Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Minggu


__ADS_3

Hari Minggu tiba. Hari bagi Dini untuk pulang ke rumahnya. Ia sengaja bangun pagi pagi untuk memesan makanan sebelum Dimas bangun.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dini lalu duduk di samping Dimas yang masih terlelap. Dini membaringkan kepalanya di atas dada Dimas, mendengarkan detak jantung Dimas yang membuatnya tenang.


Bel berbunyi, pengantar makanan sudah tiba. Dinipun segera bangun dari posisinya, namun Dimas menahannya.


"Jangan pergi," ucap Dimas dengan mata yang masih terpejam.


"Kamu udah bangun?"


"Mmmm.... " balas Dimas yang masih memeluk Dini dengan mata terpejam.


"Aku harus ambil makanan di depan, aku udah pesen sarapan buat kita," ucap Dini.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya. Dini segera keluar dan mengambil makanannya lalu menaruh nya di meja ruang tamu.


Dini kembali ke kamar Dimas lalu memeluk Dimas yang masih berbaring di ranjangnya.


"Pemalas," ucap Dini lalu mencium pipi Dimas.


Dimas hanya tersenyum kecil sambil memeluk Dini.


"Hari ini kamu pulang, aku udah nggak bisa peluk kamu lagi setelah kamu pulang," ucap Dimas.


"Aku pulang sendiri aja ya, kamu lanjutin kerjaan kamu aja!"


"Enggak, aku anter kamu pulang!"


"Tapi....."


"Aku antar kamu Andini, aku mana mungkin biarin kamu sendirian?"


"Ya udah, ayo sarapan dulu!"


Mereka lalu beranjak dari ranjang. Dimas ke kamar mandi, sedangkan Dini menyiapkan sarapan mereka.


Tak lama kemudian Dimas datang, merekapun menikmati sarapan mereka dengan menonton acara tv.


"Dimas, kamu pernah nggak tiba tiba ngerasa kayak ada yang perhatiin kamu gitu?" tanya Dini pada Dimas.


"Kamu kan selalu perhatian sama aku," balas Dimas.


"Enggak gitu maksud ku, kayak ada seseorang yang selalu ngawasi kamu tiap kamu ada di luar," ucap Dini yang membuat Dimas tiba tiba tersedak.


"Minum Dimas, minum dulu," ucap Dini dengan memberikan minuman pada Dimas


"Pelan pelan dong makannya!" ucap Dini dengan mengusap punggung Dimas.


"Apa.... apa kamu belakangan ini ada masalah yang nggak kamu ceritain sama aku?" tanya Dimas pada Dini.


"Sebenarnya ini udah terjadi dari beberapa bulan yang lalu, aku selalu ngerasa ada yang perhatiin aku diam diam dan aku sering liat laki laki pake topi dan masker yang tiba tiba ngilang gitu aja!" jawab Dimas.


"Dia manusia?"


"Manusia lah, aku selalu was was tiap lagi di luar, aku takut orang itu punya niat jahat sama aku!"


"Apa terjadi sesuatu sama kamu beberapa bulan ini? apa ada seseorang yang jahat sama kamu?"


"Enggak sih, tapi aku yakin kalau orang itu ngikutin aku," jawab Dini.


"Mungkin cuma perasaan kamu aja sayang, jangan terlalu di pikirin!"


"Iya, aku sekarang nggak terlalu mikirin itu, tapi aku jadi nggak pernah tenang tiap aku ada di luar!"


"Siapa tau dia orang baik yang Tuhan kirim buat jagain kamu!" ucap Dimas.


"Orang baik? dia lebih kayak teror buat aku, aku kadang liat dia tapi dia tiba tiba ngilang gitu aja!"


"Mungkin dia cuma orang random aja yang emang lagi ada di deket kamu, jangan berburuk sangka lah sayang, yang penting dia nggak ngelakuin hal yang jahat kan sama kamu!"


