Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Resign dari Kantor


__ADS_3

Dimas masih berdiri di tempatnya melihat sang istri yang sedang berpelukan dengan laki laki lain di hadapannya.


Cemburu? Tentu saja dia cemburu, terlebih saat Dimas tau jika laki laki itu menyimpan perasaan pada istrinya.


"Gimana Din? positif?" tanya Andi setelah ia melepaskan dirinya dari pelukan Dini.


Dini menganggukkan kepalanya penuh semangat dengan setetes air mata bahagia.


Andi bernapas lega lalu menghapus air mata di pipi Dini.


"Selamat Din, aku yakin kamu akan jadi ibu yang hebat buat anak kamu nanti," ucap Andi dengan membelai wajah Dini.


"Eheemm!!!"


Dimas berdehem cukup kencang membuat Dini dan Andi segera menoleh ke arahnya.


Dini lalu berlari kecil menghampiri Dimas lalu menarik tangan Dimas dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Dimas hanya pasrah mengikuti langkah Dini yang tampak sangat bersemangat itu.


"Dimas, liat!" ucap Dini sambil menunjuk beberapa testpack yang berjejer di kamar mandi.


"Ini.... ini..... punya kamu?" tanya Dimas tak percaya.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum di wajahnya. Dimas lalu menjatuhkan kantong belanjaannya dan memeluk Dini.


Ada rasa haru dan bahagia yang menyelinap masuk ke dalam hatinya yang baru saja dipenuhi rasa cemburu.


Untuk sekejap saja rasa cemburunya telah hilang. Penantiannya bersama Dini akhirnya telah membuka jalannya, meski begitu ia harus memastikannya terlebih dahulu dengan memeriksakannya ke dokter.


"Sayang, setelah ini kita ke dokter ya, buat pastiin lagi!"


"Iya, tapi kamu jangan kasih tau siapa siapa dulu ya sebelum ada hasil positif dari dokter!"


"Iya sayang," balas Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.


Dimas lalu mengambil kantong belanjaannya dan membawanya ke dapur untuk meminta Bi Em memasaknya.


"Karena kamu kemarin cuma mau makan daging, jadi aku beliin daging yang sama kayak kemarin buat kamu," ucap Dimas sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong.


"Aku aja ya yang masak!"


"Enggak sayang, kamu tunggu aja di depan, biar bi Em yang masak buat kamu!" balas Dimas.


"Tapi aku mau yang kayak kemarin, nggak mau dimasak aneh aneh!" ucap Dini manja.


"Bi tolong di grill aja ya, nggak perlu ditambahi apa apa," ucap Dimas pada Bi Em


"Baik mas," balas bi Em.


Setelah semua makanan siap, bi Em membawanya ke meja makan. Namun baru saja makanan ditaruh di meja, Dini sudah merasa mual.


Dini lalu meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya. Dimaspun mengikuti Dini yang saat itu sedang berada di kamar mandi.


Setelah menunggu beberapa lama, Dinipun keluar dengan raut wajah yang tampak lemas.


"Morning sickness?" tanya Dimas.


"Kayaknya iya," jawab Dini dengan memeluk Dimas.


Dimas mengusap punggung Dini dan membawanya untuk berbaring di ranjang.


"Kamu tunggu di sini, aku bawain makanan kamu ke sini!" ucap Dimas lalu keluar dari kamar.


Dimas kembali ke kamar dengan membawa segelas air lemon dan makanan untuk Dini.


"Minum dulu sayang!" ucap Dimas sambil memberikan gelas di tangannya pada Dini.


"Ini apa?"


"Air lemon, buat mengurangi mual," jawab Dimas.


Setelah minum air lemon itu, Dimaspun menyuapi Dini dengan daging yang sudah digrill tanpa campuran apapun.


"Kamu makan aja dulu, aku bisa makan di sini sendiri," ucap Dini.


