Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Pilihan Akhir Andi


__ADS_3

Dimas masih mendengarkan ucapan Chelsea di roof top, tapi setelah mendengar pertanyaan Chelsea, Dimas hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya lalu pergi begitu saja.


Chelsea kembali menahan Dimas, namun Dimas menarik tangannya dengan kasar dan tak mengindahkan Chelsea.


Dimas kembali ke meja kerjanya dan berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya.


"Dari mana?" tanya Feri namun tak dijawab oleh Dimas.


"Gue saranin lo jangan cari masalah sama Chelsea kalau lo mau hidup damai!" lanjut Feri tapi masih tak dihiraukan oleh Dimas.


Dimas tak habis pikir dengan apa yang Chelsea lakukan. Apapun ancaman dan paksaan Chelsea, Dimas tidak akan memberikan celah sedikitpun bagi Chelsea untuk masuk ke dalam hidupnya.


Cukup kesalahannya terjadi saat ia bersama Anita, saat ia tidak menyadari jika kehadiran Anita sebagai seorang teman seperti sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Anita atas hal itu, ia sadar kepeduliannya pada Anita sudah membuat Anita salah paham dan ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada Chelsea.


Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Chelsea merusak rencana indahnya bersama Dini, gadis yang telah lama dicintainya.


**


Di tempat lain, Andi sedang duduk di hadapan sebuah laptop di kamarnya. Ia masih bimbang dan ragu pada pilihannya. Entah kenapa semua itu terlalu sulit untuk ia pilih.


Ia sangat menyayangi ayah dan ibunya, namun jauh dalam relung hatinya ada sebuah rasa yang lebih dari sekedar sayang untuk seorang mama yang telah melahirkannya.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Andi menghubungi Dini.


"Halo Din, kamu dimana?" tanya Andi ketika Dini sudah menerima panggilannya.


"Aku di rumah, kenapa?"


"Aku kesana sekarang ya!"


"Jangan, aku aja yang kesana, kamu tunggu aja di rumah!"


"Oke."


Tak sampai 5 menit kemudian, pintu kamarnya diketuk, Dini masuk dengan memamerkan senyum manisnya pada Andi.


Dini lalu duduk di tepi ranjang Andi, sedangkan Andi duduk di kursi belajarnya.


"Ada apa? kangen sama aku?" tanya Dini dengan mencubit kecil lengan Andi.


Andi hanya tersenyum kecil lalu duduk di samping Dini.


"Aku kemarin ketemu Adit," ucap Andi yang membuat Dini sedikit terkejut.


"Kapan?"


"Kemarin pagi, waktu dia baru keluar dari rumah sakit," jawab Andi.


"Kamu..... tau dari mana?"


"Dimas yang cerita sama aku, kenapa kamu nggak cerita apa apa sama aku Din?"


"Maaf Ndi, kak Adit yang ngelarang aku cerita sama kamu."


"Kenapa?"


"Kak Adit takut ngebebani kamu kalau kamu tau keadaan kak Adit gimana."


"Aku nggak ngerti kenapa semua orang suka banget sembunyiin banyak hal dari aku, apa aku sebegitu nggak pentingnya sampe nggak ada apapun yang aku tau bahkan tentang diriku sendiri!"


"Bukan begitu Ndi, kak Adit ngelarang aku karena dia khawatir sama kamu, dia nggak mau kalau kamu berubah pikiran dan mau tinggal sama mama cuma karena kasian sama kak Adit, kak Adit sama mama udah janji buat nggak maksa kamu, mereka mau hati kamu sendiri yang menentukan kemana kamu mau pergi," jelas Dini.

__ADS_1


Andi terdiam mendengarkan ucapan Dini. Dalam hatinya ia bisa menerima semua penjelasan Dini, namun ia juga kecewa jika masih ada hal yang harus disembunyikan darinya.


"Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu nyamperin kak Adit ke rumah sakit? kamu khawatir sama kak Adit?"


Andi hanya menggeleng dengan tatapan kosong.


Dini lalu menarik tangan Andi dan menggenggamnya.


"Ayah dan ibu kamu emang orangtua yang rawat kamu dari bayi, tapi mama dan kak Adit adalah keluarga kandung kamu, mama pilih pilihan yang bikin mama menyesal seumur hidupnya demi kamu, demi kebaikan kamu, mama dan kak Adit bahkan nggak berpikir dua kali buat donorin ginjal mereka buat kamu," ucap Dini.


"Maaf kalau aku terkesan memaksa kamu Ndi, tapi rasanya nggak adil buat mama dan kak Adit, mama hidup dalam penyesalan seumur hidupnya dan kak Adit hidup dalam kasih sayang yang kosong dari wanita yang melahirkannya, mau sampe kapan itu terus berlanjut Ndi?" lanjut Dini lalu melepaskan tangan Andi dari genggamannya.


Seketika Andi langsung memeluk Dini dengan erat. Ia tau apa yang Dini ucapkan memang benar. Ia memang memilih ibu dan ayahnya, namun hatinya selalu merasa sedih. Tak pernah sedetikpun ia tak memikirkan wanita pemilik ginjal dalam tubuhnya.


