Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Mimpi atau Pertanda?


__ADS_3

Cinta tak akan berubah meski yang dicinta telah pergi. Biarkan rasa itu tinggal dalam hati yang kokoh menyimpan luka. Biarkan balutan kebahagiaan yang pernah singgah tetap kekal tak akan terganti.


Di atas ranjang rumah sakit, gadis cantik itu terbaring dengan selang infus di tangannya. Wajah cantiknya tampak pucat, bibir merahnya kini tampak layu karenanya.


Ditemani oleh seorang laki laki di sampingnya, gadis itu masih memejamkan matanya selama beberapa jam lamanya.


Ada sebuah rasa menggelitik dalam hati si lelaki, rasa khawatir pada gadis yang terbaring di hadapannya.


Tak lama kemudian tampak jari jari bergerak dengan pelan diikuti dua mata bercahaya yang mulai terbuka. Dua mata yang meneteskan butir kesedihan dari dalam hatinya.


Sesak dalam hatinya masih nyata terasa. Kesedihan yang mengalahkannya masih membekas pilu dalam dirinya.


"Kamu kenapa Din? apa ada yang sakit?" tanya laki laki yang menemaninya dari beberapa jam yang lalu.


"Pak Adit? kenapa Pak Adit di sini?"


"Saya....."


"Dimas!"


Dini segera mencabut selang infus yang menancap di tangannya. Ia segera berlari ke luar dari dalam ruangannya. Pikirannya kacau, ia benar benar berharap jika Dimas masih bersamanya.


Ia tak peduli meski harapan itu akan kembali melukai hatinya. Ia masih berlari mencari keberadaan Dimas. Ia tidak akan menyerah, ia akan mengejar cintanya dan berusaha mempertahankan apa yang sudah dimilikinya.


Sampai di suatu titik, ia melihat seseorang di ujung lorong rumah sakit. Seseorang yang sedang berlari ke arahnya, seseorang yang baru saja meninggalkannya kini berada di hadapannya.


Dini berlari, mereka saling berlari untuk segera mendekap cintanya. Dini memeluk Dimas dengan erat, tangisnya pecah dalam pelukan Dimas.


Begitu juga Dimas yang sangat mengkhawatirkan gadisnya. Ia memeluk Dini dengan erat seolah takut akan kehilangan Dini.


"Jangan pergi Dimas, jangan pergi," ucap Dini di tengah isak tangisnya.


"Aku nggak pernah pergi Andini, aku nggak akan pergi," balas Dimas dengan semakin erat memeluk gadis yang dicintainya.


Adit yang menyaksikan hal itu di ujung lorong hanya bisa berdiri di tempatnya. Adit mengenal laki laki yang sedang memeluk Dini, ia bukanlah laki laki yang disebutnya sebagai sahabat.


"Dimas, ternyata kamu," ucap Adit lalu meninggalkan lorong rumah sakit.


Setelah Dini lebih tenang, Dimas membawa Dini kembali ke dalam ruangannya.


Suster kembali memasangkan infus di tangan Dini dan meminta Dini untuk bed rest selama dua atau tiga hari.


"Kamu bikin saya khawatir Din!" ucap Adit pada Dini.


"Maaf pak, tapi kenapa Pak Adit bisa di sini?"


"Apa kamu tidak mengingat apapun sebelum kamu di sini?" tanya Adit.


"aku inget, aku jalan ke arah pantai yang makin dalem, tapi kenapa aku bisa di sini sama Pak Adit?" tanya Dini dalam hatinya.


"Kamu pingsan di ruangan saya Din," ucap Adit.


"Pingsan? bukannya saya sudah keluar dari ruangan Pak Adit?"


Adit hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"jadi aku beneran mimpi? Dimas nggak pergi? Dimas nggak ninggalin aku? aku cuma mimpi? iya, aku cuma mimpi," batin Dini bersorak dalam hati.


"Pak Adit yang bawa kamu ke rumah sakit," ucap Dimas menimpali.


Flashback ketika Dini menyerahkan berkas ke ruangan Adit sebelum pulang


"Wajah kamu pucat, kamu sakit?" tanya Adit.


"Tidak pak, saya baik baik saja," jawab Dini.


