Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kekesalan


__ADS_3

10 menit lagi jam sudah menunjukkan tepat pukul 7, Dini segera ke pantry untuk menyiapkan minuman hangat Adit.


Dini membawa minuman hangat itu ke ruangan Adit dan begitu terkejut melihat Adit yang sudah duduk di belakang meja kerjanya.


"Permisi pak, minuman Pak Adit," ucap Dini sambil menaruh minuman yang ia bawa di meja Adit.


"Maaf saya terlambat lagi," lanjut Dini.


"Kamu tidak terlambat, saya yang berangkat lebih awal," balas Adit.


Dini lalu kembali ke ruangannya, mengambil jadwal harian Adit dan memberikannya pada Adit.


"Setelah makan siang nanti ikut saya bertemu klien, bukan meeting penting, cuma pertemuan biasa," ucap Adit.


"Baik pak, apa ada hal hal tertentu yang harus saya persiapkan?"


"Dandan yang cantik," jawab Adit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di hadapannya.


"Maaf pak, saya....."


"Saya yakin telinga kamu pasti masih normal, kembali ke ruangan kamu!"


"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu segera meninggalkan ruangan Adit.


"dandan yang cantik? maksudnya apa?" tanya Dini dalam hati.


Dini lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Sampai jam makan siang tiba Dini masih berkutat dengan lembaran berkas di mejanya.


Kriiiing Kriiiing Kriiiing


Dini mengangkat telepon yang berbunyi di hadapannya.


"Waktunya makan siang," ucap Adit melalui sambungan telepon.


Belum sempat Dini menjawab, Adit sudah mematikan teleponnya.


Dini lalu membereskan meja kerjanya, menyimpan file nya dan segera keluar dari ruangannya untuk pergi ke kantin.


"Dini!" panggil seseorang.


Dini lalu membawa pandangannya ke arah si pemanggil.


"Hai, aku Ica, divisi pemasaran," ucap Ica memperkenalkan diri.


"Dini," balas Dini.


"Iya, aku tau nama kamu, semua orang juga tau nama kamu karena kamu selalu jadi trending topic di sini," ucap Ica.


Dini hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Ica. Selama ia bekerja di sana, ia belum pernah makan siang bersama pegawai lain selain Ana.


"Kamu kenapa liatin aku?" tanya Dini yang merasa risih diperhatikan dengan intens oleh Ica.


"Kamu emang cantik sih, wajar kalau Pak Adit suka sama kamu," jawab Ica lalu menyantap makan siangnya.


"Apa kamu juga bagian dari mereka yang berpikir kayak gitu?"


"Maksud kamu?"


Dini menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan meja makannya setelah membayar.


"Eh Din, kemana?" tanya Ica namun Dini pergi begitu saja.


Dini memilih untuk pergi, menghindar dari mereka yang selalu berpikiran buruk tentangnya. Ia kembali ke ruangannya sebelum Adit menghentikan langkahnya.


"Berangkat sekarang Din?"


"Baik pak, saya ke toilet sebentar," jawab Dini lalu segera mengambil tasnya dan pergi ke toilet untuk menyempurnakan kembali make up nya.


"dandan yang cantik," batin Dini mengulang ucapan Adit.


"Dandan yang cantik itu gimana? aku mana pernah dandan aneh aneh, apa lipstiknya harus tebel? apa blush on ku kurang keliatan? gimana gimana? tau' ah nggak ngerti!"


"Kamu kenapa sih ngomel sendiri?" tanya seorang perempuan yang baru saja keluar dari salah satu bilik kamar mandi.


"Ica? bukannya kamu tadi....."


"Aku Aca, bukan Ica, apa nggak keliatan bedanya?"


"Eh, kalian kembar?"


"Kamu mau kemana sih ribet banget mau dandan doang!"


Dini menggeleng lalu segera memasukkan alat make up nya ke dalam tas.


"Aku bantuin kamu dandan sini!" ucap Aca.