Ada sebuah penyesalan dan kebimbangan yang tidak bisa ia mengerti. Ada sebuah rasa yang memberatkan hatinya untuk pergi. Ada sebuah hati yang merindukan kasih sayang yang belum pernah ia rasakan selama ini.


"Ibu dan ayah kamu akan tetap jadi orang tua kamu Ndi, aku tau mereka sangat menyayangi kamu dengan tulus, kalau memang pilihan kamu di sini, yakinkan hati kamu, jangan buat mereka sedih dengan keadaan kamu sekarang, jangan buat mereka bersalah atas keputusan yang kamu ambil sekarang," ucap Dini.


"Aku tau ini bukan hal yang mudah buat ibu dan ayah kamu, mereka akan bahagia kalau kamu bahagia Ndi, dengan adanya kamu di sini seharusnya mereka bahagia, tapi mereka nggak akan bahagia karena mereka tau hati kamu nggak di sini, hati kamu nggak bahagia dengan pilihan kamu, iya kan?" lanjut Dini.


Tak lama kemudian ibu Andi datang bersama sang suami. Mereka menghampiri Andi dan Dini.


"Dini bener Ndi, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan ibu dan ayah, ibu dan ayah bahagia kamu memilih untuk tetap tinggal di sini, tapi saat ibu tau kegundahan kamu, keraguan kamu, ibu dan ayah sedih, kami merasa jadi orang tua yang jahat buat kamu," ucap ibu Andi.


"Jangan bilang begitu Bu," ucap Andi dengan menggenggam tangan sang ibu.


"Kami orang tua kamu Ndi, kami yang membesarkan kamu dengan cinta dan kasih sayang, kesedihan yang kamu rasakan akan jadi cambuk bagi kami, jadi ayah mohon ikuti kemana hati kamu memilih, ayah dan ibu nggak akan jadi penghalang untuk kebahagiaan kamu Ndi," ucap ayah Andi.


Andi terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, sang ibu dan sang ayah lalu memeluk Andi bersamaan. Air matapun membasahi kedua pipi mereka semua, tak terkecuali Dini yang masih berada di sana.


Kini Andi tau kemana ia harus pergi, kemana ia harus memilih dan ia yakin dengan mengikuti kata hatinya ia tidak akan menyesal dengan pilihannya itu.


"terima kasih Bu, terima kasih yah, terima kasih karena udah jadi orang tua yang sangat baik, orangtua yang sempurna buat Andi, orangtua yang selalu bisa kasih jalan buat Andi, terima kasih," ucap Andi dalam hati.


Sampai kapan pun, baginya dua orang dalam pelukannya adalah sosok orangtua yang sempurna dalam hidupnya dan ia sangat bersyukur karena bisa tumbuh dalam kehangatan keluarga sederhana itu.


**


Saat ia baru saja keluar dari rumah, Andi menghampirinya.


"Kamu buru buru?" tanya Andi.


"Enggak, ada apa?"


"Aku udah bikin keputusan Din, aku udah yakin sama keputusan ku," ucap Andi.


"Aku harap itu yang terbaik buat kamu dan semuanya, apapun itu kamu nggak boleh ragu lagi, kamu harus yakin apapun keputusan kamu, mereka semua tetap sayang sama kamu."


Andi mengangguk lalu memeluk Dini.


"Apa kamu akan baik baik aja kalau aku jauh dari kamu?" tanya Andi berbisik.


"Aku akan selalu baik baik aja asalkan kamu nggak pergi ninggalin aku," jawab Dini yang juga berbisik.


"Jarak bukan halangan buat kita tetap jadi sahabat baik kan?"


Dini menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Aku sayang sama kamu Din, aku nggak akan pergi ninggalin kamu walaupun aku nggak ada di dekat kamu," ucap Andi dengan membelai pipi Dini.


"Aku juga sayang sama kamu Ndi, walaupun aku tau sebatas apa hubungan kita, tapi aku nggak akan biarin apapun pisahin kita," balas Dini dengan senyum manisnya.


Andi lalu kembali memeluk Dini sebelum membiarkan Dini berangkat ke kantor.

__ADS_1


Setelah Dini pergi, Andi kembali ke rumah dan mengambil tas ranselnya yang sudah tampak penuh dengan beberapa barang barangnya.


"Andi pamit, sampai kapanpun ibu sama ayah akan jadi orangtua Andi, dimana pun Andi tinggal, ibu dan ayah adalah keluarga Andi, terima kasih sudah jadi orangtua yang sempurna buat Andi," ucap Andi dengan mata yang berkaca-kaca.


Ibu Andi hanya mengangguk dengan menahan air matanya. Ia lalu memeluk Andi dengan erat, berusaha dengan keras untuk menahan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


"Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu Ndi, kamu anak kebanggaan ayah dan ibu, kamu akan selalu jadi anak ayah dan ibu," ucap ayah Andi lalu ikut memeluk Andi.


Karena tak ingin suasana semakin haru, ibu Andi lalu melepaskan pelukannya setelah menyeka air matanya diam diam.