"Kamu mau pulang?" tanya Adit.


"Iya Pak, apa masih ada yang harus saya kerjakan?"


Adit menggeleng lalu memberikan isyarat dengan tangannya agar Dini keluar.


"Saya permisi pak," ucap Dini lalu segera keluar dari ruangan Adit.


Belum sempat Dini membuka pintu ruangan Adit, Dini sudah terjatuh dan pingsan. Adit yang melihat hal itu segera menghampiri Dini.


"Dini, kamu kenapa Din?" tanya Adit dengan menggoyang goyangkan tubuh Dini.


Tepat saat Adit sedang panik, Jaka datang dengan membawa berkas yang diminta Adit.


"Jak, tolong siapkan mobil saya sekarang!" perintah Adit sambil memberikan kunci mobilnya pada Jaka.


"Baik pak."


Jaka segera mengambil mobil Adit dari tempat parkir, sedangkan Adit membopong Dini keluar dari kantor.


"Antar saya ke rumah sakit terdekat Jak!" ucap Adit pada Jaka.


"Baik pak."


Jakapun mengendarai mobil Adit ke arah rumah sakit. Di kursi belakang, Adit masih berusaha membangunkan Dini yang tampak semakin pucat.


Bunga mekar itu kini tampak layu dalam dekapan Adit.


Sesampainya di rumah sakit, Jaka segera meninggalkan Adit dan kembali ke kantor. Sedangkan Adit masih menemani Dini di ruangan rumah sakit itu.


Karena sudah lebih dari satu jam Dini tak kunjung sadarkan diri, Adit memutuskan untuk menghubungi seseorang dari ponsel Dini.


Adit mengambil ponsel Dini yang berada dalam tas milik Dini. Ia lalu melihat riwayat panggilan Dini yang didominasi oleh satu nama "Dimas".


Aditpun memutuskan untuk menghubungi Dimas.


Flashback off

__ADS_1


"Maaf saya sudah lancang membuka HP kamu," ucap Adit pada Dini.


"Justru saya berterima kasih sama Pak Adit, terima kasih karena sudah menghubungi Dimas," balas Dini.


"Saya harus kembali ke kantor, jaga kesehatan kamu Din."


"Baik pak, terima kasih."


"Saya duluan Dimas!" ucap Adit pada Dimas yang dibalas anggukan kepala Dimas.


Adit lalu keluar dari ruangan Dini, meninggalkan Dini dan Dimas berdua di sana.


"Dimas, apa kita udah ke pantai?" tanya Dini memastikan ingatannya.


"Kita tunda dulu ya sayang, maaf karena aku telat jemput kamu tadi," jawab Dimas.


Dini mengangguk dengan senyum bahagia di wajahnya. Ia lega karena hal buruk yang menyiksa batinnya hanyalah sebuah mimpi belaka. Sebuah mimpi atau pertanda? Entahlah.


"Kamu tadi kenapa lari lari di lorong?" tanya Dimas dengan membelai rambut gadis yang dicintainya.


"Aku mimpi buruk Dimas, aku takut," jawab Dini dengan menggenggam tangan Dimas dan membawanya dalam dekapannya.


"Itu cuma mimpi sayang, jangan dipikirin," ucap Dimas.


"maaf tante, Dimas butuh waktu untuk menepati janji Dimas," ucap Dimas dalam hati.


"Apa ibu tau aku di sini?" tanya Dini pada Dimas.


"Kayaknya enggak, Pak Adit nggak bilang apa apa soal ibu kamu."


"Anterin aku pulang sekarang ya, aku nggak mau ibu khawatir," pinta Dini.


"Tapi kamu harus bed rest Andini!"


"Iya, aku pasti isitrahat di rumah kok, lagian besok kan hari libur, jadi aku bisa istirahat tanpa cuti kerja."


"Dasar maniak kerja, aku urus administrasi nya dulu ya, abis ini kita pulang."


Dini mengangguk. Setelah menyelesaikan administrasi, Dimas membawa Dini keluar dari rumah sakit atas izin Dokter.


"Kita ke home store ya, kamu pulang sama Andi," ucap Dimas yang membuat raut wajah pucat di sampingnya tampak bersedih.


