
Waktu berlalu, jam makan siang sebentar lagi akan selesai. Adit ingin membangunkan Dini, namun melihat Dini yang tampak nyenyak, membuatnya tidak tega.
Untuk pertama kalinya ia mengabaikan aturan yang sudah dibuatnya sendiri, ia membiarkan Dini tertidur di meja kerjanya.
Setelah lama tertidur, Dini terbangun dan begitu terkejut saat ia melihat jam di ponselnya.
"Jam 2, ya ampun aku ketiduran dari tadi!" ucap Dini lalu segera merapikan pakaiannya dan masuk ke ruangan Adit karena tak lama lagi akan ada meeting di luar kantor.
Dini lalu menyerahkan berkas yang sudah ia selesaikan pada Adit.
"Kalau kamu nggak enak badan istirahat aja, saya bisa berangkat sama Jaka," ucap Adit.
"Saya baik baik aja pak, saya juga udah siapkan berkas yang harus di bawa meeting," balas Dini.
"Oke, saya tunggu 10 menit lagi!"
"Baik pak," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Dini pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggunakan kembali make up tipisnya.
Ia tidak ingin terlihat kacau di depan klien Adit. Bagaimanapun juga ia harus bisa menjaga penampilannya.
Adit dan Dinipun meninggalkan kantor untuk meeting.
Tepat pukul 4 sore, meeting selesai.
"Din, kamu tunggu di sini sebentar, saya harus temui seseorang dulu!" ucap Adit pada Dini.
"Baik pak," balas Dini.
Setelah kepergian Adit, Dini kembali merebahkan kepalanya di meja. Tanpa sadar ia kembali terlelap.
Tak lama kemudian Adit dan datang dan melihat Dini tertidur.
Adit lalu menyentuh tangan Dini, berniat untuk membangunkan Dini.
"Din!"
Bukannya bangun, Dini malah menarik tangan Adit dan menindihnya dengan kepalanya.
Adit lalu menggerakkan sedikit tangannya, membuat Dini segera terbangun.
"Maaf pak, maaf," ucap Dini yang baru terbangun dari tidurnya.
"Nggak papa, kakak antar kamu pulang ya!"
"Tapi...."
"Kamu keliatan kecape'an banget Din, bahaya kalau kamu naik bus!" ucap Adit memotong ucapan Dini lalu berjalan keluar dari ruangan meeting diikuti oleh Dini.
Akhirnya sore itu Dini pulang dengan diantar oleh Adit.
**
Waktu berlalu, hari berganti.
Weekend telah tiba dan Dimas sudah berada di rumahnya.
Setelah selesai sarapan, Dimas segera meninggalkan rumah untuk menemui Dini.
Mereka berencana untuk menghabiskan waktu berdua hari itu.
Setelah menjemput Dini, Dimas membawa Dini ke pantai. Di sana mereka bermain air di tepi pantai, membasahi badan mereka dengan air laut dan pasir pantai.
Setelah puas bermain, Dini dan Dimas duduk di tempat yang teduh sambil menikmati es kelapa muda.
"Sayang, kamu jadi mau ketemu berempat?" tanya Dimas pada Dini.
"Jadi, nanti aku kasih tau Anita sama Andi," jawab Dini.
"Kamu harus siap sama semua kemungkinan nya sayang!"
"Iya, aku siap, kamu tenang aja!" balas Dini.
Dini lalu menaruh kelapa yang ia bawa di pasir lalu menyadarkan kepalanya di bahu Dimas dengan memandang ke arah gulungan ombak yang menyapu pantai.
"Dimas, apa Anita akan berhenti ganggu kamu setelah kita menikah?" tanya Dini.
"Aku nggak tau sayang, tapi aku bisa pastiin kalau dia nggak akan bisa dapetin apa yang dia mau," jawab Dimas.
"Selama kamu bisa jaga hati kamu buat aku, aku nggak akan takut, aku selalu percaya sama kamu Dimas," ucap Dini.
