Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
2 Bulan Lagi


__ADS_3

Mentari telah meninggalkan langit sore bersama memudarnya senja di ujung barat. Andipun berpamitan kepada sang ibu untuk pulang ke rumah mama Siska.


Sepanjang perjalanan, Andi memikirkan ucapan ibunya mengenai hubungannya dengan Dini.


"kamu jangan pesimis Ndi, kamu juga bisa kasih masa depan yang baik buat Dini dengan apa yang kamu miliki saat ini, ibu yakin kamu bisa memberikan Dini kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada yang Dimas berikan untuk Dini."


"Ibu bener, aku bukan Andi yang dulu, aku juga bisa kasih apapun yang Dini butuhkan, aku juga punya cinta yang nggak kalah besar dibanding cinta Dimas buat Dini, selama ini Dini juga bahagia sama aku, apa lagi yang kurang?"


Andi tersenyum tipis karena ucapannya sendiri. Ia tertawa kecil menertawakan ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Sejak kapan aku jadi egois gini?"


Andi menggelengkan kepalanya lalu menancap gas ke arah rumah. Sesampainya di rumah ia segera masuk ke kamarnya, mandi dan berganti pakaian lalu kembali turun untuk makan malam bersama sang mama.


"Kak Adit belum pulang ma?" tanya Andi pada sang mama.


"Belum, mungkin masih selesaiin masalahnya yang kemarin," jawab mama Siska.


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu menikmati makan malamnya berdua dengan sang mama.


"Gimana keadaan ibu dan ayah kamu?" tanya mama Siska pada Andi.


"Baik ma, lain kali kita bisa kesana sama sama, mama mau kan?"


Mama Siska hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Andi.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Andi pergi ke ruang baca. Ia duduk di tempat favoritnya dengan buku di tangannya.


Andi membuka buku itu dan membacanya. Namun ia sama sekali tidak bisa fokus karena masih memikirkan ucapan sang ibu beberapa waktu yang lalu.


Hampir 2 jam Andi berada di ruang baca. Sudah beberapa kali ia berpindah tempat duduk dan mengambil buku yang lain namun ia tetap saja kehilangan konsentrasi nya.


"Mikirin apa sih?" tanya Adit yang membuat Andi cukup terkejut.


"Lo bisa nggak sih nggak ngagetin!" balas Andi kesal.


"Hahaha.... lo kenapa kayak orang bingung gitu, mikirin apa?"


"Gimana keadaan mbak Ana?" tanya Andi tanpa menjawab pertanyaan Adit.


"Ana baik baik aja," jawab Adit lalu mengambil buku dan duduk di hadapan Andi.


"Mbak Ana belum tau masalah foto itu?"


"Jangan sampe Ana tau Ndi, nggak lama lagi dia akan melahirkan, gue nggak mau bikin dia stres karena masalah ini," jawab Adit.


"Apa nggak sebaiknya lo nggak temui mbak Ana dulu? takutnya orang orang itu malah ngincar lo sekarang!"


"Gue udah pegang kartu AS mereka Ndi, mereka nggak mungkin berani usik gue lagi, tenang aja!" ucap Adit santai.


"Lo juga harus tetep berhati hati kak!"


"Lo khawatir sama gue?"


"Enggak, gue khawatir sama mbak Ana dan calon keponakan gue!" jawab Andi yang membuat Adit terkekeh.


"Jadi apa yang ganggu pikiran lo sekarang? soal kerjaan? soal cewek?"


"Ibu tau tentang perasaan gue sama Dini," ucap Andi dengan menatap kosong ke arah depan.


"Terus ibu lo bilang apa?"


"kamu harus berjuang Ndi, nggak ada kata terlambat buat memperjuangkan cinta selama cinta itu masih ada dalam hati kamu!" batin Andi mengingat ucapan sang ibu padanya.


"Berjuang," jawab Andi singkat.


"Dan keputusan lo?"


