
Matahari masih tampak semangat menebarkan teriknya. Dengan dibantu Pak Lukman Dini membawa Adit ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Adit segera di bawa ke ruang UGD, sedangkan Dini dan Pak Lukman menunggu di depannya.
Tampak ketakutan dan kepanikan dari raut wajah Dini. Ia tau tak hanya sekali dua kali mama Siska melakukan hal itu pada Adit, namun ia begitu khawatir saat melihat banyak darah yang keluar dari kepala Adit.
Setelah beberapa lama menunggu Dokter akhirnya keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan kakak saya Dok?" tanya Dini pada Dokter.
"Pasien mengalami cedera kepala ringan akibat benturan, beruntung karena dia cepat dibawa ke rumah sakit sehingga bisa cepat ditangani, keadaannya baik baik saja, hanya saja sepertinya pasien sudah lebih dari sekali mengalami hal yang sama, hal itu membuat masa penyembuhannya lebih lama dari sebelumnya," jelas Dokter.
"Berapa lama kakak saya bisa sembuh Dok?"
"Jika dalam waktu 24 jam dia sudah sadar, itu artinya dia akan semakin cepat sembuh, mungkin satu sampai dua Minggu sakit di kepalanya akan benar benar hilang," jawab Dokter.
"Baik Dok, terima kasih."
Dini lalu kembali duduk, menunggu Adit dipindahkan ke ruang rawat.
"Pak Lukman pulang aja, biar saya yang jaga kak Adit," ucap Dini pada Pak Lukman.
"Mbak Dini yakin?"
Dini menganggukkan kepalanya.
"Pak Lukman jagain mama aja di rumah, nanti kalau ada apa apa, saya akan hubungin Pak Lukman," jawab Dini.
Lukman lalu meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah mama Siska. Sedangkan Dini masih duduk di depan ruangan Adit.
Ia ingin memberitahu Andi tentang keadaan Adit, namun ia ragu, ia takut akan menambah beban untuk Andi.
Ia lalu menghubungi Dimas, menceritakan pada Dimas apa yang sedang di alaminya saat itu.
"Halo sayang," sapa Dimas ketika ia menerima panggilan Dini.
"Dimas, aku bingung," ucap Dini dengan suara bergetar yang seketika membuat Dimas tersadar jika Dini sedang tidak baik baik saja.
"Kamu kenapa sayang? ada apa?" tanya Dimas khawatir.
Dini tak menjawab, ia hanya terisak mengingat keadaan Adit saat itu.
"Kamu dimana? aku kesana sekarang!"
"Enggak, jangan!"
"Kenapa? kamu dimana sekarang?"
"Aku di rumah sakit, aku nemenin kak Adit yang baru dipindah dari ruang UGD," jawab Dini.
"Adit? Adit kenapa?"
Dinipun menceritakan pada Dimas tentang apa yang terjadi pada Adit.
"Kamu udah bilang Andi tentang ini?" tanya Dimas setelah ia mendengar cerita Dini.
"Belum, aku bingung Dimas, aku pingin cerita sama Andi biar dia tau keadaan kak Adit sekarang, tapi aku juga takut kalau apa yang aku ceritain akan memperburuk keadaan," jawab Dini.
"Kalau menurutku kamu harus cerita sama Andi, gimanapun juga dia saudara Adit, dia harus tau gimana keadaan Adit," ucap Dimas.
"Tapi aku takut kalau aku nambah beban Andi!"
"Ceritain pelan pelan sayang, biar Andi juga semakin yakin kemana dia harus pergi, tetap sama ayah ibunya atau memilih Adit dan mamanya."
"Iya kamu bener, aku harus kasih tau Andi," ucap Dini yang pada akhirnya menyetujui pendapat Dimas.
"Kamu yakin nggak mau aku temenin di sana?"
"Iya, aku baik baik aja, maaf udah ganggu pekerjaan kamu."
"Kamu nggak pernah ganggu aku sayang, justru aku seneng kalau kamu hubungin aku."
"Makasih Dimas, aku mau hubungin Andi dulu ya!"
"Iya sayang, jaga diri baik baik ya, love you!"
"Love you too!"
Dini lalu menghubungi Andi, namun sampai beberapa kali ia coba, Andi tidak menerima panggilannya.