"Dimas bener, kalau emang orang itu punya niat jahat, pasti dia udah ngelakuin rencana jahatnya dari lama, udah beberapa bulan dia ikuti aku dan nggak pernah terjadi apa apa, tunggu..... dia bantuin aku? apa iya dia yang bantuin aku waktu ada yang nabrak aku di halte? apa itu artinya dia orang baik?" batin Dini bertanya tanya.


"Udah sayang, jangan terlalu dipikirin," ucap Dimas membuyarkan lamunan Dini.


Dini hanya mengangguk lalu kembali menyendokkan makanan ke mulutnya.


"apa maksudnya sebenernya? apa dia sengaja ikutin aku biar aku ngerasa nggak nyaman? tapi kenapa dia bantuin aku? apa aku harus datangi dia kalau aku liat dia? tapi gimana kalau dia emang orang jahat dan kemarin itu cuma pengalihan aja biar aku berpikir kalau dia orang baik, aaarggghhh bikin pusing aja!"


"Sayang!" panggil Dimas.


"Eh, iya, kenapa?" balas Dini yang lagi lagi fokus memikirkan laki laki pengintai itu.


"Kamu masih mikirin itu?" tanya Dimas.


"Maaf Dimas, aku......"


"Itu cuma perasaan kamu aja Andini, nggak ada orang jahat yang cuma ikutin kamu selama berbulan bulan, mungkin dia cuma orang biasa yang kebetulan ada di sekitar kamu!"


"Iya mungkin, aku aja yang terlalu parno!"

__ADS_1


"Yang penting kamu selalu jaga diri baik baik, hubungin aku kalau ada apa apa," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.


"Kamu kan jauh di sini," balas Dini.


"Tapi aku akan selalu berusaha buat lindungi kamu Andini, kamu percaya kan sama aku?"


"Iya, aku percaya sama kamu Dimas!"


"Bagus," balas Dimas lalu mencubit hidung Dini.


**


Di tempat lain, pagi pagi sekali Andi dan Adit sudah meninggalkan rumah. Mereka bersepeda di sekitar jalanan kompleks perumahan.


"Besok jadwal lo cek up, mau gue anter?" tanya Adit.


"Lo nggak ke kantor?"


"Gue bisa nganterin lo waktu jam makan siang," jawab Adit.


"Gue bisa sama pak Rudi kok!" ucap Andi.


"Oke, mama bilang lo sering ke home store sekarang, apa ada masalah?"


"Nggak ada, gue cuma pingin cepet balik ke home store aja!" jawab Andi.


"apa aku harus minta tolong sama Adit? enggak, dia pasti ketawain aku kalau aku nggak bisa selesaiin masalah yang dianggapnya kecil itu," batin Andi dalam hati.


"Kalau lo ada masalah, lo bisa bilang gue, gue akan bantu semampu gue!" ucap Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Andi sengaja tidak menceritakan pada Adit dan sang mama tentang pertemuannya dengan papa Dimas beberapa waktu yang lalu.


"Ndi, home store sekarang semakin bertumbuh pesat, mereka bahkan sempat menolak beberapa klien karena keadaan home store yang kurang memadai, home store ini emang atas nama Dimas, tapi ini udah jadi milik kamu sekarang, kalau kamu bisa dapat investor dan mengembangkan home store ini lebih besar, om akan anggap kamu pemilik sahnya, om akan urus semua surat suratnya, setelah itu Dimas dan om nggak akan ikut campur lagi dalam pengelolaan home store ini,"


Ucapan papa Dimas sempat membuat Andi ragu, namun saat ia memberi tahu Dimas tentang hal itu, Dimas malah mendukung keputusan sang papa.


"gue cuma numpang nama disitu Ndi, setelah gue keluar gue bukan bagian dari home store lagi, lo satu satunya pemilik dan pengelola home store itu, jadi gue sangat setuju sama papa, gue yakin lo bisa bawa home store lebih baik lagi!"


Setelah mendapatkan keyakinan dari Dimas, Andi mulai mencari beberapa investor. Namun tidak semudah yang ia bayangkan, ia bahkan sudah ditolak oleh beberapa perusahaan.