"Selama ini keputusan gue nggak pernah berubah, gue akan tetap diam dengan perasaan gue ini karena gue tau Dini bahagia sama Dimas, tapi sekarang ada yang berubah," jawab Andi.


"Apa yang berubah? perasaan lo?"


Andi menganggukkan kepalanya pelan.


Andi merasa ada rasa egois yang menyelinap masuk ke dalam dirinya saat ia ingin memiliki Dini.

__ADS_1


"Dini emang bahagia sama Dimas, gue juga tau seberapa besar cinta Dimas buat Dini, tapi selama ini Dinipun bahagia sama gue dan cinta yang gue punya jauh lebih besar dibanding Dimas, dulu gue berpikir kalau Dimas bisa kasih Dini masa depan yang cerah tapi sekarang gue pun bisa kasih masa depan yang Dini impikan," ucap Andi.


"Jadi?"


"Gue nggak tau apa gue masih tulus mencintai Dini kalau gue sekarang berpikir seperti itu, ada keegoisan yang bikin gue berharap buat miliki Dini saat Dini udah bahagia sama Dimas," jawab Andi.


"Menurut gue lo nggak egois kok!" ucap Adit yang membuat Andi membawa pandangannya pada Adit.


"Lo egois kalau lo memaksakan kehendak lo sendiri, tapi lo sendiri tau udah berapa lama lo simpen perasaan itu sendiri, lo udah ngerasain terluka dan bahagia dengan bersamaan selama ini jadi mengungkapkan perasaan lo sama Dini itu bukan suatu keegoisan," ucap Adit.


"Tapi apa yang akan terjadi ke depannya nanti? yang ada gue cuma akan ngerusak kebahagiaan Dini!"


"Lo nggak pernah tau sebelum lo ngelakuin itu, seperti yang lo bilang Dini juga bahagia sama lo, jadi masih ada kemungkinan buat Dini lebih bahagia sama lo dibanding sama Dimas!" ucap Adit.


Andi terdiam mendengar ucapan Adit. Selama ini tak pernah terpikirkan dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaanya pada Dini.


Selama ini ia selalu berpikir jika Dini bahagia bersama Dimas tanpa ia melihat bagaimana bahagianya Dini saat Dini bersamanya.


Banyak hal hal kecil yang mereka lakukan yang memberikan kenangan indah sepanjang hidup mereka. Banyak hal terlewati dengan senyum dan tawa bahagia.


Tapi, bukan hanya karena melihat Dimas sebagai anak dari pengusaha ternama, Andi berpikir jika Dimas mampu memberikan Dini kebahagiaan dan masa depan yang cerah untuk Dini.


Andi tau seberapa keras Dimas berjuang untuk Dini. Seberapa besar cinta yang dimiliki Dimas untuk seorang Dini yang dulu bukanlah siapa siapa di mata Dimas.


"Setidaknya Dini harus tau Ndi, gue yakin dia nggak akan pergi dari lo setelah dia tau semua ini, kalian udah bersahabat lama, nggak akan mudah buat Dini lupain lo!" ucap Adit.


"Tapi semuanya akan berbeda kalau Dini tau gimana perasaan gue!" ucap Andi.


"Apa lo nggak pernah berpikir sejauh apa hubungan kalian sebenarnya? sepenting apa seorang Andi dalam hidup Dini?" tanya Adit pada Andi.


Andi hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Adit.


"Dini emang udah milih Dimas, mereka pacaran dan tunangan, tapi apa setelah Dini punya Dimas, dia lupain lo? enggak Ndi, lo tetep jadi sahabatnya, lo tetep jadi bagian dari hidupnya, dia nggak akan lepasin lo bahkan setelah dia punya Dimas!"


Andi masih terdiam namun dalam hatinya membenarkan ucapan Adit.


"Harusnya lo sadar kalau lo juga berarti buat Dini, Dini nggak akan pergi setelah dia tau perasaan lo, gue yakin itu!" ucap Adit lalu menepuk pundak Andi dan beranjak dari duduknya.


