
Dini mengikuti Adit berjalan ke arah taksi yang sudah menunggu mereka. Beberapa saat sebelum Dini masuk, seseorang menjambak rambutnya dengan kuat dari belakang.
"Who are you, *****? berani beraninya godain cowok orang!"
Dini tak menjawab sepatahkatapun, ia menahan rambutnya agar tidak semakin ditarik oleh seseorang di belakangnya.
Adit yang melihat hal itu segera keluar dari taksi dan menarik tangan Jenny.
"What are you doing Jen? lepas!"
"Siapa lagi dia Dit? kamu tau kan aku baru sampai, kenapa kamu nggak jemput aku di bandara? kenapa kamu malah sama cewek ini di rumah sakit?"
"Kamu pulang dulu Din," ucap Adit sambil membukakan pintu taksi untuk Dini.
Dini yang masih syok mengikuti perintah Adit begitu saja. Taksi lalu membawa Dini pergi, meninggalkan Adit dan Jenny di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Dini segera menghubungi Andi, ia lupa memberi tahu Andi jika ia sudah meninggalkan kantor bersama Adit.
"Halo Ndi, kamu dimana? aku udah di rumah sekarang!"
"Aku di halte depan kantor kamu, aku pikir kamu masih meeting!"
"Maaf Ndi, aku lupa ngabarin kamu, aku udah di rumah sekarang!"
"Ya udah nggak papa, aku pulang dulu kalau gitu."
"Hati hati Ndi."
**
Flashback sebelum Andi meninggalkan home store.
"Lo jemput Dini Dim?" tanya Andi pada Dimas.
"Enggak, dia masih marah sama gue, lo aja yang jemput!"
"Oke, gue cabut dulu kalau gitu!"
"Bentar Ndi, lo bawa ini, ajak Andini ke sini nanti malem!" ucap Dimas sambil memberikan sebuah kartu pada Andi.
"Apa ini?"
"Ini kartu VIP restoran X, ajak Andini kesana, gue udah reservasi atas nama lo di sana, lo tinggal tunjukin kartu ini ke pegawai di sana dan jangan bilang Andini kalau kartu ini dari gue!"
"Kenapa nggak lo aja yang ngajak Dini kesana?"
"Ada sesuatu yang harus gue lakuin Ndi, please bantuin gue buat ajak Dini keluar dari rumahnya nanti malem."
"Lo mau ketemu ibunya?"
Dimas mengangguk pasti.
"Lo yakin?"
"Yakin Ndi, gue pasti hati hati, gue nggak akan maksa ibunya Andini, please percaya sama gue!"
"Gue bisa ngajak Dini keluar tanpa kartu ini Dim!"
"Tapi gue udah reservasi atas nama lo Ndi!"
"Oke, ntar gue kabarin lagi!"
"Thanks Ndi."
**
Malam telah tiba. Dini sedang duduk di depan rumahnya dengan memegangi ponsel di tangannya.
Sudah berpuluh puluh panggilan dari Dimas yang ia abaikan, berpuluh puluh pesan yang tidak ia baca. Dan sekarang ia merasa merindukan laki laki itu.
Dari kejauhan tampak Andi sedang berjalan ke arahnya dengan pakaian rapi.
"Kamu mau kemana Ndi? rapi banget, wangi lagi!" tanya Dini.
"Ikut aku Din!"
"Kemana?"
Andi tak menjawab, ia hanya menunjukkan kartu VIP yang ia bawa pada Dini.
"Apa ini?"
"Ini kartu VIP di restoran X, malem ini kita dinner di restoran mewah Din kayak orang orang kaya hehe..."
"Nggak ah, pasti mahal!"
"Enggak, Free, kita tinggal dateng aja!"
"Serius? kamu dapet dari mana kartu itu Ndi?"
"Dari klien yang baik, udah jangan banyak tanya, buruan ganti baju!"
"Oke, tungguin!"
Dini segera berlari ke dalam kamarnya, berganti pakaian dan memoles make up yang tampak flawless di wajahnya.
