Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Pengarang Cerita


__ADS_3

Bulan masih menggelayut dalam gelapnya langit malam. Gemerlap lampu kota membuat bintang terlalu malu untuk menampakkan dirinya.


Di bawah gelap malam itu, Andi dan Dini masih duduk bersama di balkon.


"Emang kamu mau menikah sama siapa?" tanya Andi.


"Sama kamu aja, Andi Putra Prayoga," jawab Dini dengan senyum manisnya yang membuat Andi salah tingkah.


Jawaban Dini yang terdengar santai itu nyatanya seperti petir yang menyambar ke dalam hati Andi.


Ia berusaha menguasai hatinya, menguasai keadaan agar ia tidak tampak canggung di hadapan Dini.


"Hahaha.... kamu ada ada aja," balas Andi dengan berusaha bersikap sewajarnya meski hatinya terasa bergejolak.


Dini hanya tersenyum tipis lalu menyeruput kopi milik Andi.


Mereka lalu sama sama diam menatap malam. Entah kemana hubungan mereka akan berakhir, mereka hanya sama sama berharap jika semuanya akan baik baik saja, tidak akan ada yang terluka dan tersakiti.


"Aku anter pulang Din!" ucap Andi pada Dini.


Dini menganggukkan kepalanya lalu turun bersama Andi.


"Rama, nanti kamu kasih tau aku ya kalau Andi minum kopi lagi!" ucap Dini pada Rama.


"Baik nona cantik!" balas Rama dengan memberikan hormat pada Dini.


"Sejak kapan kamu jadi genit gini?" tanya Andi dengan meninju pelan lengan Rama.


Rama hanya terkekeh lalu segera berlari ke kamarnya di lantai dua.


Andi dan Dinipun keluar dari home store dan masuk ke dalam mobil lalu segera meninggalkan home store.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai.


"Aku langsung pulang ya Din, kamu harus istirahat!" ucap Andi.


"Iya hati hati," balas Dini.


Andi lalu meninggalkan rumah Dini dan mengendarai mobilnya ke arah rumah.


Sesampainya di rumah Andi segera masuk ke ruang baca yang baru. Di sana terdapat banyak rak dengan berbagai macam buku, persis seperti perpustakaan di sekolahnya. Ada beberapa kursi dan meja dengan penerangan yang cukup.


Andi lalu naik ke lantai dua dan duduk di kursi yang berada di sudut ruangan. Di sana adalah tempat bagi Andi untuk berdiam diri, jika ia sudah berada di sana itu berarti ia sedang tidak baik baik saja.


"takdir udah tertulis sebelum kita ada di dunia ini jadi aku cukup tau kalau kedatangan Dimas di hidup kamu memang sudah menjadi bagian dari takdir hidup kamu Din, cinta akan tumbuh dalam hati kamu dan kalian akan menikah, aku bahkan nggak berhak buat berharap apa apa sama kamu Din," batin Andi dalam hati.


Andi lalu membuka laci di dekat kursi dan mengambil sebuah buku. Buku tentang psikologi itu sempat menjadi makanannya setiap hari saat ia sedang senggang. Ia bahkan selalu menyempatkan waktunya untuk membaca dan memahami buku itu.


Buku yang membantunya untuk mengerti apa yang seharusnya ia lakukan agar Anita bisa berdamai dengan masa lalu buruknya.


Andi lalu membuka salah satu halaman di buku itu, terdapat sebuah surat di dalamnya dan Andi segera membukanya.


Hai Ndi, mungkin kamu akan baca surat ini setelah aku lama menyimpannya. Aku pingin cepet kasih surat ini buat kamu, tapi aku ragu dan aku memilih buat menyimpannya. Aku akan kasih surat ini buat kamu setelah aku rasa waktunya sudah tepat.


Andi, banyak hal yang membuat aku harus berterima kasih sama kamu. Saat semua orang membenci ku, kamu adalah satu satunya yang percaya dan menerima aku walaupun pada kenyataannya aku tetaplah Anita yang jahat.


Tapi semakin lama aku dekat sama kamu, perlahan aku mulai nyaman sama kamu. Kamu bantu aku buat lupain Dimas, kamu juga selalu kasih aku kebahagiaan yang selama ini aku impikan.


Sampai suatu saat aku bahkan nggak peduli lagi sama Dimas, aku menyerah sama Dimas dan aku memutuskan untuk mengakhiri perjuangan ku buat Dimas karena seperti yang kamu bilang, aku hanya akan terluka kalau aku masih berharap sama Dimas.


Adanya kamu di sampingku bikin aku percaya dan yakin kalau aku pun berhak bahagia.


Andi, aku nggak tau gimana cara kamu buat simpan perasaan kamu selama ini buat Dini. Tapi yang aku tau cinta kamu buat dia sangat besar.


Tapi...... apa aku boleh jatuh cinta sama kamu?


Aku tau di hati kamu cuma ada Dini dan cinta kamu cuma buat Dini, tapi apa aku boleh berharap sedikit aja buat jadi bagian dari hati kamu?


