
Dimas masih berada di rumah Andi. Banyak hal yang mereka bicarakan dan dari pembicara mereka Dimas kini tau jika tidak akan mudah bagi Andi untuk menghapus Dini dari hidupnya.
Dimas tau hubungan yang Andi dan Dini jalani selama ini lebih dari sekedar sahabat. Tapi ia yakin dan percaya pada Dini jika Dini tidak akan mengkhianati nya.
Ia biarkan Andi bersama Dini meski itu menyakitkan baginya. Seperti halnya Andi, ia ingin Dini bahagia dan kebahagiaan Dini tidak hanya padanya namun juga pada Andi, laki laki yang masih ia anggap sebagai sahabat terbaiknya.
"Dini udah bahagia sama lo Dim, itu udah cukup buat gue," ucap Andi.
"Gue pasti bisa bahagiain dia Ndi, lo bisa percaya sama gue," ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Andi.
Dimas lalu berpamitan pulang. Tak lupa ia mengingatkan Andi untuk menghubungi Anita dan memberi tahunya tentang rencana liburan mereka.
Setelah Dimas pergi, Andi beranjak dari duduknya.
"Seenggaknya lo kasih tau dia," ucap Adit yang ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan Andi dan Dimas.
"Dasar tukang nguping!" balas Andi lalu berjalan naik ke kamarnya.
"Hahaha.... gue cuma nggak sengaja denger," ucap Adit yang berlari mengikuti Andi.
"Nggak sengaja tapi berdiri di situ!"
"Awalnya nggak sengaja, kayaknya seru jadi gue lanjutin hahaha....."
Andi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Adit.
"Jadi Jenny itu siapa?" tanya Andi pada Adit.
"Gue nggak sengaja ketemu dia waktu mau makan malem sama Ana, untungnya dia nggak liat Ana jadi gue terpaksa makan malem sama dia dan gue nggak tau kalau ada Dini sama Dimas di sana," jawab Adit menjelaskan.
"Beneran?"
"Lo bisa tanya Dini, dia tau gimana hubungan gue sama Jenny!"
"Oke, gue mau ke ruang baca," ucap Andi yang membuka pintu kamar Adit begitu saja.
Adit hanya diam dan mengikuti Andi ke ruang baca.
"Dia berhak tau Ndi," ucap Adit sambil mencari buku yang akan ia baca.
"Udah berapa kali gue bilang, itu cuma akan bikin dia bingung dan menjauh dari gue, gue nggak mau itu terjadi!"
"Tapi....."
"Please, ini keputusan gue," ucap Andi memotong ucapan Adit.
"Oke, terserah lo!" balas Adit lalu menaruh buku yang ia ambil dan keluar dari ruang baca.
Sedangkan Andi masih duduk di tempatnya dengan buku yang sama sekali tidak ia baca.
Andi membaringkan kepalanya di meja dan menutup matanya. Dalam gelap pandangnya hanya ada Dini yang ia lihat.
Entah berapa lama ia sudah menyimpan sahabatnya itu dalam hatinya dan entah sampai kapan perasannya akan terus tersimpan.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Dini. Andi lalu menerima panggilan Dini.
"Halo Din, ada apa?"
"Ada apa? apa harus ada apa apa dulu baru aku bisa hubungin kamu?" balas Dini yang sedikit kecewa dengan respon Andi.
"Maaf Din, aku lagi nggak fokus," ucap Andi.
"Kamu masih sama Dimas?" tanya Dini.
"Dia udah pulang, baru aja," jawab Andi.
"Dia pasti udah cerita soal liburan besok kan?"
"Udah, tapi kamu yakin mau ngajak Anita?"
"Yakin, bukannya itu yang kamu mau juga?"
"Iya, tapi aku juga nggak mau maksa Dimas Din!"
"Ini udah jadi kesepakatan kita kok, Dimas nggak keberatan," ucap Dini.
"Ya udah kalau gitu aku hubungin Anita dulu, dia pasti seneng kalau kita bisa kumpul lagi!"
"Kamu juga seneng?"
"Iya, kamu juga kan?"
Dini hanya tertawa kecil tanpa menjawab pertanyaan Andi.
"Besok aku tunggu di pantai, jam 9, bye!"
