
Sudah dua hari Dini berada di rumah sang ibu. Waktu yang ia lalui terasa begitu lambat baginya.
Air mata seperti tak pernah lelah untuk menghujani pipinya setiap ia terbangun dari tidurnya.
Setiap pagi, Dini mengerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya. Saat ia melihat kamar yang ia tempati adalah kamar di rumah sang ibu, semua kenyataan menyakitkan itu seolah menyadarkan dirinya seketika.
Ia berharap semua kesedihan yang ia rasakan hanyalah sebuah mimpi yang akan hilang saat ia terbangun, namun semua itu memang sebuah kenyataan pahit yang harus ia terima.
Pagi itu, Dini terbangun saat sang ibu baru saja membuka jendela kamarnya. Sinar matahari yang masuk membuat Dini mengerjap dan membuka matanya.
Ia tidak segera beranjak, ia masih berbaring dan memeluk gulingnya.
Ibu Dinipun menghampiri Dini dan duduk di tepi ranjangnya.
"Ibu udah beli bubur ayam kesukaan kamu," ucap ibu Dini.
"Dini nggak laper Bu," balas Dini.
"Kamu harus makan Din, udah dua hari kamu nggak makan, jangan menyiksa diri kamu seperti ini," ucap ibu Dini yang sedih melihat sikap Dini.
Dini hanya diam dengan kedua sudut matanya yang berkaca-kaca.
"Semuanya sudah terjadi Din, nggak ada yang harus kamu sesali, mau sampe kapan kamu kayak gini terus?"
"Sampe Dini ketemu Dimas Bu, Dini nggak bisa jalani hidup Dini tanpa Dimas," jawab Dini dengan suara bergetar.
"Apa yang terjadi adalah bagian dari takdir yang nggak bisa kamu ubah Din, kamu harus percaya kalau Tuhan akan kasih kamu kebahagiaan melalui kesakitan yang kamu rasakan sekarang," ucap ibu Dini dengan membelai rambut Dini.
Dini hanya diam dengan berkali kali menghapus air mata yang membasahi pipinya. Baginya tidak akan ada kebahagiaan setelah ia kehilangan Dimas untuk selamanya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dini keluar dari kamarnya untuk menemui sang ibu yang sedang menyiapkan makan malam.
"Dini mau pulang Bu," ucap Dini pada sang ibu.
"Pulang? pulang kemana Din? ini rumah kamu!"
"Dini nggak mungkin ninggalin rumah yang udah Dimas siapkan buat Dini Bu, Dini harus kembali ke rumah itu," jawab Dini.
"Tapi kamu akan kesepian disana Din, kamu disini aja sama ibu, ya!"
Dini menggelengkan kepalanya pelan lalu duduk di depan meja makan. Untuk pertama kalinya Dini duduk disana sejak dua hari yang lalu.
"Dini akan makan malam sama ibu sebelum Dini kesana," ucap Dini.
Ibu Dini lalu duduk dan menggenggam tangan Dini.
"Kamu yakin Din?" tanya ibu Dini.
"Dini yakin Bu, Dini udah hubungin pak Yusman buat jemput Dini," jawab Dini.
Ibu Dini menghela napasnya panjang lalu menyiapkan makanan untuk Dini. Bagaimana pun juga ia tidak bisa memaksa Dini.
Setelah selesai makan malam tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Dini. Pak Yusman datang untuk menjemput Dini.
Dalam kejadian 3 hari yang lalu, polisi berhasil menyelamatkan pak Yusman yang saat itu disekap di dalam bagasi mobil dan laki laki yang memukul kepalanya juga sudah berhasil ditangkap oleh polisi.
"Ibu jangan terlalu sering hubungi Dini ya, Dini butuh waktu sendirian," ucap Dini pada sang ibu.
"Iya, ibu mengerti, cepat hubungi ibu kalau kamu butuh sesuatu," ucap ibu Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Ibu Dini lalu memeluk Dini dengan erat, ia hanya bisa berharap jika Dini akan segera terbebas dari kesedihan yang merenggut senyumnya.
