
Hari berganti. Mentari pagi mengantar Dini untuk berangkat ke tempat kerjanya. Seperti biasa, 5 menit sebelum Adit datang, Dini menyiapakan minuman hangat di meja kerja Adit.
Hari itu, Adit meminta seseorang untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi antara Dini dan Sela. Jika Dini memang bersalah, ia tidak akan ragu untuk memberikan sanksi pada Dini, begitu juga jika Sela yang bersalah.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Dini dan Adit berjalan ke arah ruang meeting bersama para manajer divisi. Hari itu akan ada meeting yang diadakan setiap bulan di perusahaan itu.
Sebagai personal assistant Adit, Dini mempresentasikan materi meetingnya dengan sangat baik. Semua penjelasan Dini bisa diterima dengan baik dan semua pertanyaan dari para manajer divisi bisa dijawab oleh Dini tanpa bantuan Adit. Hal itu menunjukkan bagaimana ia benar benar mempersiapkan meeting hari itu.
Meeting selesai, satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan meeting.
"Pak Adit setelah ini ada pertemuan di perusahaan X dengan Pak Jaka, saya sudah siapkan berkas berkas yang harus Pak Adit bawa," ucap Dini pada Adit.
"Saya berangkat sama kamu!" balas Adit.
"Tapi saya harus melakukan peninjauan di perusahaan X pak!"
"Kalian bisa bertukar posisi kan?" tanya Adit pada Jaka dan Dini.
Dini dan Jaka saling pandang seolah mencari kesepakatan atas pertanyaan Adit yang tiba tiba.
"Saya bersedia pak jika Dini tidak keberatan," ucap Jaka.
"Dini?"
"Baik Pak, saya akan ikut pertemuan bersama Pak Adit."
"Oke, serahkan berkas peninjauan yang kamu buat ke ruangan Jaka!" perintah Adit pada Dini.
"Baik pak," balas Dini.
Mereka lalu meninggalkan ruangan meeting. Dini mengambil berkas di mejanya dan membawanya ke ruangan Jaka.
"Permisi Pak Jaka, ini berkas yang Pak Jaka butuhkan untuk peninjauan nanti," ucap Dini sambil memberikan berkasnya pada Jaka.
"Terima kasih Din, oh ya, presentasi kamu tadi bagus banget, nggak kalah sama mbak Ana!"
"Terima kasih pak, saya permisi."
Dini lalu keluar dari ruangan Jaka.
"Diiniii, aku denger presentasi kamu bagus banget, bener ya?" tanya Ica yang tiba tiba menghampiri Dini.
"Aku cuma berusaha yang terbaik aja Ca," balas Dini.
Beberapa manajer divisipun mengucapkan selamat pada Dini karena berhasil mempresentasikan materi meeting dengan baik.
Berita itu pun tersebar, beberapa dari mereka yang suka bergosip ada yang mendukung Dini ada juga yang masih mencari cari kesalahannya.
Di salah satu bilik meja kerja, seseorang sedang melaporkan apa yang baru saja dilihatnya pada seseorang di luar kantor.
"Kita berangkat sekarang!" ucap Pak Adit pada Dini.
"Baik pak, saya ambil berkasnya sebentar."
Dinipun berlari ke ruangannya dan mengambil berkasnya lalu mengikuti Adit keluar dari kantor. Mereka melakukan pertemuan di perusahaan X lalu makan siang bersama dengan CEO perusahaan X di salah satu restoran yang tak jauh dari perusahaan itu.
"Maaf Pak Adit, saya harus kembali ke kantor sekarang, ada yang urgent!" ucap CEO perusahaan X pada Adit.
"Oh iya pak, silakan!"
Kini tinggal Adit dan Dini di meja makan itu. Setelah mereka selesai makan siang, Adit dan Dini segera keluar dari restoran.
"Dini!" panggil seorang wanita.
Dini membawa pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati mama Dimas yang berjalan ke arahnya.
"Mama, mama di sini?" tanya Dini.