"Oke, bye!"
Panggilan berakhir, Andi lalu menghubungi Anita.
"Halo Nit, kamu dimana?"
"Aku di..... apartemen mbak Dewi, kenapa?"
"Besok Dini ngajak kita liburan, sama Dimas juga, kamu bisa?"
"Besok? bisa bisa, aku pulang sekarang!"
"Sekarang?"
"Iya, besok kamu jemput aku di rumah ya!"
"Oke," balas Andi lalu mengakhiri panggilan nya.
__ADS_1
Di sisi lain, Anita yang berada di apartemen Dewi segera mengambil tasnya dan bersiap untuk menghampiri Dewi di rumah sakit.
Anita mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit tempat Dewi bekerja dan sesampainya di sana ia segera mencari keberadaan Dewi.
"Ada apa Nit? kenapa kamu ke sini?" tanya Dewi yang cukup terkejut dengan kedatangan Anita.
"Anita mau pulang mbak," jawab Anita penuh semangat.
"Pulang? sekarang?"
"Iya, sekarang," jawab Anita.
"Ini udah malem Nit, besok pagi mbak anter kamu pulang!"
"Anita harus pulang sekarang mbak, besok pagi Anita mau liburan sama Dimas!"
"Sama Dimas? berdua?"
"Enggak berdua sih, ada Andi sama Dini juga, itu kesempatan buat Anita bisa minta maaf sama Dimas mbak!"
"Kamu nggak papa nyetir sendiri?"
"Nggak papa mbak, Anita udah biasa," jawab Anita meyakinkan.
"Tapi kamu harus janji sama mbak kalau kamu nggak akan bikin masalah lagi!"
"Anita mau minta maaf sama Dimas mbak, dimana salahnya?"
"Minta maaf emang nggak salah Anita, tapi kamu juga nggak bisa maksa Dimas apa lagi berusaha deketin dia lagi!"
"Anita nggak akan berusaha deketin dia kalau dia nggak menjauh dari Anita mbak, Anita kayak gini karena dia selalu menjauh dari Anita!"
"Sikap kamu sendiri yang bikin dia menjauh dari kamu Anita!"
"Mbak, dia laki laki pertama yang bikin Anita jatuh cinta, Anita nggak bisa lupain dia dengan mudah, walaupun dia selalu nyakitin Anita, Anita akan tetap nunggu dia mbak," ucap Anita.
"Nit, tolong dengerin mbak, kamu cantik, kamu bisa dapatin laki laki lain yang lebih baik dari Dimas, laki laki yang bisa mencintai kamu dengan tulus!" ucap Dewi dengan menggenggam tangan Anita.
"Lalu apa Anita akan bahagia kalau Anita hidup sama seseorang yang nggak Anita cintai?" balas Anita bertanya.
Dewi hanya diam. Anita memang benar, bahagia berasal dari diri kita sendiri, dari cinta yang ada dalam hati kita.
Namun jika kita memaksakan cinta yang bukan milik kita, itu sama seperti menusukkan pedang tajam ke dalam hati dengan tangan sendiri, sangat menyakitkan.
"Mbak sayang sama kamu Nit, mbak nggak mau hal buruk di masa lalu terulang lagi," ucap Dewi yang tampak sedih karena sikap Anita.
"Mbak Dewi tenang aja, itu nggak akan terjadi, Anita mau mulai semuanya dari awal mbak, Anita akan lebih sabar dan hati hati," balas Anita dengan memeluk Dewi.
"Kamu harus ingat Nit, banyak laki laki di luar sana yang lebih baik dari Dimas, yang bisa menerima kamu dan mencintai kamu dengan tulus," ucap Dewi.
"Tapi yang Anita mau cuma Dimas mbak, nggak ada yang lain selain Dimas yang akan miliki Anita," balas Anita yakin.
"Tapi tolong jangan lakuin hal bodoh lagi Nit, pikirkan semuanya baik baik, kamu akan sangat beruntung kalau mereka benar benar mau berteman lagi sama kamu," ucap Dewi.
"Iya mbak, Anita mengerti, Anita pergi dulu nya mbak!"
"Oke!" balas Anita lalu melangkah pergi meninggalkan Dewi.