Sang mama dan Adit hanya tau jika Andi pergi ke home store, tanpa mereka tau hal yang dilakukan Andi setiap hari adalah pergi menemui para calon investor nya.


Meski berkali kali di tolak, ia tidak akan mudah menyerah. Namun kini ia sadar, ada yang salah dari proposal yang ia buat. Iapun berkali kali mencoba membuat proposal yang lebih baik, namun hasilnya masih nihil, membuat Andi mulai mendekati bendera putih untuk menyerah.


Setelah satu jam bersepeda, Andi dan Adit kembali ke rumah. Mereka lalu menghampiri sang mama yang berada di taman bunga.


"Anak anak mama dari mana? pagi pagi udah nggak ada!" tanya mama Siska.


"Sembarangan aja, gue nggak buncit," balas Andi dengan memukul lengan Adit.


"Addduuuh ma, sakiitt, dia mukul Adit huhuhu....." ucap Adit dengan memeluk sang mama.


"Geli banget!" balas Andi dengan menjauh dari Adit.


"Udah udah, ayo sarapan, mama udah masak buat kalian!" ucap mama Siska lalu berdiri dan meninggalkan taman.


"Nih sakit, nih rasain," ucap Andi dengan memukul lengan Adit lebih keras lalu berlari mengikuti sang mama.


Adit hanya tersenyum sambil mengusap lengannya lalu ikut berlari mengejar mama dan adiknya.


Mama Siska hanya tersenyum bahagia melihat kedekatan anak anaknya. Andi dan Adit memang telah lama terpisah, namun ia yakin jarak dan waktu tidak akan bisa memisahkan hubungan darah diantara mereka berdua.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Dimas dan Dini masih duduk santai di hadapan televisi.


Biiiiippp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dimas berdering, Dimas segera menerima panggilan di ponselnya.


"Halo Dimas, kamu bisa ke kantor sekarang?"


"Ke kantor? ada apa pak?"


"Ada meeting dadakan tentang meeting bulan depan, kalau kamu nggak datang akan sangat mempengaruhi penilaian presentasi kamu nanti!"


"Baik pak, saya kesana sekarang!" balas Dimas lalu segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ada apa Dimas? kamu mau kemana?" tanya Dini yang mengikuti Dimas masuk ke kamar.


Dini segera menutup kedua matanya saat Dimas melepas celana pendeknya.


"Sayang, aku harus ke kantor sekarang, kamu tunggu di sini sebentar ya, aku nggak akan lama!"


"Aku ikut!"


"Kamu yakin?" tanya Dimas sambil mengikat dasinya.


Dini lalu berdiri di hadapan Dimas, memberikan jam tangan Dimas dan merapikan dasi Dimas.

__ADS_1


"Aku mau ikut kamu, aku akan nunggu kamu di sana!" ucap Dini.


Dimas lalu mencium kening Dini dan segera mengambil tas kerjanya.


Dimas pun pergi ke kantor bersama Dini.


"Maaf sayang, harusnya aku nemenin kamu tapi..."


"Nggak papa, aku mengerti, pekerjaan kamu lebih penting."


"Kamu yang lebih penting buat aku, apa kamu mau kita jalan jalan aja?"


Dini segera memukul lengan Dimas saat Dimas menanyakan hal itu.


"Kok di pukul sih?"


"Kamu pikir aku anak kecil yang akan nangis kalau ditinggal pacarnya kerja?" balas Dini.


"Hehehe.... aku cuma takut ngerusak hari kita Andini, harusnya kita sama sama hari ini sampai kamu pulang nanti, tapi aku malah ngajak kamu ke kantor!"


"Aku kan udah bilang Dimas, aku di sini buat kasih semangat kamu, bukan buat menghambat kamu!"


"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium tangan Dini.


Tak lama kemudian mereka sampai.


"Ruangan meeting ada di lantai 3, kamu bisa nunggu aku di sana atau tetep di sini!" ucap Dimas.