"Aku akan suapin kamu sampai kamu selesai," balas Dimas dengan membelai rambut Dini.


Setelah Dini menyelesaikan makannya, merekapun berangkat ke klinik yang tidak terlalu jauh dari vila.


Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, Dokter bisa memastikan jika Dini memang positif hamil.


Dimas dan Dini saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Kebahagiaan dan rasa haru memenuhi ruang hati mereka dengan begitu indahnya.


Mereka lalu meninggalkan klinik dan kembali ke vila dengan membawa kabar bahagia itu.


Di sisi lain, Andi dan Anita yang sedang berada di vila hanya duduk merasakan hawa dingin pagi hari di daerah pegunungan.


"Dini sama Dimas kemana ya?" tanya Anita pada Andi.


"Mungkin ke rumah sakit," jawab Andi.


"Ke rumah sakit? Dini beneran sakit?"

__ADS_1


"Enggak, mungkin bentar lagi mereka udah balik," jawab Andi.


"Terus ngapain mereka di rumah sakit?" tanya Anita tak mengerti.


"Liat aja nanti," jawab Andi dengan tersenyum tipis.


Dalam hatinya, Andi berdo'a agar apa yang Dini dan Dimas harapkan benar benar terjadi.


Tak lama kemudian mobil Dimas memasuki halaman vila, Dimas dan Dini turun dari mobil dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


"Kalian dari mana?" tanya Anita pada Dini dan Dimas.


"Dari klinik," jawab Dini yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Kamu sakit?" tanya Anita yang dibalas gelengan kepala Dini.


Dini lalu mengambil selembar kertas dari tasnya dan memberikannya pada Anita. Anita lalu membukanya dan membacanya.


Ia terdiam beberapa saat dengan berusaha untuk tersenyum bahagia. Andi yang ikut membaca kertas itupun segera memeluk Dimas.


"Selamat Dim, akhirnya apa yang kalian tunggu datang juga," ucap Andi.


"Thanks Ndi," balas Dimas.


"Selamat Din, semoga semuanya berjalan dengan baik sampai kamu melahirkan!" ucap Andi dengan memeluk Dini, hanya beberapa saat lalu segera melepas pelukannya karena Andi tidak ingin merusak suasana dengan membuat Dimas cemburu.


Anita juga memberi selamat pada Dimas dengan memeluknya erat, membuat Dini sedikit kesal.


"Selamat ya Din, aku ikut seneng," ucap Anita dengan memeluk Dini setelah ia memeluk Dimas.


"Makasih Nit," balas Dini.


Mereka lalu masuk ke dalam vila. Sepanjang hari Dimas menghabiskan waktunya dengan membaca artikel untuk mencari tau apa saja yang harus ia lakukan saat Dini mengalami morning sickness.


Banyak hal yang Dimas baca agar Dimas bisa memahami dengan baik apa yang harus ia lakukan saat istrinya sedang hamil.


Dimas bahkan melupakan sarapan dan makan siangnya. Ia hanya fokus pada Dini dan memberikan semua yang Dini minta.


Waktu berlalu, tiba saatnya bagi mereka untuk meninggalkan vila.


Setelah mengantarkan Andi dan Anita, Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah mama dan papanya.


Karena itu adalah hari Minggu, maka bisa dipastikan jika mama dan papanya berada di rumah.


Dini dan Dimas memberi tahu kabar bahagia itu secara langsung pada mama dan papa. Pelukan, ucapan selamat dan do'a pun mereka dapatkan dari mama dan papa.


Setelah itu Dini dan Dimas menemui ibu Dini. Sama halnya dengan mama dan papa Dimas, ibu Dini juga memeluk Dini dan Dimas dengan segala do'a yang terucap.


Akhirnya, Dini dan Dimaspun pulang ke rumah mereka. Dimas memberitahukan kepada semua pekerja di rumahnya tentang kabar gembira itu dan meminta mereka semua untuk ikut menjaga Dini dengan baik.


