Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Sakit (2)


__ADS_3

Pagi yang menyebalkan bagi Dini karena harus mendapat omelan dari Adit. Meski begitu, ia harus tetap bersikap baik pada atasannya itu.


Ketika sedang menaruh minuman di meja Adit, tak sengaja Dini melihat wajah Adit yang tampak pucat.


"Pak Adit sakit? wajah Pak Adit pucat," tanya Dini.


"Saya cuma kurang tidur, kembali ke ruangan kamu!"


"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu meninggalkan ruangan Adit.


Dini mulai mengerjakan tugasnya di ruangannya. Sesekali ia menoleh ke arah ruangan Adit. Dilihatnya Adit memijit mijit kepalanya dengan tampak lesu. Entah apa yang sedang terjadi pada atasannya itu, Dini hanya bisa menebak jika Adit sedang tidak baik baik saja.


Saat jam makan siang tiba, Dini segera keluar menuju kantin. Ia menajamkan telinganya untuk mendengar siapapun yang sedang membicarakannya.


"Pak Adit keliatan nggak semangat banget hari ini, Dini juga tumben ke kantin, pasti mereka lagi berantem tuh!"


"Mudah mudahan cepet kelar deh hubungan gelap mereka, kasian Pak Adit kalau harus dimanfaatin anak kemarin sore!"


"Bener tuh, aku setuju!"


Dini lalu membawa mangkuk yang berisi bakso ke meja gadis gadis yang membicarakannya. Ia duduk begitu saja tanpa permisi.


"Kalian kalau nggak tau apa apa mending tanya daripada fitnah!" ucap Dini santai dengan mengunyah baksonya.


"Apaan sih, dateng dateng ngomong nggak jelas!" sahut salah satu dari si penggosip.


Dini lalu meletakkan sendoknya dan menatap semua perempuan di meja itu satu per satu.


"Kenapa? mau laporin kita ke Pak Adit?"


Dini menggeleng pelan.


"Aku cuma mau bilang sama kalian, jadi dengerin baik baik karena aku nggak akan ulangin lagi apa yang aku bilang," ucap Dini.


"Pergi aja yuk!" ajak salah satu penggosip pada temannya yang lain.


Dini lalu berdiri dari duduknya dan berbicara dengan lantang.


"Satu, saya Andini Ayunindya Zhafira tidak ada hubungan apapun dengan Pak Adit di luar pekerjaan, dua, saya memang belum berpengalaman dalam bidang ini tapi saya bisa membuktikan kalau saya layak berada di posisi ini melalui hasil kerja saya, tiga, kalau kalian merasa keberatan dengan keberadaan saya di sini silakan komplain ke mbak Ana atau Pak Adit karena mereka sendiri yang memilih saya buat bergabung di perusahaan ini, terima kasih," ucap Dini lalu pergi meninggalkan mejanya dan keluar dari kantin.


Ia berjalan dengan santai, namun yang sebenarnya ia rasakan adalah jantungnya yang berdetak begitu cepat karena apa yang baru saja ia lakukan.


Ia berusaha dengan kuat untuk menutupi ketakutannya. Entah seperti apa respon yang akan ia dapat, ia tak peduli. Setidaknya ia sudah berusaha untuk mengklarifikasi gosip yang tidak benar tentang dirinya.


"eh beneran? mereka nggak ada hubungan apa apa?"


"tapi kan susah banget buat jadi personal assistant Pak Adit, masak dia yang nggak punya pengalaman bisa semudah itu?"


"itu karena hasil kerjanya bagus dan sesuai sama kemauan Pak Adit."


"Apa bener kayak gitu? berarti selama ini kita salah dong!"


"Iya, kita harus minta maaf nih, dia kan anak baru, kita udah keterlaluan deh kayaknya!"


"Guys stop, apa kalian percaya ucapannya?" tanya seorang gadis cantik yang bernama Sela.


"Bisa aja dia cuma bohong kan? bisa jadi selama ini Pak Adit nutupi keburukannya Dini, jadi semua pekerjaannya Pak Adit sendiri yang handle, bisa jadi kan?" lanjut Sela.


