
Di bawah terik mentari siang itu, Anita berdiri di trotoar sambil menghubungi seseorang.
"Halo Ndi, kamu dimana? masih di kampus nggak?" tanya Anita saat Andi menerima panggilannya.
"Iya masih di kampus, kenapa?"
"Aku ada di deket kampus kamu sekarang, kamu masih ada kelas?"
"Udah kok, ini mau jalan pulang, kamu dimana?"
"Aku..... di depan toko buku XX, kamu kesini ya!"
"Oke, aku kesana sekarang!" balas Andi.
Panggilan berakhir. Anita lalu duduk di salah satu bangku yang ada di depan toko buku untuk menunggu Andi.
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah mobil berhenti di hadapannya, Anita pun segera beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam mobil Andi.
"Kamu bisa anter aku ke rumah Dini nggak?" tanya Anita saat ia sudah duduk di sebelah Andi.
"Ke rumah Dini? kamu ada perlu apa?" balas Andi bertanya.
"Dini kemarin hubungin aku, katanya mau belajar bikin kue, jadi aku sengaja beliin dia buku resep kue ini!" jawab Anita sambil menunjukkan buku resep kue yang baru saja dibelinya.
"Mmmm.... oke," balas Andi.
Andipun mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini. Karena hari itu masih siang, sudah dipastikan Dimas tidak ada di rumah saat itu.
"Nit, aku mau bilang sesuatu tapi aku harap kamu nggak salah paham sama apa yang mau aku bilang ini," ucap Andi pada Anita.
"Kamu mau bilang apa?" tanya Anita.
"Kamu tau Dini lagi hamil kan, kamu juga pasti tau kalau biasanya orang hamil akan lebih sensitif sama hal hal di sekitarnya, jadi aku harap kamu bisa jaga jarak sama Dimas, aku cuma nggak mau ada masalah lagi diantara kita berempat Nit," ucap Andi.
"Tenang aja, aku ngerti kok, dengan aku bisa berteman lagi sama kalian aja aku udah seneng banget, aku nggak berharap apa apa lagi sekarang," balas Anita dengan senyum manisnya.
"Baguslah kalau gitu," ucap Andi yang ikut tersenyum lega.
Setelah pernikahan Dini dan Dimas, Andi memang semakin berjarak dengan Dini. Tak hanya jarang bertemu, mereka juga jarang saling menghubungi, bahkan mereka akan canggung saat harus berdua di satu tempat.
Bagi Andi, itu semua adalah perjalanan pahit yang harus ia lalui. Setelah ia lama berjalan di atas tumpukan duri, ia percaya lambat laun duri duri itu akan mengantarkannya ke arah tujuan yang jauh lebih indah baginya.
Ia membiarkan waktu yang perlahan menyembuhkan lukanya sendiri, melupakan semua rasa sakit meski pada kenyataannya luka itu masih ada.
Sesampainya di depan gerbang rumah Dini, Andi membiarkan Anita turun dari mobilnya sedangkan ia harus segera pergi ke home store.
"Kamu yakin nggak mau ikut?" tanya Anita.
"Banyak kerjaan di home store Nit, titip salam aja buat Dini," jawab Andi.
"Oke, makasih udah nganterin aku!"
Andi menganggukan kepalanya lalu mengendarai mobilnya ke arah home store. Sedangkan Anita segera masuk ke rumah Dini.
Dini yang sudah menunggu kedatangan Anita, menyambut Anita di teras rumahnya.
"Halo bumil cantik," sapa Anita lalu memeluk Dini.
"Kamu nggak bawa mobil?" tanya Dini sambil membalas pelukan Anita.
"Enggak, aku sama Andi tadi," jawab Anita.
"Andi? dia kemana sekarang? langsung pergi?" tanya Dini.
"Iya, lagi sibuk di home store katanya," jawab Anita.
"Ooohhh," balas Dini dengan raut wajah kecewa.
