Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Balasan Dimas


__ADS_3

Matahari mulai tampak turun dan hendak pulang ke peraduannya. Dimas masih berada di tempat kerjanya, menyelesaikan pekerjaannya sampai lupa waktu.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dimas berdering, ia pun melihat ponselnya, sebuah nama yang tidak akan ia tolak sedang menghubunginya.


"Halo sayang, aku masih di kantor, kamu udah pulang?"


"Baru aja keluar ruangan, kamu pulang jam berapa?"


"Abis ini selesai dan aku langsung pulang," jawab Dimas.


"Ya udah kalau gitu, nanti hubungin aku kalau kamu udah di apartemen!"


"Bentar sayang!"


"Kenapa?"


"Anita tadi kesini," jawab Dimas.


"Anita? ke kantor kamu?"


"Iya, aku akan ceritain semuanya kalau aku udah pulang, sekarang aku selesaiin pekerjaan ku dulu ya!"


"Oke, aku tunggu," balas Dini.


Panggilan berakhir, Dimas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya sampai langit senja mulai menghilang.


Dimas meninggalkan ruangannya saat langit sudah gelap.


Saat berjalan di lobby, seseorang memanggil namanya.


"Dimas!"


Dimas yang mengenal suara itu hanya diam dan terus berjalan mengacuhkannya.


Seseorang itu lalu berlari ke arah Dimas dan menarik tangan Dimas agar Dimas berhenti.


"Anita, kamu kenapa masih di sini?" tanya Dimas dengan menarik tangannya dari Anita.


"Aku nungguin kamu," jawab Anita dengan senyumnya.


"Ada perlu apa?" tanya Dimas dengan melanjutkan langkahnya.


"Apa aku harus punya alasan buat ketemu kamu?" balas Ana bertanya.


Dimas lalu menghentikan langkahnya dan berdiri menghadap Anita.


"Aku ingetin sekali lagi sama kamu Anita, jaga batasan kamu, kita cuma saling mengenal bukan sebagai teman baik ataupun sahabat, jadi tolong jaga sikap kamu dengan baik," ucap Dimas penuh penekanan lalu berjalan meninggalkan Anita.


Anita hanya tersenyum tipis lalu kembali mengejar Dimas.


"Aku ikut ke apartemen kamu ya?"


"Enggak," jawab Dimas lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Aku nggak tau password apartemen nya mbak Dewi, aku nggak mungkin pulang ke rumah sekarang kan?"


"Emang Dokter Dewi dimana?"


"Di rumah sakit, aku janji nggak akan ganggu kamu, aku....."


"Masuk!" ucap Dimas memotong ucapan Anita dengan gerakan kepala yang menyuruh Anita masuk ke dalam mobilnya.


Dengan senang hati Anita masuk dan duduk di samping Dimas.


"Loh, kita kemana?" tanya Anita yang menyadari jika Dimas tidak membawanya pulang ke apartemen.


"Ke tempat Dokter Dewi," jawab Dimas singkat.


Dimas tau jika Anita hanya melakukan modusnya saja, jika ia meminta Anita menghubungi Dewi pasti Anita akan beralasan jika ia tidak membawa ponsel.


Karena malas mendengarkan semua kelicikan Anita, Dimaspun memutuskan untuk mengantarkan Anita ke tempat Dewi bekerja.


Sesampainya di rumah sakit, Dimaspun meminta Anita untuk turun dari mobilnya.


"Kenapa nggak dibawa masuk?" tanya Dimas saat Dimas menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya.


"Kamu cuma mau nanyain password kan?"


"Iya, tapi....."


"Buruan, jangan lama lama," ucap Dimas memotong ucapan Anita.


Tanpa ragu Anita lalu turun dari mobil Dimas dan segera berlari untuk menemui Dewi. Tanpa Anita tau saat ia sudah masuk ke dalam rumah sakit, Dimas menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan Anita.


Dimas pulang ke apartemen dan segera mandi lalu menghubungi Dini.


"Halo sayang, aku udah di apartemen," ucap Dimas.