Ia begitu bersemangat untuk segera pulang. Sedangkan Dewi hanya bisa berharap jika Anita tidak melakukan hal hal bodoh lagi.
**
Malam berakhir, pagi datang menjemput. Dimas datang ke rumah Dini pagi pagi sekali dengan membawa peralatan piknik.
"Kamu yakin kita satu mobil sama Andi dan Anita?" tanya Dimas saat ia sudah sampai di rumah Dini.
"Yakin, kita dulu sering kayak gitu," jawab Dini sambil memasukkan beberapa makanan dan minuman ke dalam keranjang.
Dimas hanya mendengus kesal karena Dini mengingatkan masa lalu yang selalu ingin Dimas lupakan.
"Dimas, aku mau kamu ngelakuin sesuatu buat aku, sesuatu yang nggak kamu suka!" ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
"Kenapa kamu mau aku ngelakuin sesuatu yang nggak aku suka?" tanya Dimas.
"Demi kebaikan kita semua," jawab Dini.
"Apa itu tentang Anita?" terka Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Apa lagi yang harus aku lakuin Andini?" tanya Dimas dengan kesal.
"Kamu tau Anita selalu ngejar kamu buat minta maaf sama kamu, kalau kamu kasih dia kesempatan buat ngomong, dia nggak akan punya alasan lagi buat deketin kamu, iya kan?"
"Gimana kalau dia masih deketin aku?"
"Itu artinya dia emang mau rebut kamu dari aku, itu artinya dia buka sendiri rencana busuknya dan kalau Andi tau itu, Andi nggak akan mau kenal dia lagi," jawab Dini.
"Jadi kamu mau aku ngelakuin ini demi Andi?"
"Demi kita, biar kita juga tau apa rencana Anita sebenernya, dia beneran mau kita berteman kayak dulu atau dia cuma mau deketin kamu lagi!"
"Aku benci sama dia Andini, kamu tau itu!"
"Aku tau Dimas, aku juga nggak bisa sepenuhnya percaya sama dia, tapi...."
"Kamu udah janji buat nggak maksa aku Andini!" ucap Dimas lalu melepaskan tangan nya dari genggaman Dini lalu melangkah pergi.
"Aku cuma nggak mau dia ganggu kita lagi, aku nggak suka dia deketin kamu karena aku takut dia akan berhasil ambil kamu dari aku, seperti dulu," ucap Dini yang membuat Dimas menghentikan langkahnya.
Dimas berbalik dan kembali melangkahkan kakinya menghampiri Dini lalu memeluknya.
"Itu nggak akan terjadi lagi sayang, nggak akan!" ucap Dimas meyakinkan.
"Aku percaya sama kamu Dimas, tapi aku nggak percaya sama Anita, aku tau gimana liciknya dia, tapi kita nggak tau gimana dia sekarang, masih sama seperti yang dulu atau beneran berubah dan aku butuh jawaban itu Dimas!"
Dimas menghembuskan napasnya kasar lalu memegang kedua pundak Dini dan menatapnya.
__ADS_1
"Oke, aku akan lakuin apa yang kamu mau," ucap Dimas.
"Jangan dilakuin kalau kamu terpaksa!"
"Aku lakuin ini demi kita," ucap Dimas meyakinkan.
Dini lalu tersenyum dan memeluk Dimas.
"Makasih Dimas," ucap Dini lalu mencium pipi Dimas.
Dimas hanya tersenyum lalu mencium kening Dini.
Mereka lalu berangkat ke rumah Andi, untuk menjemput Andi terlebih dahulu.
Sesampainya di sana, Dini segera menghampiri mama Siska yang sedang berada di taman bunga.
"Kalian mau jemput Andi ya?" tanya mama Siska yang menyadari kedatangan Dini dan Dimas.
"Iya ma," jawab Dini lalu duduk di samping mama Siska.
"Kamu masuk aja, dia di kamar," ucap mama Siska.
"Dimas masuk ya tante!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala mama Siska.
"Kak Adit di rumah ma?" tanya Dini pada mama Siska.
"Dia udah keluar dari abis sarapan tadi," jawab mama Siska.
"pasti ke rumah mbak Ana, lain kali aku harus ke sana sama Andi, buat liat keadaan mbak Ana," batin Dini dalam hati.