"Siap, ayo berangkat." ucap Dini pada Andi.
__ADS_1
Sesaat Andi tak berkedip melihat gadis cantik di hadapannya.
"Kalian mau keluar ya?" tanya ibu Dini yang tiba tiba datang membuyarkan lamunan Andi.
"Iya bu, kita berangkat dulu ya!" jawab Dini lalu segera menarik tangan Andi.
"Aku pesen taksi dulu Din!" ucap Andi lalu segera memesan taksi.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dini dan Andi sudah tiba di restoran mewah yang sudah Dimas siapkan untuk mereka.
Ketika memasuki restoran itu, Andi melihat seorang laki laki yang tampak tidak asing di matanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai restoran.
"Saya sudah reservasi atas nama Andi," ucap Andi sambil menunjukkan kartu VIP nya.
"Baik, mari saya tunjukkan tempatnya."
Dini dan Andi mengikuti langkah pegawai itu. Namun entah kenapa pandangan Andi masih belum teralihkan dari laki laki yang sedang menikmati makan malamnya bersama seorang gadis bule.
"Kamu liatin apa sih?" tanya Dini pada Andi.
"Aku kayak kenal cowok itu, tapi aku lupa," ucap Andi tanpa mengalihkan pandangannya.
Dinipun mengikuti arah pandangan mata Andi dan melihat seorang laki laki yang sangat dikenalnya.
"Pak Adit, itu kan Pak Adit!" ucap Dini.
"Pak Adit? atasan kamu?"
"Iya, yang sama bule itu kan?"
Andi menganggukkan kepalanya.
"Pantesan kayak pernah liat," ucap Andi.
"Kan kamu pernah liat waktu hari pertamaku kerja!"
"Iya, aku lupa."
**
Di tempat lain, setelah mendapat kabar jika Andi sudah berada di restoran bersama Dini, Dimas pun segera pergi ke rumah Dini.
Ia mengetuk pintu rumah Dini beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.
"Malem tante, Dimas....."
"Dini nggak ada, dia keluar sama Andi!" ucap ibu Dini lalu kembali menutup pintu, namun Dimas menahannya.
"Dimas kesini bukan buat ketemu Andini kok, Dimas mau ketemu tante," ucap Dimas dengan masih berusaha menahan pintu agar tidak tertutup.
"Dimas mohon kasih penjelasan kenapa tante kayak gini sama Dimas, Dimas janji akan ninggalin Andini kalau tante mau kasih tau alasan yang sebenernya!"
"Kamu janji?"
"Dimas janji," ucap Dimas bersungguh sungguh.
Bagaimanapun juga ia ingin semuanya menjadi jelas. Jika ia sudah mengetahui permasalahan yang sebenarnya maka ia akan berusaha mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu agar ia bisa kembali bersama Dini.
Ia sudah memikirkan hal itu dengan matang. Apapun risikonya akan ia terima.
"Adhitama, papa kamu itu penghancur rumah tangga saya Dimas, gimana mungkin saya biarin Dini hidup bersama anak dari penghancur rumah tangga saya!"
"Maksud tante? Dimas nggak ngerti."
Ibu Dini pun menjelaskan semua yang dialaminya di masa lalu pada Dimas.
Flashback sebelum Dini dilahirkan.
Ranti dan Aris Arianto adalah pasangan pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan mereka di sebuah kota kecil. Satu bulan setelah pernikahan mereka, Aris mengajak Ranti untuk tinggal di ibu kota agar Aris lebih dekat dengan tempat kerjanya yang tak lain adalah perusahaan besar milik Adhitama.
Hari hari mereka begitu bahagia meski hanya tinggal berdua di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali.
Hingga bulan ketiga setelah pernikahan mereka, Aris berpamitan pada Ranti untuk pergi ke luar pulau.
"Kenapa harus ke luar pulau mas?" tanya Ranti dengan terisak karena tidak ingin berpisah dengan suaminya.
"Ini perintah pak Tama dek, mas harus ikutin semua perintah Pak Tama biar mas bisa naik jabatan dalam waktu dekat dan mas bisa beli rumah yang besar buat kamu," jawab Aris.
