
Anita masih duduk di depan Dini, ia memperhatikan Dini dengan membawa suntikan yang berisi obat bius di tangannya.
Ia sengaja membawanya dan akan segera menyuntikkannya pada Dini saat Dini terlihat akan sadar.
Tak lupa ia mengambil ponsel Dini dan menonaktifkannya.
Ia tau apa yang akan dilakukannya hari itu adalah sebuah hal besar yang sangat beresiko, tapi tekadnya sudah bulat untuk melakukannya meski dalam sepersekian detik ada keraguan yang muncul dalam dirinya.
Ia sadar, ia bukanlah perempuan yang baik, namun ia bukanlah pembunuh yang akan membunuh seseorang dengan mudah.
Tapi ia merasa ketidakadilan takdir hidupnya turut membuat dirinya menjadi perempuan kejam yang diliputi dengan dendam dan kebencian yang mengakar kuat dalam dirinya.
"Kamu terlalu banyak merasakan bahagia Din, sejak kita SMA kamu yang selalu jadi trending topik di sekolah karena kecerdasan kamu, walaupun kamu nggak punya temen, kamu punya Andi yang selalu ada buat kamu, tapi kenapa kamu juga harus punya Dimas? kenapa kamu nggak bisa lepasin Dimas buat aku?"
Anita semakin emosional saat ia mengingat masa lalunya.
"Andi emang laki laki yang baik, nggak akan susah buat bikin aku jatuh cinta sama dia, tapi setiap aku liat kebahagiaan kamu sama Dimas, rasanya aku nggak rela, aku benci lihat kebahagiaan kamu sama Dimas, apa lagi aku tau kalau Andi juga suka sama kamu!"
Anita lalu beranjak dari duduknya dan semakin mendekat pada Dini. Ia membisikkan sesuatu di telinga Dini.
"Andi suka sama kamu Din, harusnya kamu sama Andi dan biarin aku sama Dimas," ucap Anita berbisik.
Tiba tiba Anita melihat jari Dini bergerak, tanpa pikir panjang Anita segera menyuntikkan obat bius pada Dini, membuat Dini kembali tak sadarkan diri.
"Kamu dan Dimas sama aja, kalian sama sama egois, kamu harusnya tau kalau Andi suka sama kamu dan Dimas yang tau gimana perasaan Andi harusnya dia nggak deketin kamu!"
Anita lalu kembali duduk di hadapan Dini dengan masih menatap Dini yang terpejam.
"Aku nggak tau kenapa kalian bisa bahagia diatas penderitaan orang lain, diatas kesedihanku dan juga Andi, apa kalian memang seegois itu? demi cinta yang kalian punya, kalian harus menyakiti orang lain?"
"Sekarang aku tau kalau bukan cuma aku yang jahat disini, kamu sama Dimas juga jauh lebih jahat dari pada aku, dibalik sikap baik kalian, kalian adalah penjahat yang sesungguhnya," lanjut Anita.
"Jadi jangan salahkan aku kalau pada akhirnya aku harus ngelakuin hal ini sama kamu Din, aku udah lelah sama semua rencana rencana yang aku buat dan berakhir sia sia, sekarang adalah waktunya aku buat mengakhiri semuanya," ucap Anita dengan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Dengan menghilangnya kamu dari dunia ini, Dimas akan hancur, dia akan rasain apa yang selama ini aku dan Andi rasain, kesedihan, kehancuran dan keputusasaan," ucap Anita.
Anita lalu menempelkan benda yang ada di tangannya ke arah kepala Dini dengan senyum penuh kemenangan.
"Aku emang nggak pernah pake pistol, tapi kalau cuma dari jarak sedekat ini, aku yakin aku bisa, kamu tenang aja, ini nggak akan menyakitkan karena aku akan pastikan kalau peluru ini akan langsung membuat kamu pergi dari dunia ini," ucap Anita lalu tertawa terbahak bahak.
Ia benar benar sudah kehilangan kewarasannya saat itu.