"Kamu yakin mau berangkat sendiri?" tanya ibu Andi.


"Andi yakin Bu, ibu sama ayah jaga kesehatan ya, Andi akan sering main ke sini nanti," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala ibu dan ayahnya.


Setelah memantapkan hatinya, Andi lalu melangkah pergi dari rumah yang sudah menemaninya sejak ia bayi. Rumah dengan segala kenangan yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.


Ya, Andi memutuskan untuk memilih mama Siska. Bukan karena keadaan psikis mama Siska, tapi karena ia merindukan kasih sayang seorang ibu yang melahirkannya.


Andi berangkat ke rumah mama Siska menggunakan taksi yang sudah dipesannya, ia sengaja berangkat ke sana seorang diri.


Di sisi lain, setelah kepergian Andi, ibu Andi menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan sang suami. Hatinya terasa sakit dan bahagia secara bersamaan. Kesedihan yang tak pernah ia bayangkan akhirnya terjadi. Andi yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya kini harus pergi meninggalkannya. Di sisi lain ia bahagia karena pada akhirnya Andi bisa melanjutkan hidupnya dengan lebih baik bersama keluarga kandungnya.


**


Hari masih pagi, mentari masih cukup hangat untuk menyelimuti pagi hari itu. Andi turun dari taksi di depan sebuah rumah yang dulu pernah didatanginya.


"Maaf, masnya cari siapa ya?" tanya pak satpam pada Andi.


"Saya....."


Belum sempat Andi menjawab, pak Lukman datang menghampiri Andi.


"Kamu ke sini? sendirian? mau ketemu ibu?" tanya Pak Lukman yang sudah mengerti siapa Andi sebenarnya.


"Iya pak, saya....."


"Ayo masuk, cepet!" ucap Pak Lukman dengan menarik tangan Andi.


Andi mengikuti Pak Lukman yang menarik tangannya. Ia di bawa ke arah kolam renang oleh Pak Lukman. Sesampainya di sana, Pak Lukman segera pergi, membiarkan Andi berdua dengan sang majikan yang tak lain adalah ibu kandung Andi.


Andi masih berdiri terdiam di tempatnya, ia melihat punggung wanita yang telah melahirkannya itu sedang melukis seorang bayi dengan tanda lahir di bagian perutnya.


"Mama...." panggil Andi pelan dengan suara bergetar.


Mama Siska yang sedang fokus melukis itu seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mendengar dengan jelas seseorang baru saja memanggilnya.


Sebuah suara yang terdengar begitu nyaman masuk ke dalam hatinya. Ia tau itu bukan suara Adit, ia sangat mengenal suara itu meski suara itu baru hadir dalam hidupnya.


Mama Siska lalu berdiri dari duduknya tanpa menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, kedua sudut matanya mulai berkaca kaca.


"Mama....." panggil Andi dengan melangkah pelan ke arah sang mama.


Mama Siska seketika memutar badannya dan segera memeluk Andi dengan erat. Tangisnya pecah dalam pelukan Andi. Anak laki laki yang sudah lama ia nantikan kedatangannya kini berada dalam pelukannya. Anak laki laki yang pernah memanggilnya "Tante" kini telah memanggilnya "mama" dan itu adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang mama Siska.


Begitu juga Andi, tangisnya pecah dalam pelukan sang mama. Sebuah pelukan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah pelukan yang lebih hangat dan lebih menenangkan dari pelukan yang pernah ia terima dari sang ibu. Hatinya terasa hangat dan nyaman memeluk wanita di hadapannya.


Seketika kesedihan, penyesalan, keraguan dan segala macam rasa yang mengganggu seolah telah musnah begitu saja. Semua rasa itu luruh menjadi satu rasa yang sama yang disebut kebahagiaan.


Tanpa mereka tau, di balik pintu ada Adit yang melihat kejadian itu. Beberapa waktu lalu Pak Lukman menghubunginya dan memberi tahunya jika mama Siska sedang melukis di tepi kolam renang. Seperti biasa, Adit akan segera pergi menemui sang mama untuk mencegah sang mama melakukan hal hal yang tidak diinginkan.


Namun sebelum Adit datang, Andi sudah lebih dulu datang dan menghapus semua kenangan buruk yang membekas dalam diri mama Siska.


Mama Siska kini seperti seorang ibu yang baru saja dilahirkan kembali. Ruang hatinya yang sempat kosong kini sudah dipenuhi dengan kebahagiaan yang selama ini ia cari.

__ADS_1


Untuk beberapa saat keadaan masih belum berubah. Andi dan mama Siska masih saling berpelukan, sedangkan Adit masih berdiri di balik pintu dengan kedua sudut mata yang berkaca kaca.


Semuanya kini berbahagia, termasuk Adit. Ia tidak takut jika sang mama akan lebih menyayangi Andi daripada dirinya. Ia juga tidak peduli jika posisinya di perusahaan akan digantikan oleh Andi nantinya. Baginya kebahagiaan sang mama adalah hal yang terpenting dalam hidupnya. Kebahagiaan sang mama lah yang akan memberikan kebahagiaan bagi dirinya.


__ADS_2