
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat Adit tiba di kantor. Seperti biasa sudah ada air minum hangat di meja kerjanya saat ia datang.
Tak lama kemudian Dini masuk ke ruangannya untuk memberikan jadwal hariannya, namun baru saja Dini menyerahkan map, Adit sudah berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangannya.
Dini hanya diam memperhatikan Adit yang sedang menerima panggilan dari seseorang dan tampak sangat serius saat berbicara.
"ada apa? apa ada masalah?" tanya Dini dalam hati.
Saat Adit membuka pintu, Dini segera mengalihkan pandangannya lalu kembali memberikan map di tangannya pada Adit.
"Maaf, ada panggilan penting," ucap Adit pada Dini.
"Iya pak, saya permisi," balas Dini lalu berbalik dan meninggalkan ruangan Adit.
Dinipun kembali ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaannya. Sesekali ia menoleh ke ruangan Adit dan melihat Adit yang tampak gelisah.
Dinipun bertanya tanya dalam hatinya karena tak seperti biasanya, hari itu Adit sering mendapatkan panggilan pribadi di ponselnya.
Namun Dini tidak berani untuk bertanya apa apa karena masih dalam jam kerja.
5 menit sebelum jam makan siang, Adit sudah meninggalkan ruangannya, membuat Dini tidak bisa bertanya secara langsung apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Saat jam makan siang, Dini segera menghubungi Adit untuk menanyakan dimana keberadaan Adit.
"Kakak ada urusan penting Din, mungkin kakak nggak bisa balik ke kantor nanti, kamu handle semuanya ya!"
"Apa ada masalah besar kak?" tanya Dini khawatir.
"Nanti kakak ceritain, kamu fokus aja sama pekerjaan kamu dan jangan lupa makan siang, kakak tutup telepon nya ya, bye!"
"Bye!"
Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku nya dan keluar dari ruangannya untuk makan siang di kantin.
**
Di tempat lain, di tengah kemacetan jalan raya Adit menghubungi seseorang.
"Pastikan dia masih ada di sana sampai saya datang!"
"Baik pak, tapi ada hal baru yang saya tau mengenai orang itu pak."
"Apa?"
"Suaminya adalah rekan kerja pak Adit yang diam diam bekerja sama dengan perusahaan X pak."
"Perusahaan X? rival perusahaan saya?"
"Iya pak, benar."
"Oke baiklah, kamu cari tau semuanya tentang kerja sama mereka dan segera hubungin saya!"
"Baik pak."
Adit lalu mengakhiri panggilannya dan memukul setir mobilnya dengan keras karena kesal.
Hari itu ia harus segera menyelesaikan masalah foto dirinya dengan Ana yang ada di tangan serigala berbulu domba. Jika sampai foto itu di tangan media, maka akan sangat susah untuk ia bisa meredam berita tentang dirinya itu.
Biiiiippp biiiipp biiipp
Sebuah panggilan dari seorang wanita yang membuatnya tersenyum, melunturkan emosi dalam dirinya untuk sesaat.
"Halo An, aku masih di jalan sekarang!"
"Di jalan? kamu mau kemana?"
"Aku..... makan siang di rumah mama," jawab Adit berbohong.
"Oh, ya udah nanti hubungin aku ya!"
"Oke, kamu jangan lupa makan siang ya!"
"Iya, hati hati di jalan!"
Sambungan berkahir. Hanya beberapa menit Adit mendengar suara Ana, itu sudah cukup untuk menyiram hawa panas dalam dirinya.
Adit semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan masalahnya agar tidak mempengaruhi Ana.
**
Di sisi lain, Dini yang sudah menyelesaikan makan siangnya segera kembali ke ruangannya.
Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Dimas.
"Halo Dimas, kamu lagi sibuk?"
"Enggak sayang, lagi makan siang sama anak anak di kantin," jawab Dimas.
"Apa aku ganggu kamu?"