"Nggak sama Anita kan?"

__ADS_1


"Enggak lah," jawab Dimas.


"Jadi tadi Anita ngapain temuin kamu di kantor?"


"Dia bawain aku makan siang, tapi aku nggak makan makanannya, aku terima tapi aku kasihkan ke temenku!" jawab Dimas.


"Romantis banget sih sampe dibawain makan siang," ucap Dini cemburu.


"Ada yang lebih romantis daripada itu," ucap Dimas yang membuat Dini mengernyitkan keningnya tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.


"Jadi selama dia disana kalian selalu ngelakuin hal yang romantis?"


"Dengerin aku dulu sayang, dia tadi nungguin aku sampe aku pulang," ucap Dimas.


"Emang kamu pulang jam berapa?"


"Barusan dan aku nggak tau kalau dia nunggu aku di lobby dari siang!"


"Kamu liat sendiri kan, dia manfaatin kesempatan ini buat deketin kamu lagi!"


"Apa yang dia lakuin akan sia sia sayang, semakin dia berusaha deketin aku, dia akan semakin tersiksa dan dia akan tau kalau apa yang dia lakuin nggak akan pernah berhasil karena dia akan tau seberapa besar cinta aku buat kamu," ucap Dimas lalu menceritakan apa yang dia lakukan pada Anita sebelum ia kembali ke apartemen.


"Jadi dia nggak tau kalau kamu ninggalin dia?" tanya Dini dengan menahan tawanya.


"Iya, mungkin dia pikir aku akan nungguin dia di mobil!"


"Ntar dia marah loh sama kamu!"


"Kan aku nggak bilang kalau aku akan nungguin dia, aku cuma minta dia buat buruan temuin Dokter Dewi biar dia tau password apartemen Dokter Dewi, kalau dia pikir aku nunggu dia berarti dia yang salah paham!"


"Iiissshh, tega banget kamu, dia pasti kesel banget tuh!"


"Apa yang aku lakuin nggak ada apa apanya dibanding apa yang udah dia lakuin sayang," ucap Dimas.


"Iya sih, tapi kamu juga jangan terlalu jahat sama dia!"


"Iya sayang, tenang aja, aku tau apa yang harus aku lakuin!" balas Dimas.


Di tempat lain, Anita berlari ke arah Dimas mengentikan mobilnya sebelum ia masuk ke rumah sakit. Anita berdiri di pinggir jalan raya sambil menyapu pandangannya ke semua arah namun tidak menemukan mobil Dimas.


Anita lalu kembali masuk dan bertanya pada satpam.


"Permisi pak, apa bapak liat mobil yang tadi di sini?" tanya Anita pada satpam.


"Udah pergi dari tadi mbak," jawab satpam.


"Pergi?" tanya Anita tak percaya.


Anita lalu tersenyum kecil dan berjalan ke dalam rumah sakit untuk kembali menemui Dewi.


Anita lalu masuk ke ruangan Dewi dan menghempaskan badannya di kursi yang ada di sana.


Tak lama kemudian Dewi masuk dan begitu terkejut dengan adanya Anita di sana.


"Anita, kenapa masih di sini?" tanya Dewi.


"Dimas bohongin Anita," jawab Anita dengan tatapan kosong.


"Bohong? bohong gimana maksud kamu?" tanya Dewi tak mengerti.


"Dimas udah pergi mbak, dia nggak nungguin Anita, dia nggak nganter Anita balik!"


Dewi lalu menggelengkan kepalanya dan duduk di tepi mejanya.


"Dimas yang bohong atau kamu yang salah paham sama Dimas?" tanya Dewi.


"Maksud mbak Dewi?"


"Emang Dimas bilang kalau dia bakalan nungguin kamu? apa dia juga bilang kalau dia mau nganterin kamu balik ke apartemen?"


Anita diam beberapa saat sebelum menggelengkan kepalanya.


"Itu dia, kamu terlalu berharap sama Dimas Nit, dia bahkan nggak bilang apa apa tapi kamu udah berpikiran yang terlalu jauh!"