Hahaha.... pertanyaan bodoh.


Aku memang selalu bodoh dalam hal ini Ndi, kamu tau itu! hahaha.....


Tapi yang harus kamu tau, kamu udah kasih aku banyak kebahagiaan dan aku sangat berterima kasih karena hal itu.


Love you Ndi, makasih karena udah jadi bagian paling berharga dalam hidupku :-)


Andi lalu kembali melipat surat itu dan menaruhnya di tengah tengah halaman buku. Andi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"maafin aku Nit, maaf kalau sikapku bikin kamu berharap," batin Andi dalam hati.


Andi lalu mengusap wajahnya kasar dan menghela napasnya panjang. Namun ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang berdiri memperhatikan nya.


"Sejak kapan lo disitu?" tanya Andi.

__ADS_1


"Sebelum lo baca surat itu," jawab Adit lalu duduk di samping Andi.


"Lo udah baca surat ini?" tanya Andi.


"Enggak, gue aja nggak tau lo nyimpen buku itu di laci," jawab Adit.


"Tapi sekarang lo tau!" ucap Andi kesal.


"Hahaha..... tenang aja, gue hargai privasi lo!" balas Adit.


Andi hanya diam lalu kembali memasukkan buku itu ke dalam laci.


"Surat dari siapa? Dini? Anita?" tanya Adit.


"Anita," jawab Andi singkat.


"Jadi udah berapa kali lo baca surat itu? lo pasti udah hafal isinya kan? hahaha...."


"Lo pasang CCTV di sini?" tanya Andi dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Gue sering liat lo jalan ke sini, waktu mau gue samperin lo lagi baca surat dan kayaknya lo butuh waktu buat sendiri jadi gue pergi," jawab Adit.


"Tapi kenapa tadi lo tadi nggak pergi?"


"Gue udah sering banget liat lo kayak gini, jadi gue mutusin buat liatin aja dari jauh dan gue samperin setelah lo selesai baca," jawab Adit.


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Adit. Selama ia membaca surat itu berkali kali, ia tidak pernah melihat ada Adit di sana. Ia pikir ia selalu sendirian saat ia membaca surat itu di ruang baca.


"Life must go on Ndi, dia pergi karena pilihannya sendiri, jadi dia pasti bahagia," ucap Adit pada Andi.


"Tapi kenapa dia nggak pernah ngabarin gue? gue bahkan nggak pernah dapet jawaban dari orang orang terdekatnya, dia pergi bukan karena kemauannya tapi karena paksaan dalam dirinya!" balas Andi.


"Apa lo jatuh cinta sama dia?" tanya Adit penuh selidik.


"Jangan gila, gue cuma merasa bersalah aja kalau dia pergi karena gue!" jawab Andi.


"Hahaha.... ayo turun, mama pasti udah nunggu!"


Andi lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti Adit berjalan keluar dari ruang baca untuk makan malam bersama sang mama.


**


Hari berganti, pagi telah datang menyapa.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Dengan malas Adit beranjak dari tidurnya dan membuka pintu. Belum sempat Adit mengucapkan sepatah katapun, sang mama sudah menunjukkan ponselnya pada Adit dengan raut wajah yang penuh amarah.


Adit lalu mengambil ponsel sang mama dan begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah foto dirinya tengah bersama Ana tampak di ponsel sang mama.


Meskipun wajah Ana tidak terlihat dengan jelas, namun perut buncit Ana sangat jelas terlihat.


"Kamu bisa jelaskan sama mama? siapa perempuan ini Adit?" tanya mama Siska dengan berusaha menahan emosinya.


Adit masih terdiam. Ia tidak menyangka sang mama akan mendapatkan foto itu dan jika foto itu tersebar di media maka nama baik keluarga dan perusahaan nya akan terancam.


"Adit jawab mama!" ucap mama Siska dengan berteriak.


Andi yang mendengar suara teriakan mama Siska segera keluar dari kamarnya dan melihat sang mama yang berdiri di depan kamar Adit.


Ia pun segera berjalan menghampiri sang mama.


"Ada apa ma? kenapa....."


"Lihat ini, kelakuan kakak kamu bener bener bikin mama malu!" ucap mama Siska dengan merebut ponselnya dari Adit dan memberikannya pada Andi.


Seketika Andi membawa pandangannya pada Adit setelah ia melihat foto yang ada di ponsel sang mama.


"Kenapa kamu diam Dit? kenapa kamu nggak jelasin apa apa sama mama? apa bener kamu menghamili perempuan di luar sana?"


Adit segera membawa pandangannya pada sang mama saat mendengar pertanyaan terkahir dari mamanya.


"Enggak ma, Adit nggak pernah ngelakuin hal itu, Adit nggak mungkin....."


"Lalu ini apa Dit? siapa perempuan hamil ini?" tanya mama Siska yang sudah begitu geram pada Adit.


"Sabar ma, tenangin diri mama dulu, kita bicarain baik baik di dalam," ucap Andi dengan memegang kedua bahu sang mama dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Adit.


