Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Penjelasan


__ADS_3

Di sudut kamar yang tidak terlalu besar, Andi sedang berusaha fokus mengerjakan desain baju. Entah kenapa sejak terakhir kali ia bertemu mama Siska, ia merasa tidak tenang. Ia selalu merasa gelisah dan sedih tanpa alasan, membuatnya kehilangan konsentrasinya ketika mengerjakan pekerjaannya.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Andi?" tanya seorang laki laki di pemilik nomor.


"Iya, ini siapa ya?" jawab Andi sekaligus bertanya.


"Adit, saya tunggu di home store sekarang!"


Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt


Panggilan berakhir begitu saja.


"Adit? atasannya Dini, ngapain dia di home store jam segini?"


Tanpa pikir panjang lagi, Andi meminjam motor sang ayah dan membawanya ke home store.


Sesampainya di sana, ia melihat sebuah mobil yang terparkir di depan home store.


Andipun mendatangi mobil itu.


Melihat Andi datang, Adit keluar dari mobilnya.


"Maaf menganggu waktu kamu, saya ada perlu sama kamu," ucap Adit pada Andi.


"Ada apa?" tanya Andi.


"Mama mau bertemu kamu, kamu bisa......"


"Maaf, saya sibuk, kalau kamu ke sini cuma buat ajak saya bertemu tante Siska, saya nggak bisa."


"Kenapa?"


"Saya sudah bilang saya sibuk, saya permisi!" jawab Andi lalu menyalakan motornya, bersiap untuk pergi.


"Mama di rumah sakit," ucap Adit sebelum Andi benar benar pergi.


"tante Siska di rumah sakit? kenapa? apa karena..... enggak, ini nggak ada hubungannya sama aku, aku bukan siapa siapa jadi aku nggak perlu peduli!" batin Andi dalam hati.


Andi lalu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Adit begitu saja.


Sedangkan Adit segera kembali ke rumah sakit untuk menemani sang mama.


"dia emang bukan siapa siapa, nggak seharusnya aku minta dia buat ketemu mama," batin Adit kesal.


**


Hari berganti, pagi telah kembali.


Pagi pagi sekali Adit menghubungi Dini dan Jaka, memberi tahu mereka jika dirinya tidak bisa datang ke kantor hari itu.


Tak lama kemudian mama Adit bangun.


"Adit," panggil sang mama pelan.


"Iya ma, Adit di sini," jawab Adit sambil menggenggam tangan mamanya.


"Kamu udah ketemu Andi? apa dia hari ini mau ketemu mama?"


"Mama fokus sama kesehatan mama aja dulu, jangan mikirin yang lain ma."


"Mama mau ketemu dia Dit, mama....."


"Ma, Andi yang sekarang mama kenal bukan dia, tolong mama mengerti ma."


"Tapi Dit....."


"Mama sarapan dulu ya, abis itu minum obat, Adit akan nemenin mama hari ini."


Mama Siska mengangguk. Hatinya kini kembali kosong. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Andi meski Adit ada bersamanya.


**


Di tempat lain, Dimas sedang mencari flashdisk yang pernah Yoga berikan padanya.


"Mbak, liat hoodie Dimas yang warna navy?" tanya Dimas pada salah satu ART nya.


"Itu kan sudah masuk keranjang baju kotor mas, jadi lagi saya cuci."


"Di cuci? udah masuk mesin cuci?"


"Sudah mas, baru aja."


"Aduuuhhh!!!"


Dimas segera berlari ke ruangan laundry di rumahnya. Di sana ada 2 mesin cuci yang sama sama menyala. Dimaspun segera mematikan dua duanya dan mencari flashdisk nya di dalam mesin cuci yang sudah penuh dengan busa sabun.


"Kenapa mas? mas Dimas cari apa?" tanya si ART.


"Barang saya ketinggalan di saku mbak, itu penting banget mbak!"


"Ini maksud mas Dimas?" tanya si ART sambil menunjukkan sebuah flashdisk di tangannya.