"mbak Dewi bener, aku emang bodoh banget karena udah berharap lebih sama Dimas, jelas jelas dia nggak bilang kalau mau nungguin aku, dia juga nggak bilang kalau mau nganterin aku balik ke apartemen, hahaha.... bodoh kamu Nit, bodoh banget!" batin Anita dalam hati.


**


Di tempat lain, Adit sedang berada di rumah Ana. Ia sudah meminta Rudi untuk pulang sebelum ia pergi ke rumah Ana.


Beberapa hari yang lalu Adit sudah memberi tahu Ana tentang keinginan Dini dan Andi untuk datang menemui Ana, namun Ana menolak.


Malam itu Adit dan Ana sedang menonton acara tv. Mereka duduk di atas sofa. Satu tangan Adit memeluk pundak Ana, sedangkan Ana menyandarkan dirinya pada Adit.


"Hahaha..... lucu banget," ucap Ana yang tertawa dengan acara komedi yang mereka liat di tv.


"Kamu pasti akan seseneng ini kalau kamu mau ketemu sama Andi dan Dini," ucap Adit.


"Jangan bahas itu lagi, aku udah bilang kalau aku nggak mau ketemu semua orang yang aku kenal!"


"Andi dan Dini udah tau semuanya An, tentang hubungan kita dan tentang keadaan kamu, mereka....."

__ADS_1


"Mereka akan ketawain aku saat mereka tau gimana keadaan aku di sini Dit, terkurung di rumah tanpa berani keluar sama sekali!"


"Terkurung? apa kamu merasa terkurung di sini?" tanya Adit.


Ana lalu melingkarkan tangannya di pinggang Adit dan mendongakkan kepalanya menatap Adit.


"Maaf, bukan itu maksud ku, aku seneng tinggal di sini, ada pak Candra, pak Agus, Bu Desi dan Lisa, mereka semua baik sama aku dan itu udah cukup buat aku, aku nggak perlu orang lain lagi buat datang ke sini selain kamu Adit," ucap Ana.


"Aku nggak bermaksud bikin kamu terkurung di sini An, aku cuma mau jagain kamu dari dunia luar yang akan menyakiti kamu, aku cuma mau kamu tetep aman dan nyaman di sini, tapi ternyata apa yang aku lakuin malah bikin kamu merasa terkurung," ucap Adit dengan raut wajah sedih.


"Enggak Dit, maaf kalau kata kata ku tadi menyinggung kamu, aku cuma nggak mau ada orang lain ke sini dan liat keadaan ku saat ini, aku bahagia tinggal di sini, cuma di sini aku bisa ngerasa nyaman dan aman," balas Ana dengan memegang pipi Adit, membawa pandangan Adit padanya.


"Kamu kenal Andi dan Dini seperti apa An, mereka nggak akan menjudge kamu cuma karena keadaan kamu sekarang, justru mereka mau ketemu kamu karena mereka mau pastiin kalau aku bisa jaga kamu dengan baik di sini, mereka khawatir sama kamu An," ucap Adit.


"Tapi kamu harus janji kalau mereka cuma bisa ke sini sama kamu, aku nggak mau mereka ke sini tiba tiba dan tanpa kamu," balas Ana yang akhirnya menyerah pada Adit.


"Aku janji An, mereka pasti bisa janjiin hal itu juga!" ucap Adit bersemangat.


"Hmmmm.... ya udah kalau gitu!"


"Jadi mereka boleh ke sini?" tanya Adit meyakinkan.


Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Adit lalu tersenyum dan semakin mendekat pada Ana. Ana memejamkan matanya saat bibir hangat Adit menyentuh bibirnya, membiarkan hasrat dalam diri mereka beradu untuk beberapa lama.


Acara komedi yang ada di tv sekarang telah kalah dengan adegan romantis di atas sofa. Untuk beberapa lama mereka terbuai dengan keindahan yang memberikan getaran dalam diri mereka.


Lisa yang saat itu hendak mengantarkan buah pada Ana menghentikan langkahnya saat melihat apa yang terjadi di depan tv. Ia terdiam beberapa saat dengan memperhatikan Ana dan Adit tanpa berkedip, hingga tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri.


