
Waktu yang sudah berlalu tidak dapat terulang lagi. Tidak ada cara untuk menghindar dari apa yang sudah terjadi, yang bisa dilakukan hanyalah menghadapinya dan memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi.
Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah Anita setelah Anita meninggalkannya di rumah sakit.
Ia juga sempat membeli beberapa testpack dengan merk berbeda yang akan ia berikan pada Anita.
Jauh dalam hatinya, ia juga berharap jika ucapan Dokter salah mengenai kehamilan Anita.
Bukan karena ia tidak mau bertanggung jawab, tapi karena ia belum siap jika harus melepaskan dirinya pada sebuah pernikahan tanpa didasari oleh cinta.
Namun jika memang yang dikatakan Dokter itu benar, maka tidak ada jalan lain selain menerima bagian dari takdir hidup yang tidak ia inginkan.
Sesampainya di rumah Anita, Andi segera masuk dan berjalan ke arah kamar Anita. Ia mengetuk pintu kamar Anita beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Aku tau kamu di dalam Nit, buka pintunya, kita harus bicara!" ucap Andi dari depan pintu kamar Anita.
"Pergi Ndi, nggak ada yang harus kita bicarain!" balas Anita tanpa membuka pintu.
"Kalau kamu nggak buka pintunya sekarang aku akan kasih tau pak Sonny apa yang udah terjadi diantara kita!" ucap Andi mengancam.
Seketika Anita membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Kamu gila?" tanya Anita dengan emosi.
"Kamu yang gila, kenapa kamu lari? kenapa kamu pergi dari rumah sakit?" balas Andi yang tak kalah emosi.
"Lalu mau kamu apa sekarang? kamu mau aku tidur di rumah sakit?"
"Aku mau kamu pake ini!" jawab Andi sambil memberikan testpack yang baru saja ia beli.
Anita menerima testpack itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Anita!"
"Itu cuma terjadi sekali Ndi, apa yang dibilang Dokter pasti salah!" ucap Anita.
Andi menghela napasnya dengan kesal.
"Ikut aku!" ucap Andi dengan menarik tangan Anita.
"Enggak, nggak mau!" ucap Anita, namun Andi masih menarik tangannya.
"Aku harus pastiin semuanya Nit, aku juga nggak mau itu terjadi, tapi aku juga harus bertanggung jawab kalau emang apa yang Dokter bilang itu bener!"
"Enggak Ndi, aku..... aaawwhhh...."
"Kamu kenapa?" tanya Andi yang melihat Anita merintih dengan memegang perutnya.
"Aaaaaahhh.... perutku.... sakit," jawab Anita yang semakin terlihat kesakitan.
Tanpa banyak bertanya lagi, Andi menggendong Anita dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu segera mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Anita memegangi perutnya dengan mata berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit yang ia rasakan tapi karena takut jika apa yang Andi bilang benar.
Ia tidak mungkin bisa menerima kehamilan yang tidak diinginkannya itu. Ia juga tidak bisa membayangkan betapa murkanya sang papa saat mengetahui apa yang terjadi padanya.
Andi yang melihat Anita kesakitan lalu menggenggam tangan Anita tanpa mengucapkan apapun.
Jika Anita memang mengandung anak hasil perbuatannya, maka tidak ada jalan lain selain mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia perbuat, meski itu bukan keinginannya.
Sesampainya di rumah sakit, Andi segera menggendong Anita keluar dari mobil.
Setelah menunggu beberapa lama, Dokter memanggil Andi untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Anita.
"Pasien baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, di masa awal kehamilan kram perut memang wajar terjadi, untuk meredakannya bisa dengan minum air putih, berbaring atau berendam air hangat, yang pasti ibu hamil jangan dibiarkan stres ya!" ucap Dokter menjelaskan.
Andi yang mendengar hal itu hanya bisa diam. Fakta yang ada di hadapannya sudah tidak bisa dibantah lagi.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Dokter, Andi lalu menghampiri Anita yang masih terbaring di ranjang.
Dilihatnya Anita yang hanya diam dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Andi lalu mendekat dan menggenggam tangan Anita.
"Bilang sama aku kalau semua ini cuma mimpi," ucap Anita dengan suara serak.
"Ini kenyataan yang harus kita terima Nit," balas Andi yang membuat Anita semakin menangis.
Untuk beberapa saat mereka hanya bisa meratapi penyesalan mereka masing masing. Anita yang menyesal karena sudah menjalankan rencananya tanpa banyak pertimbangan dan Andi yang menyesal karena tidak bisa menahan dirinya malam itu.
Andi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan setetes air mata yang membawa penyesalan terbesar dalam hidupnya.
__ADS_1
Entah apa yang akan ia katakan pada mama dan kakaknya tentang apa yang sudah terjadi, tapi yang pasti ia akan mengecewakan orang orang yang ia sayangi.
Andi lalu pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang tampak kacau. Ia sadar tidak hanya dirinya yang terpuruk karena hal ini, tetapi Anita juga.