Setelah berganti pakaian, Dini dan Dimas merebahkan badan di ranjang. Dimas menyibakkan baju Dini di bagian perutnya, mengusap perut Dini lalu menciumnya dengan lembut.


Tak terasa setetes air matanya terjatuh di atas perut Dini.


"Dimas, kamu baik baik aja?" tanya Dini khawatir.


Dimas lalu menghapus air matanya dan memeluk Dini.


"Makasih sayang, makasih udah kasih aku kebahagiaan yang sangat besar," ucap Dimas dengan suara yang terdengar serak.


**


Waktu berlalu, hari telah berganti. Seperti biasa, Dini sudah bangun terlebih dulu karena rasa mualnya.


Ia keluar dari kamar mandi dengan badannya yang sudah lemas.


"Sayang, apa nggak sebaiknya kamu resign dari kantor? keadaan kamu nggak memungkinkan buat kamu kerja kan?" tanya Dimas.


"Aku harus bilang apa sama kak Adit, aku udah sering minta cuti dan sekarang aku harus resign tiba tiba, kak Adit pasti kecewa sama aku," balas Dini.


"Kesehatan kamu dan kandungan kamu lebih penting sayang, aku akan bicara sama Adit dan jelasin semuanya baik baik," ucap Dimas.


"Tapi......"


"Andini, kamu sekarang nggak sendirian, ada yang harus kamu jaga di sini," ucap Dimas dengan mengusap perut Dini.


"Apa aku boleh bilang sendiri ke kak Adit kalau aku mau resign?" tanya Dini.


"Kamu mau ke kantor?"


"Aku juga harus bertanggung jawab sama pekerjaan ku Dimas, tolong kamu mengerti," ucap Dini.


"Oke, cuma hari ini, nggak ada penawaran lagi, besok kamu nggak boleh ke kantor lagi!" ucap Dimas tegas namun penuh kasih sayang.


Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Dini dan Dimaspun bersiap untuk sarapan. Lagi lagi, saat makanan baru ditaruh di atas meja, Dini kembali mual.


Dimas lalu meminta asisten rumah tangganya untuk memasak daging sama seperti saat mereka berada di vila dan melarang mereka untuk menimbulkan semua bau yang menyengat, termasuk bau masakan.


Setelah makanan untuk Dini siap, Dimas menyuapi Dini di kamar dan memberikan air lemon buatan Dimas.


"Kamu yakin mau ke kantor?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Iya Dimas, aku udah baik baik aja kok sekarang," jawab Dini meyakinkan.


Dini memang hanya terlihat lemas saat pagi dan setelah ia muntah karena mencium bau bau yang menyengat, namun itu membuat Dimas khawatir meski ia tau jika itu adalah hal yang normal bagi wanita hamil.


Dimas dan Dinipun berangkat ke kantor bersama.


Sesampainya di kantor, Dini segera berjalan masuk ke ruangannya. Ia merasa sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki di tempat kerjanya itu.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Saat Dini masuk ke ruangan Adit untuk memberikan berkas laporan, tiba tiba kepalanya terasa pusing.


"Kamu baik baik saja Din?" tanya Adit yang melihat wajah Dini yang tampak pucat.


"Maaf pak, saya sedikit pusing," ucap Dini dengan memegang tepi meja.


Adit lalu mendekat ke arah Dini dan membawanya untuk duduk di sofa.


"Kamu jangan terlalu memaksakan diri Din, saya tau kamu sedang hamil sekarang!" ucap Adit.


"Pak Adit tau?"


"Iya, Dimas udah kasih tau kakak," jawab Adit yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Adit.


Saat itu masih jam kantor dan Adit sudah sudah tidak berbicara formal pada Dini.


Tooookk tooookkk tooookk


Adit beranjak dari duduknya untuk membuka pintu ruangannya, seorang pengantar makanan memberikan makanan pesanan Adit.


