
Menit menit berlalu, matahari mulai merangkak kembali ke peraduannya. Beberapa pegawai tampak mengemasi barang barang mereka bersiap untuk meninggalkan kantor. Namun tidak pada Dini, ia masih fokus pada monitor dan beberapa berkas yang masih harus ia selesaikan.
"Din, nggak pulang?" tanya Cika.
"Belum selesai Cik," jawab Dini tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di hadapannya, jari jemarinya tak henti menari nari di atas keyboard tanpa lelah.
"Aku bantuin ya!"
"Nggak usah Cik, kamu pulang aja, udah di jemput kan?"
"Udah sih, nggak papa aku bantuin bentar," paksa Cika dengan mengambil beberapa tumpukan map di hadapan Dini.
Di lobby, Dimas beberapa kali mencoba menghubungi Dini namun tak pernah tersambung, karena tanpa Dini tau ponselnya kehabisan daya.
"Mbak, yang di divisi pemasaran pulangnya jam berapa ya?" tanya Dimas pada resepsionis.
"Harusnya sih sudah pulang mas, lagi nunggu pacarnya ya?"
"Iya mbak, dari tadi nggak turun turun," jawab Dimas.
"Langsung naik aja mas, bapak juga belum pulang," ucap sang resepsionis.
"Nanti aja deh mbak, saya tunggu di sini aja dulu," balas Dimas lalu kembali duduk.
Meski Dimas adalah anak dari pemilik perusahaan, Dimas sangat menghargai tempat kerja papanya. Ia tidak akan keluar masuk kantor seenaknya sendiri, bagaimanapun juga ia bukan pegawai dari perusahaan itu dan ia menempatkan dirinya sebagai orang luar di perusahaan milik papanya.
"Kamu ngapain Dim? nunggu Dini?" tanya papa Dimas yang baru saja melewati lobby.
"Iya Pa, dari tadi nggak turun turun, emang pulang telat semua ya?"
"Enggak kok, udah dihubungin?"
"Udah pa, tapi nggak bisa, HP nya lowbatt kayaknya," jawab Dimas.
"Naik aja, siapa tau dia masih banyak kerjaan," ucap papa Dimas.
"Enggak ah pa, Dimas kan bukan pegawai disini, kalau ada yang ngusir Dimas gimana?"
"Nih, bilang aja kamu orang suruhan papa!" ucap papa Dimas sambil memberikan name tag miliknya pada Dimas.
"Nah, gitu dong, Dimas masuk dulu ya pa, papa hati hati pulangnya!"
"Iya," jawab papa Dimas sambil berjalan meninggalkan lobby.
Ia sangat tau bagaimana anaknya, Dimas tidak ingin orang lain mengetahuinya sebagai anak dari pemilik perusahaan. Namun bagaimanapun Dimas menyembunyikannya, semua orang akan mengenalinya dengan mudah karena sejak kecil ia selalu ikut pertemuan bisnis kedua orangtuanya.
Hanya beberapa orang saja yang tidak mengenalnya sebagai anak dari Adhitama.
Setelah sang papa pergi, Dimas segera menuju lift, naik ke lantai 3, tempat Dini berkutat dengan semua pekerjaannya.
Dimas keluar dari lift dengan mengedarkan pandangannya mencari meja kerja Dini karena ia belum pernah menemui Dini di meja kerjanya sama sekali.
"Aku print hasilnya dulu ya Din!" ucap Cika dengan membawa flashdisk yang baru saja dicabutnya.
Namun belum sempat Dini menjawab, Kintan datang dan merebut flashdisk yang dibawa Cika.
"Apa ini? kamu bantuin Dini?" tanya Kintan pada Cika.
__ADS_1
"Iya mbak, ini udah lewat jam pulang dan kerjaan Dini masih banyak yang belum selesai, wajar dong kalau saya bantuin dia," jawab Cika.
"Kalau dia kerjanya cepet dia nggak akan pulang telat, jangan sok jadi pahlawan kamu!"
"Ini namanya pertemanan mbak, bukan sok jadi pahlawan, emang mbak Kintan nggak pernah punya temen ya?"
"Kurang ajar ya kamu!" ucap Kintan dengan melayangkan tangannya bersiap untuk menampar Cika, namun Dini segera menahan tangan Kintan.
"Udah mbak, udah, saya minta maaf, saya akan kerjain sisanya sendiri, saya janji," ucap Dini dengan masih menahan tangan Cika.