"Nggak perlu, makasih," balas Dini lalu melangkah keluar.


"Yakin nggak mau?" tanya Aca.


Dini menghentikan langkahnya. Jika ia tidak mengikuti perintah Adit, ia takut Adit akan kembali murka padanya.


Dini lalu berbalik dan menghampiri Aca.


"Pak Adit minta aku dandan yang cantik, tapi aku nggak bisa dandan," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya menahan malu.


"Hahaha..... sini sini, aku bantuin, keluarin semua make up kamu!"


Dinipun mengeluarkan semua make up yang ia bawa. Bedak, pelembab bibir, bb cream dan lipstik, hanya itu yang ia bawa.


"Cuma ini?" tanya Aca yang dibalas anggukan kepala Dini.


"Oke, kamu pake punya ku aja!" ucap Aca.


5 menit berlalu.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Adit.

__ADS_1


"Halo pak, saya...."


"Kamu dimana Din? saya sudah tunggu kamu dari tadi!"


"Maaf pak, saya kesana sekarang."


"Cepat, saya tunggu di tempat parkir."


"Baik pak."


Setelah Aca menyelesaikan make up Dini, Dini segera berlari keluar toilet tanpa melihat kembali hasil make up Aca pada wajahnya.


Dini segera berlari ke tempat parkir sebelum mendapat amukan Adit.


Adit membuka pintu mobilnya ketika ia melihat Dini berlari ke arahnya. Dinipun segera masuk dan duduk di samping Adit.


"Maaf sudah membuat Pak Adit menunggu," ucap Dini yang merasa bersalah.


Adit hanya mengangguk dengan menahan tawanya, begitu juga Rudi yang berada di belakang setir.


"Jalan Rud!" ucap Adit.


"Baik pak," jawab Rudi.


"mereka lagi ketawain apa sih, seru banget kayaknya sampe nggak bisa nahan gitu," batin Dini dalam hati.


"Mode teman aktif ya Din, walaupun sekarang jam kerja tapi kita di luar kantor sekarang," ucap Adit.


"Bukannya kita mau bertemu klien ya pak?"


"Klien yang satu ini nggak perlu kamu hormati, anggap dia bukan siapa siapa, kamu jangan tanya apapun, akan saya jelasin kalau waktunya sudah tepat."


"Baik pak, mode teman aktif," ucap Dini dengan senyum manisnya.


"Rud, tolong tisunya!" pinta Adit.


Rudi pun memberikan tissue di hadapannya pada Adit.


Adit lalu mengambil selembar tissue dan menarik dagu Dini agar menghadap ke arahnya. Dini yang terkejut dengan hal itu segera menampik tangan Adit.


"Pak Adit ngapain?" tanya Dini dengan menggeser posisi duduknya.


Adit lalu memberikan tissue nya pada Dini.


"Kamu punya kaca kan?" tanya Adit sambil menyerahkan semua tissue nya pada Dini.


"Pu.... punya," jawab Dini gugup.


Adit hanya tersenyum, membiarkan Dini yang masih kebingungan. Dini lalu mengambil cermin kecil dari dalam tasnya dan melihat wajahnya.


Betapa malunya ia melihat pantulan wajahnya yang tampak begitu menyeramkan baginya. Dinipun segera menghapus make up yang menempel di wajahnya.


"Ke mini market bentar Rud!" pinta Adit pada Rudi.


"Baik pak."


Rudi menepikan mobilnya ke arah mini market. Tanpa banyak bicara, Adit segera turun dari dalam mobil dan pergi ke mini market seorang diri.


"Hehehe.... maaf mbak, mbak Dini tumben banget sih make up nya tebel gitu, biasanya kan nggak gitu, tapi tetep cantik kok hehe...."


"kalau cantik kan nggak mungkin diketawain," batin Dini kesal.


"Ini karena Pak Adit yang minta saya dandan cantik, coba kalau Pak Adit nggak....."


