Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menunggu


__ADS_3

Malam itu Adit meninggalkan rumah Ana dengan berbagai macam pikiran yang memenuhi otaknya. Ia takut apa yang ia ucapkan pada Ana akan membuat Ana marah dan menjauh darinya.


"Enggak, Ana nggak mungkin marah, aku tau dia bukan seseorang yang berpikiran sempit, nggak masalah kalau dia nolak aku, yang penting hubungan kita tetep baik baik aja," ucap Adit menenangkan dirinya sendiri.


**


Malam berlalu, pagi datang menjemput. Dini berangkat ke kantor dengan naik bus seperti biasa dan seperti biasa juga ia merasa seseorang sedang mengikutinya.


Tapi ia tak terlalu ambil pusing, ia hanya harus berada di tempat keramaian, menjauhi tempat tempat yang sepi dan selalu membawa botol yang sudah diisi dengan air campuran bubuk merica dan cabai.


Sesampainya di kantor ia segera menyiapkan minuman Adit karena 5 menit lagi Adit pasti sudah datang.


Setelah menaruh minuman Adit, Dini masuk ke ruangannya, menyalakan komputer di hadapannya dan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia pun menghubungi Dimas.


"Pagi sayang, kamu udah di kantor?" tanya Dimas.


"Udah, kamu?"


"Baru aja nyampe', kamu......"


"Dimas!" panggil seorang perempuan, membuat Dimas menghentikan ucapannya.


"Dimas, aku bisa minta tolong nggak?" tanya si perempuan.


"Minta tolong apa?" balas Dimas bertanya.


"Ikut aku ke mall, Anterin aku cari persiapan buat pesta nanti malem, mau ya!"


"Sorry Chels, aku nggak bisa, banyak yang harus aku. kerjain," jawab Dimas.


"Bentar aja kok, pokoknya nanti sore aku tunggu kamu di lobby, oke?"


"Tapi aku nggak bisa, aku......"


Dimas menghentikan ucapannya karena Chelsea yang pergi begitu saja. Dimas lalu melanjutkan langkahnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia lupa jika ponselnya masih terhubung dengan Dini.


Saat Dimas baru saja duduk di belakang meja kerjanya, ponselnya berdering. Nama Dini yang tampak di layar ponselnya seketika membuatnya ingat jika ia sudah melakukan kesalahan besar karena mengabaikan Dini beberapa saat yang lalu.


"Halo, sayang," ucap Dimas pelan.


"Gara gara ada cewek kamu jadi lupa sama aku?"


"Enggak sayang, aku tadi....."


"Siapa tadi?"


"Namanya Chelsea, dia anak Direktur pemasaran di sini," jawab Dimas.


"Kalian ada hubungan apa?"


"Nggak ada, dia juga nggak kerja di sini kok," jawab Dimas.


"Kalian deket?"


"Enggak!"


"Nggak deket aja minta temenin ke mall ya, apa lagi kalau deket!"


"Kamu pasti denger kalau aku nolak kan?"


"Iya sekarang nolak, lain kali nggak tau deh, kamu mana bisa nolak cewek, itu juga kan yang bikin Anita jadi baper sama kamu!"


"Justru aku belajar dari itu sayang, aku akan jaga sikap aku biar nggak disalahartikan sama orang lain, aku di sini cuma kerja Andini, aku fokus kerja biar bisa cepet pindah, kamu percaya kan sama aku?"


"Aku selalu percaya sama kamu Dimas, tapi aku nggak percaya sama cewek cewek yang coba deketin kamu, apa dia yang ngasih undangan kamu kemarin?"


"Iya, dia yang ngasih undangan kemarin, tapi....."


"Tuh kan, udah kebaca banget modusnya!" ucap Dini cepat.


"Tenang aja sayang, aku nggak dateng ke acaranya dia, aku juga nggak nganterin dia ke mall, aku selalu sibuk sama kerjaanku sayang, aku nggak punya waktu buat hal nggak penting kayak gitu!"


"Beneran?"