Bisa jadi Anita jauh lebih terpuruk dibanding dirinya. Karena kesalahan satu malam itu telah menghancurkan mimpi dan masa depan yang sudah Anita rencanakan.
Andi lalu kembali ke ruangan Anita dan membawa Anita keluar dari rumah sakit. Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah Anita.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam dengan pikiran masing masing. Tak pernah terlintas dalam benak mereka jika hal itu akan terjadi.
Sesampainya di rumah, Anita berjalan dengan langkah yang lemah ke arah kamarnya. Saat ia hampir terjatuh, Andi menahannya dengan sigap namun Anita segera melepaskan tangan Andi yang menahannya.
"Kamu pulang aja!" ucap Anita saat ia akan masuk ke kamarnya.
"Kita harus bicarain masalah ini dulu Nit!" balas Andi.
"Nggak perlu," ucap Anita.
"Tapi Nit....."
"Pulang Ndi! biarin aku sendirian!" ucap Anita setengah berteriak.
"Kita harus bicara Nit, mau sampe kapan kamu kayak gini sama aku?"
"Nggak ada yang perlu kita bicarain, aku udah bilang lupain kejadian itu!"
"Gimana aku bisa lupain kalau kamu sekarang mengandung anak aku, aku nggak sejahat itu Anita!"
"Terus apa yang mau kamu lakuin sekarang Ndi? apa yang bisa aku lakuin sekarang? semuanya udah terjadi dan nggak ada yang bisa kita lakuin!"
"Aku akan menikahi kamu," ucap Andi yang membuat Anita begitu terkejut.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang udah aku lakuin sama kamu," lanjut Andi.
"Enggak, aku nggak mau menikah sama kamu!" ucap Anita yang hendak menutup pintu kamar, namun Andi menahannya.
"Kenapa? apa aku nggak cukup baik buat jadi suami kamu?" tanya Andi.
"Enggak Ndi, ini semua nggak bener, ini nggak seharusnya terjadi!"
"Tapi ini udah terjadi Nit, ada darah daging aku di rahim kamu sekarang," ucap Andi.
"Aku tau ini nggak mudah buat kamu, ini juga bukan hal yang mudah buat aku Anita, aku yang akan jelasin semuanya sama papa kamu, aku....."
"Enggak, jangan pernah kasih tau papa tentang masalah ini!" ucap Anita memotong ucapan Andi.
"Kenapa? papa kamu harus tau Nit!"
"Nggak ada yang boleh tau masalah ini selain kita, aku akan gugurin bayi ini!" ucap Anita yang membuat Andi meradang.
"Jaga ucapan kamu Anita, jangan pernah berniat buat gugurin kandungan kamu, dia berhak buat tetap hidup, dia....."
"Dia nggak berhak hidup Ndi, nggak ada yang menginginkan kehadirannya, aku atau kamu, ini semua kesalahan yang nggak seharusnya terjadi!"
"Stop Anita, kamu jangan gila!"
"Gila? kamu yang bikin aku gila Ndi, kamu yang bikin semua ini terjadi," ucap Anita penuh emosi.
"Aku akan menikahi kamu Nit, aku...."
"Berhenti bicara tentang pernikahan Ndi, aku nggak mau menikah sama kamu, kita nggak saling cinta, nggak akan ada pernikahan tanpa cinta!" ucap Anita.
"Lalu apa bedanya dengan kamu yang terobsesi sama Dimas? kamu tetap kejar dia walaupun kamu tau dia nggak pernah cinta sama kamu, apa kamu pikir kamu akan bahagia berhubungan dengan laki laki yang nggak mencintai kamu?"
PLAAAAAKKKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Andi.
"Kamu sama Dimas berbeda, kamu nggak akan pernah ngerti cinta seperti apa yang punya buat Dimas!"
"Itu bukan cinta Nit, itu obsesi!"
"Kamu nggak tau apa apa Ndi, berhenti bersikap seolah kamu tau semua tentang aku, jadi sekarang kamu pergi dan biarin aku lakuin apapun yang aku mau!"
"Enggak Anita, kamu nggak boleh ngelakuin itu," ucap Andi
"Kamu yang bikin semua ini terjadi Ndi, kamu yang merusak semua rencanaku!!"
"Aku minta maaf, tapi tolong kendalikan diri kamu Anita," ucap Andi dengan memegang erat kedua tangan Anita.
__ADS_1
"Aku nggak bisa Ndi..... aku nggak bisa terima semua ini..... aku nggak bisa...." ucap Anita dengan terisak.
Andi lalu memeluk Anita, ia tau kehancuran seperti apa yang Anita rasakan saat itu. Namun ia tidak akan membiarkan Anita menggugurkan kandungannya, karena baginya semua itu adalah kesalahannya, bukan kesalahan bayi dalam kandungan Anita.
"Tenangin diri kamu dulu Nit, kita cari jalan keluarnya sama sama," ucap Andi berusaha menenangkan Anita.
Andi lalu membawa Anita untuk duduk di ranjangnya. Andi menggenggam tangan Anita dan membawanya menyentuh perut Anita.
