Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Prasangka


__ADS_3

Gelap masih menyelimuti malam. Dimas sampai di depan rumah Anita.


"Nggak mau mampir dulu?" tanya Anita pada Dimas.


Dimas hanya diam, matanya masih memandang lurus ke depan seolah tak ada siapapun di sampingnya.


"Dimas," panggil Anita dengan menyentuh tangan Dimas, membuat Dimas segera menarik tangannya menjauh dari Anita.


"Turun Nit!" ucap Dimas yang terdengar begitu dingin.


"Kamu hati hati ya, makasih buat malam ini," ucap Anita lalu turun dari mobil Dimas.


Dimas hanya diam lalu segera meninggalkan rumah Anita setelah Anita turun.


Cerita masa lalu yang baru saja ia dengar masih berputar dengan jelas di kepalanya.


"papa? enggak, nggak mungkin, aku harus cari tau sendiri!"


Sesampainya di rumah, Dimas segera menemui papanya di ruang kerja.


"Pa, Dimas boleh masuk?" tanya Dimas setelah ia mengetuk pintu.


"Iya," jawab papa Dimas dari dalam ruangan.


Dimas lalu masuk dan duduk di depan meja sang papa.


"Ada apa Dim?" tanya papa Dimas.


"Papa lagi sibuk ya?"


"Sedikit, tapi bisa papa lanjutin nanti," jawab papa Dimas sambil menutup laptop di hadapannya, namun Dimas menahannya.


"Papa sambil kerja nggak papa, Dimas cuma mau cerita," ucap Dimas.


"Oke, kamu mau cerita apa?"


"Andini sekarang jadi personal assistant CEO di perusahaan X Pa!"


"Bagus dong, jarang loh baru masuk udah jadi personal assistant!"


"Tapi papa tau kan gimana CEO di sana, Andini bilang dia galak!"


"Dia emang tegas Dim, tapi dia juga terkenal baik kok, kamu tenang aja, lama lama Dini pasti terbiasa!"


Dimas lalu berdiri dari duduknya sambil berkeliling di perpustakaan kecil di ruangan itu.


"Tapi Andini udah sering dimarahi Pa, padahal dia baru di sana!"


"Itu cara Adit buat bangun mental karyawannya, apa lagi Dini kan personal assistant yang selalu deket sama dia, jadi pasti dia mau Dini jadi karyawan terbaiknya kan!"


"Iya sih, papa bener," balas Dimas sambil mencari cari buku tentang karyawan sang papa dari 25 tahun yang lalu.


"Papa tau kamu khawatir sama Dini, tapi kamu juga harus biarin dia berjuang di luar sana, yang harus kamu lakuin sekarang adalah kasih support buat dia!"


Dimas diam beberapa saat, mendengar ucapan papanya membuatnya mengingat ucapan Andi padanya.


"dia lagi butuh semangat dan dukungan dari lo!"


Dimas lalu kembali mencari apa yang harus ia temukan di rak buku itu. Tak lama kemudian, ia menemukannya.


Dimas segera duduk di bangku yang berada di sudut ruangan itu dan membuka halaman demi halaman buku yang ada di hadapannya.


Papanya yang fokus pada pekerjaan tidak mengetahui apa yang sedang Dimas baca karena jarak mereka yang cukup jauh dan Dimas yang duduk membelakangi sang papa.


Papa Dimas sama sekali tidak curiga karena Dimas memang sering melakukan hal itu. Buku buku di rak buku itu sudah seperti sahabat bagi Dimas, setiap ia memasuki ruang kerja papanya ia akan mengambil satu buku untuk dibacanya.


"Aris Arianto, bener, ada di sini," batin Dimas dalam hati.


Dimas lalu mengembalikan buku itu ke tempat semula.


"Dimas keluar ya pa!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala papanya.


Dimas masuk ke kamarnya, memikirkan langkah apa yang bisa diambilnya untuk mengetahui masa lalu dari seorang Aris Arianto.