Tak lama kemudian Dimas datang bersama Andi. Setelah berpamitan pada mama Siska mereka pun berangkat dengan Andi yang menyetir mobil milik papa Dimas.
"Dari kemarin lo pake mobil om Tama kenapa?" tanya Andi pada Dimas.
"Nggak papa, pingin aja," jawab Dimas beralasan.
"Oke, kita jemput Anita sekarang, lo nggak papa kan Dim?"
"Nggak ada masalah!" jawab Dimas.
Sesampainya mereka di rumah Anita, Andi segera turun untuk mengetuk pintu rumah Anita.
"Jadi aku perlu bawa apa?" tanya Anita saat ia sudah membuka pintu rumahnya.
"Yang kamu butuhkan aja Nit, Dini sama Dimas udah bawa semuanya," jawab Andi.
"Mobil kamu mana?" tanya Anita yang tidak melihat mobil Andi.
"Aku nggak bawa mobil, kita satu mobil sama Dimas dan Dini, aku parkir di depan gerbang!"
"Oh oke, ayo berangkat!"
Andi dan Anita lalu keluar dari rumah dan masuk ke mobil yang ada di depan gerbang rumahnya.
"Hai Din, Dim!" sapa Anita saat ia sudah masuk dan duduk di sebelah Andi.
"Hai Nit, maaf kasih tau kamu mendadak, kamu nggak ada kegiatan kan hari ini?" balas Dini sekaligus bertanya.
"Nggak ada kok, weekend aku free," jawab Anita namun membawa pandangan nya pada Dimas yang bersandar pada Dini dan memainkan jari Dini.
Anita tersenyum tipis lalu kembali menghadap ke depan.
"Kita mau kemana?" tanya Anita pada Andi.
"Liat aja nanti," jawab Andi dengan tersenyum.
Tak lama kemudian mereka sampai. Setelah Andi memarkirkan mobil, mereka segera berjalan ke arah pantai dengan membawa peralatan piknik dan keranjang makanan.
Mereka lalu memilih tempat yang cukup jauh dari bibir pantai, yaitu di bawah tebing yang akan menghalau sinar matahari saat siang.
Dini lalu memberikan sandwich yang sudah ia buat pada Dimas, Andi dan Anita.
"Kamu yang buat sayang?" tanya Dimas.
"Iya dong, tenang aja, ini pasti enak!" jawab Dini.
"Aku seneng kita bisa liburan bareng lagi," ucap Anita dengan membawa pandangan nya pada Andi, Dini dan Dimas bergantian.
"Aku juga, aku harap nggak ada masalah lagi diantara kita," balas Dini dengan membawa pandangannya hanya pada Anita.
Ya, "kita" yang Dini maksud adalah antara dirinya dan Anita.
Anita hanya tersenyum mendengar ucapan Dini.
Mereka lalu berjalan ke arah bibir pantai sebelum matahari mulai menyengat.
Dimas dan Dini bermain air, sedangkan Anita dan Andi hanya duduk di atas batu karang.
"Kamu kenapa Nit?" tanya Andi yang melihat mata Anita merah dan berkaca kaca.
"Nggak papa, aku cuma terlalu seneng aja, aku seneng kita bisa kayak gini lagi," jawab Anita.
Andi lalu merengkuh Anita dan membawanya bersandar di bahunya.
"Makasih udah redam ego kamu Anita, aku tau ini nggak mudah, tapi semuanya akan lebih baik kalau kamu bisa lepasin Dimas," ucap Andi.
Anita lalu mencium pipi Andi tiba tiba saat ia melihat Dini yang sedang melihat ke arah mereka.
Andi yang terkejut dengan apa yang Anita lakukan segera melepaskan tangannya yang memegang pundak Anita.
"Makasih udah percaya sama aku," ucap Anita dengan tersenyum manis.
Di tepi pantai, Dini segera mengalihkan pandangannya saat ia melihat Anita mencium pipi Andi.
Dadanya bergemuruh menahan amarah yang muncul begitu saja. Namun tiba tiba Dimas menarik tangannya dan mengajaknya berlari, namun Dini segera melepas tangannya dan hanya diam di tempatnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Dimas menghampiri Dini.
Dini hanya diam dengan mata berkaca-kaca.