Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kelicikan Anita


__ADS_3

Anita dan Dimas masih bersitegang di tempat parkir sebelum Andi dan Dini datang.


"Aku udah berusaha buat baik Dimas, tapi kamu sendiri yang bikin aku berubah pikiran," ucap Anita dengan tersenyum lalu mengambil balok kayu yang ada di sana dan memukulkan ke wajahnya sendiri.


"Kamu yang akan menyesal, bukan aku," ucap Anita pelan lalu menjatuhkan dirinya di samping mobil saat ia melihat Andi dan Dini.


Tak lama kemudian Andi dan Dini datang. Andi segera menghampiri Anita, sedangkan Dini masih berdiri di tempatnya karena keterkejutan nya.


"Kamu kenapa Nit? apa yang terjadi?" tanya Andi khawatir pada Anita.


"Dimas, dia....."


Anita tidak melanjutkan ucapannya. Ia menangis dengan terisak.


Andi lalu berdiri dan segera melayangkan tinjunya pada Dimas. Ia ingat apa yang Dimas lakukan pada Anita sebelum Dimas kecelakaan saat mereka SMA.


Andi melihat dengan jelas saat Dimas tanpa ragu menampar Anita di hadapannya.


"Brengsek lo Dim!" ucap Andi yang hendak kembali menyerang Dimas, namun segera dicegah oleh Dini.


"Stop Ndi, please!" ucap Dini dengan menahan tangan Andi.


"Gue tau lo nggak suka sama Anita Dim, tapi apa yang lo lakuin udah keterlaluan dan kamu Din, kamu harus hati hati sama cowok brengsek kayak dia!" ucap Andi lalu membawa Anita pergi dari sana.


Sedangkan Dini membantu Dimas berdiri dan masuk ke dalam mobil.


Dini lalu mengambil tissue untuk membersihkan darah di sudut bibir Dimas. Matanya berkaca kaca namun ia menahannya agar tidak menangis saat itu.


Pikirannya kacau, ia tidak menyangka Dimas akan melakukan hal itu pada Anita. Ia pernah melihat Dimas menampar Anita dan hal itu terulang lagi karena rencana buruknya yang memaksa Dimas untuk bertemu Anita.


Ia merasa bersalah pada Dimas dan Anita. Ia tau Dimas sangat membenci Anita dan ia memaksa Dimas untuk menemui Anita. Karena keegoisannya itu Anita harus mendapatkan kekerasan dari laki laki yang dicintainya.


Dini tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya saat seseorang yang ia cintai melakukan kekerasan fisik padanya. Ia pasti akan sangat terluka dan luka itu akan selamanya membekas dalam hatinya.


Pada akhirnya, Dini menyerah, air matanya luruh begitu saja. Ia merasa menjadi perempuan yang jahat saat itu.


Ia merasa dirinya bahkan lebih jahat daripada Anita.


"Maafin aku Dimas, maafin aku," ucap Dini dengan suara bergetar.


"Bukan salah kamu sayang," balas Dimas lalu mendekap Dini dengan erat.


Dini menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan Dimas. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang Dimas lakukan pada Anita dan apa yang terjadi pada Anita sepenuhnya karena kesalahannya, terlebih saat Andi memukul Dimas.


Ia tau bagaimana Andi dan Dimas bersahabat, ia tau bagaimana hubungan baik mereka meski mereka sering berselisih paham. Namun melihat kemarahan Andi pada Dimas membuat Dini semakin merasa bersalah.


"Semuanya salah ku Dimas, aku yang jahat di sini, aku yang......"


Dini menghentikan ucapannya. Rasa bersalah seperti menggerogoti dirinya saat itu, melemahkan nya dan akan selalu menghantuinya.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menghapus air mata Dini.


"Dia belum berubah Andini, dia masih Anita yang sama, dia masih Anita yang selalu punya rencana jahatnya buat ganggu hubungan kita, dia yang jahat Andini, bukan kamu!" ucap Dimas.


