Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kilau Pasir Pantai


__ADS_3

Mentari menyapa, memeluk hangat pagi hari itu. Dini berangkat ke tempat kerjanya seorang diri seperti biasa.


Sebelum jam 7, ia sudah menyiapkan minuman Adit di meja kerjanya. Ia lalu masuk ke dalam ruangannya.


"belum jam 7, main HP bentar nggak papa kan ya."


Dini lalu mengambil ponselnya. Melihat fotonya bersama Dimas yang baru diambil semalam.


"upload di sosial media nggak masalah kan? kasih caption apa ya?"


Klik. Foto Dini dan Dimas pun terunggah di sosial media dengan caption emoticon bergambar hati.


Tiba tiba ia teringat Anita. Ia lalu membuka akun sosial media Anita dan masih mendapati foto foto yang membuatnya cemburu.


"maksud kamu apa sih Nit? apa kamu beneran berubah? atau kamu cuma berusaha masuk dan ganggu kita lagi? aku nggak bisa biarin itu terjadi, aku harus memperjelas semuanya sebelum terlambat."


Dini lalu mencari nama Anita di penyimpanan kontaknya, lalu menghubunginya.


"Halo Din, ada apa?"


"Nanti sore bisa ketemu?"


"Bisa, dimana? sama siapa aja?"


"Aku tunggu kamu di kafe X."


Klik. Dini mengakhiri panggilannya begitu saja.


"tenangkan hati kamu Dini, jangan berburuk sangka, kamu cuma harus waspada," ucap Dini menasehati dirinya sendiri.


Tak lama kemudian Adit memasuki ruangannya, Dinipun segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan membawa jadwal harian Adit ke ruangan Adit.


"Permisi pak, ini jadwal Pak Adit hari ini," ucap Dini sambil menyerahkan sebuah map pada Adit.


Adit hanya mengangguk lalu memberi isyarat agar Dini keluar.


"Saya permisi," ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.


Jam makan siang tiba, ketika Dini hendak keluar, ia melihat Adit yang masih sibuk di ruangannya, Dinipun mengurungkan niatnya untuk ke kantin, ia memilih untuk pergi ke ruangan Adit.


"Kak Adit nggak makan siang?" tanya Dini yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Adit.


"Ada yang bisa Dini bantu?"


"Nggak ada, kamu nggak ke kantin?"


Dini menggeleng lalu duduk di depan meja Adit.


"Kamu udah baikan sama Dimas?" tanya Adit.


"Iya kak, Dini berusaha buat lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi."


"Bagus."


"Gimana keadaan mama kak?"


"Mama sehat," jawab Adit singkat.


"Mama masih di rumah sakit?"


"Iya, mama nunggu Andi dateng buat ngajak mama pulang," jawab Adit sambil menghentikan jarinya yang sedari tadi mengetik.


"Kehadiran kakak di sana sama sekali nggak ada artinya buat mama," lanjut Adit.


"Kak Adit jangan bilang gitu, mama juga butuh kak Adit buat temenin mama."


Adit hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Jam makan siang selesai. Dini kembali ke ruangannya, melanjutkan pekerjaannya sampai jam pulang tiba.


"Kak Adit belum pulang? ada yang bisa Dini bantu?" tanya Dini pada Adit sebelum ia meninggalkan kantor.


"Kamu pulang aja, abis ini kakak pulang," jawab Adit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


Dinipun berpamitan pulang. Dini segera memesan taksi agar lebih cepat mengantarnya ke kafe tempat ia akan bertemu Anita.


Tak lama kemudian ia sampai, ia segera menghubungi Anita.


"Halo Nit, aku udah di kafe," ucap Dini setelah Anita menerima panggilannya.


"Aku udah di dalem, kamu masuk aja," jawab Anita.


Dinipun segera masuk dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Anita.


"Dini!" panggil Anita.


Dinipun segera berjalan ke arah Anita.


"Aku udah pesen minuman nggak papa kan?"


"Iya nggak papa," jawab Dini.


"Aku inget kamu dulu suka ice choco waktu di kafe Dimas, bener kan?"


"Iya bener."


Minuman pun datang bersama beberapa makanan ringan.