"Eh nenek lampir, kalau ngomong tanpa bukti itu artinya fitnah, gue sama Ica liat sendiri kok waktu Pak Adit marahin dia gara gara telat, itu artinya nggak ada yang spesial diantara mereka berdua," ucap Aca.


"Bener tuh, kita berdua saksinya, kalau soal hasil kerjanya, kita liat aja waktu meeting bulanan besok!" sahut Ica.


"Tapi......"


"Udah deh Sel, urus aja kerjaan lo sendiri, jangan suka ngurusin orang lain, badan lo aja kurang kurus hahaha...." ucap Aca lalu segera pergi bersama Ica.


"Dia udah kurus banget masak masih kurang kurus?" tanya Ica pada Aca yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Aca.


Jam makan siang telah selesai. Semuanya kembali ke tempat kerja masing masing dan mulai mengerjakan pekerjaan mereka sampai jam pulang tiba.


Tepat jam 4 Dini sudah membereskan barang barangnya dan membawa beberapa dokumen yang harus Adit tanda tangani ke ruangan Adit.


"Permisi Pak, ini....."


Dini menghentikan ucapannya. Ia melihat Adit yang benar benar pucat. Ia juga melihat beberapa tissue yang penuh darah di meja dan di sekitar kursi tempat Adit duduk.


"Kita harus ke rumah sakit Pak," ucap Dini dengan menaruh beberapa dokumen di meja Adit lalu mengambil tissue yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah. Betapa terkejutnya Dini karena melihat begitu banyak tissue dengan darah di tempat sampah itu.


"Ini apa Din?" tanya Adit sambil membolak balikkan berkas di hadapannya.


Dini masih diam di tempatnya, ia tidak mendengar pertanyaan Adit karena masih terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Din, ini apa?" tanya Adit dengan melempar map yang ia pegang.


Dini kembali terkejut dan segera mengambil map yang Adit buang ke lantai.


"Maaf pak, ini.... ini dokumen yang harus Pak Adit tanda tangani," ucap Dini sambil meletakkan kembali map di meja Adit.


Adit lalu menandatangani dokumen itu dan mengembalikannya pada Dini.


"Kita ke rumah sakit ya Pak, saya....."


"Saya baik baik aja Din," ucap Adit memotong ucapan Dini.

__ADS_1


"Enggak, Pak Adit nggak baik baik aja, Pak Adit harus ke rumah sakit," ucap Dini dengan menarik tangan Adit namun Adit menolaknya dengan kasar membuat Dini terjatuh ke lantai.


"Maaf Din, saya tidak bermaksud kasar," ucap Adit dengan membantu Dini berdiri.


"Saya permisi," ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit dengan kesal.


"yaaa, kita emang bukan teman, kita atasan dan bawahan," ucap Dini dalam hati.


Dini kembali ke ruangannya untuk menaruh kembali dokumen yang ia bawa lalu mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya untuk pulang.


Tepat jam 5 sore Dini sudah berada di rumahnya. Ia segera menghubungi Ana dan memberitahukan pada Ana apa yang terjadi pada Adit.


"Dia nggak mau ke rumah sakit?" tanya Ana.


"Nggak mau mbak, sampe saya sedikit paksa tapi Pak Adit malah marah," jawab Dini.


"Oke saya akan kesana sekarang."


Setelah menghubungi Ana, Dini menghubungi Andi namun tak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Andi.


"Dia di kamar, lagi nggak enak badan katanya," ucap ibu Andi pada Dini.


"Dini masuk ya tante!"


"Iya masuk aja, sama tolong bawain dia bubur ini ya, dia harus makan dulu sebelum minum obat."


"Baik tante."


Dini lalu membawa semangkok bubur buatan ibu Andi yang masih hangat, ia masuk ke kamar Andi dan mendapati Andi yang sedang terpejam dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Dini menaruh bubur yang ia bawa di meja Andi lalu duduk di samping Andi. Ia memperhatikan laki laki yang sudah menemaninya sepanjang hidupnya itu. Dalam hatinya ia sangat bersyukur bisa mengenal dan menjadi bagian dari hidup Andi.