"Ini aku bawain kamu buku resep kue, kamu butuh ini kan?" ucap Anita sambil memberikan sebuah buku pada Dini.
"Waaahhh, makasih Nit, mau langsung bikin sekarang? aku udah siapin semua bahannya!"
"Oke, ayo!"
Dinipun mengajak Anita masuk ke dapur rumahnya.
"Kamu masih suka mual nggak? bikin kue baunya lumayan menyengat loh Din!" tanya Anita.
"Udah enggak kok, tenang aja," jawab Dini.
Ya, setelah usia kandungannya memasuki 3 bulan, rasa mual akibat bau bau yang menyengat sudah tidak Dini rasakan lagi.
Hanya saja ia masih pilih pilih soal makanan yang sesuai dengan keinginannya saat itu.
Anitapun mulai membuat adonan kue bersama Dini. Mereka banyak mengobrol dan sesekali tertawa.
Tak lama kemudian terdengar suara yang membuat Anita dan Dini kompak menoleh ke arah belakang mereka.
"Sayang, i'm home!"
Dini lalu segera mencuci tangannya dan berjalan keluar dari dapur.
Belum sampai ia benar benar keluar, Dimas sudah menghampirinya, memeluknya dan mencium bibirnya dengan dalam untuk beberapa saat.
__ADS_1
Dini lalu mendorong tubuh Dimas saat ia ingat ada Anita yang berada di dapur dan bisa saja melihat apa yang dilakukan Dimas padanya.
"Kamu kok udah pulang?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku sengaja pulang cepet, kamu kenapa pake celemek? lagi masak?" jawab Dimas sekaligus bertanya sambil memperhatikan pakaian Dini.
"Aku lagi bikin kue sama Anita, kamu ganti baju dulu ya!" jawab Dini lalu menarik tangan Dimas dan membawanya ke kamar.
"Sama Anita? dia di sini?" tanya Dimas.
"Iya, aku lagi belajar bikin kue sama dia, aku dari kemarin pingin bikin kue," jawab Dini.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku sayang, aku bisa beliin kamu kue apapun yang kamu mau tanpa...."
"Aku pingin bikin Dimas, bukan dibeliin," ucap Dini memotong ucapan Dimas sambil melepas satu per satu kancing kemeja Dimas.
"Kamu marah karena aku minta Anita kesini?" lanjut Dini bertanya.
"Bukannya aku marah sayang, aku pikir kamu masih marah sama Anita karena kejadian di vila kemarin!"
"Aku nggak marah kok!"
"Tapi cemburu?"
"Sekarang udah enggak, asal kamu bisa jaga hati kamu aja!" balas Dini dengan memukul dada Dimas.
Dimas tersenyum tipis lalu memeluk Dini dan mengusap perut Dini.
"Aku siapin makan siang kamu dulu ya, kamu ganti baju!" ucap Dini lalu keluar dari kamar.
Dini kembali ke arah dapur dan menghampiri Anita.
"Maaf Nit, aku nggak tau kalau Dimas pulang jam segini!" ucap Dini pada Anita.
"Nggak papa, apa aku harus pulang sekarang?"
"Kenapa? kuenya kan belum jadi!"
"Aku nggak mau ganggu kalian hehe..."
Dini hanya tersenyum tipis lalu menyiapkan makan siang di meja makan.
"Kamu udah makan siang?" tanya Dini pada Anita.
"Belum, nanti aja," jawab Anita.
"Makan siang aja dulu, biar aku yang lanjutin adonan kuenya," ucap Dini.
"Nanti aja Din, ini harus di mixer terus biar ngembangnya sempurna," balas Anita.
"Tapi....."
"Udah, sana!" ucap Dini dengan merebut mixer dari tangan Anita.
"Kalau kamu capek, panggil aku ya!" ucap Anita yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Saat Anita baru saja meninggalkan dapur, Dimas masuk ke dapur dan memeluk Dini dari belakang.