"Enggak, aku udah selesai kok," jawab Dimas sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja kantin.
"Aku kangen, udah beberapa minggu kamu nggak pulang," ucap Dini.
"Iya sayang aku juga kangen sama kamu, tapi pekerjaan di sini belum bisa aku tinggalin bahkan saat weekend," balas Dimas.
"Apa besok kamu nggak bisa pulang lagi?"
"Maaf sayang, aku belum bisa, setelah kesibukanku melonggar aku akan segera pulang dan temui kamu, aku janji!"
Dini hanya menganggukkan kepalanya meski Dimas tidak dapat melihatnya.
"Kamu marah sayang?" tanya Dimas yang tidak mendengar suara Dini.
__ADS_1
"Enggak, aku akan jadi pasangan yang mengerti kesibukan kamu," jawab Dini.
"Makasih sayang, aku janji akan segera kembali ke sana setelah semuanya selesai!"
"Iya, aku selalu tunggu kamu di sini, aku lanjut kerja lagi ya, kamu juga!"
"Iya sayang, love you!"
"Love you too."
Panggilan berkahir. Dini memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu memulai melanjutkan pekerjaannya.
"kalau kamu nggak bisa datang, aku yang akan ke sana," batin Dini dalam hati.
Dini lalu kembali sibuk dengan komputer dan map di mejanya. Sesekali ia melirik ke arah ruangan Adit dan tidak melihat Adit di sana.
"Kak Adit beneran nggak balik? ada apa sebenarnya?" tanya Dini penasaran.
Dini lalu menghubungi Andi, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada mama Siska yang membuat Adit seharian ini tampak gelisah dan tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Halo Din, tumben kamu hubungin aku jam segini? nggak dimarahin kak Adit?"
"Kak Adit lagi nggak di kantor, aku terpaksa hubungin kamu karena aku kepikiran sama mama Siska, mama Siska baik baik aja kan?"
"Mama? mama baik baik aja, kenapa?"
"Kak Adit hari ini keliatan nggak fokus kerja Ndi, sebelum jam makan siang tadi kak Adit udah keluar dari ruangannya dan waktu aku tanya katanya dia nggak balik ke kantor hari ini," jawab Dini menjelaskan.
"Mungkin dia lagi ada urusan lain Din, tapi mama baik baik aja kok, aku juga baru pulang dari rumah," ucap Andi.
"Syukurlah kalau gitu, tapi apa kamu tau kak Adit kenapa?"
"Mmmm.... aku nggak bisa jelasin sama kamu Din, kamu bisa tanya kak Adit sendiri nanti, aku yakin dia pasti kasih tau kamu!"
"Apa masalahnya besar banget sampe kamu harus rahasiain itu dari aku?'"
"Maaf Din," balas Andi tanpa menjawab pertanyaan Dini.
"Oke nggak papa, ya udah aku lanjut kerja dulu!"
"Oke bye!"
"Bye!"
Dini masih menimang nimang ponsel di tangannya. Ia masih memikirkan masalah besar apa yang sedang dialami oleh Adit saat itu.
Sepengetahuannya, masalah yang bisa membuat Adit meninggalkan pekerjaannya hanyalah mama Siska. Namun jika mama Siska baik baik saja, pasti.......
"Mbak Ana, iya, pasti kak Adit lagi berantem sama mbak Ana!" ucap Dini yang meyakini pikirannya sendiri.
Dini lalu membuka aplikasi belanja online di ponselnya dan membeli beberapa keperluan untuk bayi kemudian mengirimnya pada Ana.
"Kalau emang mbak Ana lagi berantem sama kak Adit, mudah mudahan barang barang ini bisa balikin mood nya mbak Ana, ibu hamil kan nggak boleh banyak pikiran," ucap Dini lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Lagi mikirin apa Din? saya lihat kamu ngomong sendiri dari tadi!" tanya Jaka dengan menahan tawanya.