"aku harus tanya siapa tentang ini? kalau aku tanya papa, papa pasti curiga, nggak akan lama setelahnya papa pasti tau apa yang terjadi sama hubunganku sama Dini,"


Di tempat lain, Andi dan Dini sedang menunggu taksi untuk pulang.


"Kamu masih marah sama Dimas?" tanya Andi pada Dini.


"Aku nggak tau, aku kecewa sama dia Ndi!"


"Bicarain baik baik Din, aku yakin maksud Dimas baik, dia mau hubungan kalian jadi jelas."


"Apa dia bosen sama hubungan ini?"


"Enggak gitu, kalian kan udah tunangan, tapi kalian malah backstreet kayak gini, Dimas cuma mau tau alasan ibu kamu Din."


"Itu taksinya, ayo!"


Andi hanya menggeleng pelan lalu mengikuti Dini berjalan ke arah taksi yang berhenti di hadapan mereka.


Sesampainya mereka di depan rumah masing masing, Andi masih menahan tangan Dini.


"Din, bicarain baik baik ya, semua akan selesai kalau kalian saling komunikasi dengan baik, jangan menghindar, masalah akan semakin besar kalau kamu menghindar!" ucap Andi pada Dini.


Dini hanya mengangguk lalu segera pulang ke rumahnya.


"Dini pulang bu," ucap Dini ketika ia memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Bu, ibu udah tidur?" tanya Dini dari depan pintu kamar sang ibu.


Tak ada jawaban, Dini berpikir jika ibunya sudah tertidur.


Tanpa Dini tau, di dalam kamarnya, ibu Dini menumpahkan semua tangisnya tanpa suara. Masa lalu pahit yang ia kubur dalam dalam, kini kembali terasa menyakitkan setelah ia mengulasnya kembali.


"dia mengalami amnesia disosiatif, sebuah penyakit mental yang melibatkan kerusakan pada ingatan dan kesadaran, hal itu bisa terjadi karena kejadian traumatis yang membuat otak secara otomatis memblokir informasi tertentu dari kejadian traumatis yang dialaminya, jadi dapat dipastikan jika dia akan lupa pada poin poin penting tertentu yang berhubungan dengan traumanya."


Ucapan Dokter 21 tahun yang lalu membuat ibu Dini semakin dalam mengubur masa lalunya. Ia tidak ingin hal buruk kembali terjadi pada anak semata wayang yang sangat ia sayangi.


"maafin ibu Din, maafin ibu," batin ibu Dini dalam hati.


Di sisi lain, setelah berganti pakaian dan membasuh wajahnya, Dini mengambil ponselnya dan menghubungi Dimas.


Seberapa besarpun rasa kecewanya pada Dimas, ia masih merindukan laki laki itu. Laki laki yang memberinya banyak kebahagiaan dan lika liku kehidupan yang tak akan pernah ia lupakan.


Dua kali Dini menghubungi Dimas namun tak ada jawaban, ia pun mengirim pesan singkat pada Dimas namun sudah hampir satu jam Dimas belum juga membalasnya.


"kamu kemana Dimas? kamu marah?" tanya Dini dalam hati.


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Dimas lagi, Dini akhirnya menyerah karena Dimas tidak kunjung menjawab panggilannya.


Dinipun merebahkan badanya di ranjang dengan masih memegang ponselnya. Sebuah notifikasi media sosialnya memberi tau jika Anita baru saja menunggah sebuah foto.


Dinipun membukanya dan begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah foto Anita yang sedang bersama Dimas di dalam mobil dan yang membuat Dini semakin merasa sesak di dadanya adalah caption yang ditulis Anita.


Memulai kembali masa lalu yang indah ❤


Dinipun kembali menghubungi Dimas, namun tetap saja tak ada jawaban. Ia lalu menghubungi Anita, sampai panggilan ke tiga kali barulah Anita menjawab panggilannya.


"Halo Din, ada apa?"


"Kamu lagi sama Dimas?"