"Iya iya, saya minta maaf," ucap Adit yang sudah berada di samping Dini.


"Eh, maaf pak, saya nggak bermaksud....."


"Sini saya bantuin," ucap Adit sambil menuang sedikit micellar water di atas kapas yang baru saja ia beli.


Dini hanya diam membiarkan Adit memegang dagunya dan memoles wajahnya dengan kapas yang sudah dibasahi micellar water.


Saat itu wajah keduanya begitu dekat. Dengan pelan Adit membersihkan wajah Dini dari make up tebal yang tampak kurang cocok di wajah Dini.


"Kamu udah cantik tanpa make up tebel kayak gini Din," ucap Adit dengan tersenyum di hadapan Dini.


"inget Din, kamu tunangan Dimas, jangan baper, dia atasan kamu," batin Dini dalam hati.


"Udah, kamu pake lagi make up kamu yang biasanya," ucap Adit.


"Terima kasih pak," balas Dini.


"Usia kita cuma selisih dua tahun Din, kamu masih panggil saya 'pak' sekarang?"


"Kak Adit?"


"Gitu dong!"


Mereka lalu tersenyum. Dini kemudian memakai make up yang biasa ia gunakan sehari hari.


"dasar jiwa jiwa kesepian, gampang banget baper," batin Dini dalam hati.


"Ini kamu simpen aja!" ucap Adit sambil memberikan kapas dan micellar water pada Dini.


"Makasih, kak Adit," balas Dini ragu dengan panggilannya pada Adit.


"Pak Adit ngerti banget ya tentang make up!" sahut Rudi.


"Saya biasa liat Ana pake ini buat hapus make up nya," balas Adit.


"Kak Adit sama mbak Ana dulu deket banget ya?" tanya Dini.


"Banget, kayak pacaran," jawab Rudi cepat.


"Kamu aja yang ngira pacaran Rud!" balas Adit.


"Nggak cuma saya pak, semua karyawan kantor juga ngiranya begitu," ucap Rudi.


"Tapi pada kenyataannya kan saya sama Ana kan cuma berteman," balas Adit.

__ADS_1


"Hati orang siapa yang tau pak hehe...."


"Makanya jangan sok tau!"


"Baik pak, maaf."


"Saya sama Ana memang berhubungan baik Din, dalam hal pekerjaan ataupun di luar pekerjaan, saya harap saya juga bisa seperti itu sama kamu," ucap Adit pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Kamu sendiri gimana sama Andi? kayaknya kalian deket banget!" tanya Adit pada Dini.


"Dia sahabat baik saya, kita bersahabat dari kecil," jawab Dini.


"Kamu yakin?"


"Maksud kak Adit?"


"Persahabatan laki laki dan perempuan? impossible Din, pasti salah satu dari kalian ada yang menganggap hubungan kalian ini lebih dari sahabat!"


"Saya udah sering denger tentang itu, tapi antara saya dan Andi emang cuma sebatas sahabat," ucap Dini yakin.


"Oke, kita lihat aja nanti!"


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah. Dini dan Adit lalu segera masuk.


Entah kenapa Dini melihat raut wajah Adit yang tak bersemangat saat itu.


"Adit!!" panggil seorang perempuan dengan pakaian sexy dan rambut yang berwarna pirang.


Adit lalu berjalan menghampiri meja si perempuan bersama Dini.


"Selamat siang om," sapa Adit pada laki laki yang sudah duduk di sana.


"Hai Dit, om pikir kamu datang sendiri," balas si laki laki.


"Kenalkan om, ini Dini personal assistant Adit yang baru," ucap Adit memperkenalkan Dini.


"I miss you Dit, really really miss you!" ucap Jenny dengan merangkul lengan Adit.


"Keep your attitude Jen!" ucap Adit dengan melepas tangan Jenny dari lengannya.


"Jangan malu malu Dit, i know you so well, so don't run away from me!"


"Maaf om, jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pamit undur diri!" ucap Adit pada papa Jenny.


