
Sore itu, sebelum Dimas menjemput Dini, ia lebih dulu mendatangi Andi di home store.
Sesampainya di sana, ia melihat sebuah mobil yang terparkir di depan home store.
Dimas lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam home store yang sedikit terbuka.
"Adit, dia kenapa Ndi?" tanya Dimas yang melihat Adit tak sadarkan diri.
"Anterin ke rumah sakit Dim, buruan!" ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
Dimas dan Andi pun membawa Adit ke dalam mobil Dimas dan mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
"Dia kenapa Ndi? kalian berantem?" tanya Dimas yang masih penasaran.
"Lo bisa nyetir nggak sih, lelet banget!" balas Andi yang lagi lagi tidak menjawab pertanyaan Dimas.
"Lo kenapa panik banget gitu? dia pingsan gara gara lo?"
"Jangan banyak tanya, cepetan ke rumah sakit!"
"ini juga lagi ke rumah sakit, bawel banget sih," batin Dimas kesal.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Adit sedangkan Andi menunggu dengan cemas di depan ruangan.
"Gue nggak bisa nemenin lo ya, gue harus jemput Andini dulu, ntar gue ajak dia kesini!"
Andi hanya mengangguk dengan mondar mandir di depan ruangan Adit.
"Nih!" ucap Dimas sambil memberikan sapu tangan pada Andi lalu pergi.
Andi menerimanya dan mengusap tangannya yang masih saja basah.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari dalam ruangan Adit.
"Gimana keadaannya Dok?" tanya Andi pada Dokter.
"Anda walinya?"
"Ii... iya... saya adiknya," jawab Andi berbohong.
"Tekanan darahnya menurun, saya sudah memberikan obat agar tekanan darahnya kembali normal, setelah dia bangun segera beri dia vitamin yang sudah disiapkan suster di mejanya."
"Baik Dok, terima kasih."
Andi lalu masuk ke dalam ruangan Adit. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Adit. Ia hanya diam dengan memandang laki laki yang terpejam di hadapannya.
Tak lama kemudian, Adit mengerjap dan mulai membuka matanya perlahan lahan.
"Gue di rumah sakit?" tanya Adit dengan berusaha untuk duduk.
Reflek Andi membantu Adit untuk duduk.
"Ada yang sakit?" tanya Andi.
"Cuma pusing, lo ngapain di sini?"
Andi memutar otaknya mencari alasan. Entah kenapa semua yang ia lakukan tadi begitu spontan tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.
"Dokter nyuruh lo minum vitamin ini!" ucap Andi sambil memberikan vitamin pada Adit, namun Adit meletakkannya lagi di meja.
"Tekanan darah lo turun, lo harus minum vitamin ini," ucap Andi sambil membuka vitamin itu dan memberikannya pada Adit beserta satu gelas air minum.
Setelah memastikan Adit meminum vitamin itu, Andi berpamitan pulang.
"Gue balik dulu," ucap Andi.
Saat Andi hendak keluar, seorang suster masuk dan mencegah Andi untuk keluar.
"Anda adiknya?" tanya suster pada Andi.
"Iya sus, kenapa?"
"Sebaiknya Anda tunggu di sini sampai keadannya benar benar membaik, tidak akan lama, besok pagi sudah boleh pulang."
"Oh, baik sus."
Andipun kembali duduk di sebelah ranjang Adit. Suster lalu keluar setelah memeriksa keadaan Adit, meninggalkan Andi dan Adit berdua di sana.
"Adik?" tanya Adit pada Andi.
"Gue terpaksa bohong, cuma ada gue di sini!"
"Oh, thanks!"
Andi hanya mengangguk. Untuk beberapa saat mereka saling diam.
**
Di tempat lain, Dimas sedang menunggu Dini di depan kantor. Karena Dini harus menghandle pekerjaan Adit bersama Jaka, ia harus pulang telat hari itu.
Tepat jam 6 sore saat langit mulai petang, Dini keluar dari kantornya.
"Dimas, kamu di sini? dari tadi?"