"Iya mbak, ini yang saya cari, kenapa nggak bilang dari tadi mbak?"


"Tadi saya mau bilang tapi mas Dimas keburu lari," jawab si ART.

__ADS_1


"Hehehe..... maaf ya mbak, makasih juga, jangan lupa minta bonus sama mama ya mbak!" ucap Dimas lalu berlari keluar.


"Asiiiikkk, dapet bonus lagi," ucap si ART kegirangan.


Dimas segera keluar dari rumah tanpa sarapan bersama mama dan papanya. Ia ingin segera memeriksa isi file yang ada di flashdisk itu.


"Sarapan dulu Dimas!" teriak sang mama.


"Dimas buru buru ma, Pa, love you!" ucap Dimas lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah.


Sesampainya di home store, Dimas segera menyalakan laptopnya yang berada di meja kerjanya.


"Gantiin gue bersih bersih ya, besok sama lusa giliran gue!" ucap Dimas pada Andi.


"Kebiasaan!" balas Andi kesal.


Dimas lalu menancapkan flashdisk pemberian Yoga ke laptopnya. Ia lalu membuka file yang ada di sana. Selama beberapa menit ia masih tidak menemukan apapun. Namun ia tak menyerah, ia masih membaca dengan teliti isi file itu.


1 jam berlalu, Dimas akhirnya menemukan apa yang ia cari.


"Yes, ketemu!" pekik Dimas bersemangat.


"Apaan sih Dim, bikin kaget aja!"


"Ndi, nanti siang gue mau ke rumahnya Andini, mungkin sampe sore, lo bisa handle home store sendiri kan?"


"Tenang aja, serahin sama gue!"


**


Jam makan siang tiba.


Dimas segera meninggalkan home store dan pergi ke rumah Dini. Ia sudah menyiapkan data data yang sudah lama ia cari.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas kembali meneguk minumannya sampai habis tak bersisa, ia begitu gugup.


Toooookk Toookkk Toooookk


Beberapa kali Dimas mengetuk pintu, namun tak ada yang membukanya.


"apa nggak ada orang?" tanya Dimas dalam hati.


Setelah 2 jam menunggu, seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya ibu Dini pada Dimas.


"Dimas ke sini mau jelasin semuanya sama tante, semua kesalahpahaman yang....."


"Nggak ada yang salah paham, kamu udah janji buat nggak akan temui Dini lagi kan?"


"Iya, tapi Dimas ke sini mau ketemu tante, kasih Dimas waktu sebelum Andini pulang tante!"


"Masuk!"


Dimas lalu mengambil laptopnya dari dalam tas, menyalakannya dan menancapkan sebuah flashdisk di sana.


"Tante Dimas ke sini mau jelasin semuanya, tentang suami tante, om Aris Arianto."


"Maksud kamu?"


"Ada beberapa poin yang harus tante tau, satu, om Aris Arianto belum merubah statusnya di perusahaan sampai beliau menikah sama anaknya teman papa, itu artinya di data perusahaan, om Aris belum menikah sebelum beliau dipindah tugaskan ke luar pulau."


"Kenapa saya harus percaya sama kamu?"


"Ini buktinya tante, silakan tante lihat data ini, di tahun dan bulan ini status om Aris belum menikah, yang kedua, manajer perusahaan cabang yang ada di luar pulau menjanjikan kenaikan jabatan pada om Aris kalau om Aris mau menikahi anaknya dan om Aris menerima itu!"


"Mereka bilang papa kamu yang menikahkan mereka!"


"Tante benar, itu karena manajer perusahaan cabang meninggal dan meminta papa buat mewakilinya sebagai wali pernikahan anaknya."


"Dari semua pegawai papa kamu, kenapa harus suami saya Dimas, kenapa?"


"Selain karena hasil kerja om Aris yang dinilai baik, cuma om Aris yang mau menerima penawaran itu tante, sebelumnya Dimas minta maaf, pegawai lain menolak tawaran itu karena mereka tau kalau anak manajer itu bukan perempuan baik baik, tapi om Aris tidak mempedulikan itu."