Dinipun meninggalkan rumah sang ibu bersama pak Yusman.
Sesampainya Dini di rumah yang ia tinggali bersama Dimas, ia segera masuk ke kamarnya. Para pekerja disana hanya diam memperhatikan Dini.
Mereka sudah diberi tahu mama dan papa Dimas untuk lebih memperhatikan Dini tanpa mengganggunya ataupun membicarakan sesuatu tentang Dimas.
Dini membuka pintu kamarnya lalu membaringkan dirinya di ranjang. Ia memejamkan matanya, merasakan aroma tubuh Dimas yang seakan masih melekat disana.
"kenapa semua ini harus terjadi? kenapa Tuhan ambil kamu dari aku Dimas? kenapa......."
Dini lalu beranjak dan memperhatikan sekitarnya. Matanya tertuju pada vas bunga yang ada di meja. Ia pun mengambilnya dan memperhatikannya untuk beberapa saat.
"aku akan datang Dimas, aku akan datang sekarang, tunggu aku," ucap Dini dalam hati lalu melemparkan vas bunga itu ke lantai.
__ADS_1
Dini segera bersimpuh di lantai, mengambil salah satu pecahan vas bunga itu lalu menggoreskannya di pergelangan tangannya.
Sedikit darah mulai keluar dari pergelangan tangan Dini, tiba tiba....
BRAAAAAKKKKK
Pintu kamarnya terbuka dengan keras, pak Yusman yang mendengar suara mencurigakan dari kamar Dini segera mendobrak pintu kamar Dini bersama salah satu pekerja di rumah itu, mereka masuk dan merebut pecahan vas bunga dari tangan Dini dengan hati hati agar tidak melukai Dini.
Salah satu pekerja segera membersihkan lantai dan memastikan tidak ada lagi pecahan vas bunga yang tersisa, sedangkan pekerja yang lain segera mengambil kotak P3K untuk mengobati Dini.
"Biarkan saya melakukan apa yang harus saya lakukan pak," ucap Dini dengan pandangan kosong.
Ia sudah tidak bisa memikirkan apapun selain Dimas, akal sehatnya sudah tidak bekerja lagi saat itu.
Pak Yusman hanya diam lalu segera menghubungi mama Dimas. Sesuai perintah dari mama dan papa Dimas, pak Yusman harus segera menghubungi mereka jika terjadi sesuatu pada Dini.
Beberapa saat kemudian mama dan papa Dimas datang dengan khawatir. Mereka segera masuk ke kamar Dini untuk melihat keadaan Dini yang saat itu tengah duduk di ranjangnya dengan luka di pergelangan tangannya yang sudah dibalut perban.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Hidup Dini hancur ma," jawab Dini dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Mama Dimas lalu mendekat dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Tolong jangan menyakiti diri kamu seperti ini sayang, mama papa dan ibu kamu sayang sama kamu, masih banyak di luar sana yang sayang sama kamu Din, jadi tolong jangan melukai diri kamu sendiri seperti ini," ucap mama Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Kenapa Dimas ninggalin Dini ma? apa Dini bukan istri yang baik buat Dimas?" tanya Dini dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kamu istri yang baik buat Dimas sayang, mama sangat tau itu, dia sangat bahagia karena pada akhirnya dia bisa memiliki kamu sebagai istrinya," jawab mama Dimas.
"Tapi kenapa Dimas nggak mau bertahan buat Dini? kenapa Dimas ninggalin Dini?"
"Dimas udah bertahan lebih dari batas sanggupnya Din, tapi takdir udah menetapkan sampai mana Dimas harus bertahan, jangan berpikir kalau Dimas pergi membawa kesedihan, justru dia bahagia karena bisa pergi setelah tujuannya buat menikahi kamu tercapai," jawab papa Dimas.
"Dia pergi dengan bahagia sayang, jadi jangan biarkan Dimas sedih karena liat kamu yang kayak gini," ucap mama Dimas.
