Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Biarkan Aku Egois! (2)


__ADS_3

Sebelum Dimas meninggalkan rumah Dini.


Dimas dan Dini duduk berdua di ruang tamu, Dimas menggenggam tangan Dini saat Dini bersandar di bahunya.


Dalam hatinya ia sangat bersyukur karena Dini sangat mengerti kesibukannya. Meski begitu ia tidak akan terlena dengan kesibukan pekerjaannya, bagaimanapun juga Dini adalah prioritas utamanya terlebih saat Dini sudah sah menjadi istrinya.


Baginya dunianya adalah milik Dini dan apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan wanita yang dicintainya itu.


"Persiapan udah 90% sayang sisanya biar mama yang yang atur semuanya, kamu udah banyak luangin waktu kamu buat siapin semuanya, sekarang waktunya kamu buat istirahat dan jaga kesehatan kamu!" ucap Dimas pada dini.


"Tapi aku masih belum dapat gaunnya Dimas dan meminta dalam waktu seminggu gaun itu udah harus siap," ucap dini..


"It's okay sayang, kalau kamu belum dapatin gaun yang kamu mau mama akan bantuin kamu buat cari gaun sesuai dengan yang kamu inginkan," balas Dimas.


Dini hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat mendengar ucapan Dimas.


"Aku ke kamar mandi sebentar ya!" ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.


Dini lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi, sedangkan Dimas mengambil ponsel dari saku kemejanya dan baru menyadari jika ponselnya kehabisan daya baterai.


Dimas pun menghampiri Dini ke kamar mandi untuk meminjam charger.


"Sayang aku bisa pinjam charger kamu?" tanya Dimas dari depan pintu kamar mandi.


"Ada di kamar, kamu ambil aja," jawab Dini yang masih berada di dalam kamar mandi.


Dimas lalu masuk ke kamar Dini untuk mengambil charger. Saat ia mengambil charger di atas meja, Dimas melihat sebuah amplop biru dengan foto Andi dan Dini di atasnya.


Dimas lalu mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya.


"surat?"


Dimas lalu membuka surat itu dan membacanya.


Andini Ayunindya Zhafira, sahabat terbaik yang selalu ada di hatiku.


26 tahun aku jalani hidupku sama kamu, 26 tahun kita selalu bersama tanpa pernah terpisah dan selama 26 tahun kita menjalin hubungan yang kita sebut sahabat.


Terima kasih karena telah menganggapku sebagai sahabat terbaik kamu dan terima kasih karena telah memberikan banyak hal indah dalam persahabatan kita.


Kamu tau seperti apa kita saling menyayangi, seperti apa kita menjalani hari hari kita sebagai seorang sahabat.


Tapi kali ini, tolong izinkan aku untuk egois sekali ini saja.


Izinkan aku mengungkapkan apa yang selama ini aku rasakan dan aku pendam jauh di dalam hatiku.


Din, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu lebih dari sekedar sahabat. Aku mencintai kamu dengan seluruh hati dan perasaanku.


Aku nggak tau sejak kapan aku sadar akan hal ini, tapi yang pasti aku udah pendam perasaan ini sejak lama karena aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya.


Dan saat Dimas tiba tiba kembali dalam hidup kamu, aku semakin menyerah dengan perasaanku karena aku tau Dimas jauh lebih baik daripada aku.


Tapi seiring berjalannya waktu banyak hal yang berbeda dan banyak yang sudah berubah. Sekarang aku yakin kalau aku bisa membahagiakan kamu lebih dari yang Dimas bisa.


Maaf karena telah memiliki perasaan yang egois ini, tapi aku udah nggak sanggup buat menyimpannya lebih lama lagi.


Aku ingin kamu tau dan mengerti kalau aku mencintai kamu Din, aku cinta sama kamu sejak lama bahkan sebelum Dimas kembali dalam hidup kamu dan selama itu perasaan ini terus ada dan tumbuh dalam hatiku tanpa bisa aku kendalikan.