"Makasih udah percaya sama aku Andini, aku nggak akan sia siakan kepercayaan kamu buat aku, aku akan selalu berjuang buat mimpi kita, masa depan kita dan harapan kita," balas Dimas lalu mencium kening Dini.
Dini hanya tersenyum dengan menarik tangan Dimas ke dalam genggamannya.
__ADS_1
Dalam hatinya ia masih memikirkan mimpinya tentang Andi, tentang ucapan mama Siska dan banyak orang lain lagi. Ia sudah berusaha melupakannya, namun mimpi itu seperti mengakar kuat dalam memorinya dan semakin mengganggu pikirannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas.
"Kenapa?"
"Kamu banyak diem dari tadi, ada masalah?"
"Enggak kok, nggak ada apa apa," jawab Dini dengan memberikan senyum manisnya.
"Jangan dipendam sendiri sayang, aku akan seneng banget kalau kamu bisa cerita sama aku, tapi kalau kamu nggak bisa cerita sama aku, seenggaknya kamu cerita sama Andi," ucap Dimas.
"Kenapa harus sama Andi?"
"Dia kan sahabat kamu, walaupun kamu sekarang milikku, tapi kamu dan Andi udah bersahabat dari lama sebelum aku kenal kamu, jadi aku yakin kalian emang saling terbuka tentang apapun masalah kalian." jawab Dimas.
"Enggak Dimas, nggak semua hal tentang aku Andi tau, begitu juga aku, nggak semua hal tentang Andi aku tau," ucap Dini.
"Tapi kalian deket banget, aku tau banget gimana persahabatan kalian," ucap Dimas.
"nggak ada yang lebih tau hubungan ku sama Andi selalin aku sama Andi sendiri Dimas, nggak cuma kamu, banyak orang yang merasa tau semuanya tapi sebenernya nggak tau apa apa," batin Dini dalam hati.
"Apa yang kamu tau?" tanya Dini.
"Kalian udah bersahabat dari kecil, kalian saling menyayangi dan saling peduli satu sama lain, iya kan?"
"Iya, kamu bener dan persahabatan aku sama Andi kadang bikin kamu cemburu, iya kan?"
Dimas tersenyum tipis lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Gimanapun juga Andi laki laki dan kamu adalah perempuan ku, jadi aku masih bisa rasain cemburu kalau liat kedekatan kalian, apa aku berlebihan?"
"Enggak kok, aku tau sebatas apa hubungan ku sama Andi dan aku tau sejauh apa hubunganku sama kamu, kalian dua laki laki yang ada di hatiku, tapi kalian punya tempat masing masing yang nggak akan bisa berubah," ucap Dini.
"Kamu beruntung punya sahabat sebaik Andi sayang, dari dulu sampai sekarang dia selalu ada buat kamu, dia selalu jagain kamu, tapi kamu juga harus ingat ada aku yang sedang berjuang buat masa depan kita, buat gapai mimpi kita berdua," ucap Dimas.
Dini menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.
Setelah puas menghabiskan waktu di pantai, Dimas mengajak Dini untuk makan siang.
Setelah makan siang, Dimas membawa Dini berkeliling mall untuk membeli beberapa barang.
Dimas dan Dini berjalan ke arah food court untuk mencari ice cream. Setelah mendapatkan ice cream, merekapun duduk sambil menikmati ice cream di hadapan mereka.
"Kamu mau nonton?" tanya Dimas.
"Oke!"
Setelah ice cream di hadapan mereka habis, merekapun berjalan ke arah bioskop dan memilih film untuk mereka tonton.
Tak lupa mereka membeli popcorn dan minuman untuk dibawa masuk ke dalam bioskop.
Selama film diputar, Dini fokus pada layar besar di hadapannya, sedangkan Dimas hanya diam memperhatikan Dini.
Ia masih memikirkan mimpi buruknya. Mimpi buruk yang terasa nyata baginya itu cukup menganggu pikirannya.