"Jangan sedih gitu dong, kita masih bisa ketemu lagi kok!"


"Aku emang sedih, tapi aku nggak akan nyerah sama hubungan kita, kamu juga kan?"


Dimas menganggukkan kepalanya dengan menggenggam tangan Dini.


Sesampainya di home store, Dimas kembali meminta Andi untuk mengantarkan Dini pulang menggunakan mobilnya, sedangkan ia sendiri akan pulang menggunakan taksi.


"Wajah kamu pucet banget Din, kamu sakit?" tanya Andi ketika ia sudah dalam perjalanan pulang bersama Dini.


"Banyak yang lagi aku pikirin Ndi," jawab Dini.


Dini mengangguk, namun masih tampak kesedihan di matanya.


"Apa ada masalah lagi di kantor? apa Pak Adit marahin kamu?"


Dini menggeleng pelan.


"Cerita sama aku Din, jangan dipendam sendiri."


"Iya, tapi aku pingin ketemu mbak Ana deh Ndi, ada banyak hal yang mau aku tanyain tentang Pak Adit!"


"Kamu hubungin aja mbak Ana!"


"Iya, besok kamu libur?"


"Aku libur hari Minggu Din, besok kan masih Sabtu!"


"Oh iya, aku ketemu mbak Ana sendiri kalau gitu!"


"Jaga diri kamu baik baik ya!" ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.


Dini tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


**


Pagi telah kembali menghampiri. Dini sudah bersiap siap untuk pergi ke kafe pagi itu, tentu saja ia tidak memberi tahu Dimas karena sudah pasti Dimas akan melarangnya.


Sentuhan make up flawless membuat wajah Dini tampak berseri, menyembunyikan wajahnya yang masih sedikit pucat.


Taksi yang dipesannya sudah datang. Ia segera menuju ke kafe.


Sesampainya di kafe, sudah ada Ana yang duduk di sudut ruangan.


"Dini!" panggil Ana dengan melambaikan tangannya.


Dinipun berjalan ke arah Ana dan duduk di hadapannya.


"Maaf mbak, saya telat ya?"


"Enggak kok, saya emang datang lebih awal, gimana di kantor? everything okay?"


Dini mengangguk, ia merasa sungkan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada yang mau saya tanyain soal Pak Adit mbak," ucap Dini.


"Silakan, kamu mau tanya apa?"


"Mbak Ana kenal cewek bule yang namanya Jenny?"


"Jenny? kamu ketemu Jenny?"

__ADS_1


Dini mengangguk.


"Saya pikir dia masih di luar negri, dia bilang apa aja sama kamu?"


"Dia nggak bilang apa apa mbak, dia cuma mau ketemu Pak Adit," jawab Dini.


"Adit gimana?"


"Pak Adit kayak nggak suka sama dia, tapi saya pernah liat Pak Adit makan malam di restoran sama dia."


"Kamu mau tau Jenny itu siapa?"


"Kalau boleh sih mbak, hehe...."


"Jenny itu masa lalu Adit," ucap Ana.


"Bukannya Pak Adit nggak pernah punya pacar ya mbak?"


"Kok kamu tau?"


"Pak Adit sendiri yang bilang," jawab Dini.


"Waahhh, kayaknya ada yang mulai cocok nih, duuhhh aku ketinggalan berita ya!"


"Maksud mbak Ana?"


"Adit itu nggak pernah loh cerita masalah pribadinya sama orang lain, kalau bukan orang terdekatnya," jawab Ana.


"Berarti mbak Ana orang terdekat Pak Adit kan?"


"Bisa dibilang begitu, karena saya udah kenal Adit dari lama, saya juga kerja sama dia udah lama jadi saya tau banget gimana Adit, kenapa? kamu cemburu?"


"Enggak, mbak Ana ada ada aja, jadi gimana soal Jenny tadi mbak?"


"Dari dulu Adit itu kutu buku, kerjaannya belajar mulu, sampe dia nggak punya banyak temen di sekolah, waktu ada Jenny masuk ke sekolahnya , Adit mulai suka tuh sama Jenny, tapi karena Adit waktu itu masih culun Jenny nolak dia mentah mentah, malah Jenny manfaatin Adit biar dapet contekan."