"Tapi aku nggak mau jauh sama mas, nggak mau," rengek Ranti.
"Mas akan sering hubungin kamu, setiap bulannya mas akan kasih kamu jatah bulanan yang jauh lebih banyak dek, tolong izinin mas dek, ini demi karir mas."
Pada akhirnya Ranti mengizinkan suaminya untuk bekerja di luar negri meski dengan berat hati.
Satu bulan berlalu, hubungan Ranti dan suaminya masih tampak normal. Jatah bulanan yang dijanjikan Aris juga terpenuhi.
Hingga suatu hari, Ranti merasa tidak enak badan, ia sering mual setiap pagi. Setelah pergi ke klinik, Dokter menjelaskan jika ia sedang hamil. Usia kandungannya sudah 40 hari, namun ia baru merasakan kehadiran sang buah hati di dalam rahimnya.
Berita bahagia itu juga membuat Aris bahagia. Sampai usia kandungan Ranti menginjak 6 bulan, keanehan mulai terjadi pada sang suami.
Aris sudah jarang menghubunginya dan sering sibuk jika Ranti yang lebih dulu menghubunginya.
"Aku lagi sibuk, kalau aku ada waktu kan pasti aku hubungin kamu!" ucap Aris ketika Ranti menghubunginya setelah satu minggu Aris tidak ada kabar sama sekali.
"Tapi udah satu minggu kamu....."
__ADS_1
"Pak Tama percayain aku buat handle anak perusahaan di sini, jadi aku sibuk, jangan ganggu aku lagi!"
Klik. Sambungan terputus.
Bulan berlalu, Aris bahkan belum memberikan jatah bulanannya pada Ranti. Berkali kali Ranti menghubungi Aris namun selalu sia sia.
Hingga usia kandungannya menginjak 9 bulan, Aris benar benar menghilang darinya. Ia sudah tidak mengetahui dimana keberadaan sang suami.
Hari yang ditunggu tiba, bayi mungil yang cantik sudah lahir ke dunia yang begitu kejam bagi Ranti. Meski begitu ia tidak akan membiarkan anaknya merasakan kekejaman dunia seperti yang sudah ia rasakan.
Ranti memilih pindah ke kota kecil bersama bayi mungilnya yang ia beri nama Andini Ayunindya Zhafira. Ia memulai kehidupan barunya di sana sebagai seorang single parent.
Suatu hari, Ranti sudah membulatkan tekadnya untuk mencari Aris ke perusahaan tempat ia bekerja. Ia pergi kesana bersama bayi mungil dalam gendongannya.
Sesampainya di sana, ia segera menuju ke tempat resepsionis untuk menanyakan keberadaan sang suami.
"Pak Aris sedang ada meeting di luar bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong sampaikan padanya kalau istrinya datang bersama anaknya," jawab ibu Dini.
"Istri? maksud ibu?"
"Saya istrinya Aris mbak dan ini anaknya!"
"Maaf bu, mungkin ibu salah orang, Pak Aris Arianto yang bekerja di sini sudah menikah dengan anak dari manajer di cabang perusahaan yang berada di luar pulau, Pak Tama sendiri yang mengenalkan dan menikahkan mereka ketika Pak Aris ditugaskan ke luar pulau," jelas sang resepsionis.
"Pak Tama? siapa dia?"
"Beliau adalah CEO sekaligus owner perusahaan ini bu, jadi mungkin ibu salah orang."
"Nggak mungkin mbak, saya istrinya Aris, kita sudah menikah lebih dari satu tahun!"
Pada akhirnya, Ranti mengetahui bahwa semua itu adalah fakta pahit yang harus ia terima. Sejak saat itu ia begitu membenci Tama, laki laki yang dianggapnya sudah merusak rumah tangganya.
"kalau kamu nggak kerja sama Tama, kamu nggak akan ninggalin aku kan mas, kalau Tama nggak kenalin kamu sama perempuan lain, kamu nggak akan menikah lagi kan mas, kalau bukan karena perintah Tama kamu nggak akan ngelakuin semua itu kan mas? semua ini karena kamu selalu nurut apa kata Tama, iya kan mas?"
