
Jam makan siang telah usai. Setelah makan siang di kantin kantor, Dini segera kembali ke tempat kerjanya, begitu juga Dimas yang kembali ke home store.
"Din, kamu nggak papa kan?" tanya Cika pada Dini.
"Nggak papa, kamu yang kasih tau Dimas?"
"Iya Din, aku takut kamu kenapa napa," jawab Cika.
"Aku bisa jaga diri Cik, tenang aja," ucap Dini.
"Din, apa alasan kamu resign karena mbak Kintan?" tanya Cika.
"Bukan kok, bukan, ada hal yang aku nggak bisa cerita sama kamu tapi ini bukan soal mbak Kintan," jawab Dini.
"Kalau ada apa apa kamu bisa cerita sama aku Din, jangan dipendam sendiri!"
"Iya Cik."
Senja mulai tergambar di ujung barat langit jingga. Dini sedang menunggu Dimas di depan kantornya.
"Mau papa anter Din?" tanya Pak Tama yang menghentikan mobilnya di sebelah Dini.
"Makasih pa, Dini masih nunggu Dimas," jawab Dini.
"Ya udah kalau gitu, papa duluan ya!"
"Iya Pa, hati hati."
Tak lama setelah mobil papa Dimas pergi, Dimas datang.
"Maaf telat sayang!" ucap Dimas sambil menarik Dini dan mencium keningnya.
"Nggak papa, ayo pulang!"
Dini dan Dimas pun meninggalkan kantor. Dimas melajukan mobilnya ke arah rumah Dini.
Sesampainya di sana, mereka segera turun. Ketika Dini hendak membuka pintu rumahnya, pintu terbuka dari dalam dan sang ibu telah berdiri di belakang pintu.
"Ibu, ibu......"
"Masuk!" ucap Ibu Dini dingin.
Tanpa banyak berkata, Dini masuk meninggalkan Dimas.
"Ini yang terkahir kalinya saya liat kamu sama Dini, tolong jangan paksa saya buat bawa Dini pergi jauh dari kamu," ucap ibu Dini pada Dimas.
"Dimas cuma......"
"Andi lebih baik buat Dini daripada kamu, apa kamu nggak sadar kamu sudah memisahkan dua sahabat yang nggak pernah berpisah dari kecil? kalau nggak ada kamu, saya yakin Andi yang akan bertunangan dengan Dini, bukan kamu!" ucap ibu Dini lalu menutup pintu dengan keras.
"Mungkin menurut tante Andi lebih baik daripada Dimas, tapi yang Andini cintai Dimas dan Dimas nggak akan pernah berhenti berjuang buat Andini," ucap Dimas pelan namun masih terdengar oleh ibu Dini dari balik pintu.
Dimas lalu meninggalkan rumah Dini. Sedangkan ibu Dini segera menemui Dini di kamarnya.
__ADS_1
"Ibu nggak akan tanya kenapa kamu pulang sama dia, ibu harap kamu bisa jaga janji kamu sama ibu buat tinggalin dia," ucap ibu Dini lalu keluar dari kamar Dini.
**
Di tempat lain, Andi masih berada di home store bersama Anita. Beberapa waktu lalu setelah Dimas pergi, Anita datang.
"Aku udah ketemu papa," ucap Anita pada Andi.
"Jadi?"
"Aku mutusin buat balik ke rumah dan ikut kursus."
"Kursus apa?"
"Aku belum tau, aku juga nggak tau minat dan bakatku apa," jawab Anita.
"Kapan kamu pindah?"
"Mungkin minggu depan," jawab Anita tak bersemangat.
"Kenapa kamu nggak semangat gitu? kamu nggak dipaksa kan sama Pak Sony?"
"Enggak kok, aku cuma kasian aja sama mamanya Ivan, nggak ada yang nemenin, nggak ada yang diajak cerita."
"Aku tau itu berat buat kamu Nit, tapi gimanapun juga kamu harus utamain papa kamu sendiri, kamu masih bisa main ke butik sesekali, masih bisa chat atau telfon tiap hari, iya kan?"