"Kamu makan dulu!" ucap Adit sambil memberikan satu kotak makanan pada Dini, namun Dini ragu untuk menerimanya.


"Tenang aja, ini nggak akan bikin kamu mual, ini daging yang kamu suka, Dimas yang kasih tau kakak!" ucap Adit meyakinkan.


Dengan senyum di wajahnya Dinipun menerimanya.


"Makasih kak, maaf Dini ngrepotin kak Adit," ucap Dini.


"Anggap kakak adalah kakak kandung kamu Din, kakak yang bertanggung jawab untuk melindungi kamu di sini," ucap Adit dengan membelai rambut Dini.


Ada sedikit kesedihan dalam hatinya saat ia mengingat ketika Ana kehilangan bayi dalam kandungannya.


Dalam hatinya ia masih menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi saat itu. Ia merasa tidak bisa menjaga Ana dengan baik.


"Kak Adit baik baik aja?" tanya Dini yang melihat Adit tampak sedih.


Adit menghela napasnya panjang dan tersenyum.


"Kamu harus selalu bahagia Din, apa yang kamu rasakan akan berpengaruh sama bayi dalam kandungan kamu, jadi buat dia selalu merasa bahagia sampai dia lahir," ucap Adit.


"Iya kak," balas Dini dengan senyum bahagianya.


"Kamu jangan khawatir soal kantor, ada Jaka yang bisa gantiin posisi kamu buat sementara sampai Ana bisa kembali ke sini," ucap Adit.


"Dini minta maaf karena harus resign mendadak kak, ini bukan kemauan Dini, tapi Dini nggak punya pilihan lain," ucap Dini.


"Kakak mengerti, kesehatan kamu dan bayi kamu jauh lebih penting dan satu lagi ikuti semua ucapan Dimas Din, kakak tau dia sangat mencintai kamu," ucap Adit.


"Makasih kak, Dini bahagia bisa punya kakak sebaik kak Adit," ucap Dini.


"Kakak juga bahagia bisa mengenal kamu Din!" balas Adit dengan mengusap rambut Dini.


Setelah Dini merasa pusingnya hilang, ia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini masuk ke ruangan Adit setelah merapikan meja kerjanya.


"Ini surat pengunduran diri Dini kak!" ucap Dini sambil memberikan sebuah surat pada Adit.


Adit menerimanya lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Dini.


"Selamat atas kehamilan kamu Din, kakak akan selalu berdo'a untuk kebaikan kamu dan bayi kamu," ucap Adit.


"Makasih kak," balas Dini.


Dini lalu keluar dari ruangan Adit. Di sana sudah ada Ica dan Aca yang sudah mendengar tentang pengunduran diri Dini.


"Kamu beneran resign?" tanya Aca yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


"Kenapa? apa karena kita bikin kamu nggak nyaman di sini? kita minta maaf Din, tapi jangan resign dari sini, please!" ucap Ica.


"Bukan karena kalian kok, kalian teman yang baik," balas Dini.


"Hai Din, selamat ya atas kehamilan kamu!" ucap Jaka yang tiba tiba datang sambil mengulurkan tangannya memberi selamat.


"Terima kasih pak Jaka," balas Dini sambil menerima uluran tangan Jaka.


"Kamu hamil?" tanya Aca.


"Jadi kamu resign karena kamu hamil?" tanya Ica.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aaaaa... Dini...... selamat Diiiiiin!!!" ucap Ica lalu memeluk Dini, diikuti dengan Aca.


Mereka melompat lompat sambil kegirangan mendengar berita kehamilan Dini. Mereka bergantian memberi selamat dan do'a yang baik untuk Dini dan bayinya.

__ADS_1


Dini merasa begitu bahagia karena kebahagiaan yang ia dapatkan memberikan kebahagiaan untuk orang lain di sekitarnya.


__ADS_2