"Jadi apa menurut kamu papa kamu nggak bersalah?"


"Kalau papa tau om Aris sudah menikah, papa nggak mungkin menikahkan mereka tante, data di perusahaan setiap bulan selalu update dan data itu tidak menunjukkan kalau om aris sudah menikah dan satu lagi, tidak ada pemaksaan dalam penawaran itu tante."


Ibu Dini terdiam beberapa saat. Ia tidak bisa mempercayai ucapan Dimas begitu saja.


"Data ini nggak bisa dimanipulasi tante, Dimas nunjukin semua ini biar tante tau kalau papa nggak bersalah," ucap Dimas.


"Hentikan omong kosong kamu Dimas, saya tidak bisa mempercayai semua yang kamu ucapkan!"


"Tante ingat kejadian 20 tahun lalu di tol X? apa Andini tau tentang kejadian itu? atau kejadian itu yang selalu jadi mimpi buruk Andini selama ini?"


"Mmmm.... ma..... maksud kamu apa, jangan mengarang cerita Dimas!"


"Ada rekaman video dari dashboard truk yang merekam dengan jelas kejadian itu tante, tante beruntung karena perusahaan masih mau bertanggung jawab atas kasus itu."


"Kamu mengancam saya?"


"Tidak, Dimas cuma mau ingetin tante, jika bukan karena perusahaan yang memberikan uang tebusan waktu itu, mungkin tante masih di penjara sekarang, tante tau itu bukan kasus kecelakaan kan? itu kasus pembunuhan!"


"Saya... saya tidak membunuhnya, saya.... saya cuma....."


"Dimas tau, tante pasti emosi karena melihat suami tante yang sudah lama meninggalkan tante, jadi tanpa sadar tante dorong om Aris sampai beliau tertabrak truk dan meninggal seketika."


Ibu Dini terdiam. Badannya bergetar mengingat kejadian pahit itu.

__ADS_1


Dimaspun mendekati ibu Dini dan duduk di sampingnya.


"Dini mungkin lupa sama kejadian itu, tapi dia sering mimpi tentang hal itu tante."


"Apa mau kamu Dimas? kenapa kamu ngelakuin semua ini?"


"Dimas cuma mau buktiin kalau papa nggak salah tante, Dimas sangat mengenal papa, Dimas yakin ada kesalahpahaman yang harus diluruskan di sini dan Dimas ngelakuin semua ini juga demi Andini, demi hubungan kita," jelas Dimas.


Butir air mata mulai berjatuhan dari kedua sudut mata ibu Dini. Luka lamanya kembali terkoyak karena penjelasan Dimas.


"Dimas minta maaf tante, Dimas sayang dan cinta sama Andini, Dimas akan ngelakuin apa aja buat dia, Dimas nggak akan berhenti berjuang buat Andini!"


"Apa papa kamu sudah tau tentang hal ini?"


Dimas menggeleng.


"Papa sama mama nggak tau tentang masalah ini tante."


"Tentang masa lalu tante, apa papa kamu....."


"Enggak tante, masalah itu sengaja di tutup dari papa dan media, demi menjaga nama baik perusahaan."


"Andai waktu bisa terulang lagi, andai waktu itu tante nggak ketemu dia lagi," ucap ibu Dini dengan air mata berlinang.


Dimas mendekat dan menggenggam tangan ibu Dini.


"Semuanya udah terjadi tante, Dimas harap tante bisa melangkah ke depan tanpa ada bayang bayang masa lalu yang menyiksa tante."


"Kenapa kamu melakukan hal sejauh ini Dimas? kamu tau tante bukan ibu yang baik, kamu tau kejahatan apa yang udah tante lakuin, kenapa kamu....."


"Tante, Dimas juga punya masa lalu yang buruk, Dimas nggak pernah menilai tante buruk karena masa lalu tante, Dimas melakukan ini cuma demi Andini tante."