Dini lalu menghubungi pak Lukman untuk menanyakan keadaan mama Siska.
"Halo pak, gimana keadaan mama?"
"Ibu baik baik saja mbak, lagi tidur," jawab pak Lukman.
"Oh ya sudah pak kalau begitu."
Dini lalu mengakhiri panggilannya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan berjalan ke toilet.
Saat ia berjalan di lorong yang sepi, ia merasa seseorang tengah mengawasinya. Ia sudah berusaha mengabaikan perasaannya itu, namun seseorang itu seperti terus saja mengikutinya sejak beberapa bulan belakangan.
**
Di tempat lain, Andi sengaja mengecilkan volume nada dering ponselnya dan menyimpan ponselnya di dalam lemari.
Ia sengaja melakukan hal itu agar ia bisa fokus pada laptop di hadapannya. Ya, ia sedang mengerjakan desain. Ia berusaha menghalau semua rasa yang mengganggunya beberapa hari ini dengan kesibukan yang ia sukai.
Membuat desain adalah salah satu cara yang sering ia lakukan untuk melupakan sejenak masalah di hidupnya.
Namun entah kenapa, tak ada sama sekali hasil dari coretannya yang memuaskan baginya. Pikirannya dipenuhi oleh Adit dan mamanya. Ia mengingat bagaimana ia pertama kali bertemu Adit, bagaimana ia cukup membenci Adit yang begitu dekat dengan Dini dan bagaimana ia sering berdebat dengan Adit ketika mereka bertemu.
Ia juga tak menyangka jika rasa nyaman yang selama ini ia rasakan saat bersama mama Siska adalah karena hubungan darah diantara mereka berdua. Kebaikan dan kehangatan mama Siska membuatnya menyimpan rindu jauh di dalam hatinya.
__ADS_1
Tooookkkk tooookk tooookkk
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Andi.
"Ibu boleh masuk Ndi?" tanya ibu Andi dari luar kamar Andi.
"Masuk Bu," balas Andi.
Ibu Andi lalu masuk dan duduk di samping Andi.
"Kamu lagi kerja?" tanya ibu Andi.
"Enggak Bu, cuma coret coret aja!" jawab Andi.
Ibu Andi hanya tersenyum kecil saat melihat layar di laptop Andi yang masih kosong.
"Andi nggak bisa fokus bu," ucap Andi lalu menutup laptopnya.
"Kenapa? Ada yang menganggu pikiran kamu?"
Andi mengangguk pelan.
"Cerita sama ibu," ucap ibu Andi.
"Maafin Andi kalau belum bisa membahagiakan ayah dan ibu, Andi sayang sama ayah dan ibu, buat Andi kalian orangtua Andi, apapun yang terjadi," ucap Andi.
"Kamu juga akan selalu jadi anak ayah dan ibu Ndi, kemanapun kamu pergi, dimana pun kamu tinggal, kamu tetap anak ayah dan ibu yang sangat ayah dan ibu sayangi," balas ibu Andi.
"Ibu sayang sama kamu Ndi, ayah juga, kita nggak akan keberatan kalau kamu mau tinggal sama Adit dan mamanya, mereka keluarga kamu yang sebenarnya, sudah bertahun tahun mereka mencari kamu, kasih kesempatan mama kamu buat jalani hidupnya tanpa penyesalan," ucap ibu Andi.
"Apa ibu dan ayah akan baik baik saja?"
"Tentu, kita akan selalu baik baik saja selama kamu bahagia," jawab ibu Andi.
"Makasih Bu," ucap Andi dengan memeluk sang ibu.
Ibu Andi tau, kebahagiaan Andi yang sesungguhnya adalah bersama keluarga kandungnya. Ia tidak akan egois dengan memaksa Andi untuk tetap bersamanya. Selama ia masih bisa bertemu dan berhubungan baik dengan Andi, ia akan berusaha untuk merelakan anak laki laki yang sudah dirawatnya sejak bayi itu.
Melihat Andi bimbang dan tampak sedih membuat dirinya dipenuhi rasa bersalah. Sebagai wanita yang sudah menyayanginya sejak bayi, hatinya terasa sesak melihat Andi saat itu.