"Aku yang maksa kamu buat datang ke sini Dimas, aku yang maksa kamu ketemu dia, kalau aku nggak maksa kamu dia nggak akan ketemu kamu, dia nggak akan dapat perlakuan kasar dari kamu dan Andi nggak akan marah sama kamu!"


"Ini pilihanku Andini, aku yang memilih buat ikutin permintaan kamu, apa yang aku lakuin sama Anita bukan karena kamu, tapi karena sikapnya yang bikin aku kehilangan kendali!" ucap Dimas.


"Kenapa kamu ngelakuin itu Dimas? kenapa kamu harus sekasar itu sama Anita?"


"Aku emang nampar dia, tapi dia sendiri yang lukain dirinya, dia jahat Andini, dia emang licik!"


"Apa kamu juga akan ngelakuin hal itu sama aku kalau kamu marah sama aku?"


"Enggak sayang, aku nggak mungkin nyakitin kamu, aku sayang sama kamu, aku nggak mungkin ngelakuin hal itu sama kamu!" ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini, namun Dini menarik tangannya.


Ia menutup matanya dengan kedua tangannya, menahan air mata yang tak bisa berhenti keluar.


"Andini, aku sayang sama kamu, aku pingin selalu bahagiain kamu, aku nggak mungkin ngelakuin hal itu sama kamu Andini, kamu percaya kan sama aku?"


"aku nggak tau Dimas, aku bener bener bingung, aku yang maksa kamu buat ketemu Anita, tapi apa yang kamu lakukan udah di luar batas, kamu keterlaluan Dimas, tapi aku nggak bisa salahin kamu, ini salahku yang udah maksa kamu buat ke sini," batin Dini dalam hati.


"Kita pulang sekarang ya, kamu butuh waktu buat tenangin diri kamu!" ucap Dimas pada Dini.


"Aku harus temui Anita dan Andi," balas Dini.


"Buat apa? ini bukan situasi yang tepat buat temuin mereka Andini!"


"Aku harus ketemu mereka Dimas!"

__ADS_1


"Enggak, aku akan antar kamu pulang sekarang!" ucap Dimas dengan mengunci pintu mobilnya agar Dini tidak memaksa keluar.


"Aku nggak mau apa yang Anita rasain sekarang akan aku rasain juga nanti, aku nggak bisa bayangin gimana sakitnya saat orang yang aku cintai ngelakuin kekerasan fisik sama aku, mungkin aku akan menyerah sama hidupku, mungkin aku akan pilih buat ninggalin dunia ini daripada menanggung sakit yang nggak akan bisa sembuh," ucap Dini dengan menatap Dimas.


"Aku nggak akan ngelakuin hal itu sama kamu Andini, aku cuma....."


"Kehilangan kendali? ini bukan pertama kalinya kamu ngelakuin hal itu sama Anita, aku juga perempuan Dimas, aku tau gimana sakitnya yang Anita rasain sekarang dan aku nggak mau ngerasain hal itu!"


"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Dimas.


"Aku percaya sama kamu, aku percaya sama cinta kamu, tapi saat kamu kehilangan kendali atas diri kamu sendiri kamu bahkan nggak bisa lihat siapa yang ada di depan kamu!" jawab Dini.


Dimas hanya diam, ia tau apa yang ia lakukan memang salah. Menampar Anita bukanlah satu satunya hal yang bisa ia lakukan, namun karena emosinya yang sudah memuncak ia melakukan hal itu dan kini ia harus menerima konsekuensinya.


Dini lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi Andi untuk menanyakan dimana Andi berada.


"Anter aku ke rumah sakit X, Andi di sana sama Anita!" ucap Dini pada Dimas.


Dimas lalu mengendari mobilnya ke arah rumah sakit X.


"Kamu jangan masuk, aku aja!" ucap Dini mencegah Dimas keluar dari mobil.


"Kenapa?" tanya Dimas.