"Hehe... pak Jaka lihat?"
"Nggak sengaja lihat, ini berkas yang pak Adit minta, pak Adit bilang kamu yang bisa selesaiin berkas ini!"
"Baik pak," balas Dini.
"Selesaiin pekerjaan kamu dulu, ngelamunnya nanti aja biar nggak pulang telat hehe...." ucap Jaka lalu keluar dari ruangan Dini.
Dini hanya tersenyum tipis lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dini masih berada di ruangannya. Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Dini segera membawa pandangannya ke arah pintu dan tersenyum senang saat melihat seorang laki laki berdiri di sana.
Laki laki itu lalu membuka pintu ruangan Dini dan melangkahkan kakinya untuk masuk.
"Kamu masih sibuk? apa aku ganggu kamu?" tanya Andi sebelum ia duduk.
"Satu aku emang masih sibuk, dua kamu nggak ganggu aku, tiga kamu harus duduk," jawab Dini dengan tersenyum.
"Aku nunggu kamu dari jam 4 di lobby sebelum akhirnya aku ke sini," ucap Andi.
"Kenapa kamu nggak hubungin aku? aku....."
"Aku udah hubungin kamu berkali kali Din, tapi nggak tersambung, hp kamu pasti mati!"
Dini lalu mengambil ponselnya di dalam tas dan benar saja, ponselnya kebahisan daya.
"Oh iya hehe....."
"Aku mau anter kamu pulang, jadi apa nggak masalah kalau aku nunggu kamu di sini?" tanya Andi.
"Nggak masalah, tapi aku harus selesaiin kerjaanku dulu ya!"
"Oke," balas Andi.
15 menit berlalu, Dini masih fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Andi hanya diam memperhatikan Dini.
"aku baru tau kamu secantik ini kalau lagi serius," batin Andi dalam hati sambil tersenyum.
"Jangan diliatin terus, ntar jatuh cinta loh!" ucap Dini tanpa menghilangkan pandangannya dari komputer, namun ia bisa merasakan jika Andi tengah memperhatikannya.
"Kamu emang selalu fokus kalau lagi ngerjain sesuatu," ucap Andi.
"Iya dong, harus!" balas Dini.
__ADS_1
Andi kembali tersenyum tipis dengan masih memperhatikan gadis di hadapannya itu.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Dini menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah, ayo pulang!" ucap Dini sambil membereskan meja kerjanya.
Andi menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu bersama Dini.
Sebelum pulang, Andi mengajak Dini untuk pergi ke kafe terdekat.
"Ndi, aku mau tanya kamu, tapi pasti kamu nggak mau jawab!" ucap Dini.
"Tanya apa? tentang kak Adit?"
Dini menganggukkan kepalanya.
"Masalah ini cuma kak Adit dan aku yang tau, aku pingin cerita sama kamu semuanya tapi aku takut salah bicara dan bikin masalahnya semakin besar," ucap Andi.
"Iya aku mengerti," balas Dini lalu menyendokkan ice cream ke mulutnya.
"Kamu bisa tanya sendiri sama kak Adit kalau dia udah balik, dia pasti cerita semuanya sama kamu!" ucap Andi.
"Iya, aku juga nggak akan maksa kalau emang kak Adit nggak mau cerita, gimanapun juga aku orang luar buat kak Adit, aku harus bisa jaga privasi kak Adit."
Setelah beberapa lama di kafe, Andipun mengajak Dini untuk pulang. Sesampainya di rumah Dini, mereka segera turun dari mobil.
"Aku mau ketemu Anbi, aku kangen sama dia!" ucap Andi beralasan, karena sebenarnya ia masih ingin berlama lama dengan Dini.
"Bilang aja kangen sama aku, ayo!" ucap Dini dengan menarik tangan Andi dan menggandengnya.
"Hehe.... kamu tau aja," balas Andi.
Di dalam rumah Dini, Andi segera mengambil makanan ikan yang ada di bawah akuarium dan menaburkannya ke dalam akuarium.