"Tentu ada dong Dit, tentang kontrak kerja sama yang sudah kita sepakati tahun lalu," balas papa Jenny.


"Apa Ana belum memberitahu om kalau kontrak itu dibatalkan?" tanya Adit.


"Jadi kamu yakin batalin kontrak kerja sama kita?"


"Sangat yakin om," jawab Adit penuh keyakinan.


"Dit, kamu tau siapa om kan? nggak semua perusahaan bisa kerja sama sama om, om....."


"Maaf om, keputusan Adit sudah bulat, Adit nggak bisa mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi, kalau memang perusahaan om berkompeten di bidang ini, seharusnya om tau hal itu!"


"Sombong sekali kamu Adit, kamu pikir kamu siapa?"


"Saya Adit dan saya tidak akan pernah berurusan lagi dengan perusahaan om, saya permisi," ucap Adit lalu berdiri, menarik tangan Dini dan membawanya keluar dari restoran itu.


"Adiiittt!" panggil Jenny dengan berteriak, membuat semua pengunjung restoran menoleh ke arahnya.


"Shut up Jenny!" bentak sang papa.


Jenny lalu duduk dan menghabiskan minuman di hadapannya dengan kesal.


Di sisi lain, Dini dan Adit sudah dalam perjalanan untuk kembali ke kantor. Adit melepas kancing jas hitamnya dan melonggarkan dasinya. Pertemuan yang baru saja dilakukannya benar benar membuatnya kesal.


"Kak Adit baik baik aja?" tanya Dini ragu, ia takut semakin memperburuk mood Adit.


Adit lalu tersenyum mendengar panggilan baru untuknya.


"Jangan tanya sekarang ya Din, lain kali saya akan jelasin semuanya," ucap Adit pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan kantor. Sebelum berjalan memasuki kantor, Dini menarik tangan Adit dan memberikan isyarat agar Adit merapikan dasinya, tapi Adit tidak memahami maksud Dini.


Dinipun berdiri di hadapan Adit. Ia merapikan dasi Adit dengan berjinjit.


"Terima kasih Din," ucap Adit dengan tersenyum manis.


Dini hanya membalas dengan tersenyum lalu berjalan mengikuti Adit ke arah ruangannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini sudah bersiap untuk pulang.


"Hai Din, gimana kencannya?" tanya Aca yang masuk begitu saja ke ruangannya.


"Kencan?"


"Iya, kamu sama Pak Adit abis kencan kan?"


"Kalian semua sama aja ternyata!" ucap Dini lalu berjalan pergi, namun Ica menghalangi pintu keluar.


"Kalian mau apa sih?" tanya Dini kesal.


"Din, kita ini cuma tau semua gosip dari satu pihak, kamu sendiri nggak pernah ada klarifikasi apapun, sikap kamu seolah membenarkan semua gosip itu!" ucap Ica pada Dini.


"Jadi jangan salahkan kita kalau kita juga percaya gosip itu!" lanjut Aca.


"Apa dengan aku klarifikasi semuanya akan baik baik aja? apa mereka akan percaya sama aku? atau aku malah memperburuk keadaan?"


"Kamu nggak akan tau sebelum kamu mencoba Din!" balas Ica lalu meninggalkan ruangan Dini disusul dengan Aca.


Dini hanya menghembuskan napasnya kasar lalu keluar dari kantor dan menghampiri Andi yang sudah menunggunya di halte.


"Ada apa sih, kesel banget kayaknya!" tanya Andi yang melihat raut wajah Dini tampak kesal.

__ADS_1


"Jangan tanya, aku lagi pingin makan orang sekarang!" jawab Dini lalu segera naik ke dalam bus yang baru saja berhenti.


Andi hanya diam dan tidak bertanya apapun lagi. Ia akan membiarkan Dini meluapkan kekesalannya dulu. Setelah lebih tenang, ia yakin Dini akan menceritakan semua masalah yang dialaminya pada Andi.


__ADS_2