"Mama memang bukan mama yang baik buat kamu Dit, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan hal itu di belakang mama," ucap mama Siska dengan bersedih.


Adit hanya diam dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu pasti tau apa yang terjadi kalau sampe foto itu tersebar di media kan? kamu nggak cuma menghancurkan perusahaan tapi juga menghancurkan kepercayaan mama dan papa Adit!"

__ADS_1


"Ma, Adit....."


"Tunggu tunggu.... kayaknya Andi tau foto ini deh!" ucap Andi yang membuat Adit dan mama Siska segera membawa pandangannya pada Andi.


"Maksud kamu apa Ndi? kamu tau siapa perempuan ini?" tanya mama Siska pada Andi.


"Andi nggak tau siapa perempuan itu tapi Andi tau gimana kejadiannya waktu itu karena Andi juga ada di sana," jawab Andi.


"Mama nggak ngerti maksud kamu," ucap mama Siska.


"Jadi waktu itu Andi sama kak Adit lagi di mall di daerah X, Andi sengaja ngajak kak Adit kesana karena ada pameran mobil di sana, sebelum pulang kita makan dulu di sana, waktu Andi mau bayar makanannya ada ibu ibu hamil yang jatuh, karena kak Adit ada di deketnya, kak Adit langsung bantuin ibu itu berdiri, iya kan? masak lo nggak inget?" jawab Andi sekaligus bertanya pada Adit.


"Ibu hamil? di mall? oh iya gue baru inget, itu ibu hamil yang ditinggal suaminya pergi kan?"


"Iya bener, kayaknya mereka abis berantem terus si suami pergi," jawab Andi penuh keyakinan.


"Kamu yakin itu perempuan yang sama?" tanya mama Siska pada Andi.


"Andi yakin ma, itu kan mall di daerah X, Andi inget banget karena Andi ngajak kak Adit kesana buat minta mobil baru hehe...."


Mama Siska lalu membawa pandangannya pada Adit dan menatap Adit dengan tajam.


"Benar apa yang Andi bilang?" tanya mama Siska pada Adit.


"Iya ma, pasti ada yang nggak suka sama Adit dan cerita ke mama seolah olah Adit jalan sama perempuan itu padahal Adit cuma bantuin dia berdiri," jawab Adit.


Mama Siska lalu mendekat dan memeluk Adit.


"Maafin mama Dit, mama cuma takut kalau kamu salah jalan dan mengecewakan mama sama papa," ucap mama Siska.


"Adit tau apa yang harus Adit lakuin ma, Adit nggak akan mengecewakan kepercayaan mama dan papa," balas Adit.


"Tapi mama takut kalau teman mama ini akan sebarin foto kamu ke media sayang, suaminya memang rekan kerja kamu tapi bukan nggak mungkin kalau dia akan sebarin foto itu kan?"


"Mama tenang aja, Adit akan urus semuanya," jawab Adit.


"Kamu harus cepat selesaiin masalah ini sebelum media tau Dit, orang akan mudah percaya sama apa yang mereka lihat tanpa mereka tau kebenarannya," ucap mama Siska.


"Iya ma, mama jangan terlalu khawatir, Adit akan selesaiin masalah ini dengan baik," balas Adit.


"Ya udah kalau gitu mama siapin sarapan kalian dulu," ucap mama Siska lalu keluar dari ruangan Adit.


Setelah memastikan sang mama turun ke lantai satu, Adit segera menyambar air minum di mejanya dan meminumnya sampai habis tak bersisa.


"Hampir aja!" ucap Adit dengan menghempaskan badannya di ranjang.


"Rencana lo apa sekarang?" tanya Andi.


"Gue harus cari tau siapa yang ambil foto itu dan siapa aja yang udah dapet foto itu, gue akan pastiin foto itu hilang dan nggak akan kesebar kemanapun," jawab Adit penuh keyakinan.


"Caranya?" tanya Andi.


"Liat aja nanti," jawab Adit dengan tersenyum.


Andi hanya tersenyum kecil melihat Adit yang sudah lebih santai setelah tampak tegang beberapa waktu yang lalu.


"Tapi perut mbak Ana udah gede ya, udah tau jenis kelaminnya?" tanya Andi.


"Baby girl," jawab Adit.


"Waaaaahh, pasti secantik mbak Ana nanti," ucap Andi.


"Pastinya," balas Adit bangga.


"Thanks udah bantuin gue," lanjut Adit berterima kasih pada Andi.


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar Adit.


"pengarang cerita yang handal," batin Adit dalam hati sambil tersenyum tipis.


"maafin Adit sama Andi ya ma, Adit sama Andi terpaksa berbohong karena Adit belum bisa cerita yang sebenarnya sama mama," ucap Adit dalam hati.


Adit lalu beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk mengguyur dirinya di bawah shower.


.


.


.


Selamat Tahun Baru 2022 🥳🥳


Semoga harapan dan impian kita bisa terwujud di tahun yang baru ini

__ADS_1


Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu terlimpahkan pada kita semua


Amiiin 😇


__ADS_2