"Ibu dan ayah tulus sayang sama kamu, ibu cuma bisa berharap kamu akan selalu jadi anak ibu dan ayah walaupun kamu jauh dari kami," batin ibu Andi dalam hati.
"Kamu istirahat aja dulu, ibu siapin makan siang buat kamu!" ucap ibu Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Andi lalu merebahkan badannya di ranjang. Baru saja matanya terpejam, tiba tiba sekelebat bayangan Adit yang penuh darah terlihat dalam gelap matanya.
Andi segera bangun dengan jantung yang berdetak kencang, hatinya terasa gelisah dan panik tanpa alasan. Ia lalu mengambil ponselnya dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari Dini. Ia lalu menghubungi Dini namun tidak tersambung.
**
Di tempat lain, Dini sedang duduk di kursi yang berada di samping ranjang Adit. Raut wajah Adit yang pucat tidak memudarkan ketampanannya sama sekali. Dini bersyukur karena Adit bisa sadar dengan cepat. Meski begitu, kekhawatiran masih tampak di wajah Dini.
"Mata kamu sembab," ucap Adit.
Dini hanya menganggukkan kepalanya, sedih atas apa yang sudah menimpa Adit.
"Kamu ikutin kakak pulang?"
Dini kembali menganggukkan kepalanya.
"Jangan diem aja dong, cengeng!" ucap Adit dengan menghapus air mata Dini.
Dini hanya diam dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.
"Kakak baik baik aja Din, kamu jangan khawatir!" ucap Adit.
"Makasih udah anter kakak ke rumah sakit, kamu sama pak Lukman?"
Dini kembali menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
"Siapa aja yang tau kalau kakak di sini?"
"Nggak ada, cuma Dini, Dimas sama pak Lukman," jawab Dini.
"Bagus, jangan bilang siapa siapa lagi ya!"
"Kenapa? Dini mau bilang Andi tentang apa yang terjadi sama kak Adit hari ini, biar dia berubah pikiran dan mau tinggal sama mama."
"Jangan Din, kamu tau Andi baru pulang dari rumah sakit, jangan bebani dia dengan hal itu."
"Tapi kak......"
"Kakak sama mama udah janji buat nggak maksa dia, biar dia sendiri yang ambil keputusan."
"Tapi sampe kapan Kak Adit akan kayak gini terus?"
"Kak Adit nggak peduli tentang itu Din, kak Adit tau apa yang mama rasain itu sangat berat dan menyiksa, kak Adit cuma bisa nemenin mama disaat mama seperti itu."
"Tapi Andi harus tau kak, dia adik kak Adit!"
"Dia udah tau gimana keadaan psikis mama dan dia tetep pada pendiriannya, jadi kakak mohon jangan cerita apapun yang akan jadi beban buat dia, biarkan dia mengambil keputusan dari hatinya, kamu mengerti maksud kakak kan?"
Dini mengangguk lemah. Ia akan merahasiakan keadaan Adit saat itu pada siapapun, termasuk Andi.
"Jadi kapan kakak bisa pulang?" tanya Adit.
"Dokter bilang satu atau dua minggu," jawab Dini.
"Haaahhhh!! kok lama banget?"
"Kak Adit cedera kepala ringan, jadi....."
__ADS_1
"Enggak, kakak nggak mau lama lama di sini, kakak harus pulang," ucap Adit sambil memencet tombol di samping ranjangnya.
"Tapi kak Adit masih sakit!"
"Kakak masih bisa jalan Din, kakak masih bisa gerak, cuma pusing sedikit dan nggak akan ganggu pekerjaan kakak!"
"Tapi kak....."
Dini menghentikan ucapannya saat Dokter masuk. Dini lalu keluar saat Dokter memeriksa keadaan Adit.
Setelah Dokter keluar, Dini kembali masuk.
"Dokter bilang apa kak?" tanya Dini.
"Kakak udah boleh pulang besok pagi," jawab Adit.
"Serius? Tapi tadi Dokter bilang satu atau dua minggu kak Adit baru sembuh!"
"Cuma pusing, nggak akan jadi masalah besar," balas Adit.
"Kak Adit yakin?"
"Yakin, kamu tenang aja!"
Dini hanya menganggukkan kepalanya menyerah pada laki laki keras kepala di hadapannya.