**
Di tempat lain, Dimas yang baru saja keluar dari kantor segera menghubungi Dini untuk memastikan apakah Dini masih menunggunya atau sudah pulang.
"Nomor yang Anda tuju sedang........"
"Hmmmm, ngambek lagi," ucap Dimas lalu menghubungi telepon rumahnya untuk menanyakan keberadaan Dini.
Namun asisten rumah tangganya memberi tahunya jika Dini belum pulang sejak keluar untuk menjemput Dimas beberapa jam yang lalu.
Dimas lalu menghubungi pak Yusman, untuk menanyakan keberadaan Dini. Namun sama saja, ponsel pak Yusman tidak dapat dihubungi membuat Dimas menjadi khawatir.
Sebelumnya, Dimas selalu mewanti wanti pak Yusman agar selalu memastikan ponselnya aktif supaya ia bisa tau kemana Dini pergi.
"Aku udah di kafe depan kantor kamu, kamu jam berapa selesai?"
Dimas lalu ingat jika Dini berada di kafe depan kantornya, tanpa pikir panjang Dimas segera menuju ke kafe itu.
Sesampainya disana, matanya berkeliling untuk mencari keberadaan Dini, namun ia tidak menemukannya.
Dimas lalu meminta izin untuk memeriksa rekaman CCTV kafe untuk memastikan apakah Dini beberapa waktu lalu berada disana atau tidak.
Saat Dimas memperhatikan rekaman CCTV, Dimas melihat Dini datang ke kafe itu bersama Anita. Mereka terlihat mengobrol kemudian pergi berdua bersama pak Yusman.
Dimas lalu keluar dari kafe, ia segera menghubungi Anita namun nihil, ponsel Anita juga tidak dapat dihubungi.
Dimas kemudian menghubungi Andi, ia berpikir bisa saja Dini mengajak Anita untuk menemui Andi atau baby Alana.
__ADS_1
Namun Andi berkata jika Dini dan Anita tidak ke rumahnya, ia bahkan tidak tau jika Anita kembali dan menemui Dini.
"Lo yakin?" tanya Dimas memastikan.
"Gue dari pagi di rumah karena Alana demam, jadi gue pasti tau kalau mereka kesini!" jawab Andi meyakinkan.
"Apa lo tau dimana Anita sekarang tinggal?" tanya Dimas.
"Gue nggak tau tepatnya dimana, tapi gue pernah tanya satpamnya kalau bibi tinggal di daerah X, tapi lo yakin Dini pergi sama Anita?"
"Iya, gue udah liat dari CCTV, mereka pergi berdua sama supir Andini, tapi nggak ada satupun dari mereka yang bisa gue hubungi," jawab Dimas yang terdengar semakin panik.
"Lo bisa cek lokasi Dini dari hp lo kan?"
"Nggak bisa, Andini nggak mau gue ngelakuin itu, tapi......."
"Tapi apa?"
"Gue tau, ntar gue hubungi lo lagi!" ucap Dimas tanpa menjawab pertanyaan Andi lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Dimas baru ingat jika ia memasang GPS di mobil yang dipakai pak Yusman. Dimas lalu melihat lokasi mobil itu dari ponselnya.
"ini bukan daerah X, kalau Andini nggak ngajak Anita ke rumah Andi, berarti Anita yang ngajak Andini ke suatu tempat, kalau bukan ke rumah Anita dan bukan rumah bibinya, ini rumah siapa?" batin Dimas bertanya tanya.
Dimas lalu mengirim lokasi mobil yang dikendarai pak Yusman pada Andi. Jika sampai 1 jam ke depan Dimas belum menghubunginya, ia meminta Andi untuk menyusulnya kesana.
Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia takut terjadi sesuatu pada Dini.
Dimaspun segera mengendarai mobilnya ke arah lokasi dimana mobil yang dikendarai pak Yusman berada.
Sepanjang perjalanan, ia hanya bisa berharap jika Dini baik baik saja. Ia mencoba berpikir jika apa yang ia rasakan saat itu hanyalah rasa panik karena hal buruk yang pernah terjadi pada Dini dulu.