Sedangkan Andi masih berada di tempat duduknya memikirkan ucapan Adit dan ibunya.


Di tempat lain, Dimas sedang mengendarai mobilnya untuk mengajak Dini ke sebuah restoran.


Sesampainya di sana, mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran.


Dimas menggandeng tangan Dini saat masuk ke dalam restoran. Ia memberi tahu waiters jika ia sudah reservasi sebelumnya.


"Kenapa ada 4 kursi?" tanya Dini saat mereka sudah duduk di tempat mereka.


"Kamu tunggu aja," jawab Dimas dengan tersenyum.


Tak lama kemudian mama dan papa Dimas datang. Mereka lalu duduk bersama Dimas dan Dini setelah berpelukan singkat.


"Kamu pasti terkejut karena mama dan papa di sini, iya kan?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Iya ma, Dimas nggak bilang apa apa sama Dini," jawab Dini.


"Mama sengaja minta Dimas buat nggak bilang kamu, ayo kita makan dulu!"


Mereka pun menikmati makan malam mereka dengan tenang.


"Mama dan papa sengaja ke sini karena ada yang mau kita bicarain sama kamu Din," ucap mama Dimas.


"Ada apa ma? apa ada masalah?" tanya Dini khawatir karena melihat mama Dimas yang tampak serius.


"Mama dan papa sudah bertemu ibu kamu kemarin, kita bicarain tentang pernikahan kalian," jawab mama Dimas yang membuat Dini kembali terkejut karena sang ibu tidak memberi tahu Dini tentang hal itu.


"Kita sudah sepakat buat mempercepat pernikahan kalian, bulan depan Dimas akan pindah ke perusahaan utama dan satu bulan setelahnya pernikahan kalian akan diselenggarakan, itu yang sudah mama papa dan ibu Dini sepakati, apa kalian keberatan?" jelas papa Dimas sekaligus bertanya pada Dini dan Dimas.


Dini dan Dimas hanya saling pandang. Mereka sama sama terkejut dengan apa yang mama dan papa Dimas ucapkan.


"Kenapa tiba tiba dipercepat pa?" tanya Dimas pada sang papa.


"Kalian sudah lama bertunangan, kamu juga sudah berhasil mencapai target yang papa berikan, jadi apa yang harus ditunggu lagi?"


"Apa kalian belum siap?" tanya mama Dimas.

__ADS_1


"Dimas siap, itu yang udah Dimas tunggu dari lama," jawab Dimas penuh semangat.


"Kamu gimana sayang?" tanya Dimas pada Dini.


Dini masih terdiam memikirkan jawaban yang terbaik tanpa mengecewakan Dimas ataupun keluarganya.


Seperti yang ia tau, ia tidak akan bisa dengan mudah keluar dari perusahaan Adit sebelum ia mendapatkan pengganti dirinya seperti Ana dulu.


"Bicarakan semuanya sayang, jangan ada yang ditutupi, nanti kita cari jalan keluarnya bersama, mama dan papa nggak akan memaksa kamu sayang," ucap mama Dimas pada Dini.


"Mmmm... sebenarnya Dini nggak keberatan ma, pa, tapi Dini nggak bisa resign sebelum dapat pengganti Dini di perusahaan kak Adit," ucap Dini.


"Itu bukan masalah besar Din, kamu cukup minta cuti sama Adit saat pernikahan kalian, setelah itu kamu bisa tetap kerja sama Adit seperti biasa," ucap papa Dimas.


"Dini masih boleh kerja di sana?" tanya Dini tak percaya.


"Kenapa enggak sayang? walaupun mama lebih suka kamu kerja sama Dimas, tapi mama nggak akan ngelarang kamu buat tetap kerja sama Adit, iya kan pa?"


"Iya Din, papa dan mama nggak akan maksa kamu dalam hal apapun, kamu sama Dimas berhak buat ambil keputusan dalam rumah tangga kalian tanpa campur tangan mama dan papa!" ucap papa Dimas.