"Maafin tante Dimas, maafin tante," ucap ibu Dini di tengah isak tangisnya.


Mendengar penjelasan Dimas membuat hatinya merasakan kembali sakit yang sudah lama ia kubur. Sakit karena sebuah pengkhianatan membuatnya tanpa sadar membenci dan menyalahkan orang lain atas apa yang sudah terjadi.


Ia menyesali banyak hal. Menyesal karena meluapkan emosinya tanpa batas, menyesal karena menyimpan dendam pada orang yang salah dan menyesal karena memisahkan anak satu satunya dengan laki laki yang dicintainya.


"Tante nggak perlu minta maaf, Dimas kesini bukan buat salahin tante atas semua ini, Dimas mau minta restu tante buat kembali sama Andini, Dimas janji akan selalu berusaha membahagiakan Andini, bahkan di luar batas kesanggupan Dimas tante."


Ibu Dini mengangguk lalu memeluk Dimas.


"Jaga Dini baik baik ya, jangan pernah sakiti dia!"


"Pasti tante," jawab Dimas penuh keyakinan.


Ibu Dini lalu melepaskan Dimas dari pelukannya.


"Kamu mau makan malam di sini nanti?"


"Dengan senang hati tante," jawab Dimas bersemangat.


Dimas lalu meninggalkan rumah Dini setelah ia menyelesaikan semua masalahnya dengan ibu Dini.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Adit melajukan mobilnya ke arah home store untuk menemui Andi.


Sesampainya di sana, ia di sambut layaknya customer oleh Andi.


"Sekali lagi, saya ke sini mau ajak kamu bertemu mama, mama sekarang....."


"Maaf, kalau bukan masalah desain, silakan pergi, saya mau tutup," ucap Andi.


"Oke, silakan!"


Adit pun kembali ke mobilnya ketika Andi mulai menutup rolling door nya.


Sampai 2 jam Adit menunggu, Andi belum juga keluar. Adit pun memanggil Andi beberapa kali namun tak ada jawaban.


Karena sudah sangat kesal, Adit pun menggebrak rolling door itu membuat Andi segera keluar.


"Lo gila?"


"Gue udah ngomong baik baik dan lo sama sekali nggak peduli, gue nggak punya cara lain selain ini!" ucap Adit yang mulai kehilangan kesabarannya.


"Lo mau apa? minta gue temuin tante Siska? buat apa? gue bukan siapa siapa, dia juga bukan siapa siapa buat gue, jadi stop cari gue buat hal ini!"


Tanpa pikir panjang Adit melayangkan tinjunya ke arah Andi, membuat Andi terjatuh dengan luka di sudut bibirnya.


Andipun segera bangun dan hendak membalas Adit, namun ketika ia mencengkeram kerah kemeja Adit, Andi merasa emosinya menghilang begitu saja.


Mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Adit menahan tangan Andi yang mencengkeram kerah kemejanya. Seketika, dadanya terasa begitu sesak dan nyeri.


"Lo kenapa?" tanya Andi yang tiba tiba khawatir melihat Adit yang tampak kesakitan dengan memegangi dadanya.


Adit hanya diam dengan menahan sesuatu yang menusuk di dadanya.


"Dit, lo kenapa?" tanya Andi dengan menggoyangkan tubuh Adit.


Andi baru menyadari jika kedua tangannya begitu basah oleh keringat dingin. Entah kenapa ia begitu khawatir melihat keadaan Adit saat itu.


BRUUKK


Adit kehilangan kesadarannya dengan tiba tiba, membuat Andi semakin khawatir dan takut.


"Adit bangun Dit," ucap Andi dengan menepuk pipi Adit beberapa kali.


Tak terasa air matanya menetes begitu saja dari kedua sudut matanya.

__ADS_1


"kenapa gue nangis sih!


"Adit, lo jangan main main Dit, Adit bangun!" ucap Andi dengan masih berusaha membangunkan Adit.


__ADS_2