"Satu jam yang lalu."
"Kenapa kamu nggak hubungin aku? aku telat pulang karena banyak banget kerjaan gara gara Pak Adit nggak masuk."
"Kenapa dia nggak masuk? sakit?"
"Nggak tau, kemarin Pak Adit tiba tiba keluar kantor dan nggak balik lagi, sekarang malah nggak masuk!"
"Sebelum aku anter kamu pulang, ikut aku ke rumah sakit ya!"
"Ke rumah sakit? siapa yang sakit?"
"Ikut aja, nanti juga kamu tau!"
"Ayo ayo buruan!"
Dini dan Dimaspun pergi ke rumah sakit bersama. Sesampainya di sana, Dimas membawa Dini ke ruangan Adit.
__ADS_1
Dini dan Dimas masuk ke ruangan Adit, mereka mendapati dua laki laki yang berada di sana hanya saling diam, membuat ruangan seakan membeku karena kebisuan mereka.
"Kak Adit kenapa kak?" tanya Dini pada Adit.
"Kakak nggak papa kok, kenapa kamu ke sini?"
"Dini diajak Dimas ke sini, kakak kenapa bisa di sini, sama Andi lagi!"
"Kamu kenapa bisa sama kak Adit?" lanjut Dini bertanya pada Andi.
"Panjang ceritanya, anterin dia pulang Dim!"
"Enggak, nggak mau sebelum kamu cerita, kenapa kamu......"
Dini menghentikan ucapannya begitu ia menyadari sudut bibir Andi berdarah.
Dini lalu mengambil tissue dari dalam tasnya.
"Kenapa berdarah? kalian berantem?" tanya Dini dengan mengusap darah di sudut bibir Andi.
"Cuma luka kecil Din," ucap Andi dengan menarik tangan Dini agar berhenti mengusap sudut bibirnya yang malah terasa perih.
Tanpa Andi sadari, tangannya masih menggenggam tangan Dini untuk beberapa saat dan Adit memperhatikan hal itu.
"Kamu berantem sama siapa? kak Adit? Dimas?"
"Aku nggak tau apa apa," sahut Dimas cepat.
"Kamu nggak mungkin bawa aku ke sini kalau kamu nggak tau apa apa Dimas!" balas Dini.
"Hehe... iya sih."
"Kalian semua pulang aja, gue nggak papa sendirian!" ucap Adit.
"Aku nunggu Adit di sini Din, kamu pulang aja sama Dimas!" ucap Andi pada Dini.
"Tapi......"
"Huussstt, nggak ada tapi tapi, pulang sana, ada yang harus aku omongin berdua sama Adit!" ucap Andi.
"Ya udah kalau gitu, Dini pulang dulu ya kak!"
"Iya hati hati," balas Adit.
Dini dan Dimas lalu pulang, meninggalkan Adit dan Andi.
"Kenapa lo nggak pulang?" tanya Adit.
"nggak mungkin kan gue jawab kalau gue mau nemenin dia di sini, aneh banget, gue juga ngapain di sini, harusnya gue ikut pulang sama mereka," batin Andi bingung dalam hati.
"Thanks udah bawa gue kesini," ucap Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Dan sorry udah berbuat gila sama lo!" lanjut Adit.
"Tante Siska sakit apa?" tanya Andi.
"Kalau lo mau tau, temui mama, mama juga di sini sekarang."
"Kenapa?"
"Apa lo nggak mikir gimana penilaian orang tentang gue sama tante Siska? gue nggak peduli kalau orang orang ngomong buruk tentang gue, tapi gue nggak mau mereka bicarain hal buruk tentang tante Siska, apa lagi kalau sampe bawa ayah sama ibu!"
"Jadi itu yang bikin lo jauhin mama?"
Andi mengangguk kecewa.
"Gue nggak punya pilihan, gue cuma mau jaga semuanya biar baik baik aja!"
"Dan apa yang lo lakuin itu bikin mama masuk rumah sakit, apa itu yang lo sebut baik baik aja?"