Aku selalu tahan perasaan ini meski aku tau kalau aku akan semakin terluka nantinya. Tapi sekarang aku nggak bisa lagi menahannya Din, aku lelah dengan semua luka dan perih yang selama ini hidup berdampingan dengan rasa cinta di hatiku buat kamu.


Maaf karena kamu harus mengetahui hal ini dengan tiba tiba dan maaf kalau apa yang aku ungkapkan ini adalah sebuah keegoisan yang nggak bisa lagi aku pendam.


Tapi satu yang harus kamu tau, aku selalu mengharapkan kebahagiaan kamu lebih dari diriku sendiri.


Kamu adalah kebahagiaan bagiku Din, senyum kamu adalah satu satunya penyembuh luka dalam hatiku.


Apapun keputusan kamu, aku hanya berharap kebahagiaan selalu berpihak sama kamu.


I love you Din, more than words


Andi, sahabat yang mencintai kamu


Seketika Dimas meradang setelah membaca surat itu. Ia tak percaya jika Andi akan melakukan hal itu, terlebih tinggal beberapa hari lagi pernikahannya dengan Dini akan dilaksanakan.


Dimas lalu membawa surat itu dan menggantinya dengan kartu nama yang ia dapatkan dari toko bunga kemudian memasukkannya ke dalam amplop biru itu.


Dimas kemudian keluar dari kamar Dini dengan membawa charger yang akan ia gunakan untuk mengisi daya ponselnya di ruang tamu.


Tak lama kemudian Dini keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dimas yang sedang memperhatikan ikan pemberian Andi di akuarium.

__ADS_1


"Ini ikan dari Andi kan?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya, kasihan dia selalu sendirian," jawab Dini.


"Dia memang pantas sendirian," ucap Dimas dengan menatap tajam kearah ikan kecil di hadapannya.


"Iya, karena dia emang gak bisa berteman dengan ikan lain bahkan yang sejenis sekalipun, itu kenapa selama ini aku cuma punya satu," balas Dini.


Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini, memegang kedua bahu Dini dan menatapnya dengan dalam.


"Andini, apapun yang terjadi aku nggak akan berhenti berjuang untuk masa depan kita, untuk impian dan harapan yang sudah lama kita impikan," ucap Dimas dengan serius.


Dini hanya diam menatap Dimas yang tiba-tiba berbicara serius padanya.


"Kamu tau aku cinta sama kamu lebih dari diriku sendiri, kamu tau kamu adalah impian terbesarku Andini dan aku nggak mau kehilangan kamu," ucap Dimas dengan memeluk Dini.


"Iya aku tahu dan aku percaya sama kamu," balas Dini dengan membalas pelukan Dimas.


Dimas masih memeluk Dini dengan erat seolah tidak akan melepaskan Dini sedetikpun. Perjalanan dan perjuangan yang sudah dilakukannya selama ini tidaklah mudah dan ia tidak akan melepaskan Dini entah apapun yang terjadi di hadapannya nanti.


"Kamu harus pulang Dimas udah malam," ucap Dini dengan melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Kamu juga harus istirahat sayang dan jaga kesehatan kamu!"


"Iya kamu juga," balas Dini.


Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya sebelum ia meninggalkan rumah Dini.


Dimas lalu mengendarai mobilnya ke arah home store untuk mencari Andi namun sesampainya disana ia tidak menemukan Andi.


Dimas pun menancap gas ke arah rumah Andi ia tidak peduli apapun lagi ia hanya ingin memberi pelajaran pada Andi agar Andi tidak mengganggu hubungannya dengan Dini.


Sesampainya di rumah Andi, Dimas segera turun dari mobilnya dan dan mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu dibuka oleh salah satu asisten rumah tangga di sana.


"Andi ada?" tanya Dimas.


"Iya ada, sebentar saya panggilkan dulu," jawab asisten rumah tangga lalu kembali masuk dan memanggil Andi.