Ia tidak ingin Dini pergi meninggalkannya, ia tidak ingin Dini melepaskan genggaman tangannya. Ia ingin bersama Dini, memiliki Dini seutuhnya dan menjadikan Dini masa depannya.
**
Hari telah berganti. Dimas dan Dini sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah kafe, tempat ia akan bertemu Andi dan Anita.
Sebelumnya, ia sudah menghubungi Andi dan Anita untuk bertemu di tempat itu.
Sesampainya di sana, Dimas menggandeng tangan Dini untuk diajak masuk ke dalam. Mereka berjalan ke arah lantai dua dan memilih bangku di tepat di sudut.
"Kamu udah kasih tau Andi sama Anita kan kalau kita ketemu di sini jam 9 pagi?" tanya Dimas pada Dini.
"Udah kok, mungkin bentar lagi mereka dateng!" jawab Dini.
Saat waiters datang, Dini memesan 4 minuman dan beberpaa makanan ringan. Tak lama setelah pesanan Dini datang, Andi dan Anitapun datang.
"Kita telat ya?" tanya Anita lalu duduk di hadapan Dimas, sedangkan Andi duduk di hadapan Dini.
"Enggak kok, aku udah pesen minum, nggak papa kan?" balas Dini sekaligus bertanya.
"Nggak papa," jawab Anita.
"Lo balik ke apartemen kapan Dim?" tanya Andi pada Dimas.
"Nanti sore," jawab Dimas.
Mereka lalu mengobrolkan banyak hal untuk sekedar berbasa basi, sesekali mereka juga tampak tertawa.
"Karena papa nggak di rumah, aku jadi sering bolak balik ke apartemen nya mbak Dewi," ucap Anita bercerita.
__ADS_1
"Bukannya kamu di sini ikut kursus ya? nggak papa ditinggal gitu?" tanya Andi.
"Aku kursus di hari hari tertentu aja kok, selain kursus masak, yang lainnya bisa dilakuin lewat internet," jawab Anita.
"Tapi kamu nggak perlu bawain aku makan siang ke kantor Nit, aku nggak mau anak anak kantor salah paham," ucap Dimas.
"Maaf Dimas, aku cuma mau kasih kamu hasil belajar masakku, aku pingin dapat penilaian dari kamu aja," balas Anita.
"Tapi aku jadi nggak nyaman Nit," ucap Dimas.
"Aku sebagai tunangannya yang jauh sama Dimas jadi iri sama kamu," ucap Dini pada Anita.
"Iri kenapa?"
"Karena kamu bisa dateng ke kantor Dimas dan bawain Dimas makan siang, sedangkan aku nggak bisa kayak gitu karena jarak dan kesibukan kita masing masing," jawab Dini.
"Maaf Din, aku nggak bermaksud bikin kamu iri," ucap Anita pada Dini.
"Apa kamu bisa nggak temuin Dimas sendiri? aku bilang gini karena jujur aku cemburu kalau harus liat Dimas berduaan sama kamu," ucap Dini.
"Kenapa kamu harus cemburu Din? kita kan berteman, kamu juga sering berduaan sama Andi kan? kalian bahkan sering makan siang bareng, jalan bareng, kalian....."
"Nit!" ucap Andi mencoba menghentikan ucapan Anita.
"Kenapa Ndi? Dimas bahkan nggak ngelarang kalian buat berduaan kan? kenapa kamu harus ngelarang aku yang cuma bawain Dimas makan siang? aku nggak cuma berdua sama Dimas, ada temen temen Dimas juga di sana!"
Dini dan Dimas berusaha menahan emosi mereka mendengar ucapan Anita. Dimas menggenggam tangan Dini di bawah meja, membuat Dini meredam emosi dalam dirinya.