"Aku di sini aja, nggak papa kan?"


"Nggak papa, aku pergi dulu ya!"


"Iya, semangaattt!!!"


Dimas tersenyum lalu segera masuk ke dalam lift yang akan membawanya naik ke lantai 3.


2 jam berlalu, Dini masih duduk di depan resepsionis.


Tiba tiba matanya menangkap seorang perempuan dengan pakaian seksi sedang berjalan ke arah lift.


Dini tidak bisa melihat wajahnya, namun ia yakin jika perempuan itu bukanlah pegawai perusahaan jika dilihat dari cara berpakaian nya.


Setelah menunggu 30 menit, Dini memutuskan untuk naik ke lantai 3. Sekedar mencari suasana menunggu yang berbeda.


Di lantai 3, Dimas yang baru saja keluar dari ruangan meeting segera di sergap oleh Chelsea. Chelsea segera memeluk Dimas begitu ia melihat Dimas keluar.


Beberapa pegawai melihat hal itu, namun mereka segera pergi begitu saja seolah tidak melihatnya.


Sedangkan Dimas segera melepas paksa pelukan Chelsea padanya.


"Aku ke sini bukan buat ganggu kamu," ucap Chelsea.


"Tapi apa yang barusan kamu lakuin itu menganggu buat aku!" balas Dimas lalu berjalan meninggalkan Chelsea, namun Chelsea menahannya.


"Aku minta maaf," ucap Chelsea.


"Aku menyesal Dimas, aku minta maaf," lanjut Chelsea.


"Kalau kamu menyesal, menjauh dari aku, aku nggak bisa berteman sama kamu Chelsea, aku nggak mau ada masalah baru dalam hubungan pertemanan kita!" ucap Dimas.


"Oke aku mengerti, aku emang udah banyak salah sama kamu, tapi satu yang harus kamu tau, aku bahkan nggak mengenal cinta, aku nggak tau apa itu cinta, aku ngejar kamu karena kamu sempurna buat aku yang sempurna, just it!"


"Tapi sayangnya aku nggak sesempurna apa yang kamu pikir Chels!"


"Iya aku tau, aku ke sini cuma mau kasih tau kalau aku akan ke Amerika dan mungkin nggak akan balik lagi ke sini!"


"Ke Amerika?"


"Iya, om Tama kenalin aku sama agensi model di sana dan kesempatan buat raih impianku akan semakin mudah kalau aku tinggal di sana, asal kamu tau Dimas, mimpi ku lebih berharga daripada kamu!"


"Baguslah kalau gitu, semoga apa yang kamu impikan terwujud di sana!"


"Tapi sebelum itu, aku mau berdamai sama kamu, aku nggak akan ngejar kamu lagi Dimas!"


"Apa yang kamu mau Chels?"


"Apa pelukan perpisahan terlalu berlebihan?" balas Chelsea bertanya.


Dimas tersenyum kecil lalu mendekat dan memeluk Chelsea tanpa ragu.


"Makasih Dimas!" ucap Chelsea yang menikmati pelukan Dimas.


"Aku harap kamu bisa lebih baik setelah ini," balas Dimas lalu melepaskan Chelsea dari pelukannya.


Seketika Chelsea mencium Dimas dengan cepat tanpa Dimas bisa menghindar.


Tanpa Dimas tau, Dini menyaksikan kejadian itu. Ia melihat saat Dimas memeluk Chelsea dan Chelsea mencium Dimas.


Tampak tak ada penolakan, bahkan Dimas sendiri yang memulai untuk memeluk Chelsea.

__ADS_1


Dini memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Ia berusaha untuk tidak menangis di sana. Ia lalu kembali masuk ke dalam lift meninggalkan lantai 3.


Di dalam lift, berkali kali Dini menyeka air matanya yang bahkan belum sempat membasahi pipinya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan, namun hatinya terlalu sakit untuk menerima apa yang baru saja ia lihat.


__ADS_2