Sedangkan Dini segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengisi daya ponselnya lalu keluar menghampiri Andi.
"Ibu kamu nggak di rumah Din?" tanya Andi.
"Ibu lagi ada acara sama ibu kamu, ada hajatan di RT sebelah," jawab Dini.
Andi mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Dini.
**
Di tempat lain, Adit sedang berada di toko buku. Ia mencari buku yang menjelaskan tentang berbagai macam metode melahirkan. Sebelumnya ia sudah mencari tau apa saja yang harus ia siapkan jika ingin Ana melahirkan di rumah tanpa pergi ke rumah sakit.
Untuk beberapa waktu ke depan, Adit harus sangat berhati-hati jika ingin menemui Ana, ia juga tidak bisa membawa Ana keluar dari rumah untuk sementara waktu.
Itu sebabnya ia ingin agar Ana melahirkan di rumah dengan bantuan para Dokter yang siap 24 jam untuk membantunya.
Adit lalu mengendarai mobilnya ke rumah Ana. Sesampainya di sana ia segera masuk dan menemui Ana.
Mengetahui Adit datang, Ana segera berjalan ke arah Adit dengan perutnya yang sudah besar.
Adit tersenyum senang melihat Ana dan perut besarnya yang tampak menggemaskan itu.
"Ikut aku, aku mau kasih tau kamu sesuatu," ucap Ana dengan menarik tangan Adit ke dalam kamarnya.
Ana lalu menunjukkan banyak barang barang bayi di kamarnya. Mulai dari pakaian, mainan, tempat tidur dan masih banyak lagi.
"Kamu yang siapin semua ini?" tanya Adit.
"Bukan, adik kamu yang kasih semua ini," jawab Ana yang tampak senang.
"Andi?"
"Dini," ucap Ana yang membuat Adit sedikit terkejut.
Adit tidak mengerti kenapa Dini memberikan banyak sekali hadiah pada Ana tanpa sepengetahuan nya.
"Aku excited banget tadi waktu baca nama barangnya, jadi langsung cepet cepet aku buka deh hehe...."
Adit hanya tersenyum lalu mencium kening Ana.
Adit lalu menggenggam tangan Ana dan membawanya untuk duduk di ranjang.
"Aku punya sesuatu buat kamu!" ucap Adit sambil memberikan Ana sebuah buku.
"Andi kan udah kasih aku buku kayak gini," ucap Ana saat melihat buku pemberian Adit.
"Ini lebih spesifik tentang metode melahirkan An, kamu coba aja baca baca," balas Adit.
"Oke nanti aku baca," ucap Ana.
"An, aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Adit yang tampak serius.
"Ada apa?"
"Gimana kalau nanti kamu nggak perlu ke rumah sakit waktu lahiran, aku sama Dokter akan siapin semua keperluan kamu di rumah supaya kamu bisa melahirkan dengan aman dan nyaman di rumah."
"Kenapa tiba tiba kamu berubah pikiran? bukannya kamu bilang melahirkan di rumah sakit lebih aman karena perlatannya lebih lengkap!"
"Iya, tapi setelah aku baca baca melahirkan di rumah juga aman kok selama kita mempersiapkan nya dengan baik."
Ana hanya diam dengan menatap tajam kedua mata Adit.
"Adit, jawab pertanyaan ku dengan jujur, apa terjadi sesuatu yang nggak aku tau?" tanya Ana dengan tatapan tajam, membuat Adit segera mengalihkan pandangannya dari Ana.
Adit tersenyum kecil dan berdiri dari duduknya.
"Nggak ada apa apa An, aku cuma berubah pikiran aja tiba setelah baca baca artikel!"
Ana lalu berdiri di hadapan Adit dan kembali menatap kedua mata Adit.
__ADS_1
"Kamu bohong!" ucap Ana lalu melangkah pergi meninggalkan Adit.