Tak lama kemudian Bu Desi datang dan menutup mata Lisa lalu menarik tangan Lisa untuk meninggalkan ruang tengah dengan perlahan.


"Kamu ngapain di sana?" tanya Bu Desi dengan memukul Lisa menggunakan kemoceng.


"Lisa mau nganterin buah Bu, Lisa nggak tau kalau mereka lagi....."


"Sssstttt..... lain kali kalau kamu liat yang kayak gitu langsung pergi dan pura pura nggak tau apa apa, mengerti?"


"Liat aja nggak boleh Bu?"


"Kamu mau dipecat sama mas Adit?"


"Enggak lah!" jawab Lisa cepat.


"Kalau gitu dengerin ucapan ibu tadi!"


"Iya iya, Lisa mengerti," balas Lisa pasrah.


Di sisi lain, Adit lalu membopong Ana untuk dibawa masuk ke dalam kamar. Ia lalu membaringkan Ana di ranjang, tak lupa ia menutup pintu kamar Ana.


Adit duduk di tepi ranjang Ana dengan menatap ke dalam mata Ana. Adit tersenyum tipis dan menutup tubuh Ana dengan selimut tebal.


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Ana.


"Iya, maaf nggak bisa nemenin kamu sekarang," jawab Adit.


"Nggak papa, aku mengerti," balas Ana dengan tersenyum.


Adit lalu menyentuh perut Ana dan mengusapnya.


"Aku nggak sabar pingin liat gerakannya dia disini, aku pingin denger suaranya," ucap Adit


"Adit, apa kamu bisa janji satu hal sama aku?" tanya Ana.


"Apa itu?" balas Adit bertanya.


"Ini hal baru buat aku Dit, saat waktunya nanti tiba, aku takut kalau aku akan sendirian di ruangan rumah sakit," jawab Ana.


"Aku yang akan nememin kamu An, aku akan ada di samping kamu, genggam tangan kamu dan kasih kekuatan buat kamu, aku janji, apapun yang terjadi aku akan ada di samping kamu saat itu tiba," ucap Adit menyakinkan.


"Tapi kita nggak tau kapan tepatnya dia akan lahir, bisa jadi waktu kamu lagi rapat penting!"


"Aku nggak peduli sama semuanya An, semua itu nggak lebih penting dari kamu dan anak kita," ucap Adit.


"Anak kita?"


"Iya, dia anak kita, papa Adit dan mama Ana," jawab Adit dengan tersenyum.


Ana lalu menyibakkan selimutnya dan duduk lalu memeluk Adit.


"aku selalu bersyukur sama Tuhan karena udah temuin aku sama kamu Dit dan setelah aku yakin sama perasaan aku, aku selalu minta sama Tuhan buat selalu jaga kamu, bukan buat aku, tapi buat kehidupan kamu dan kebahagiaan kamu," ucap Ana dalam hati.


Air mata Ana menetes begitu saja. Dirinya yang telah kotor kini berada dalam genggaman mutiara yang berkilau. Ia tidak menyangka Adit bisa memberinya kasih sayang lebih dari segalanya.


Tak hanya menerima dan menyayanginya, Adit juga menerima dan menyayangi anak dalam kandungannya yang ia tau adalah hasil dari perbuatan buruknya bersama laki laki lain.


"An, kamu menangis?" tanya Adit lalu melepaskan pelukan Ana.


"Kenapa An? apa ada yang salah?" tanya Adit dengan menghapus air mata Ana.


Ana hanya diam dengan air mata yang tidak berhenti menetes.

__ADS_1


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu kayak gini An, aku akan di sini nemenin kamu malam ini," ucap Adit lalu membawa Ana ke dalam dekapannya.


Alhasil, malam itu Adit tidur satu ranjang dengan Ana. Tidak ada apapun yang terjadi karena Ana hanya menangis sampai tertidur dan Aditpun ikut tertidur di samping Ana.


__ADS_2