"Awas jatuh cinta," ucap Andi tanpa membuka matanya.


Ia hanya tersenyum lebar membuat Dini kesal dan memukul perut Andi.


"Kamu pura pura sakit kan?"


Andi lalu menarik tangan Dini dan menaruhnya di keningnya.


"Kamu demam Ndi, udah minum obat?"


Andi menggeleng.


"Makan dulu, ini bubur buatan ibu kamu," ucap Dini sambil mengambil bubur di meja.


"Suapin," balas Andi manja.


"Jangan banyak banyak dong Din," protes Andi.


"Jangan bawel, kamu harus cepet sembuh, nggak boleh sakit," balas Dini.


Setelah menghabiskan setengah dari porsi bubur yang ada dalam mangkuk, Andi lalu meminum obatnya.


"Kamu kenapa bisa sakit sih? kecape'an?" tanya Dini dengan memijit tangan Andi.


Andi menggeleng dengan menarik tangan Dini yang memijatnya lalu menggenggamnya.


"Nggak tau Din, pulang dari home store tadi rasanya pusing banget," jawab Andi.


"Kenapa kalian kompak banget sih sakitnya, kayak adik kakak aja!"


"Kalian siapa maksud kamu?"


"Kamu sama Pak Adit, Pak Adit juga sakit tadi, tapi nggak mau ke rumah sakit malah lanjut kerja."


"Pak Adit sakit? sakit apa? kenapa nggak kamu paksa ke rumah sakit sih? sekarang dia di mana?"


Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Andi yang bertubi tubi.


"Din, jawab dong, dia baik baik aja kan?"


"Kamu khawatir sama Pak Adit?" balas Dini balik bertanya.


Sesaat Andi baru menyadari apa yang baru saja ia tanyakan pada Dini. Ia pun tidak mengerti kenapa ia merasa begitu khawatir pada orang yang baru dikenalnya.


"Apa kalian udah kenal dari lama?"


Andi menggeleng cepat.


"Jadi?"


"Udah ah aku mau tidur, kamu pulang aja sana!" jawab Andi dengan mendorong Dini agar meninggalkan kamarnya karena ia tidak tau harus memberi alasan seperti apa pada Dini.


"Oke oke, aku pulang, kamu istirahat ya, cepet sembuh," ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi lalu melepasnya dan berdiri dari duduknya.


"Aku yakin Pak Adit baik baik aja, aku udah hubungin mbak Ana tadi," ucap Dini sebelum ia meninggalkan kamar Andi.


Andi hanya mengangguk lalu segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ana.


"Halo mbak, maaf menganggu, mbak Ana sekarang lagi dimana?"


"Saya lagi di apartemen Adit, ada apa Ndi?"

__ADS_1


Andi diam beberapa saat. Ia menghubungi Ana begitu saja tanpa memikirkan alasan yang tepat untuk menanyakan keadaan Adit.


"Lo pulang aja deh An, gue baik baik aja kok!"


Terdengar suara seorang laki laki yang sudah Andi duga jika itu adalah suara Adit.


"Iya iya abis ini gue pulang!" balas Ana.


"Halo Ndi, kamu masih disana?"


"Ii.... iya mbak, maaf maaf."


"Kamu ada perlu apa? cari Dini?"


"Iya mbak, iya.... saya pikir mbak Ana lagi sama Dini, saya nggak bisa hubungi Dini soalnya," jawab Andi beralasan.


"Adit bilang sih Dini udah pulang, coba kamu cek ke rumahnya deh!"


"Oh, iya, makasih mbak."


Klik. Sambungan berakhir.


Andi lalu kembali membaringkan badannya di ranjang. Entah kenapa ia merasa lega mendengar suara Adit yang tampak baik baik saja.


Di sisi lain, sepulang dari apartemen Adit, Ana menghubungi Dini.


"Halo Din, kamu dimana?" tanya Ana ketika Dini sudah menerima panggilannya.