"Kamu tumben ngajak aku ketemu di sini, ada apa?" tanya Anita.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu Nit."


"Apa?"


"Tolong jawab jujur, apa kamu masih suka sama Dimas?"


Anita diam beberapa saat. Ia sama sekali tidak menduga jika ia akan mendapatkan pertanyaan itu dari Dini.


"Kenapa kamu tiba tiba tanyain itu Din?"


"Jawab aja Nit."


"Apa kamu sama Dimas....."


"Jawab pertanyaan aku dulu Anita!"


"Din, maaf kalau kedekatan aku sama Dimas bikin hubungan kalian renggang, aku sama Dimas nggak ada hubungan apa apa kok."


"Kamu nggak jawab pertanyaan aku Nit, apa kamu masih suka sama Dimas? kamu tinggal bilang iya atau enggak."

__ADS_1


"Iya," jawab Anita cepat.


"Iya?"


Anita mengangguk pasti.


"Din, kamu tau kan cinta itu nggak bisa dipaksa buat datang dan pergi begitu aja, selama ini aku udah berusaha buat bikin Dimas jadi milikku dan aku nggak bisa, akupun nggak bisa hilangin cinta ini dengan mudah."


"Tapi Nit....."


"Kamu tenang aja Din, aku udah berhenti ngejar Dimas, aku cuma mau fokus berteman sama kalian semua, aku, kamu, Andi dan Dimas, walaupun aku masih cinta sama Dimas, perlahan aku akan hapus dia dari hatiku, aku mau pertemanan kita tulus tanpa ada yang saling menyakiti."


"Aku boleh minta sesuatu Nit?"


"Apa Din?"


"Tolong hapus foto kamu di sosial media, kamu pasti tau kan foto mana yang aku maksud!"


"Apa itu menyakiti kamu?"


Dini mengangguk.


"Aku cemburu," ucap Dini.


"Oke, sebagai bukti ucapanku tadi, aku akan hapus fotonya sekarang," ucap Anita lalu mengambil ponselnya dan menghapus foto yang dimaksud Dini.


"Aku udah hapus semua, aku minta maaf Din, aku nggak bermaksud bikin kamu cemburu."


"Kenapa kamu ngelakuin itu?"


"Aku terlalu seneng Din, kamu tau kan diantara kamu, Andi dan Dimas, cuma Dimas yang belum maafin aku, jadi aku seneng bisa deket lagi sama dia."


"Apa dia udah maafin kamu sekarang?"


Anita menggeleng tak bersemangat.


"Kesalahan aku besar banget Din, wajar kalau Dimas masih marah sama aku, tapi aku nggak akan menyerah, aku pasti bisa bikin Dimas maafin aku, aku yakin."


"Anita, aku sama Andi percaya sama kamu, jadi aku mohon jangan khianati kepercayaan kita lagi," ucap Dini.


Anita hanya diam sambil menyeruput minuman di hadapannya.


"Aku balik dulu ya!" ucap Dini lalu beranjak dari duduknya tanpa menyentuh sedikitpun minuman yang ada di hadapannya.


Dini lalu keluar dari kafe dan pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, ia melihat mobil Dimas terparkir di halaman rumahnya.


"Kamu dari mana aja sih? aku cari di kantor nggak ada, kamu juga nggak bisa dihubungi."


"HP ku lowbatt Dimas," jawab Dini beralasan.


"Ya udah kamu mandi dulu, abis ini ikut aku!"


"Kemana?"


"Jangan banyak tanya, sana mandi."


Dinipun segera mandi.


Tak lama kemudian Dini keluar dan menghampiri Dimas. Setelah berpamitan pada ibu Dini, merekapun meninggalkan rumah Dini.


"Tutup mata kamu ya!" ucap Dimas sambil menutup mata Dini menggunakan kain panjang.


"Aku nggak akan nanya lagi karena kamu nggak akan jawab pertanyaan aku kan?"


"Bener banget," jawab Dimas sambil mencubit kecil pipi Dini.


Dimas kembali melajukan mobilnya ke arah pantai. Setelah mereka sampai, Dimas segera membantu Dini keluar dari mobil.