"Iya, dia cuma nganterin aku pulang kok, kamu jangan salah paham ya!"


"Kalian dari mana?"


"Udah dulu ya Din, Dimas masih nungguin nih!"


Klik. Sambungan terputus.


Dini yang mendengar hal itu hanya diam dengan air mata yang memenuhi kedua sudut matanya.


"jangan nangis Dini, jangan cengeng, Dimas cuma nganterin Anita, kita kan temen sekarang," ucap Dini dalam hati.


"memulai kembali masa lalu yang indah? seindah apa masa lalu mereka, aku bahkan nggak tau sedeket apa hubungan mereka dulu,"


"apa Dimas udah maafin Anita? apa ini alasan kamu nggak angkat telfon ku? apa sebegitu pentingnya pertemuan kalian sampe kamu nggak peduli sama aku?"


"enggak, Dimas nggak kayak gitu, aku harus tanyain langsung sama dia,"


**


Setelah selesai bersiap, Dini mengambil ponselnya.


"kenapa Dimas belum hubungin aku? dia bahkan nggak baca pesan ku, apa HP nya hilang? apa dia marah? nggak tau lah, sekarang waktunya fokus kerja, hari ini harus sempurna, nggak boleh bikin Pak Adit marah!"


Setelah selesai sarapan bersama ibunya, Dini segera keluar dan melihat Andi yang sedang berlari ke arahnya.


"Ngapain sih lari lari!"


"Aku bangun kesiangan Din, aku pikir kamu udah berangkat!"


"Berarti kamu belum mandi ya?" tanya Dini sambil mengendus badan Andi.


"Tapi wangi kan?"


"Banget, ini parfum satu botol kamu pake semua?"


"Dua botol hehe...."


"Serius?"


"Enggak lah, ayo berangkat."


Merekapun berangkat menuju halte.


"Ndi, Dimas......"


"Hari ini Dimas nyuruh aku libur, jadi aku Free hari ini!"


"Kapan dia hubungin kamu?"


"Tadi pagi, pagi pagi banget."


"berarti HP nya nggak hilang kan? tapi kenapa dia nggak balik hubungin aku atau sekedar baca pesanku, apa dia beneran marah? apa Anita..... enggak, aku nggak boleh negatif thinking dulu." batin Dini dalam hati.


"Kenapa Din?" tanya Andi.


"Enggak, nggak papa."


Andi dan Dinipun segera menaiki bus. 30 menit berjalan, mereka sampai di tujuan.


"Aku duluan ya, bye!" ucap Dini sambil melambaikan tangannya pada Andi.


Andi hanya membalas lambaian tangan Dini dengan senyumnya. Tak lama setelah Dini menghilang dari pandangannya, ia melihat seseorang yang menarik perhatiannya.


"Pak Adit? kenapa wajahnya kayak nggak asing ya? apa bener aku baru ketemu dia beberapa hari yang lalu?" tanya Andi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Di sisi lain, Adit membawa pandangannya ke arah laki laki yang berdiri di sebrang jalan. Entah kenapa ia merasa seseorang itu sedang memperhatikannya.


"Permisi pak, ini kunci mobil Pak Adit," ucap Rudi pada Adit.


"Oh iya."


"Terima kasih untuk cutinya pak, saya permisi!"


Adit menganggukkan kepalanya lalu segera masuk ke dalam ruangannya.


Seperti biasa, air hangat sebagai minuman paginya sudah berada di meja kerjanya.


Dini yang melihat kedatangan Adit segera membawa map di mejanya dan mengantarnya ke ruangan Adit.


"Permisi pak, ini jadwal Pak Adit hari ini dan ini beberapa berkas yang harus Pak Adit tanda tangani," ucap Dini sambil memberikan beberapa map pada Adit.


"Kamu sudah menyelesaikan materi meeting agenda bulanan untuk minggu depan?" tanya Pak Adit.


"Saya baru mulai pak, ada beberapa hal yang saya belum paham dan masih saya cari tau," jawab Dini.