"Iya sayang, mama ada arisan di sini, kamu di sini sama......"
Mama Dimas menghentikan ucapannya, ia membawa pandangannya pada laki laki tampan di samping Dini.
"Saya Adit tante, tante istrinya om Tama kan?"
"Iya, kamu pasti CEO di tempat Dini kerja ya?"
"Iya tante," jawab Adit.
"Sayang, boleh mama bicara berdua sama kamu? sekarang masih jam makan siang kan?"
Dini membawa pandangannya pada Adit, Adit mengangguk.
"Kakak tunggu di tempat parkir ya!" ucap Adit sambil mengusap rambut Dini.
"Iya kak," balas Dini.
Dini dan mama Dimas lalu duduk berdua.
"Dia nggak keliatan galak ya Din!"
"Pak Adit? aslinya emang baik ma, tapi kalau di kantor galaknya keluar hehe...."
"Kebetulan banget mama ketemu kamu di sini, dari kemarin mama mau ketemu kamu tapi nggak pernah ada waktu."
"Ada apa ma? Dimas baik baik aja kan?"
"Entahlah, mama nggak tau, Dimas udah cerita tentang hubungan kalian, kenapa kalian break Din? mama tau banget Dimas masih cinta sama kamu, apa perasaan kamu yang udah berubah?"
"Enggak ma, perasaan Dini nggak pernah berubah, ini keputusan kita berdua dan ini yang terbaik untuk saat ini," jawab Dini.
"Tapi kamu masih cinta sama Dimas kan sayang? kalian pasti sama sama lagi kan?"
Dini mengangguk dengan menggenggam tangan mama Dimas.
"Mama do'ain aja biar Dimas bisa cepet selesaiin masalahnya, Dini akan selalu nunggu Dimas ma, Dini nggak mau kehilangan Dimas lagi," ucap Dini.
__ADS_1
"tapi mama takut kamu akan berpaling dari Dimas Din, ada Andi yang mama tau dia cinta banget sama kamu, ada Adit yang sepertinya juga sangat dekat dengan kamu," batin mama Dimas dalam hati.
"Kalau ada apa apa kamu bisa hubungin mama atau papa, gimanapun hubungan kalian sekarang, kita masih tetap keluarga Din!"
"Iya ma, terima kasih," balas Dini.
"Ya udah mama masuk dulu ya, udah ditunggu temen temen mama!"
"Iya ma, Dini juga harus balik ke kantor."
Mereka lalu berpelukan sebelum berpisah.
Dini berjalan ke arah Adit yang sedang berdiri di depan mobilnya. Karena ia tidak berhati hati, kakinya tersandung membuatnya terhuyung tepat di depan Adit.
Dengan sigap Adit menangkap Dini.
CEKREEKKK
Seseorang memotret adegan itu dengan posisi yang sangat bagus, membuatnya tampak mereka sedang berpelukan.
"Hati hati dong Din!"
"Maaf kak."
Mereka lalu masuk ke dalam mobil.
"Kak Adit kok kenal mamanya Dimas?" tanya Dini pada Adit.
"Kakak sering ketemu mereka di pertemuan pertemuan, kakak juga kenal Dimas, tapi kayaknya Dimas nggak kenal kakak!"
"Kakak kenal Dimas?"
Adit menganggukkan kepalanya.
"Keluarganya Dimas itu salah satu investor di perusahaan kita, kakak kenal baik sama om Tama karena sering ketemu waktu meeting," jelas Adit.
"Dunia rasanya sempit banget ya kak!"
"Cukup luas kalau kamu mau melihatnya dari sisi yang berbeda," balas Adit.
Sesampainya di kantor, mereka segera masuk ke ruangan masing masing. Betapa terkejutnya mereka mendapati banyaknya map yang berisi pembatalan kontak kerja sama yang begitu tiba tiba.
Dini segera berlari ke ruangan Adit untuk menanyakan kenapa hal itu terjadi.
"Saya sudah menduga hal ini Din, ada banyak yang harus kita kerjakan sekarang, kamu bisa lembur hari ini?"