"Situasinya beda Nit, kamu tau Andi dan Andini udah bersahabat lama bahkan sebelum Andini kenal sama aku, jadi aku nggak masalah sama kedekatan mereka, tapi aku sama kamu berbeda, kita cuma sebatas teman, bahkan bukan teman baik apa lagi sahabat, jadi apa yang kamu lakuin itu berlebihan dan bisa bikin masalah!" ucap Dimas pada Anita.
"Sebagai gantinya kamu bisa bawain makan siang buat aku kalau kamu mau, kamu tau aku bisa masak kan? jadi aku bisa menilai kekurangan dan kelebihan dari masakan kamu!" sahut Andi berbicara pada Anita.
"Aku pikir kamu akan makan siang di rumah, makanya aku nggak bawa buat kamu dan kebetulan waktu itu aku lagi di apartemen mbak Dewi jadi yang aku kenal di sana cuma Dimas," ucap Anita beralasan.
"Kamu bisa bawain aku makan siang kapanpun kamu mau Nit," ucap Andi pada Anita.
Anita lalu menganggukkan kepalanya.
"Maaf Din, Dim, aku nggak bermaksud buat bikin kalian berantem atau nimbulin masalah baru diantara kalian," ucap Anita pada Dini dan Dimas.
"Aku sama Dimas nggak berantem kok, justru dengan apa yang kamu lakuin itu aku jadi semangat buat belajar masak, biar bisa bawain Dimas makan siang kalau dia udah pindah ke sini," balas Dini dengan senyumnya.
"Jadi, apa kamu akan berhenti temui aku di kantor?" tanya Dimas pada Anita.
"Iya, aku nggak akan dateng ke kantor kamu lagi," Jawab Anita.
"Makasih atas pengertian kamu Nit," ucap Dini pada Anita.
"Tapi kita masih berteman kan Dim?" tanya Anita pada Dimas.
Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini sebelum menjawab pertanyaan Anita.
"Iya, asalkan kamu tau batasannya aja," jawab Dimas.
"Kita sama sama perempuan Nit, aku yakin kamu pasti tau hal hal yang bisa bikin aku cemburu," ucap Dini pada Anita.
Anita hanya tersenyum tipis lalu menyeruput minuman di hadapannya.
Waktu berlalu, Dimas dan Dini lalu berpamitan untuk pulang terlebih dahulu karena Dimas harus bersiap siap untuk kembali ke apartemen nya.
Tinggal Andi dan Anita yang masih berada di kafe itu.
"Mau balik sekarang?" tanya Andi pada Anita.
Anita hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa?" tanya Andi.
Anita lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya kasar.
"jadi ini alasan kamu buat ngajak aku ketemu? kamu mau bikin aku terpojok dan bikin aku keliatan bersalah karena apa yang udah aku lakuin? licik kamu Din!" batin Anita kesal.
"Aku anter kamu pulang ya?" ajak Andi.
Anita kembali menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.
"kalian pasti pura pura nggak berantem kan? kamu pasti kaget kan Din karena tau aku bawain Dimas makan siang? kamu iri, kamu cemburu, kamu marah dan berantem sama Dimas tapi kalian bersikap seolah olah nggak terjadi apa apa, munafik kalian berdua!" batin Anita yang tak hentinya meluapkan kekesalannya dengan meremas tissue di tangannya.
Andi lalu memegang tangan Anita yang meremas tissue, membuat Anita seketika membawa pandangannya pada Andi.
"Aku tau kamu marah, tapi apa yang kamu lakukan itu emang bisa bikin hubungan Dini dan Dimas jadi nggak baik, kalau kamu emang mau berteman, jangan lakuin itu lagi, bisa?"
"Kamu selalu belain Dini karena dia sahabat yang kamu cintai," ucap Anita.
"Kalau aku mau aku bisa salahin kamu di depan Dini dan Dimas, tapi aku nggak ngelakuin itu karena aku nggak mau kamu semakin terpojok," ucap Andi.
__ADS_1
Anita hanya diam dengan membawa pandangannya ke arah lain. Ia lalu meminta Andi untuk mengantarnya pulang.