"Jangan terlalu capek sayang," ucap Dimas dengan mencium pipi Dini.
"Cuma bikin kue, nggak akan capek," balas Dini dengan mencium pipi Dimas.
Anita yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis lalu berjalan ke arah meja makan. Tak lama setelah Anita menikmati makan siangnya, tiba tiba Dimas datang dan duduk di hadapannya.
"Hai Nit!" sapa Dimas.
"Hai, kamu makan di sini?" tanya Anita yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
Anita lalu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan meja makan, namun Dimas menahan tangan Anita.
"Mau kemana? lanjutin makannya!"
"Aku.... aku.... nggak mau Dini salah paham," jawab Anita.
"Justru Andini yang maksa aku nemenin kamu makan di sini," ucap Dimas sambil memberikan kode dengan matanya agar Anita kembali duduk.
Anita lalu kembali duduk dan melanjutkan makan siangnya bersama Dimas. Ia tidak tau apa yang sebenarnya Dini rencanakan, tapi ia harus berusaha untuk tetap menjaga sikapnya di hadapan Dimas.
"Kamu sekarang sibuk apa Nit?" tanya Dimas pada Anita.
"Aku masih ikut kursus, karena aku nggak kuliah aku tetep harus dapat banyak pengetahuan kan?"
"Bener banget," balas Dimas setuju.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Anita kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat kue dan meminta Dini untuk beristirahat.
Dinipun meninggalkan dapur dan duduk di ruang tengah bersama Dimas. Mereka menonton acara tv kesukaan Dini sambil mengobrol dan sesekali tertawa.
"bohong kalau aku nggak iri dengan semua yang kamu miliki sekarang Din, kamu punya suami seorang CEO perusahaan besar, kamu dilimpahi banyak kasih sayang dan cinta dari suami kamu, semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan dengan mudah," batin Anita dalam hati.
Setelah beberapa lama menunggu, wangi kue dari dalam oven sudah mulai tercium. Dini segera kembali ke dapur untuk melihat kue hasil buatan Anita bersamanya.
"Hmmmm..... baunya enak banget!" ucap Dini saat ia sudah masuk ke dapur.
__ADS_1
"Perfect Din," balas Anita sambil mengeluarkan kue dari dalam oven dengan perlahan.
Setelah kue dingin, Dini menuangkan coklat cair di atasnya dan menunggunya hingga memadat lalu membawanya ke ruang tengah bersama Anita.
Dini memotong kue itu menjadi beberapa bagian dengan ukuran kecil lalu memberikannya pada Dimas.
"Cobain deh!" ucap Dini dengan menyuapi Dimas.
"Hmmmm..... enak sayang," balas Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
"Ini Anita yang bikin, aku cuma bantuin," ucap Dini.
"Kamu bisa baca buku resep yang aku kasih tadi kalau mau coba bikin sendiri atau kamu bisa hubungin aku lagi buat kesini!" ucap Anita.
"Makasih Nit," balas Dini.
Setelah beberapa lama mengobrol, Anita akhirnya berpamitan untuk pulang.
"Biar Dimas yang anter kamu pulang!" ucap Dini yang membuat Anita dan Dimas cukup terkejut.
"Enggak Din, nggak perlu, aku bisa pulang naik taksi kok!" balas Anita.
"Kamu yakin?" tanya Dini.
"Iya, aku pulang dulu ya!"
"Oke, hati hati, makasih udah luangin waktu kamu buat ajarin aku masak!"
"Next time kamu bisa hubungi aku lagi kalau mau bikin kue lagi," balas Anita dengan memeluk Dini.
Sepeninggalan Anita, Dimas segera menggendong Dini dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kamu sebenarnya kenapa sih? kenapa tiba tiba jadi aneh gini?" tanya Dimas setelah ia menurunkan Dini di ranjang.
"Aneh gimana maksud kamu?"