"Saya di rumah, ada apa mbak?"


"Andi barusan telfon saya, dia cariin kamu katanya dia nggak bisa hubungin kamu," jawab Ana.


"nyariin aku? kan aku baru pulang dari rumahnya, aneh banget sih tuh anak," batin Dini dalam hati.


"Nanti saya coba ke rumahnya mbak, oh ya mbak Ana udah ketemu Pak Adit kan?"


"Sudah, saya baru aja pulang dari apartemennya."


"Gimana keadaan Pak Adit mbak? apa Pak Adit beneran nggak mau ke rumah sakit?"


"Dia nggak mau ke rumah sakit Din, tapi dia baik baik aja kok, dia emang biasa gitu kalau kecape'an dan banyak pikiran, tapi kamu tenang aja dia pasti baik baik aja."


"Tapi darah darah itu?"


"Itu sudah biasa Din, setelah istirahat dan minum obat dia pasti sehat lagi, kamu tenang aja."


"mbak Ana tau banget tentang Pak Adit, apa mereka beneran nggak ada hubungan apa apa?" tanya Dini dalam hati.


Setelah mengakhiri panggilannya dengan Ana, Dini merebahkan badannya di ranjangnya. Ia masih memikirkan ucapan Ana tentang Andi yang mencari dirinya.


"Andi kenapa sih hari ini, kenapa dia khawatir banget sama Pak Adit, apa mereka udah kenal sebelumnya? apa dia hubungin mbak Ana buat pastiin kalau Pak Adit baik baik aja? hmmm.... entahlah, nggak mau mikirin itu," batin Dini dalam hati.


**


Di tempat lain, mama dan papa Dimas sedang berada di dalam kamar. Mereka membicarakan hubungan Dimas dan Dini yang sedang tidak baik baik saja.


"Mama tenang aja, Dimas pasti bisa selesaiin masalahnya," ucap sang papa menenangkan istrinya.


"Dia emang keras kepala banget kayak papa, dia pikir tunangan itu kayak pacaran bisa break gitu aja!"


"Pasti ada masalah besar yang kita nggak perlu tau ma, setidaknya untuk saat ini."


"Dan masalah itu akan semakin besar kalau Dimas nggak bisa selesaiin dengan benar, iya kan pa?"


Papa Dimas mengangguk.


"Kasih dia kesempatan ma, biarkan dia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, kali ini papa bener bener nggak akan ikut campur, papa yakin Dimas pasti punya banyak pertimbangan untuk menyetujui penawaran yang udah kita sepakati kemarin."


"Jangan sampe anak kita terluka pa, cuma itu yang mama minta," ucap mama Dimas dengan memeluk sang suami.


"Iya ma, papa tau itu," balas papa Dimas sambil mencium kening sang istri.


"Besok mama mau ketemu Dini pa, mama harus pastiin kalau mereka baik baik aja," ucap mama Dimas.


"Jangan terlalu ikut campur hubungan mereka ma!"


"Sebagai ibu mama nggak mau anak mama terluka, mama tau Dimas cinta banget sama Dini pa, tapi papa tenang aja mama tau batasan mama kok!"


"Pinter, mama memang terbaik," ucap papa Dimas sambil mengusap pinggang sang istri.


"Papa mulai deh, geli pa!"


"Mama cantik banget, masih cocok buat gendong bayi," ucap papa Dimas merayu.


"Papa lupa sekarang tanggal berapa?"


"Kenapa? apa ini jadwal 'tamu' mama?"


Mama Dimas mengangguk pelan, membuat papa Dimas menghembuskan napasnya kasar karena kesal.


"Hehe.... satu minggu lagi ya Pa," ucap mama Dimas sambil memeluk sang suami namun papa Dimas malah menghindar.


"Jangan deket deket papa, papa lagi nggak mood," ucap papa Dimas merajuk namun mama Dimas masih saja memeluk sang suami dengan paksa, membuat papa Dimas pada akhirnya menggelitiki sang istri tanpa ampun.

__ADS_1


__ADS_2