"Tapi besok kakak belum bisa ke kantor, kamu bisa handle sementara kan?"
"Bisa, kak Adit nggak perlu khawatir!"
"Bagus, kamu emang selalu bisa diandalkan!"
Sebelum Dini pulang, Adit meminjam ponsel Dini untuk menghubungi Rudi agar menjemputnya di rumah sakit esok pagi.
**
Hari berganti, pagi itu Adit sudah bersiap untuk keluar dari rumah sakit dengan perban yang mengitari kepalanya.
Rudi yang melihat hal itu sudah bisa menduga apa yang telah terjadi sebelumnya. Ia sangat hafal tentang kebiasaan Adit yang tiba tiba meminta untuk dijemput di rumah sakit.
"Antar saya ke apartemen Rud!" pinta Adit.
"Baik pak," balas Rudi.
Saat Adit baru saja membuka pintu mobilnya, seorang laki laki berlari ke arahnya. Ia hanya terdiam terpaku dengan apa yang dilihatnya.
Laki laki itu berlari dengan raut wajah yang tampak khawatir dan kekhawatirannya semakin jelas terlihat saat mereka sudah berdiri berhadapan.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Adit.
"Lo mau kemana?" balas Andi bertanya.
"Pulang ke apartemen, mau ikut?"
Andi mengangguk tanpa ragu. Ia pun mengikuti Adit masuk ke dalam mobil.
Suasana sedikit canggung beberapa lama. Sesekali Andi melihat perban di kepala Adit. Entah kenapa hatinya terasa berdenyut melihat Adit yang tampak pucat dengan perban di kepalanya.
Sesampainya di apartemen, Adit dan Andi segera masuk.
"Gue ganti baju bentar," ucap Adit yang kembali dibalas anggukan kepala Adit.
Setelah berganti pakaian, Adit kembali ke ruang tamu untuk duduk bersama Andi.
"Ini tempat tinggal gue, lo bisa ke sini kapanpun lo mau!" ucap Adit.
Andi hanya mengangguk tanpa suara.
"Lo kenapa tiba tiba ke rumah sakit? Dini yang ngasih tau lo?" tanya Adit.
"Bukan, Dimas yang kasih tau semuanya," jawab Andi.
"Dia bilang apa?"
"Semuanya, tentang gimana keadaan lo dan kenapa lo bisa di rumah sakit sama Dini."
"Jadi lo udah tau ya?"
Andi kembali mengangguk.
"Ini bukan hal baru buat gue, dari kecil gue udah biasa sama hal ini, rumah sakit udah kayak temen buat gue," ucap Adit.
"Kenapa lo nggak tinggal di rumah?" tanya Andi.
"Pesan terkahir papa sebelum meninggal, gue harus tinggal terpisah sama mama sampai keadaan psikis mama membaik dan gue bisa temuin adik gue," jawab Adit.
"Cuma itu?"
Adit menggeleng.
"Papa sengaja jauhin gue dari mama karena papa nggak mau gue jadi sasaran amukan mama, tapi walaupun gue di sini, setiap mama kambuh gue pasti ke sana berusaha buat tenangin mama dan pastiin mama nggak ngelakuin hal hal yang membahayakan," jawab Adit.
Andi terdiam beberapa saat. Kini ia semakin mengerti keadaan Adit dan sang mama yang sebenarnya.
"Hampir seumur hidup gue, gue nggak pernah ngerasain kasih sayang yang utuh dari mama Ndi, hampir seumur hidup gue selalu liat mama hidup dengan penyesalan dalam dirinya dan itu sangat menyakitkan buat gue," ucap Adit.
"Apa lo nggak keberatan dengan adanya gue di hidup lo? apa lo nggak takut kasih sayang yang lo dapet akan semakin berkurang karena adanya gue?"
"Awalnya iya, jujur gue takut mama akan semakin lupa sama gue, tapi semakin ke sini gue udah nggak peduliin itu, buat gue kebahagiaan mama itu yang paling penting, gue nggak peduli bahkan jika mama lupa sama adanya gue dalam hidupnya, gue cuma mau mama bahagia Ndi," jawab Adit.
"Ikuti kata hati lo Ndi, hati nggak akan pernah nunjukin jalan yang salah," lanjut Adit.
__ADS_1