"Aku yakin kamu bisa rasain ada satu kehidupan baru di sini, dia adalah bagian dari diri kamu dan juga aku," ucap Andi.
"Tapi aku nggak menginginkannya Ndi," balas Anita dengan terisak.
"Semua yang terjadi karena kesalahanku Nit, dia nggak tau apa apa jadi aku mohon sama kamu jaga dia dengan baik, aku akan lakuin apapun yang kamu mau asalkan kamu bisa jaga dia," ucap Andi.
"Lalu gimana sama aku? masa depan aku? kamu nggak mikirin itu?"
"Aku akan menikahi kamu Anita, secepatnya," jawab Andi.
Anita menggelengkan kepalanya pelan lalu merebahkan badannya di ranjang.
"Aku butuh waktu sendiri Ndi," ucap Anita dengan membelakangi Andi.
"Tolong pikirkan semuanya baik baik Nit, aku nggak akan lari, aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama kamu," balas Andi lalu keluar dari kamar Anita.
Saat Andi keluar, Andi melihat bibi yang berdiri terpaku di depan kamar Anita.
"Bibi udah denger semuanya?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala bibi.
"Ini semua salah Andi bi, bibi jangan khawatir, Andi akan bertanggung jawab, tolong hubungi Andi kalau terjadi sesuatu sama Anita," ucap Andi lalu pergi meninggalkan rumah Anita.
Bibi yang sedari tadi mendengar pertengkaran Andi dan Anita hanya bisa diam tanpa bisa berkata kata lagi.
Ia tidak menyangka jika majikan yang sudah dianggapnya anak itu hamil di luar nikah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak berani berspekulasi lebih jauh.
Yang ia tau saat itu adalah ia harus menenangkan Anita agar Anita tidak melakukan hal hal yang membahayakan, terlebih saat ia mendengar Anita akan menggugurkan kandungannya.
Bibi lalu masuk ke kamar Anita dan duduk di tepi ranjang Anita.
"Anita nggak papa bi," ucap Anita dengan menahan tangisnya.
Bibi lalu menggenggam tangan Anita, ia tau Anita selalu mengatakan hal itu jika terjadi sesuatu padanya.
Dari dulu, bahkan saat Anita dipukuli oleh papanya, ia selalu mengatakan jika dirinya baik baik saja meski sebenarnya hatinya telah hancur.
"Apa bibi harus kasih tau bapak non?" tanya bibi yang membuat Anita segera beranjak dan menggenggam kedua tangan bibi.
"Jangan bi, Anita mohon jangan kasih tau papa, tolong jaga rahasia ini cuma buat bibi, Anita mohon bi, bibi pasti tau apa yang akan papa lakuin kalau papa tau hal ini kan? jadi Anita mohon sama bibi jangan kasih tau papa," ucap Anita memohon dengan terisak.
Bibi menganggukan kepalanya dengan membelai wajah Anita, hatinya terasa sakit melihat apa yang terjadi pada Anita. Ia pun memeluk Anita dengan erat, membiarkan Anita menangis dalam pelukannya.
"Anita nggak tau apa yang harus Anita lakuin sekarang bi, Anita nggak mau bayi ini, Anita nggak siap," ucap Anita ditengah isak tangisnya.
"Apa bener ini karena den Andi?" tanya bibi memberanikan diri.
Anita hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan bibi.
"Biarkan den Andi yang bertanggung jawab non, bibi yakin den Andi bisa jadi suami yang baik buat non Anita," ucap bibi.
"Enggak bi, Andi nggak cinta sama Anita, Anita juga nggak cinta sama dia, gimana mungkin kita bisa menikah tanpa cinta," ucap Anita.
"Lalu apa rencana non Anita sekarang?" tanya bibi.
"Bantu Anita buat gugurin kandungan ini bi," jawab Anita yang membuat bibi begitu terkejut.
"Maaf non, bibi nggak bisa!" ucap bibi menolak dengan tegas.
"Anita mohon bi, Anita nggak mau papa tau dan Anita nggak mau menikah sama Andi, tolong bibi mengerti," ucap Anita memohon, tapi tidak membuat bibi goyah sama sekali.
"Bibi akan bantuin non Anita buat rahasiain hal ini dari bapak, tapi non Anita nggak boleh gugurin bayi ini!" ucap bibi tegas.
Bibi lalu kembali meraih Anita ke dalam pelukannya. Apapun keputusan Anita, ia akan menerimanya asalkan Anita tidak menggugurkan bayinya.
"Anita takut bi, Anita takut," ucap Anita yang kembali terisak.
"Bibi akan selalu di sini non, jangan takut," ucap bibi berusaha menenangkan Anita.
Seketika Anita mengingat sang mama. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
Ia merindukan sang mama, ia membutuhkan kehadiran sang mama yang akan memeluknya dengan hangat.
__ADS_1
Namun yang ada di hadapannya adalah bibi yang selalu menjaganya dan memeluknya sampai ia tertidur.