Tak lama kemudian terlihat Andi turun dari tangga. Dimas yang sudah kehilangan kesabarannya segera berjalan menghampiri Andi dengan emosi yang sudah memuncak.


Tanpa ragu Dimas melayangkan tinjunya pada Andi dan membuat Anda jatuh tersungkur ke lantai.


"Lo emang brengsek Ndi!" ucap Dimas lalu kembali melayangkan pukulannya pada Andi membuat darah keluar dari sudut bibir Andi.


Dimas lalu menarik kerah leher Andi dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


Saat Dimas hendak melayangkan pukulannya lagi Adit datang dan menahan tangan Dimas.


"Apa apaan kalian ini?" tanya Adit dengan menarik tangan Dimas kuat kuat, membuat Dimas ikut terjauh ke lantai.


Dimas lalu berdiri dan mengambil surat dari saku kemejanya lalu melemparkannya pada Andi.


"Lo pikir lo bisa gagalin pernikahan gue dengan surat ini?"


Seketika Andi terdiam saat Dimas melemparkan surat miliknya ke arahnya. Adit yang berada di sana lalu mengambil surat itu dan membukanya.


Hanya beberapa baris yang Adit baca, namun Adit sudah paham jika itu adalah surat yang berisi ungkapan perasaan Andi pada Dini.


"Kita bicarain baik baik Dim, gue....."


"Lo nggak usah ikut campur, ini masalah gue sama Andi!" ucap Dimas pada Adit.


"Oke, gue nggak akan ikut campur, tapi kalau sampai terjadi sesuatu diantara kalian berdua, gue sendiri yang akan penjarain kalian berdua!" balas Adit tegas lalu melangkah meninggalkan Andi dan Dimas setelah mengembalikan surat itu pada Dimas.


"Gue nggak peduli siapa yang akan masuk penjara, tapi yang pasti gue nggak akan biarin lo rebut Andini dari gue!" ucap Dimas dengan menunjuk tepat di depan wajah Andi yang sudah penuh dengan memar.


Andi hanya diam. Ia tidak bisa menyalahkan kemarahan Dimas atas sikapnya pada Dini, terlebih pernikahan mereka memang sebentar lagi akan terjadi.


"Kenapa lo diem? lo sadar apa yang lo lakuin ini salah? lo sadar kalau lo emang cowok brengsek yang mengatasnamakan persahabatan demi kesenangan lo sendiri?"


"Gue cinta sama Dini Dim, gue cinta sama dia bahkan jauh sebelum lo dateng!"


"Kalau lo emang cinta sama dia harusnya lo ungkapin perasaan lo dari dulu, bukan sekarang setelah Dini udah mengambil keputusan besar dalam hidupnya," ucap Dimas.


"Apa sekarang lo takut kalau Dini akan ninggalin lo dan lebih pilih gue?" tanya Andi yang membuat Dimas semakin murka.


"Jaga ucapan lo Ndi, lo bukan siapa siapa buat Andini, lo cuma sahabat yang dia butuhin waktu dia kesepian, buat dia lo cuma cadangan yang bahkan nggak penting lagi buat dipertahankan," ucap Dimas dengan menarik kerah Andi dengan kuat


Andi tersenyum tipis mendengar ucapan Dimas, membuat Dimas kembali melayangkan tinjunya pada Andi.

__ADS_1


"Akhirnya lo ngelawan gue," ucap Andi pelan.


"Gue akan lawan siapapun yang berusaha rebut Andini dari gue, termasuk lo!" ucap Dimas dengan masih menarik kerah baju Andi.


"Dim, gue cinta sama Dini lebih dari cinta lo buat dia, gue yakin cinta gue jauh lebih besar daripada lo!" ucap Andi dengan sisa kesadarannya yang semakin menipis.