"Udah sampai ya?" tanya Dini.


"Dikit lagi sayang," jawab Dimas.


Dimas menuntun Dini ke arah hamparan pasir yang tampak berkilau malam itu.


"Aku kayaknya tau kita dimana," terka Dini.


"Jangan ditebak, aku tau tempat ini mudah ditebak," balas Dimas.


Merekapun sampai, perlahan Dimas membuka kain yang menutup mata Dini.


Dini membuka matanya dengan pelan, ia mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pengelihatannya.


Ia sudah menduga jika ia berada di pantai. Bau air laut dan pasir pantai yang diinjaknya sangat terasa meski matanya tertutup.


Yang tak ia duga adalah apa yang ada di sekelilingnya. Entah berapa banyak lilin mainan yang berwarna warni di sana.


Dimas sengaja menyiapkan lilin mainan agar tetap bisa menyala walaupun diterpa angin. Sebuah lampu kecil berbentuk lilin lengkap dengan bentuk api di ujungnya yang bisa memancarkan warna yang bermacam macam.


Sungguh warna warni yang indah, memecah kegelapan malam di tepi pantai.


Dimas lalu memberikan satu buket bunga mawar pada Dini.


Mereka lalu duduk di atas sebuah kain yang terhampar dengan beberapa makanan ringan dan minuman.


Dimas melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Dini. Sesekali angin malam itu menerpa rambut Dini, membuat sebagaian rambutnya menghalangi wajahnya.


Dimas lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah karet gelang, ia pun mengikat rambut Dini dengan rapi agar ia bisa melihat wajah Dini tanpa dihalangi sehelai rambutpun.


"Kenapa kamu ajak aku ke sini?"


"Aku mau tebus waktu kita beberapa minggu kemarin," jawab Dimas.


"Kamu emang selalu bisa bikin aku bahagia Dimas."


"Dan aku nggak akan berhenti untuk membahagiakan kamu Andini," balas Dimas sambil menarik tangan Dini dan menciumnya.


"Aku tadi ketemu Anita," ucap Dini.


"Kamu ngapain lagi sih ketemu dia!"


"Aku cuma butuh penjelasan biar aku nggak salah paham."


"Penjelasan apa? apa kamu masih percaya sama dia?"


Dini menggeleng.


"Aku nggak tau, yang pasti aku tau dia masih suka sama kamu."

__ADS_1


"Aku nggak peduli sama dia Andini, yang penting dia nggak akan ganggu kita lagi."


"Dia nggak akan menyerah buat dapat maaf dari kamu Dimas dan selama kamu belum maafin dia, dia akan selalu ngejar kamu."


"Tolong jangan bahas dia lagi ya," ucap Dimas memohon.


Dini mengangguk. Ia tidak mau mengacaukan malam indah yang sudah Dimas siapkan untuknya.


"Kamu nggak dingin?" tanya Dini pada Dimas.


Dimas menggeleng, ia lalu menggeser posisi duduknya di belakang Dini dan memeluk Dini dari belakang.


"Sayang, apa menurut kamu Andi bisa handle home store sendirian?" tanya Dimas.


"Kenapa sendirian? emang kamu mau kemana?"


Dimas hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Dini.


Dini lalu memutar badannya dan mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


"Kamu mau masuk ke perusahaan?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.


"Kapan?"


"Mungkin awal bulan depan," jawab Dimas.


Dini lalu menggenggam tangan Dimas. Ia tau hal itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah buat Dimas. Ia sangat mengenal kekasihnya itu. Ia tau cita cita Dimas adalah memiliki bisnis yang ia bangun dari nol tanpa campur tangan sang papa.


Tapi apa mau di kata, takdir membawanya ke arah lain.


"Kita akan jauh lagi sayang," ucap Dimas tak bersemangat.


"Maksud kamu?"


"Papa taruh aku di perusahaan cabang yang ada di luar kota, di sana aku cuma jadi pegawai biasa, kalau emang hasil kerja ku bagus aku bisa naik pelan pelan," jelas Dimas.


"Berapa lama kamu di sana? nggak selamanya kan?"