"Aku juga akan selalu dukung kamu sayang, apapun pilihan kamu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini di bawah meja.


"Terima kasih ma, pa, Dimas," ucap Dini dengan mata berkaca kaca karena terharu dengan sikap Dimas dan keluarganya.


"Kita akan jadi keluarga Din, kamu bukan lagi orang lain di keluarga Adhitama, mama dan papa akan menyayangi kamu seperti mama dan papa menyayangi Dimas," ucap mama Dimas.


"Terima kasih ma, pa," ucap Dini yang dibalas senyum tulus mama dan papa Dimas.


"Soal media gimana pa? Dimas sama Dini nggak mungkin menikah diam diam kan?" tanya Dimas pada sang papa.


"Papa udah atur semuanya, papa juga udah bicarain hal itu sama ibu Dini, mau nggak mau media akan tau pernikahan kalian, tapi papa bisa pastiin kalau media nggak akan ganggu privasi Dini dan ibunya, termasuk mengulik kehidupan Dini dan ibunya sebelum kalian menikah," jawab papa Dimas.


"Kamu tau papa kamu bisa melakukan itu kan? sejauh ini nggak ada media yang bisa ganggu privasi kamu walaupun mereka tau kamu anak mama dan papa!" sahut mama Dimas.


"Makasih ma, pa!" ucap Dimas pada mama dan papanya.


"Jangan berterima kasih dulu, kita belum bahas hal lainnya, tema, dekorasi, lokasi, katering dan banyak hal lainnya," ucap mama Dimas.


"Apa kita punya waktu buat siapin itu? Dimas lagi sibuk banget sampe Dimas pindah nanti!" tanya Dimas.


"Kita akan tentukan sama sama, kita bicarain ini sama ibu Dini juga, sisanya serahin sama mama, mama akan siapain semuanya!" jawab mama Dimas.


Dini dan Dimas saling pandang dan tersenyum lalu sama sama berterima kasih pada mama dan papa Dimas.


"Setelah kamu pindah nanti kita bicarakan ini sama ibu Dini, sekarang kamu fokus aja sama pekerjaan kamu!" ucap papa Dimas.


"Iya pa," balas Dimas.


Setelah membicarakan banyak hal, mama dan papa Dimaspun meninggalkan restoran. Mereka kembali ke hotel sebelum pulang esok paginya.


Sedangkan Dimas dan Dini kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan rencana pernikahan mereka dengan raut wajah bahagia.


Sesampainya di apartemen, Dini dan Dimas masih membicarakan hal yang sama seolah tanggal pernikahan sudah di depan mata.


Dini dan Dimas berdiri di balkon dengan menatap gelap malam yang disinari gemerlap lampu jalan raya.


Kebahagiaan tampak dari raut wajah Dini dan Dimas. Mimpi mereka kini sudah sangat dekat, membawa mereka ke dalam alur happy ending yang mereka harapkan.


Dimas memeluk Dini dari belakang lalu menyibakkan rambut Dini, membuat leher jenjang Dini terpampang di hadapannya.


Dimas menciumnya singkat lalu memutar badan Dini agar menghadap ke arahnya dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Dini.


"Dua bulan lagi sayang, kamu akan jadi milik ku seutuhnya," ucap Dimas dengan senyum di bibirnya.


"Apa kamu siap ketemu aku tiap hari? apa kamu nggak akan bosan?"


"Pertanyaan apa itu Andini, kamu adalah tujuanku, kamu mimpi dan masa depanku, kamu adalah ibu dari anak anakku nanti," jawab Dimas dengan membelai wajah Dini.


Dini tersenyum lalu menggenggam tangan Dimas di pipinya dan menciumnya.


"Aku adalah perempuan paling bahagia saat ini," ucap Dini.


"Dan aku adalah laki laki paling bahagia karena mendapatkan kamu, Andini Ayunindya Zhafira," balas Dimas lalu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Dini.


Mereka saling bertaut di bawah gelap malam bersama kebahagiaan dalam hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2