"Kamu bisa panggil anggota Divisi untuk membantu kamu, saya mau sebelum akhir minggu nanti semuanya sudah siap karena saya harus cek ulang sebelum hari H!"


"Baik pak."


Adit lalu berdiri dan mengambil beberapa map dan memberikannya pada Dini.


"Beberapa data yang kamu butuhkan ada di sini, saya percaya sama kamu jadi kerjakan dengan baik"


"Baik pak, saya permisi."


Dini kemudian kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dini dan Adit sudah bersiap untuk melakukan peninjauan di kantor cabang.


"Pak Rudi...."


"Dia cuti selama satu minggu karena istrinya baru melahirkan, jadi saya bawa mobil sendiri, kamu keberatan?"


"Tidak pak," jawab Dini dengan menggelengkan kepalanya.


Ketika mobil baru saja meninggalkan kantor, Adit mengingat sosok laki laki yang dilihatnya tadi pagi.


"Dia pacar kamu?" tanya Adit.


"Maaf pak, maksud Pak Adit?"


"Laki laki yang mengantar kamu!"


"Oh, dia sahabat saya pak, namanya Andi," jawab Dini.


"Andi? kenapa.... enggak, nama Andi emang udah umum kan? banyak yang pakai nama itu," batin Adit dalam hati.


Sesampainya di kantor cabang, Adit memperkenalkan Dini pada seluruh pegawainya di sana. Setelah melakukan peninjauan selama dua jam, Adit dan Dini meninggalkan kantor cabang.


"Kamu biasa makan siang dimana?" tanya Adit.


"Saya....."


"Ada kedai mie ayam enak di sini, mau coba?"


Dini masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia seperti sedang bersama Adit yang berbeda dengan yang ia temui pertama kali.


"Kamu nggak suka mie ayam?"


"Suka pak, suka," jawab Dini cepat.


Adit menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai sederhana di pinggir jalan. Ia lalu memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh.


"Waahhh bos kita dateng nih, apa kabar bos?" tanya si penjual mie ayam pada Adit.


Dini sedikit terkejut melihat Adit yang tampak akrab dengan si penjual mie ayam.


"Baik baik, tambah rame aja nih!" balas Adit.


"Alhamdulillah, berkat bantuan bos Adit juga."


Dari cerita si penjual mie ayam, akhirnya Dini tau jika dulunya ia hanyalah seorang penjual mie ayam keliling. Awal perkenalan mereka adalah saat dirinya membantu Adit menangkap pencopet yang mengambil tas mama Adit.


Dari sana mereka berkenalan dan semakin dekat. Sebagai bentuk balas budinya, Adit memberikan sebuah ruko pada si penjual yang sudah menolong mamanya, namun ia menolak dengan alasan pemberian Adit terlalu berlebihan.


Akhirnya berkat bantuan Adit, si penjual yang baik itu memiliki kedai mie ayam nya sendiri sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Hal itu membuat Dini tak bisa berhenti terkagum kagum pada sosok CEO galak yang sempat menjatuhkan mentalnya itu.


Setelah menghabiskan mie ayam dan es teh, Dini dan Adit segera kembali ke kantor.


"Di kantor, saya memang CEO dan atasan kamu, tapi di luar kantor saya bukan siapa siapa Din, kamu nggak perlu bicara formal sama saya!"


"Baik pak," balas Dini.


"Dan sekarang kita lagi di luar kantor, di luar jam kerja juga!"


Dini menganggukkan kepalanya ragu. Bagaimanapun juga, di matanya Adit adalah seorang atasan yang harus ia hormati.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Adit berdering. Adit lalu menepikan mobilnya dan menjawab panggilan di ponselnya.


"Maaf mengganggu mas Adit, ibu sekarang kritis mas, saya harap mas Adit segera ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


"Baik, saya kesana sekarang!"


Aditpun segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Dini hanya diam melihat Adit yang tampak gelisah dan cemas.


__ADS_2