"Kamu tiba tiba minta Anita datang ke sini, kamu maksa aku makan siang sama Anita dan barusan kamu minta aku buat anterin Anita pulang, kamu nggak salah?"
Dini tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya.
"Keadaan sekarang udah jauh lebih baik daripada dulu Dimas, aku udah menikah sama kamu, Anita udah jadi temen yang baik buat kita, tapi gimanapun juga dia adalah perempuan yang pernah ngelakuin segala macam cara buat bisa sama kamu, kamu inget itu kan?"
"Iya aku inget, tapi kenapa kamu tiba tiba ngelakuin semua ini?"
"Aku cuma pingin tau aja apa dia bener bener teman yang baik buat kita atau dia tetap Anita yang diam diam mencari celah buat deketin kamu lagi," jawab Dini.
"Dan hasilnya?"
"Aku rasa dia emang udah lupain kamu," jawab Dini.
"Tapi aku juga harus jaga jarak sama dia Andini, aku nggak mau ada kesalahpahaman lagi kayak dulu, jadi aku mohon sama kamu jangan ngelakuin ini lagi, ini akan bikin kita semakin canggung nanti!"
"Iya, aku minta maaf, setelah aku pikir pikir sebenernya dia nggak bener bener cinta sama kamu, dia cuma terobsesi sama kamu dan mungkin sekarang kamu udah nggak semenarik dulu di mata dia!"
"Entah itu obsesi atau cinta, yang pasti aku sama Anita harus tau batasan pertemanan kita, sama kayak kamu dan Andi, aku tau kalian udah lebih bisa bersikap dewasa dengan hubungan kalian setelah pernikahan kita," balas Dimas.
"Jadi menurut kamu sebelum kita menikah, aku sama Andi nggak dewasa?" tanya Dini dengan nada kesal.
"Hehe.... enggak gitu sayang," balas Dimas dengan memeluk Dini dan mencium keningnya.
"Jangan marah, nanti dia ikutan marah," ucap Dimas dengan mengusap perut Dini.
Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Dimas benar, setelah pernikahan mereka, Dini merasa Andi semakin menjauh darinya.
Ia bisa mengerti hal itu karena bagaimanapun juga ia sudah menjadi istri Dimas, yang artinya ia harus bisa menjaga jarak dengan Andi meski mereka masih memiliki hubungan yang mereka sebut sebagai sahabat.
Dini hanya bisa berharap, semuanya akan baik baik saja. Kebahagiaan pernikahannya tidak hanya menjadi miliknya, namun juga orang orang disekitarnya.
**
Waktu berlalu, di tempat lain Andi baru saja meninggalkan home store dan mengendarai mobilnya ke arah rumah.
Sesampainya di rumah, sudah ada Adit dan Ana yang sedang bercengkrama bersama sang mama.
"Akhirnya pulang juga si yang paling sibuk," ucap Adit saat melihat Andi menghampirinya.
Andi hanya tersenyum tipis lalu duduk di sebelah sang mama.
"Mbak Ana apa kabar?" tanya Andi pada Ana.
"Baik, kamu....."
"Ana aja yang ditanya, gue enggak?" sahut Adit.
"Enggak, lo rese'!" balas Andi yang membuat Adit tertawa.
"Gimana persiapan acara clothing arts lo?" tanya Adit.
"Udah 99 persen, tinggal nunggu hari H," jawab Andi.
Sejak beberapa bulan belakangan, selain fokus dengan kuliahnya, Andi juga semakin gencar mengembangkan clothing arts nya.
Hanya tinggal menunggu waktu untuk Andi membuka cabang clothing arts nya yang baru.
__ADS_1
Jika bukan karena Aletta, entah seperti apa Andi akan menjalaninya hari harinya setelah rasa sakit yang ia rasakan.
Meski kehadirannya yang hanya sesaat, nyatanya Aletta mampu memberikan Andi secercah cahaya yang menuntun Andi untuk keluar dari gelapnya perih dalam hatinya.