"Aku nggak mau ada keributan di rumah sakit, Andi pasti masih marah sama kamu!" jawab Dini.


"Oke, aku tunggu kamu di sini!" balas Dimas.


"aku belum cerita apa yang sebenarnya terjadi di tempat parkir tadi Andini, aku akan buktiin kalau apa yang kamu pikirkan tentang Anita itu salah!" batin Dimas dalam hati.


Dimas lalu menyalakan mesin mobilnya dan kembali ke pantai.


Di sisi lain, Dini berjalan di lorong rumah sakit untuk menemui Andi. Saat ia sedang berjalan, dilihatnya Andi yang berjalan ke arahnya bersama Anita.


"Anita, kamu nggak papa?" tanya Dini saat ia sudah menghampiri Anita dan Andi.


"Aku nggak papa," jawab Anita dengan tersenyum.


Dini lalu mendekat dan memeluk Anita.


"Maafin aku Nit, harusnya aku nggak ngajak Dimas buat ketemu kamu, aku minta maaf," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Andi pada Dini.


"Aku.... aku sendirian," jawab Dini berbohong.


Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin Andi kembali menyerang Dimas jika Andi tau Dimas di sana


"Kamu pulang sama aku!" ucap Andi dengan tegas.


"Aku.... aku...."


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Ponsel Dini berdering, pesan dari Dimas.


Sayang, ada yang harus aku selesaiin, kamu bisa pulang sama Andi kan?


"Iya, aku pulang sama kamu," ucap Dini pada Andi.


Andi lalu memesan taksi dan mengantarkan Anita pulang bersama Dini.


"Pak Sonny pasti tanya kenapa kamu kayak gini," ucap Dini pada Anita yang duduk di sampingnya.


"Papa masih di luar kota, cuma ada bibi di rumah," jawab Anita.


"Dan bibi kamu akan kasih tau pak Sonny apa yang terjadi sama kamu," sahut Andi yang duduk di samping supir.


"Tenang aja, kamu tau kan bibi sayang banget sama aku, jadi bibi pasti bisa jaga rahasia," balas Anita.


"Aku minta maaf Nit, gara gara aku kamu jadi kayak gini," ucap Dini menyesal.


"Bukan salah kamu Din, ini salah Dimas yang udah keterlaluan!" sahut Andi.


"Aku cuma mau baikan sama kalian semua, tapi Dimas selalu menghindar waktu aku mau ngomong sama dia, karena aku maksa jadi dia marah dan..... kayak gini hasilnya," ucap Anita.


"Berhenti buat minta maaf sama Dimas Nit, dia yang seharusnya minta maaf sama kamu!" ucap Andi yang masih geram pada sikap Dimas.


"Aku yang salah Ndi, dia kayak gini karena aku maksa dia," ucap Anita.

__ADS_1


"Itu bukan jadi alasan buat dia bisa nyakitin kamu kayak gini!" balas Andi kesal.


Anita lalu diam dan membawa pandangannya pada Dini.


"Andi bener, itu bukan alasan buat Dimas bisa ngelakuin hal itu!" ucap Dini pada Anita.


"Jangan marah sama Dimas Din, Ndi!" ucap Anita.


Andi dan Dini hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun.


Sesampainya di rumah Anita, Anita segera turun, sedangkan Dini dan Andi melanjutkan perjalanan mereka ke rumah Dini.


Sepanjang perjalanan, Dini hanya diam. Ia memikirkan apa yang Dimas lakukan pada Anita.


Dalam hatinya ada sedikit rasa takut jika suatu saat nanti bukan tidak mungkin jika Dimas juga akan melakukan hal yang sama padanya.


Andi yang saat itu duduk di samping Dini lalu menggenggam tangan Dini.


Dini membawa pandangannya pada Andi dengan mata berkaca kaca.


Sesampainya di rumah Dini, Andi mengantar Dini masuk ke dalam rumah.


"Jangan terlalu dipikirin," ucap Andi sebelum ia pulang.