"Aku nggak tau berapa lama sayang, aku baru bisa pindah kalau papa udah nilai aku layak buat gantiin papa di perusahaan pusat."


"Apa itu artinya kita jarang ketemu?"


Dimas mengangguk pelan.


"Aku akan selalu datang kapanpun kamu mau," ucap Dimas.


"Beneran?"


"Iya, aku nggak mau kamu merasa kesepian karena jarak kita yang jauh."


"Kalau aku ngajak kamu makan siang di hari kerja, bisa?"


"Sayang, jarak dari tempat kerjaku ke tempat kerja kamu butuh waktu 4 jam, tunangan kamu ini cuma pegawai biasa di sana, aku harus kerja keras biar bisa cepet dapet promosi dan pindah ke sini."


"Iya, aku ngerti, kamu nggak perlu khawatir sama aku, kamu harus fokus sama pekerjaan kamu biar cepet pindah."


Dimas mengangguk lalu memeluk gadisnya dengan erat.


"Kamu nggak keberatan kan punya tunangan yang cuma pegawai biasa?" tanya Dimas.


"Tenang aja, gaji personal assistant banyak kok, aku bisa bayar biaya resepsi kita nanti."


"Jangan, itu tanggung jawab ku!"


Mereka lalu tertawa bahagia.


**


Di tempat lain, Adit baru saja sampai di rumah sakit.


"Sayang, mama mau pulang," pinta mama Siska.


"Sekarang?"


"Iya, bisa kan?"


"Bisa, Adit bilang Dokter mama dulu."


Tepat jam 8 malam Adit dan mamanya meninggalkan rumah sakit. Adit mengantar sang mama pulang ke rumahnya.


"Mama tidur ya, besok pagi Adit ke sini lagi," ucap Adit sambil menyelimuti sang mama.


"Adit, maafin mama sayang," ucap mama Adit sambil memggengam tangan Adit.


"Mama jangan minta maaf, mama nggak salah apa apa."


"Mama sayang sama kamu Dit, mama sayang sama semua anak mama, mama seneng karena setiap hari bisa lihat kamu, tapi mama sedih karena satu anak mama yang lain...."


Mama Siska menghentikan ucapannya, dadanya terasa sesak jika mengingatnya.


"Dia pasti baik baik aja di luar sana ma," ucap Adit menguatkan sang mama.


"Mama nggak akan ganggu Andi lagi Dit, mungkin dia bener, sikap mama berlebihan dan itu bikin dia nggak nyaman."


"Iya, mama fokus sama kesehatan mama aja, jangan mikirin hal hal yang lain."


Mama Siska mengangguk lalu memejamkan matanya. Setelah ia mendengar pintu kamarnya tertutup, ia membuka matanya.


Air matanya menetes begitu saja, air mata yang sengaja ia sembunyikan dari Adit.


Saat Adit hendak masuk ke dalam mobil, ia melihat seseorang yang tampak sedang bersitegang dengan satpam.


Ia pun menghampiri pos satpam di rumah sang mama dan melihat Andi di sana.


"Lo ngapain di sini?" tanya Adit dengan nada yang tidak bersahabat.


"Gue cuma mau tau keadaan tante Siska, gue dari rumah sakit dan pihak rumah sakit bilang tante Siska udah pulang."


"Mama baik baik aja, lo nggak perlu temui mama lagi, mama juga udah nggak mau ketemu lo!"


"Kenapa?"


"Kenapa? lo tanya kenapa setelah semua yang lo lakuin kemarin? lo lupa kalau gue sama mama udah mohon mohon sama lo tapi lo dengan egoisnya nolak gue sama mama dan sekarang setelah mama menjauh, lo dateng lagi dan ninggalin mama lagi? iya?"


"Gue nggak bermaksud gitu, gue cuma....."


"Usir dia pak, pastikan dia nggak pernah dateng lagi ke sini!" ucap Adit pada satpam lalu pergi meninggalkan pos satpam.


Adit masuk ke dalam mobilnya dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri.

__ADS_1


Bagaimana pun juga keadaan mamanya sudah membaik, ia tidak ingin Andi kembali lagi dalam hidup sang mama dan meninggalkan mamanya lagi sesuka hatinya.


__ADS_2