"Dini nggak mau Dimas pergi ma, pa, Dini nggak akan bisa lanjutin hidup Dini tanpa Dimas," ucap Dini.
"Ini juga berat buat mama dan papa sayang, Dimas anak mama dan papa satu satunya, nggak mudah buat kita merelakan Dimas pergi, tapi mama dan papa sadar, dengan merelakan kepergian Dimas itu akan membuat Dimas tenang disana," ucap mama Dimas.
"Kamu juga harus belajar untuk merelakan kepergian Dimas Din, biar dia tenang," ucap papa Dimas.
"Kamu harus tidur sayang, mulai besok ibu kamu akan tinggal disini, mama nggak bisa biarin kamu sendirian disini," ucap mama Dimas.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu membaringkan dirinya.
**
Di tempat lain, Andi sedang berada di ruang baca. Entah sudah berapa lama ia berada disana. Tiba tiba seseorang datang dan merebut buku dari tangan Andi.
"Gue tau lo nggak lagi baca buku!" ucap Adit lalu duduk di samping Andi.
Andi hanya menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa yang didudukinya.
"Lo udah temui Dini?" tanya Adit yang hanya dibalas gelengan kepala Andi.
"Kenapa?"
"Ini bukan waktu yang tepat, Dini butuh waktu buat sendiri," jawab Andi.
"Lo nggak mau tau keadaannya?"
"Gue sering hubungin ibunya buat tanya keadaan Dini dan sekarang dia udah nggak ada di rumah ibunya, dia pulang ke rumahnya sendiri," jawab Andi.
"Jadi lo nggak bisa tanya keadaan Dini lagi sama ibunya!"
"Bisa, mulai besok ibunya akan tinggal disana buat nemenin Dini karena Dini baru aja nyakitin dirinya sendiri, jangan sampe Dini berbuat lebih jauh kalau dia tinggal di rumah itu tanpa ibunya," ucap Andi.
"Waaahh waahhh, lo udah kayak stalker sekarang, jadi kapan lo akan temui dia?"
"Gue nggak tau!" jawab Andi sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue masih nggak bisa percaya kalau Dimas bener bener pergi selamanya, semua ini terlalu tiba tiba dan....... dan ini nggak seharusnya terjadi," lanjut Andi dengan menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Semua ini udah bagian dari takdir Ndi, lo harus terima apa yang udah jadi ketentuanNya," balas Adit dengan menepuk bahu Andi.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Baginya Dimas tidak hanya sekedar sahabat, Dimas adalah bagian penting dalam hidupnya karena Dimas adalah kebahagiaan bagi orang yang dicintainya.
__ADS_1
Jika kebahagiaan itu hilang, maka yang ada hanya rasa sakit dan penderitaan yang menyelimuti hari harinya.
"Ayo turun, gue mau kasih pengumuman setelah makan malam," ucap Adit pada Andi.
Andi lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang baca bersama Adit. Merekapun makan malam bersama.
"Adit sengaja kesini karena ada sesuatu yang mau Adit dan Ana sampaikan," ucap Adit setelah makan malam selesai.
"Ada apa Dit? kamu bikin mama penasaran aja," tanya mama Siska.
"Kamu mau jelasin, atau aku aja?" tanya Adit pada Ana.
"Kamu aja," jawab Ana sambil tersenyum malu.
"Oke, jadi...... Adit mau kasih tau mama dan Andi, ini...!" ucap Adit sambil memberikan sebuah surat pada mama Siska.
Andipun segera beranjak dari duduknya untuk melihat isi surat itu. Andi dan sang mamapun tersenyum senang saat membaca isi surat Dokter yang menjelaskan jika Ana sedang hamil saat itu.
"Waaahhh, selamat mbak, bentar lagi Alana punya saudara baru nih," ucap Andi pada Ana.
"Makasih Ndi," balas Ana.