Sepahit apapun hidup, Ranti hanya bisa menerima nya. Demi sang buah hati tercinta, ia akan tetap tegar menjalani kehidupannya.
Flashback off
"Sekarang kamu tau kan siapa penyebab semua ini terjadi?" tanya ibu Dini setelah ia mengakhiri cerita masa lalunya dengan air mata yang tertahan.
Dimas hanya diam. Sulit baginya untuk menerima kenyataan pahit yang dialami ibu Dini karena ulah papanya.
Ia tidak habis pikir apa yang membuat sang papa melakukan hal itu.
"Apa semua yang Dimas denger ini bener tante?"
"Nggak ada untungnya saya bohong sama kamu Dimas, saya tau kalian saling mencintai, saya nggak akan minta Dini ninggalin kamu kalau bukan karena masa lalu papa kamu yang menyakitkan buat saya!"
"Dimas minta maaf tante," ucap Dimas yang merasa bersalah karena sikap papanya di masa lalu.
"Saya harap kamu mengerti apa yang saya rasakan Dimas, saya tau kamu baik, saya yakin akan ada seseorang yang lebih pantas buat kamu daripada Dini, jadi tinggalkan Dini, jangan pernah temui dia lagi."
"Dimas cuma cinta sama Andini tante, Dimas udah berjuang lama buat bisa sama Andini, Dimas......"
"Kamu udah janji Dimas!"
Dimas menghela napasnya panjang. Ia harus membayar mahal atas cerita masa lalu yang baru saja ia dengar.
"Kamu pergi sebelum Dini pulang, saya nggak mau dia liat kamu di sini!"
Dimas mengangguk, ia lalu berpamitan pulang pada ibu Dini.
"Saya harap kamu nggak cerita sama Dini tentang apa yang sudah saya ceritakan sama kamu, biar masa lalu pahit ini cuma saya yang rasakan!" ucap ibu Dini sebelum Dimas pergi.
Dimas kembali menganggukkan kepalanya lalu keluar dari rumah Dini.
Saat Dimas baru saja masuk ke dalam mobilnya, seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya.
"Dimas!"
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dimas.
"Aku dari rumah Andi, tapi Andi nggak ada, anterin aku pulang ya!" jawab Anita sambil membuka pintu mobil Dimas dan langsung duduk di samping Dimas begitu saja.
Dimas tak memberikan respon apapun. Ia lalu meninggalkan rumah Dini bersama Anita.
"Kamu juga nyari Dini? nggak ada ya? apa mereka jalan bareng?" tanya Anita yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Dimas.
"Sebagai sahabat, Dini sama Andi emang deket banget ya, banyak yang ngira mereka pacaran karena mereka deket banget," ucap Anita.
Dimas hanya diam, ia sama sekali tidak menghiraukan Anita yang duduk disampingnya. Sampai tiba tiba Anita menggenggam tangan Dimas, membuat Dimas begitu terkejut dan segera menarik tangannya.
"Jaga sikap kamu Anita!" ucap Dimas kesal.
"Aku cuma mau kita deket lagi kayak dulu, dulu kamu baik banget sama aku, dulu kamu perhatian sama aku, dulu kamu......"
"Itu dulu sebelum aku tau kebusukan kamu!"
"Aku cuma mau mengulang semuanya dari awal Dimas, mengulang semuanya dengan lebih baik, apa aku salah?"
Dimas tak menjawab. Pikirannya hanya dipenuhi dengan semua cerita masa lalu yang baru saja ia dengar.
Melihat Dimas yang tak pernah menoleh ke arahnya, Anita mengambil ponsel dari tasnya dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil foto dirinya bersama Dimas.
Anita lalu mengunggahnya ke media sosialnya dengan caption.
__ADS_1
Memulai kembali masa lalu yang indah ❤
Dimas yang tidak menyadari hal itu hanya diam sampai mereka tiba di depan rumah Anita.