"Iya sih, lagian aku juga mau pertahanin rumah mama biar nggak diambil sama istri barunya papa!"
Anita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
**
Di rumah Dimas.
Dimas sedang makan malam bersama mama papa dan Sintia.
"Kak Dini kok nggak pernah ke sini sih kak?" tanya Sintia pada Dimas.
"Kita sama sama sibuk Sin," jawab Dimas sekenanya.
Tampak kegundahan dari raut wajah Dimas yang membuat mama dan papanya hanya saling pandang.
"Kalian nggak lagi berantem kan?" tanya mama Dimas.
"Enggak lah ma, kita baik baik aja kok!" jawab Dimas.
"Sintia heran deh sama kak Dini, kakak kan pacarnya, tapi kenapa nggak pernah mau diantar jemput, nggak mau makan siang bareng, kenapa kayak sembunyi sembunyi gitu sih, kayak backstreet aja!" ucap Sintia yang membuat Dimas langsung tersedak.
"Huussstt, kamu ini ngomong apa, orang udah tunangan masak backstreet!" balas mama Dimas yang membuat Dimas kembali tersedak.
Ucapan Sintia dan mama Dimas seakan menusuk dadanya tiba tiba.
"Itu artinya Dini mau dikenal karena kemampuannya, karena hasil kerjanya, bukan karena dia calon menantu pemilik perusahaan," ucap papa Dimas.
__ADS_1
"Bener tuh Pa, Andini juga bilang gitu sama Dimas," balas Dimas dengan mengacungkan jari jempolnya pada sang papa.
"Oh ya, kamu kapan mau masuk perusahaan sayang?" tanya sang mama pada Dimas.
"Belum kepikiran ma, bisnis Dimas juga baru jalan," jawab Dimas.
"Kamu anak papa satu satunya Dimas, gimanapun juga kamu harus jadi penerus papa di perusahaan," ucap papa Dimas.
"Papa sama mama tau kan apa yang Dimas pingin dari dulu? Dimas pingin punya usaha sendiri, mulai sendiri semuanya dari nol tanpa melibatkan papa dan mama."
"Iya Dimas, papa sama mama ngerti, papa nggak akan maksa kamu Dim, papa yakin kamu tau keputusan apa yang harus kamu ambil," balas papa Dimas.
"Mama harap kamu bisa ngerti sayang, nggak ada orang lain lagi yang bisa mama dan papa percaya buat pegang perusahaan selain kamu, anak mama dan papa satu satunya," ucap mama Dimas.
"Dimas tau posisi Dimas ma, pa, kasih Dimas waktu buat jalanin bisnis Dimas dulu!"
"Iya sayang, kita nggak pernah maksa kamu, kita hargai keputusan kamu," balas mama Dimas.
"Makasih ma, pa, Dimas masuk dulu," ucap Dimas lalu meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya.
Tak berapa lama setelah Dimas masuk, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
"Papa boleh masuk?" tanya papa Dimas.
"Masuk Pa," jawab Dimas.
Papa Dimas lalu masuk dan duduk di ranjang Dimas.
"Ada masalah apa Dim?"
"Papa tau?"
"Kamu nggak bisa sembunyiin apa apa dari papa, ayo cerita, ada apa?"
"Andini mau resign dari kantor pa!"
"Resign? kenapa?"
"kayaknya papa belum tau soal sikap ibu Andini yang tiba tiba berubah," batin Dimas dalam hati.
"Andini mau keluar dari zona nyamannya Pa, dia mau cari pengalaman baru dan......"
"Ini bukan soal Kintan kan?" tanya sang papa tiba tiba.
"Maksud papa?"
"Udah deh Dim, jangan sok nggak ngerti, papa tau semuanya kok!"
"Apa yang papa tau?"
"Soal Dini, Kintan sama kamu, kalian ada masalah kan?"
"papa emang selalu tau semuanya, aku yakin nggak lama lagi papa juga pasti tau masalah yang sebenarnya, maaf Dimas nggak bisa cerita masalah itu Pa, Dimas nggak mau tekanan dari mama dan papa bikin ibunya Andini drop lagi," batin Dimas dalam hati.
__ADS_1