"Selamat sayang, mama sangat bahagia dengan kabar baik ini," ucap mama Siska dengan menggenggam tangan Ana.
"Terima kasih ma," balas Ana.
"Kok nggak ada yang ngucapin selamat buat Adit sih?" tanya Adit berpura pura kesal.
"Hahaha.... selamat kak, akhirnya lo akan jadi bapak!" ucap Andi pada Adit.
"Selamat sayang, kamu harus lebih memperhatikan Ana lagi sekarang, jangan biarin dia kecape'an apa lagi kasih dia banyak pekerjaan!" ucap mama Siska pada Adit.
"Iya ma, Adit akan jadi suami siaga buat Ana," balas Adit.
"Mbak Ana tetep kerja di kantor atau resign?" tanya Andi pada Ana.
"Tetep kerja Ndi, Dokter bilang selama kehamilannya sehat, masih boleh kerja asalkan nggak terlalu capek aja," jawab Ana.
"Mudah mudahan lancar semua sampai kamu melahirkan sayang, mama akan selalu berdoa buat kebaikan kalian semua," ucap mama Siska.
Mereka semuapun berbahagia dengan kabar bahagia yang Adit dan Ana berikan. Setelah kepergian Adit dan Ana, Andi segera masuk ke kamar baby Alana setelah mendengar suara tangisnya.
"Kenapa sayang? kenapa belum bobok?" tanya Andi lalu menggendong baby Alana.
"Tadi sudah tidur mas, tapi tiba tiba bangun lagi," ucap mbak Asih.
"Mbak Asih istirahat lagi aja, biar Alana tidur sama saya," ucap Andi.
"Baik mas," balas mbak Asih.
Andi lalu membawa baby Alana ke kamarnya, menimangnya beberapa saat sebelum baby Alana kembali tertidur di gendongannya.
Andi kemudian membaringkan baby Alana di ranjangnya. Andi menatap wajah cantik itu dengan tersenyum.
"Kenapa banyak yang bilang kamu mirip sama papa? kenapa nggak ada gen dari mama Anita sama sekali?" tanya Andi dengan suara lucu.
"Karena dia adalah anak kamu, bukan anaknya Anita," ucap mama Siska yang tiba tiba datang.
"Mama, kenapa mama bilang gitu?"
Mama Siska lalu duduk di tepi ranjang Andi dan menatap gadis mungil yang tengah terlelap itu.
"Mama bersyukur karena Anita memilih buat mengakhiri hidupnya, itu lebih baik buat dia daripada Alana harus mengenalnya sebagai ibu yang melahirkannya," ucap mama Siska.
"Andi akan tetap mengenalkan Anita sebagai ibunya ma, bagiamanapun juga Anita udah mempertaruhkan nyawanya buat melahirkan Alana," balas Andi.
"Dia perempuan yang jahat Ndi, dia udah culik Dini dan berusaha bunuh Dini, karena dia juga Dimas meninggal dan...."
"Ma, tolong berhenti bicarain hal itu, jangan pernah ungkit keburukan Anita lagi di depan Alana," ucap Andi memotong ucapan sang mama.
"Tapi......"
"Mama nggak tau apa apa tentang Anita, yang mama tau cuma keburukan dia, kalau mama nggak cukup tau tentang Anita, lebih baik jangan ungkit apapun tentang Anita atau Andi akan pergi dari rumah ini sama Alana," ucap Andi.
"Kamu mengancam mama?"
"Andi cuma nggak mau Alana berpikiran buruk tentang ibu yang melahirkannya ma, cukup dia tau kalau Anita adalah ibunya, tolong mama mengerti," jawab Andi.
__ADS_1
Mama Siska lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Andi. Sedangkan Andi masih berada di tempatnya dengan membelai wajah cantik gadis mungilnya.
"Cukup kamu tau bahwa mama Anita adalah ibu yang baik buat kamu sayang, biarkan semua keburukannya jadi rahasia yang nggak akan pernah kamu tau," ucap Andi.