"Iiisshhh, jahat banget sih!"


"Begitu lah, tapi yang namanya cinta buta, Adit mau mau aja, sampe suatu saat Adit dikeroyok sama geng motor pacarnya Jenny, dari situ Adit mulai jauhin Jenny."


"Pasti sekarang Jenny nyesel ya karena udah nolak Pak Adit?"


"Pastinya, setelah Adit sadar kalau Jenny bukan cewek yang baik, dia makin gila gilaan tuh belajarnya, semua piala dia borong, dia sampe konsultasi sama psikiater buat lupain Jenny, dari sana dia mulai aktif di kegiatan sekolah, nggak cuma belajar."


"Terus terus?"


"Waktu masuk kuliah, Adit mulai berani ngerubah penampilannya, banyak cewek yang ngejar ngejar dia, tapi dia nggak pernah tertarik sama siapapun yang ngejar dia."


"Pak Adit satu kampus sama Jenny mbak?"


"Enggak, otaknya Jenny nggak nyampe buat masuk kampusnya Adit hehe..."


"Mbak Ana jahat deh, terus Jenny ketemu Pak Adit lagi kapan mbak?"


"Beberapa bulan sebelum Adit jadi CEO, ada pertemuan besar, di sana papanya Jenny ngajak kerja sama papanya Adit, jadilah mereka kenal, sempet mau dijodohin juga tapi Adit nolak."


"Tapi Jenny ngejar Pak Adit terus ya mbak?"


"Bener banget, setelah Jenny tau kalau Adit yang dikenalin papanya adalah Adit yang dulu ngejar dia waktu sekolah, dia langsung manfaatin itu, karena dia pikir Adit masih suka sama dia."


"Apa Pak Adit beneran udah lupain Jenny mbak?"


"Hati orang nggak ada yang tau Din," jawab Ana.


"Oh iya, papanya Pak Adit dimana mbak? kemarin mamanya Pak Adit sakit tapi nggak ada papanya Pak Adit di rumah sakit."


"Papanya udah meninggal, 2 bulan setelah Adit dilantik sebagai CEO, kamu udah ketemu mamanya Adit?"


"Udah mbak, cuma sekali, kenapa mbak?"


"Mamanya bilang apa aja?"


"Mmmm, nggak bilang apa apa," jawab Dini berbohong.


"Jangan bohong deh Din, saya udah bisa tebak kok mamanya Adit bilang apa!"


"Bilang apa mbak? mamanya Pak Adit nggak bilang apa apa."


"justru Pak Adit yang bilang aneh aneh," lanjut Dini dalam hati.


"Kamu diminta jadi menantunya kan? pasti mamanya Adit bilang kamu cantik, Adit pasti bisa jaga kamu dengan baik, iya kan?"


"Kok mbak Ana tau?"


"Tuh kan......."


"Tapi saya nggak diminta jadi menantunya kok mbak."


"Belum, tunggu beberapa hari lagi hehehe....."


"Mbak Ana ada ada aja, kan belum tentu saya ketemu lagi sama mamanya Pak Adit."


"Pasti ketemu, saya jamin."


"Mbak Ana jangan bikin saya takut dong!"


"Kok takut sih, tenang aja, mamanya Adit baik kok, sampe sekarang juga mamanya tetep baik sama saya walaupun mamanya tau saya nggak ada hubungan apa apa sama Adit."


Dini menghela napasnya pelan. Ia hanya bisa berharap, apa yang Ana ucapkan tidak akan pernah terjadi padanya.


Setelah matahari semakin tinggi, Dini dan Ana segera meninggalkan kafe. Sebelum pulang ke rumahnya, Dini memutuskan untuk pergi ke home store untuk menemui Dimas. Ia sudah merindukan laki laki itu. Ia bahkan lupa jika Dimas melarangnya untuk pergi kemanapun selama weekend itu.


Dini merasa hidup kembali karena apa yang ia alami di tepi pantai kemarin hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat menyakitkan sekaligus menguatkannya. Membuatnya semakin yakin untuk mempertahankan hubungannya agar sesak yang menyakitkan itu tak bisa ia rasakan lagi.

__ADS_1


__ADS_2