Setelah hampir satu jam mengendarai mobilnya, Dimaspun melihat mobil yang dikendarai pak Yusman, tapi ia tidak melihat siapapun disana.
Di sisi lain, Dini yang mulai mengerjap membuat Anita segera menyembunyikan pistol miliknya.
Namun ia lupa dimana ia menaruh suntikan yang berisi obat bius, membuatnya tidak bisa lagi menahan Dini untuk tetap tak sadarkan diri.
Kaki dan tangannya terasa sakit karena terikat kuat oleh tali tambang.
"Anita!"
"Hai Din," sapa Anita tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kamu ngelakuin ini?" tanya Dini dengan berusaha melepaskan tangannya dari ikatan.
"Jangan banyak bergerak Din, tali itu nggak akan mudah lepas," ucap Anita tanpa menjawab pertanyaan Dini.
"Kamu emang nggak pernah berubah Nit, apa mau kamu sebenarnya?"
Anita tertawa mendengar pertanyaan Dini, ia lalu mengambil pistol dan mengarahkannnya pada Dini, membuat Dini bergidik ngeri.
"Kamu masih tanya apa mau aku sebenarnya?" balas Anita bertanya.
"Sadar Anita, apa yang kamu lakukan ini nggak bener!" ucap Dini.
"Lalu apa menurut kamu cuma kamu dan Dimas yang bener? jangan merasa diri kamu paling benar Din, kamu sama Dimas sama sama egois, kalian bahagia di atas penderitaan orang lain!"
"Kalau kamu ngelakuin ini demi dapetin Dimas, itu nggak akan terjadi Nit, apapun yang terjadi Dimas nggak akan bisa cinta sama kamu!"
"Aku tau, aku sangat tau itu, dia udah tergila gila sama kamu, jadi kalau dia tau kamu pergi dari dunia ini, apa kamu bisa bayangin apa yang akan terjadi sama dia? dia bisa bener bener gila hahaha......"
"Kamu emang jahat Anita, kamu nggak pantas jadi seorang ibu!"
"Tutup mulut kamu Din, jangan bikin aku marah sama kamu!" ucap Anita yang mulai emosi karena ucapan Dini.
"Tolong pikirkan baby Alana Nit, dia butuh kamu, apa yang akan terjadi sama dia kalau dia tau ibunya kayak gini?"
"DIIIIAAAAMMMMM!!" ucap Anita dengan berteriak kencang, membuat Dimas yang berada di depan mendengar suaranya.
__ADS_1
Dimas yang masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu segera membawa langkahnya masuk tanpa permisi sambil menghubungi Andi.
"Ndi, gue udah di lokasi, lo bisa kesini sekarang?"
"Gue udah di jalan," jawab Andi.
"Bagus, gue......"
BRAAAAAAKKKKKKKK
Dimas segera berlari ke arah salah satu ruangan yang ada disana setelah mendengar suara yang kencang dari salah satu ruangan di rumah itu.
Tanpa sadar ia membiarkan ponselnya masih tersambung pada Andi, membuat Andi bisa mendengarkan apa yang terjadi di tempat Dimas berada.
Tanpa ragu Dimas membuka pintu ruangan itu dengan keras dan dilihatnya Dini yang sedang duduk dengan diikat kaki dan tangannya pada sebuah kursi.
Sedangkan Anita, menodongkan sebuah pistol tepat di kepala Dini.
Dini dan Anita yang ada disana begitu terkejut dengan kedatangan Dimas. Anita sama sekali tidak menyangka jika Dimas akan datang ke tempat itu.
"Jangan mendekat atau aku akan bener bener tarik pelatuknya sekarang juga!" ucap Anita pada Dimas.
Dimas berjalan pelan memasuki ruangan itu dengan menjaga jarak dari Dini dan Anita, ia tidak ingin apa yang ia lakukan membuat Anita benar benar menarik pelatuk pistolnya saat itu.
"Tenang sayang, semuanya akan baik baik aja," ucap Dimas pada Dini.