"Kamu pulang aja ya Cik, makasih udah bantuin aku," ucap Dini pada Cika.
"Tapi Din......"
"Cik, please," ucap Dini.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu," balas Cika lalu meninggalkan Dini.
Kintan lalu menarik tangannya dengan kasar dari pegangan Dini.
"Inget Din, jangan pulang sebelum semua kerjaan kamu selesai dan flashdisk ini saya pegang," ucap Kintan lalu berbalik bersiap meninggalkan Dini.
Tepat saat ia baru saja berbalik, Dimas berdiri menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
"Dimas, kamu kenapa di sini?" tanya Kintan.
"Jemput Andini mbak, ini kan udah lewat jam kerja," jawab Dimas.
"Tapi kamu kan bukan pegawai disini, kenapa bisa masuk ke sini?" tanya Kintan yang belum mengetahui siapa Dimas sebenarnya.
"Saya......"
"Pak Andre kenal?" tanya Kintan.
"Kamu ini gimana sih, mas Dimas ini kan anak tunggalnya Pak Tama, calon penerus perusahaan ini, iya kan mas?"
"Pak Andre bisa aja, ini emang jam pulangnya telat semua ya Pak?"
"Enggak kok mas, nggak banyak kerjaan hari ini jadi jam pulang sesuai ketentuan kantor, kebetulan HP saya ketinggalan jadi saya balik lagi," jawab Pak Andre.
"Berarti tunangan saya udah boleh pulang kan pak?"
"Tunangan?"
"Iya, Andini," jawab Dimas.
"Ayo pulang sayang!" ajak Dimas pada Dini.
"Tapi aku belum......"
"Pulang aja Din, jangan suka lembur, kerjaan kamu bisa diselesaiin besok kok kalau belum selesai," ucap Kintan memotong ucapan Dini.
"Nggak papa mbak?" tanya Dini.
"Nggak papa dong," jawab Kintan dengan senyum palsunya.
Dini pun mengemasi barang barangnya, menyimpan file nya ke dalam folder dan membereskan barang barang di meja kerjanya sebelum ia pulang.
__ADS_1
Ia lalu berjalan menghampiri Dimas.
"Andini ini tunangan saya pak," ucap Dimas pada Pak Andre sambil menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Waahhh, cocok mas, cantik dan ganteng, Dini ini rajin sekali mas kerjanya, selalu selesaiin tugasnya sebelum deadline," ucap Pak Andre memuji Dini.
"Tapi yang ini tadi saya......."
"Udah Pak, ayo pulang, udah ditungguin istri kan?" ucap Kintan pada Pak Andre, sengaja memotong ucapan Dini.
"Ya udah kalau gitu, saya balik dulu mas, salam buat Pak Tama mas!"
"Baik pak!"
Pak Andre dan Kintan lalu berjalan masuk ke dalam lift, meninggalkan Dini dan Dimas.
"Capek banget ya?" tanya Dimas yang hanya di balas anggukan kepala Dini.
"Apa perlu aku bilang papa soal mbak Kintan tadi?"
"Soal apa?"
"Aku tadi liat semuanya sayang," jawab Dimas.
"Oh, nggak usah lah, dia emang suka gitu, biarin aja toh bentar lagi aku udah resign dari sini," balas Dini.
"Kamu emang baik banget," ucap Dimas sambil mencium kening Dini.
"Jaga jarak dong, ini kan di kantor," ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas.
"Biarin aja, kan kantor papa," balas Dimas sombong.
"Oh, udah mulai sombong ya sekarang!"
"Hehe, enggak sayang bercanda!"
"Mbak Kintan sekarang udah tau identitas kamu ya dari Pak Andre!"
"Iya, biar dia nggak ganggu kamu lagi!"
"Dia nggak pernah ganggu aku kok!"
"Itu tadi?"
"Dia emang gitu orangnya, suka ngasih kerjaannya sama aku, aku sih nggak masalah, aku bisa sekalian belajar buat jadi asisten manajer, iya kan?"
"Tapi kan jadi beban buat kamu sayang!"
"Aku berusaha ambil positifnya aja Dim, tapi emang hari ini dia berlebihan banget sih kasih kerjaannya, biasanya nggak sebanyak ini!"
"Aku laporin papa aja kalau gitu!"
"Jangan dong!"
"Biarin!"
"Iiisshhh, tukang lapor!"
__ADS_1
"Biarin!"
Dimas lalu berlari ke arah lift dan dikejar oleh Dini. Merekapun masuk ke dalam lift dan segera pulang.