"Terus aja simpan cinta itu, karena Andini nggak akan pernah pergi dari gue!" ucap Dimas lalu melepaskan kerah Andi dengan kasar, membuat kepala Andi terbentur di lantai.


Dimas lalu berdiri dan meninggalkan Andi begitu saja. Para asisten rumah tangga yang melihat kejadian itu hanya diam tanpa berani melakukan apapun.


Setelah kepergian Dimas, mereka baru menghampiri Andi dan membantu Andi untuk berdiri, begitu juga Adit yang sedari tadi memperhatikan Dimas dan Andi dari atas.


"Suruh pak satpam siapin mobil bi, cepet!" ucap Adit pada salah satu asisten rumah tangganya.


Adit lalu membawa Andi masuk ke dalam mobil dan segera pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Andi segera mendapatkan penanganan dari Dokter.


"Kenapa lo nggak biarin gue mati aja!" ucap Andi saat ia sudah berada di ruang rawat bersama Adit.


"Jangan berpikiran sempit Ndi, hidup lo nggak cuma tentang Dini, ada gue, mama, ibu dan ayah lo yang sayang sama lo!" ucap Adit.


"Hidup gue udah berakhir sekarang," ucap Andi dengan memejamkan matanya, merasakan sakit dalam setiap hembusan nafasnya.


"Enggak, jalan hidup lo masih panjang, lo harus selesaiin cerita hidup lo dengan happy ending!"


"Tapi nggak semua cerita berkahir happy ending kan!"


"Gue percaya cerita lo akan berkahir dengan happy ending," ucap Adit.


Andi tersenyum tipis dan menepuk nepuk pelan tangan Adit.


"Thanks udah kasih gue waktu buat nebus kesalahan gue sama Dimas," ucap Andi.


"Gue akan coba ngomong sama Dimas, gue....."


"Jangan, dia udah benci sama gue dan gue nggak mau kalau dia juga benci sama lo, ini masalah gue, gue akan selesaiin sendiri masalah yang udah gue buat," ucap Andi.


Adit menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Adik yang sudah lama ia cari kini sudah ada di hadapannya dan tumbuh dewasa dengan baik.


"Lo nggak bilang mama tentang kejadian ini kan?" tanya Andi pada Adit.


"Enggak, gue juga udah bilang orang rumah buat nggak kasih tau mama," jawab Adit.


"CCTV gimana? lo tau mama pasang CCTV di rumah kan?"


"Udah lama gue cabut dan mama nggak tau hehe...."


"Dasar, anak durhaka!"


"Jadi setelah ini apa yang akan lo lakuin?" tanya Adit.


"Gue nggak tau," jawab Andi dengan raut wajah sedih.


**


Di tempat lain, Dini yang menyadari adanya amplop biru dengan foto dirinya dan Andi segera mengambilnya dan membuka isinya.


"Kartu nama? ini bukannya toko bunga yang aku datangi sama Dimas tadi? kenapa dia ngasih ini buat aku?"


Dini lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Andi. Sampai beberapa kali ia coba menghubungi Andi, tak pernah ada jawaban.


"Andi kemana? apa masih sibuk di home store?"


Dini lalu keluar dari kamarnya dan menghampiri sang ibu yang berada di kamar.


"Ibu udah tidur?" tanya Dini.


"Belum," jawab sang ibu dari dalam kamar.


Dinipun membuka kamar sang ibu lalu masuk.


"Andi tadi kesini Bu?" tanya Dini pada ibunya.


"Iya, dia bilang mau pinjem buku kamu, jadi ibu suruh masuk aja ke kamar karena kamu belum pulang," jawab ibu Dini menjelaskan.


"Pinjem buku? tapi buku Dini nggak ada yang berkurang!"


"Mungkin cuma alasan aja karena lagi kangen sama kamu hehe...."

__ADS_1


"Ibu ada ada aja, ya udah Dini balik dulu!" ucap Dini lalu keluar dari kamar sang ibu dan kembali masuk ke kamarnya.


__ADS_2