"Aku harus gimana biar kamu percaya?"


"Jaga hati kamu aja, aku tutup dulu ya, kak Adit udah dateng, bye!"


"Bye sayang, love you!"


**


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini segera keluar dari ruangannya dan menemui Adit.


"Kak Adit mau keluar?" tanya Dini.


"Iya, ada apa?"


"Tadinya sih ada yang mau Dini tanyain, tapi kalau kak Adit buru buru, lain kali aja!"


Adit lalu menarik tangan Dini dan mendudukannya di kursi.


"Ada apa? kamu mau tanya apa?" tanya Adit dengan duduk di meja kerjanya menghadap Dini.


"Soal Sela," jawab Dini.


"Jadi kamu masih penasaran tentang itu? kakak pecat dia karena dia terbukti melakukan kesalahan besar dan termasuk dalam tindak kriminal, walaupun nggak merugikan perusahaan secara langsung tapi jika masalahnya semakin meluas pasti akan berakibat buruk sama perusahaan," jelas Adit.


"Tindakan kriminal apa maksud kak Adit?"


Adit diam beberapa saat sebelum ia menjawab, ia takut akan membuat Dini kembali trauma jika ia membahas hal itu.


"Lain kali kakak jelasin lagi, sekarang kakak harus pergi dulu!" ucap Adit lalu segera pergi meninggalkan Dini.


Biiiiippp Biiippp Biiippp

__ADS_1


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Andi.


"Halo Ndi, ada apa?"


"Kamu udah makan siang?" tanya Andi.


"Belum, kenapa?"


"Aku di depan kantor kamu, ayo makan siang bareng!"


"Oke, aku ke sana sekarang!" jawab Dini lalu segera keluar menemui Andi.


Merekapun segera meninggalkan kantor dan pergi ke sebuah kedai bakso yang tak jauh dari kantor Dini.


"Aku nggak bisa ngajak kamu makan di kafe mahal kayak Dimas Din, nggak papa kan?"


"Kamu ngomong apa sih, kayak baru kenal aja!" ucap Dini yang membuat Andi terkekeh.


"Ndi, apa menurut kamu kesalahan yang sama akan terulang lagi?" tanya Dini.


"Maksud kamu?"


"Kamu tau kan apa yang bikin Anita jatuh cinta sama Dimas? perhatian Dimas, tanpa Dimas sadar, Dimas sendiri yang bikin Anita jatuh cinta sama dia."


"Lalu? hubungannya sama kesalahan yang sama?"


"Aku cuma takut aja kalau sikap Dimas bikin seseorang salah paham dan berakhir kayak Anita," jawab Dini.


"Ada cewek yang deket sama dia?"


"Aku nggak tau, Dimas nggak pernah cerita, yang aku tau dia cuma sibuk kerja, tapi yang pasti aku tadi denger ada cewek yang ngajak dia pergi ke mall!"


"Dimas mau?"


Dini menggeleng pelan.


"Jadi?"


"Dimas bukan seseorang yang gampang nolak cewek Ndi, kamu tau itu kan? dia baik banget dan kebaikannya itu bikin cewek salah paham, bikin cewek jadi baper!"


"Dimas pasti belajar dari kesalahannya yang dulu Din, dia pasti tau mana yang harus dia bantu mana yang cuma modus, kamu percaya sama dia kan?"


"Aku percaya sama dia, tapi aku nggak percaya sama cewek cewek itu!"


"Cukup kamu percaya aja sama Dimas, jangan biarin cewek cewek itu ngasih pikiran negatif tentang Dimas, Dimas butuh semangat dari kamu Din, kepercayaan kamu sama dia itu penting buat dia," ucap Andi.


Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Kamu bener Ndi, aku seharusnya nggak nambah beban dia dengan pikiran pikiran negatif ku," ucap Dini.


"Yang dia butuhin sekarang support dari kamu Din, jauh dari kamu juga bukan hal yang mudah buat dia, aku tau itu!"


Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Andi.


