Satu per satu pegawaipun mulai meninggalkan meja mereka, namun Dini masih sibuk dengan pekerjaannya.


Tak lama kemudian Jaka kembali masuk ke ruangan Dini lalu duduk di depan meja kerja Dini.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Dini.


"Ada yang mau saya omongin sama kamu, ini di luar pekerjaan," jawab Jaka.


"Soal apa Pak?"


"Saya minta maaf Din, nggak seharusnya saya terpengaruh sama omongan orang di luar sana, setelah saya tau bagaimana kinerja kamu beberapa hari ini saya jadi tau kenapa pak Adit memilih kamu, maaf karena saya sempat under estimate sama kamu," jelas Jaka.


"Nggak papa pak, saya sendiri juga nggak tau kenapa saya ada di sini, kalau bukan karena mbak Ana saya nggak mungkin ada di sini," balas Dini.


"Tapi apa kamu beneran nggak ada hubungan apa apa sama Pak Adit?"


Dini menggeleng cepat.


"Enggak Pak, saya sama Pak Adit sebatas hubungan kerja, Pak Jaka juga liat sendiri kan gimana marahnya Pak Adit sama saya, saya sama seperti yang lain pak, kalau saya salah Pak Adit pasti marah."


"Apa Pak Adit masih marah sama kamu?"


"Saya nggak tau pak, Pak Adit belum balik dari tadi siang, kebetulan jadwalnya emang lagi kosong setelah jam makan siang."

__ADS_1


"Kalau Pak Adit masih marah, kamu kasih tau saya ya Din, saya akan coba bantu kamu."


"Terima kasih Pak," jawab Dini sambil menganggukkan kepalanya.


"selama Dini masih di sini, aku nggak akan cerita apa apa tentang flashdisk itu, tapi kalau sampe Pak Adit pecat Dini, terpaksa aku harus bilang yang sebenarnya," ucap Jaka dalam hati.


"Saya pulang dulu Din!" ucap Jaka lalu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Dini.


**


Di tempat lain, Adit masih menemani sang mama di rumah sakit.


"Ma, apa lagi yang harus Adit lakuin biar mama mau pulang? Adit udah di sini dari siang ma!"


"Pokoknya mama nggak akan pulang sebelum kamu kesini sama pacar kamu," ucap mama Adit.


"Dia masih di kantor ma, dia masih sibuk."


"Ya kamu bantuin dia dong, jangan malah ditinggal kayak gini!"


"Adit kan harus profesional ma, Adit harus bedain masalah pekerjaan sama masalah pribadi."


"Jangan galak galak Dit, dia bisa kabur nanti hehe....."


"Hmmmm, ya udah kalau mama masih betah di sini, Adit mau pulang aja!"


Adit lalu keluar dari rumah sakit. Ia mengendarai mobilnya sendiri tanpa Rudi. Ia melajukan mobilnya ke arah apartemennya, namun tiba tiba ia teringat pada Dini.


Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 7 malam, meski ragu ia akhirnya berputar arah dan kembali ke kantor.


Ternyata benar dugaannya, Dini masih berada di ruangannya. Adit lalu masuk ke ruangan Dini.


"Pak Adit, ada apa pak?" tanya Dini yang menyadari kedatangan Adit.


"Kenapa kamu belum pulang?"


"Masih ada yang harus saya selesaikan pak, apa ada yang bisa saya bantu?"


Adit menggeleng lalu duduk di depan meja kerja Dini.


"Saya minta maaf," ucap Adit yang membuat Dini menghentikan tangannya yang sedang mengetik.


Dini lalu membawa pandangannya ke arah Adit.


"Saya minta maaf atas sikap saya tadi siang," ucap Adit.


"Saya yang salah Pak, sekarang saya cuma bisa berharap kalau apa yang saya lakukan tadi bisa membantu saya untuk tetap bisa bekerja di sini."


"Mulai sekarang saya akan percayakan semuanya sama kamu, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Adit.


"Terima kasih atas kepercayaannya Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja dengan baik di sini," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Oke, jadi kamu mau tidur di sini lagi?"


Dini menggeleng.


"Jam berapa kamu pulang?"


Dini menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan.


"Saya nggak mau pulang pak," jawab Dini.


Mendengar jawaban Dini, Adit ingin menanyakan banyak hal pada Dini. Ia ingin tau apa yang sedang terjadi pada gadis di hadapannya itu. Tapi mengingat hubungan mereka yang sebatas rekan kerja, Adit mengurungkan niatnya.


Ia lalu mencari cara agar Dini mau meninggalkan kantor, mengingat hari sudah semakin larut.


"Mama mau ketemu kamu Din," ucap Adit yang membuat Dini kembali terkejut.


"Mau ketemu saya? kenapa pak?"


"Maaf Din, saya belum cerita sama mama tentang hubungan kita yang sebenarnya, mama baru sembuh Din, saya akan cari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya sama mama."


"Nggak papa pak, saya mengerti," balas Dini.


Ya, ia tau betul bagaimana posisi Adit yang tak jauh berbeda dengannya saat itu. Demi seorang wanita yang telah melahirkannya, semua akan dilakukan untuknya.


"Kamu mau ikut saya jemput mama di rumah sakit?"


"Sekarang pak?"


Adit mengangguk. Ia berharap Dini akan menyetujuinya agar Dini mengistirahatkan badannya yang sudah tampak lelah.


Dini lalu menyimpan file yang dikerjakannya, mengemasi barang barangnya dan berdiri dari duduknya.


"Ayo pak!"


Adit tersenyum, lalu segera keluar dari kantor bersama Dini.

__ADS_1


Saat Dini sedang masuk ke dalam mobil Adit, seseorang sedang memperhatikannya dari jauh. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Dia baru keluar kantor pak, dia sama Adit, berdua," ucapnya lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


__ADS_2