"Bisa pak," jawab Dini.
"Kembali ke ruangan kamu dan buat list perusahaan perusahaan ini!" ucap Adit sambil memberikan tumpukan map pada Dini.
Saat sedang keluar dari ruangan Adit dengan membawa tumpukan map, seseorang menabrak Dini dengan sengaja.
"Uupps sorry," ucap Jenny dengan menginjak map yang berjatuhan di lantai.
"Go away Jen!"
"Are you serious? I want to help you Adit!"
"Keluar sebelum aku yang maksa kamu keluar!"
"No!"
"Oke kalau itu pilihan kamu," ucap Adit lalu menarik tangan Jenny dan memaksanya keluar.
"Jaka panggil tiga security buat seret dia keluar!" ucap Adit pada Jaka.
"Baik pak," balas Jaka lalu segera memanggil security.
"Aku bisa keluar sendiri!" ucap Jenny dengan menarik tangannya dari cengkeraman Adit.
"Oke," balas Adit lalu kembali masuk ke ruangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Adit meminta Dini untuk mengerjakan pekerjaannya di ruangan Adit agar mereka semakin mudah berkomunikasi.
Sampai jam 8 malam, mereka masih berkutat dengan pekerjaan mereka.
Biiip Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, panggilan dari Andi.
"Halo Ndi, ada apa?"
"Kamu dimana Din? kenapa belum pulang?"
"Aku masih di kantor Ndi, masih banyak yang harus aku selesaiin."
"Nggak bisa besok aja? ini udah jam 8 malem Din dan besok kamu harus kerja lagi!"
"Nggak bisa Ndi, ini belum selesai."
"Aku ke kantor kamu sekarang, aku tunggu kamu di depan."
"Tapi Ndi....."
Klik, sambungan berakhir. Andi mematikan sambungan ponselnya begitu saja.
"Ada apa Din?" tanya Adit pada Dini.
"Andi mau ke sini," jawab Dini.
"Kamu pulang duluan aja nggak papa," ucap Adit.
"Kak Adit gimana?"
"Kakak juga mau pulang kok!"
__ADS_1
Dini menganggukkan kepalanya. Tepat jam setengah 9, Andi sudah berada di depan kantor Dini.
"Dini pulang dulu ya kak!"
"Iya hati hati, maaf nggak bisa antar kamu pulang."
"Nggak papa," balas Dini lalu segera keluar dari ruangan Adit.
Dini pulang bersama Andi dengan menaiki bus terkahir yang lewat malam itu.
"Pak Adit yang minta kamu lembur sampe jam segini?" tanya Andi.
"Ada masalah di kantor Ndi, makanya aku sama Pak Adit lembur!"
**
Hari berganti, minggu berlalu. Hubungan Andi dan mama Adit semakin dekat. Mereka sering bertemu hanya untuk makan siang bersama atau melukis bersama. Hal itu memberikan dampak yang baik untuk mama Adit.
Sedangkan Dini dan Dimas masih berusaha untuk saling menjaga hati masing masing. Dimas masih berusaha mencari kebenaran akan masa lalu ibu Dini meski selalu ada saja rintangan yang menghalanginya.
Pagi itu, seperti biasa Dini menyiapkan minuman hangat untuk Adit sebelum Adit datang.
Ketika melihat Adit datang, Dini segera membawa jadwal harian Adit ke ruangan Adit seperti biasa.
"Nanti siang ikut saya makan siang di kafe teman saya Din!"
"Baik pak."
Dini kembali ke ruangannya lalu mengerjakan pekerjaannya.
Jam makan siang tiba. Dini mengikuti Adit keluar dari ruangannya. Mereka segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan.
"Masalah di kantor selesai lebih cepet dari dugaan kakak berkat bantuan kamu."
"Dini cuma ngelakuin yang terbaik aja kak, kalau Dini boleh tau sebenernya ada masalah apa kak?"
"Kamu inget waktu kita ketemu Jenny sama papanya di restoran?"