**


"Mbak Ana kok nggak pernah sama Deva lagi ya akhir akhir ini, kenapa mbak?" tanya salah seorang ibu ibu.


"Mmmmm.... Deva.... dia lagi di rumah ibunya bu," jawab Ana.


"Mbak Ana udah denger belum kalau anak kos yang deket rumah Bu RT itu diusir rame rame sama warga!"


"Saya nggak tau bu," jawab Ana.


"Mbak Ana nggak pernah keluar rumah sih, dia usir gara gara ketahuan hamil di luar nikah!"


"Memalukan, mencemarkan nama baik daerah itu kita ya bu!" sahut ibu yang lain.


"Iya bener, harusnya dia pergi sebelum ketahuan, bikin malu aja!" ucap yang lain.


Ana yang mendengar hal itu hanya diam dan berusaha tenang. Setelah mendapatkan kue yang ia minta dan membayarnya, Ana segera pergi dari toko kue itu.


"Dia kayaknya juga hamil deh bu, saya pernah liat dia muntah muntah di depan rumahnya!" bisik salah seorang ibu ibu yang masih bisa Ana dengar dengan jelas.


Ana berjalan cepat dengan pikiran kacau, ia takut hal buruk akan menimpanya jika ada yang mengetahui kehamilannya.


Ana lalu berlari kecil sampai ia menabrak seseorang di halaman rumahnya.


"Ada apa An? kenapa kamu lari lari?" tanya Adit khawatir.


"Adit, aku....."


Ana menghentikan ucapannya, ia memegang perutnya yang terasa sakit.


Tanpa banyak bertanya Adit segera membopong Ana masuk ke dalam rumahnya dan membaringkannya di tempat tidur.


"Tenang An, tarik napas pelan pelan, hembuskan!" ucap Adit berusaha menenangkan Ana.


"Aku ambilin kamu minum dulu," ucap Adit lalu mengambilkan Ana segelas air minum.


Ana lalu duduk dan meminum air yang Adit berikan.


"Gimana? udah baikan?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Ana.


Adit hanya tersenyum dan membelai rambut Ana.


"Aku sayang dan cinta sama kamu An, tapi aku nggak mau rasa yang aku miliki ini jadi jarak di antara kita, apapun keputusan kamu, aku akan terima dan nggak akan ada yang berubah diantara kita," ucap Adit sambil menggenggam tangan Ana.


"Aku minta maaf Dit."


"It's okay An, jangan dijadikan beban," ucap Adit lalu memeluk Ana.


"Aku takut Dit," ucap Ana dengan suara bergetar.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Adit lalu melepaskan Ana dari pelukannya.

__ADS_1


"Aku takut orang orang akan usir aku dari sini kalau mereka tau aku hamil," ucap Ana dengan mata berkaca kaca.


"Aku udah siapin tempat tinggal buat kamu, kamu tinggal siapin barang barang kamu, nanti malem aku jemput kamu," ucap Adit dengan membelai rambut Ana.


"Kamu serius?"


Adit mengangguk pasti.


"Aku minta maaf Dit, aku nggak tau harus gimana buat balas kebaikan kamu," ucap Ana pelan.


"Yang harus kamu lakuin, jaga kesehatan kamu dan janin kamu, rawat dia dengan baik sampai dia dewasa, kalian harus bahagia, itu yang harus kamu lakuin," ucap Adit.


"Kenapa kamu lakuin ini Dit?"


"Aku nggak punya alasan apapun An, aku cuma mau kamu bahagia," jawab Adit.


"Makasih Dit," ucap Ana dengan memeluk Adit.


"Kamu siapkan barang barang kamu yang penting, aku mau balik ke kantor dulu, kalau kamu butuh apa apa hubungin aku atau Rudi," ucap Adit lalu mencium kening Ana dan pergi.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dimas masih berada di meja kerjanya dengan jari jari yang masih sibuk mengetik di atas keyboard.


"Dim, lo nggak pulang?" tanya Feri yang sudah siap untuk pulang.


"Belum selesai, lo duluan aja!" jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Lo beneran nggak dateng di acaranya Chelsea?"