"Enggak, semuanya nggak akan baik baik aja," sahut Anita.
"Anita, aku....."
"DIAM!!" ucap Anita memotong ucapan Dini dengan semakin menekan pistolnya di kepala Dini.
"Kenapa kamu kayak gini Nit? aku sama Andini minta maaf kalau kita salah sama kamu, tapi...."
"Minta maaf nggak akan merubah apapun Dimas, apa kalian nggak pernah sadar kalau kalian udah bahagia di atas penderitaan orang lain? nggak cuma aku tapi juga Andi!"
"Anita, aku mohon jangan lakuin ini, aku udah percaya sama kamu kalau kamu beneran udah berubah, tolong jangan bertindak bodoh seperti ini!" ucap Dimas.
"Bodoh? aku atau kamu yang bodoh Dimas, apa kamu pernah berpikir gimana perasaan Andi selama ini? dia yang lebih dulu kenal sama Dini, dia yang selalu ada buat Dini, dia yang lebih mencintai Dini, tapi kamu yang menikahi Dini, kamu rebut Dini dari Andi padahal kamu tau gimana perasaan Andi sama Dini, apa kamu emang selalu jadi laki laki yang egois?"
Ucapan Anita membuat Dini benar benar terkejut, ia tidak tau apa Anita mengatakan yang sebenarnya atau hanya ingin mengacaukan hubungannya dengan Dimas.
"Dan kamu Din, kamu yang dari kecil selalu sama Andi tapi kamu nggak pernah tau gimana perasaan Andi sama kamu, apa kamu layak buat disebut sebagai sahabat?" ucap Anita pada Dini.
"Apa maksud kamu bicarain semua ini Nit? kita udah memilih jalan kita masing masing, Andi juga udah bahagia dengan kehidupannya sekarang!" ucap Dimas.
"Justru karena itu, karena aku tau Andi udah bahagia, aku hanya harus bikin Dini pergi dari dunia ini, dengan begitu kamu akan tau rasanya ditinggalkan, kamu akan tau gimana rasanya kehancuran dan keputusasaan Dimas!"
"Ini semua nggak bener Nit, tolong jangan lakuin ini," ucap Dimas dengan berusaha mencari waktu yang tepat untuk melangkah sedikit demi sedikit ke arah Anita.
"Aku udah capek sama semua ini Dimas, takdir kebahagiaan nggak pernah berpihak sama aku," ucap Anita.
"Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi Nit, kita bisa bersahabat kayak dulu lagi kalau memang itu mau kamu," ucap Dimas berusaha mengacaukan fokus Anita agar ia bisa merebut pistol dari tangan Anita.
"Aku nggak butuh persahabatan lagi Dimas, kamu adalah hal paling menyakitkan dalam hidupku dan sampai kapanpun aku nggak akan biarin kalian berdua hidup bahagia dan satu lagi, tentang calon buah hati kalian, aku yang bikin Dini keguguran," ucap Anita yang membuat Dimas semakin meradang.
"Aku nggak mau liat kalian bahagia, jadi aku sengaja bikin Dini keguguran dengan kasih cairan ke kue yang aku bikin sama Dini, bodohnya Dini dia sama sekali nggak curiga sama aku hahaha....."
"Kamu emang jahat Anita, kamu nggak pantas mendapatkan kebahagiaan kamu di dunia ini!" ucap Dini penuh emosi.
Dimas yang juga dipenuhi dengan emosi dalam dirinya segera mendekat dan merebut pistol dari tangan Anita.
Anita yang saat itu tengah lengah karena ucapan Dini, tidak menyadari pergerakan Dimas ke arahnya.
Namun ia masih berusaha untuk mempertahankan pistol miliknya saat Dimas berusaha merebutnya.
Dan......
DOOOORRRRRR!!!!
__ADS_1
Suara tembakan terdengar memenuhi seisi ruangan itu. Tanpa sengaja pistol itu menembakkan pelurunya dengan jarak yang sangat dekat, membuat darah dengan cepat menetes dan membasahi lantai di bawah mereka.