Dini hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku pulang dulu," ucap Andi lalu berbalik dan berjalan keluar dari rumah Dini.


Dini lalu segera mendekat dan memeluk Andi dari belakang membuat Andi menghentikan langkahnya.


"Jangan pergi, aku butuh kamu," ucap Dini.


Andi lalu berbalik dan memeluk Dini dengan erat.


Untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan saling memeluk. Andi mengerti jika Dini sedang berada di posisi yang sulit saat itu.


Meski ia masih marah pada Dimas, ia tidak akan mengatakan apapun yang hanya akan menggangu pikiran Dini.


Tanpa Andi dan Dini tau, ibu Dini yang berada di kamar melihat kejadian itu. Dalam hatinya ia sangat bersyukur karena Andi selalu ada untuk Dini, bahkan hati kecilnya menginginkan Andi untuk menjadi pelabuhan terkahir bagi Dini.


Namun ia tau, Dini telah memilih Dimas dan sebagai ibu yang baik, ia tidak akan memaksakan kehendaknya pada Dini.


Asalkan Dini bahagia, ia akan menerima Dimas untuk menjadi masa depan bagi anak semata wayangnya.


Ibu Dini lalu kembali masuk ke dalam kamar, membiarkan Dini dan Andi menyelesaikan masalah mereka berdua.


Andi lalu membawa Dini duduk di sofa, ia masih membiarkan Dini berada dalam dekapannya.


"Semua salahku Ndi, aku udah jahat sama semuanya," ucap Dini.


"Berhenti salahin diri kamu sendiri Din, ini bukan salah kamu," balas Andi.


"Andi, tolong jangan berantem lagi sama Dimas, aku yang maksa Dimas buat ikut liburan, Dimas nggak bisa kendaliin emosinya karena dia belum siap buat ketemu Anita tapi aku maksa dia, aku mohon sama kamu Ndi, aku nggak mau Dimas kenapa napa," ucap Dini memohon.


"Pukulan ku nggak akan bikin Dimas masuk rumah sakit Din, kamu tenang aja!" balas Andi dengan tersenyum, membuat Dini memberikan pukulan nya pada Andi.


Andi hanya tertawa, membiarkan Dini memukulnya sepuasnya.


Andi lalu memegang tangan Dini dan menatap ke dalam mata Dini.


"Kamu juga jangan marah sama Dimas, soal aku sama Dimas biar kita selesaiin sendiri masalah kita," ucap Andi.


"Tapi kamu janji ya jangan pukul Dimas lagi!"


Andi mengangguk dengan tersenyum lalu membawa Dini kembali dalam dekapannya.


"aku nggak bisa bilang sama kamu kalau sekarang aku ragu sama Dimas Din, aku takut dia akan ngelakuin hal buruk sama kamu waktu dia marah, aku takut keputusan ku buat percayain kamu sama Dimas itu salah," batin Andi dalam hati.


"Kamu jangan berpikir buruk tentang Dimas ya, aku tau dia laki laki yang baik, aku percaya sama dia dan kamu juga harus percaya sama dia," ucap Dini pada Andi.


"Kamu bahagia sama Dimas?" tanya Andi.


"Iya, dia selalu kasih aku kebahagiaan lebih dari yang aku harapkan, walaupun kita sering berantem, sering salah paham, tapi semua itu yang memperkuat cinta kita, aku bahagia sama Dimas Ndi dan aku harap kamu juga bahagia sama pilihan aku," jawab Dini.


"Aku harus pastiin kalau pilihan kamu itu yang terbaik buat kamu Din, karena saat kamu udah bersama pendamping hidup kamu, aku cuma bisa liat kamu dari jauh," balas Andi.


"Aku percaya sama Dimas dan aku bahagia sama Dimas, kamu harus tau itu," ucap Dini.


"Iya, aku tau," balas Andi lalu memberikan kecupan singkat di kening Dini.

__ADS_1


__ADS_2