"Enggak," jawab Dimas singkat.


"Waaahh, bener bener keterlaluan lo Dim, bisa bisanya melewatkan kesempatan emas!" ucap Feri lalu pergi meninggalkan Dimas.


Dimas tak mempedulikan ucapan Feri, ia masih fokus dengan pekerjaannya.


Sampai jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dimas masih berada di tempat kerjanya dengan segelas kopi di mejanya.


Biiiiippp Biiiiippp Biiiiippp


Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Dimas mengabaikan panggilan itu, namun semakin lama dibiarkan, panggilan itu tak berhenti mengganggunya.


Dimaspun memutuskan untuk menerima panggilan itu.


"Halo Dimas," panggil seseorang di ujung sambungan ponsel.


"Iya, dengan siapa saya berbicara?"


"Saya papanya Chelsea, kamu masih di kantor?"


"Pak Hermawan? iya pak, saya masih di kantor."


"Saya minta tolong, tolong ambilkan berkas saya yang tertinggal di ruangan saya, bisa?"


"Bisa pak, saya ambil sekarang."


"Tolong kamu antar ke rumah saya sekarang ya!"


"Ke rumah Pak Hermawan? sekarang?"


"Iya, apa kamu keberatan?"


"Maaf pak, bukannya di rumah Pak Hermawan ada party nya Chelsea?"


"Iya, saya butuh berkas itu sekarang Dimas, kamu ambil di meja kerja saya ya!"


"Baik pak, saya ke sana sekarang," ucap Dimas tak bersemangat.


Dimas lalu membereskan pekerjaannya dan pergi ke ruangan Direktur Pemasaran.


"mudah mudahan ini bukan akal akalan Chelsea," ucap Dimas dalam hati.


Dimaspun meninggalkan kantor setelah ia mengambil berkas yang diminta Pak Hermawan.


Tak lama kemudian Dimas sampai di rumah Pak Hermawan. Saat ia hendak memencet bel, pintu terbuka.


"Dimas, akhirnya kamu dateng!" ucap Chelsea yang hendak cium pipi kanan dan kiri Dimas, namun Dimas menolak.


"Maaf Chels, aku ke sini mau ketemu Pak Hermawan buat ngasih berkas ini," ucap Dimas.


"Papa di belakang, ayo aku anter!"


Dimaspun mengikuti Chelsea untuk berjalan ke arah halaman belakang yang sudah sangat ramai karena pesta yang Chelsea adakan.


"Kamu kasihkan papa kamu ya, aku harus cepet pulang!" ucap Dimas dengan menghentikan langkahnya.


"Kita foto bentar ya!" ucap Chelsea yang langsung menarik tangan Dimas dan memeluknya.


CEKREEKK


Meski Dimas segera menarik tangannya dan pergi dari tempat itu, satu jepretan foto telah berhasil diambil.


Dimas lalu memberikan berkas yang ia bawa pada asisten rumah tangga yang ada di sana.


"Tolong berikan pada Pak Hermawan ya mbak, terima kasih!" ucap Dimas lalu segera pergi.


Tanpa Dimas tau, Dini sedang dalam perjalanan untuk menemui Dimas di apartemennya.


Ia sudah izin pada ibunya jika ia tidak akan pulang malam itu, mengingat besok adalah hari liburnya.


Dini sengaja meninggalkan kantor tepat waktu untuk segera pergi ke terminal, mencari bus yang akan membawanya ke tempat Dimas.


Saat tiba di depan apartemen Dimas, Dini lalu menghubungi Dimas, sekedar memastikan jika Dimas sudah berada di apartemennya. Namun sampai beberapa kali ia menghubungi Dimas, tak pernah tersambung.


Akhirnya Dini memutuskan untuk naik ke lantai 9, tempat dimana Dimas tinggal. Ia memencet bel beberapa kali, namun tak ada tanda tanda keberadaan Dimas di sana.

__ADS_1


Ia pun menunggu sampai jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


__ADS_2