Dini menganggukkan kepalanya.
"Kakak sama Ana sengaja membatalkan kontrak kerja sama karena kakak harus bertunangan dengan Jenny untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan papa Jenny termasuk perusahaan perusahaan menengah yang ada di bawah papa Jenny, kamu tau prinsip kakak kan? masalah pribadi dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda."
"Kenapa kakak nggak mau tunangan sama dia? dia kan cantik, mama juga pingin kakak punya pacar kan?"
"Kakak nggak pernah mikirin hal itu Din, kakak masih mau fokus sama perusahaan dulu!"
Dini mengangguk anggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit.
"Kamu nggak mau cerita sesuatu sama kakak?" tanya Adit.
"Cerita apa?" balas Dini balik bertanya.
"Tentang apapun, termasuk masalah kamu sama Sela."
"Dini yang salah kak, Dini nggak bisa jaga emosi Dini."
"Kamu pasti punya alasan melakukan hal itu kan? CCTV nggak bisa nangkap suara kalian, tapi dari gerak gerik kalian kakak tau dia udah bikin kamu marah, iya kan?"
"Dini terima sanksinya kak, apapun itu, jadi jangan diperpanjang lagi ya!"
"Nggak bisa gitu Din, kakak harus tau masalah yang sebenernya dulu baru kakak bisa mutusin siapa yang harus dapat sanksi!"
"Iya sih, tapi......"
"Kakak udah tau yang sebenernya kok, kakak tau semuanya termasuk alasan kamu tiba tiba berubah kemarin."
"Kak Adit tau? beneran?"
"Iya, kakak pasti kasih sanksi buat mereka yang ada di grup itu, terutama si biang gosip itu!"
"Kak Adit tau apa dampaknya buat Dini kalau kak Adit kasih sanksi sama mereka semua?"
"Mungkin mereka akan semakin benci sama kamu?"
"Itu kak Adit tau, jadi kak Adit nggak akan kasih sanksi kan? kak Adit pura pura aja nggak tau apa apa, ya!"
"Tenang aja, kakak udah beresin semuanya!"
"Maksud kak Adit?"
"Udah, jangan dipikirin, satu yang harus kamu inget, jangan biarkan orang lain memandang rendah diri kamu, kalau kamu benar, tunjukkan, pilihan kamu buat tetep diam itu salah, kamu harus berani speak up kalau kamu memang benar, nggak peduli sebanyak apapun orang yang meragukan kamu, oke?"
Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit. Ia akan mengingat ucapan Adit dengan baik di kepalanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah kafe. Dini dan Adit segera turun dari mobil menuju ke dalam kafe.
Baru saja Dini memasuki kafe, ingatannya kembali saat ia sering menghabiskan waktu bersama Dimas di kafe. Begitu banyak kejadian yang memorable tentang kafe di ingatannya.
"Dimas, apa semuanya akan baik baik aja?" tanya Dini dalam hati.
Saat Dini dan Adit sudah duduk. Dari jauh, Dini melihat seseorang yang tidak asing lagi di matanya. Seseorang yang sangat ia rindukan, seseorang yang sangat ia harapkan kehadirannya.
"Dimas? sama Anita? kenapa?"
Dini hanya diam merasakan sesak di dadanya, perih di hatinya membuat matanya berkaca kaca.
"Din, kamu kenapa?" tanya Adit.
Dini tak menjawab, air matanya kini benar benar tumpah bersama rasa sakit di hatinya. Dini lalu berlari keluar dari kafe tanpa mempedulikan Adit.
"Dimas?" batin Adit yang menyadari keberadaan Dimas bersama seorang perempuan.
Adit lalu keluar mencari keberadaan Dini. Di sudut tempat parkir, Dini berjongkok dengan memeluk kedua kakinya. Ia berusaha menahan tangisnya, namun isaknya terdengar begitu pilu.
Adit mendekat lalu berjongkok di depan Dini, membawa Dini ke dalam pelukannya.
__ADS_1