Andi diam. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Namun ia juga tidak bisa membiarkan nama baik tante Siska dan keluarganya tercoreng karena bisik bisik yang tidak benar di luar sana.
"Sorry kalau ucapan gue nggak sopan, tapi gue nggak punya pilihan, gue bukan siapa siapa, gue orang luar, lo nggak takut kalau gue punya niat buruk sama tante Siska?"
"Apapun akan gue lakuin buat mama Ndi, buat gue yang paling penting cuma kebahagiaan mama dan mama bahagia bisa kenal lo!"
"Sorry Dit, gue nggak bisa."
"Oke, gue nggak akan maksa, tapi tolong bantuin gue keluar dari sini, gue harus nemenin mama."
Andi mengangguk. Setelah berbicara pada Dokter dan suster, akhirnya Adit diperbolehkan pulang.
Adit lalu masuk ke ruangan mamanya yang dijaga Lukman.
Adit duduk di kursi yang berada di samping ranjang sang mama.
"Adit, kenapa wajah kamu pucat sekali sayang?" tanya sang mama.
"Adit pingin tidur di pelukan mama," jawab Adit.
"Ada apa sayang? ada masalah di kantor?"
Adit menggeleng dengan memggengam tangan mamanya dan menciumnya sangat lama.
"Maafin Adit ma, maaf belum bisa penuhi keinginan mama, Adit nggak tau kenapa Adit sedih banget sekarang, Adit nggak ngerti sama perasaan Adit sendiri," ucap Adit dalam hati.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya mama Adit yang menyadari jika anaknya sedang menangis.
"Sini naik, ini bisa buat berdua, asal nggak ketahuan Dokter!" ucap mama Siska sambil menggeser posisi tidurnya.
Aditpun merebahkan badannya di samping sang mama. Ia memeluk mamanya seperti anak kecil yang merindukan pelukan seorang ibu.
Andi yang melihat hal itu dari luar ruangan seakan merasakan apa yang tengah dirasakan Adit. Ada sebuah rasa sedih yang menyapa hatinya. Entah darimana kesedihan itu datang, ia hanya merasa sedih tanpa alasan yang ia tau.
Andi lalu keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya.
**
Di sisi lain, Dimas dan Dini masih dalam perjalanan pulang. Dini berpikir jika Dimas akan mengantarnya sampai di depan gang, namun ternyata Dimas masuk ke dalam gang ke arah rumahnya.
"Dimas, stop, ada ibu di rumah!" ucap Dini.
__ADS_1
"Aku tau, kita bisa makan malem bareng di rumah kamu."
"Stop Dimas, jangan cari masalah baru deh!"
"Sssttttt.... kita hadapi ibu kamu sama sama, oke?"
"Tapi....."
"Ssssttttt....."
Dini menyerah, ia membiarkan Dimas mengantarnya pulang sampai ke rumah.
Di depan rumah, Dini masih berusaha mencegah Dimas untuk bertemu ibunya. Ia melarang Dimas untuk turun dan memintanya segera pulang.
"Kamu langsung pulang aja, jangan turun!" ucap Dini dengan menahan tangan Dimas yang akan membuka pintu mobil.
Dimas hanya tersenyum dan tetap membuka pintu mobilnya. Ia lalu turun dan membukakan pintu untuk Dini.
"Ayo turun,"
"Nggak mau, aku capek berantem sama ibu!"
"Ya jangan berantem dong, ayo turun!"
Dini turun namun masih berusaha membujuk Dimas agar segera pergi sebelum sang ibu keluar dari dalam rumah.
"Udah sana pergi, aku udah nyampe depan rumah ini!" ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas.
"Aku mau anterin kamu sampe masuk, terus ikut makan malem sama kamu!"
"Jangan berkhayal deh Dimas, buruan pergi sebelum....."
"Udah pulang Din, kok nggak langsung masuk?" tanya ibu Dini yang tiba tiba keluar dari rumah.
"Ibu.... ini.... Dini......"
"Malem tante, Dimas bawa buah buat tante," ucap Dimas yang langsung menghampiri ibu Dini dan memberikan satu kantong buah pada ibu Dini.
"Ayo masuk, bantuin tante masak bentar ya!"
"Siap tante," jawab Dimas.
Dimas dan ibu Dini lalu masuk ke dalam rumah begiru saja, meninggalkan Dini yang masih berdiri di tempatnya.
"Din, buruan mandi!" teriak ibu Dini dari dalam rumah.
"Ii... iya bu!" jawab Dini lalu segera masuk.
Dini masuk ke kamarnya, mengambil handuk dan pakaian baru lalu pergi ke kamar mandi melewati dapur.
"ibu sama Dimas masak? apa aku mimpi? iya, aku pasti mimpi, aku....."
"Aaaaaaaa........"
BRUUKKK
Dini terpeleset dan terjatuh di depan kamar mandi karena tidak memperhatikan lantai yang licin.
Ibu Dini dan Dimas yang melihat hal itu kompak menertawakan Dini.
Dimas lalu menghampiri Dini.
"Kamu kenapa? nggak liat lantai licin?" tanya Dimas sambil membantu Dini berdiri.
"Aa.... aku..... mau mandi," ucap Dini yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dini lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan memegangi kakinya yang terasa sakit karena terpeleset.
"sakit banget, berarti aku nggak mimpi ya? tapi ibu sama Dimas? aaahhh nggak tau ah!"
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Dini keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan.
"Apa yang kamu pake itu Din? ganti ganti!" protes ibu Dini sambil mendorong Dini kembali ke kamar.
"Biasanya kan juga pake ini bu!"
"Yang feminin dikit nggak ada? masak ada Dimas cuma pake kaos sama celana pendek gini!"
"Ibu demam? ibu pusing? tekanan darah ibu naik?" tanya Dini dengan memeriksa seluruh tubuh ibunya.
"Ibu sehat, buruan ganti baju, dandan yang cantik, ibu tunggu di luar!"
Dinipun berganti pakaian, ia menggunakan over all jeans yang bagian bawahnya berupa rok dan dipadukan dengan kaos putih berlengan pendek.
Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepit rambut yang membuatnya semakin manis.
"Gini kan cantik anak ibu," ucap ibu Dini.
Mereka lalu menyelesaikan makan malam sederhana itu dengan tenang meski banyak pertanyaan dalam pikiran Dini.
Baginya, jika memang semua keindahan saat itu hanyalah sebuah mimpi, ia akan menikmati mimpi itu sampai ia terbangun di pagi hari.
"Din, mulai sekarang ibu nggak akan menghalangi kalian berdua lagi, ibu minta maaf karena sudah egois dan hanya mementingkan perasaan ibu sendiri," ucap ibu Dini dengan menggenggam tangan Dini.
"Ibu serius?"
"Ibu sadar apa yang ibu lakukan salah, maaf karena baru menyadarinya Din, ibu sayang sama kamu, ibu mau kamu bahagia, restu ibu akan selalu buat kamu asalkan itu membuat kamu bahagia."
"Bu, ibu baik baik aja kan? Dimas nggak maksa ibu buat bilang kayak gini kan?"
"Aku nggak sejahat itu Andini," sahut Dimas.
"Bu, cerita sama Dini bu, ada apa sebenarnya?"
"Nggak ada apa apa, ibu baru sadar semua kesalahan ibu selama ini, ibu minta maaf sama kamu, juga sama Dimas, maafin tante ya Dimas."
"Tante nggak perlu minta maaf, Dimas sama Dini nggak pernah menganggap semua ini kesalahan, dengan kejadian kemarin Dimas sama Dini belajar buat tetap mempertahankan hubungan kita, apapun yang terjadi."
"Semoga kalian selalu bersama, semoga hanya maut yang dapat memisahkan kalian, do'a ibu selalu menyertai kalian, anak anak ibu yang paling ibu sayang."
Dimas dan Dini lalu memeluk ibu Dini. Mereka hanyut dalam keharuan do'a seorang ibu.
__ADS_1