Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Tahun Berlalu


__ADS_3

Hari hari berganti bulan dan tahun berlalu, kesedihan masih terlihat dari raut wajah Dini yang sudah tak pernah menggambarkan senyum di bibirnya.


Kebahagiaannya seolah benar benar hilang bersama perginya Dimas dari hidupnya, membuat Dini menjalani hidupnya bak mayat hidup yang bernafas.


Setiap satu Minggu sekali Dini selalu mengunjungi makam Dimas, menghabiskan waktu yang lama dengan berbicara panjang lebar di atas makam Dimas.


Ia menceritakan semua keluh kesahnya, kerinduannya dan kesedihan yang belum juga hilang darinya.


Ia sudah berusaha merelakan kepergian Dimas seperti yang diucapkan mama dan papa Dimas padanya, namun nyatanya satu tahun berlalu tanpa Dini bisa berhenti memikirkan Dimas.


Dalam hatinya ia masih berharap jika Dimas akan kembali padanya, meski ia tau itu tidak mungkin terjadi. Logikanya kini seolah telah lumpuh bersama kesedihan yang terus menggerogoti kehidupannya.


Dini bahkan sudah tidak pernah memimpikan Dimas dalam tidurnya, membuatnya semakin merindukan laki laki yang dicintainya itu.


Setiap hari selama satu tahun setelah kepergian Dimas, Dini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur dengan harapan akan bertemu dengan Dimas meski hanya dalam mimpi.


Tak jarang ia berharap saat ia menutup matanya, ia akan terpejam selamanya dan bertemu Dimas di kehidupan selanjutnya.


Namun sinar mentari pagi selalu membangunkan dirinya, memaksanya untuk tetap melanjutkan hari harinya yang menyedihkan.


Beruntung ia memiliki ibu yang sangat menyayanginya, selalu mendampinginya bagaimanapun keadaanya.


Mama dan papa Dimas juga sering menemuinya, mereka bahkan beberapa kali mengajaknya pergi berlibur namun ia selalu menolaknya.


Andi?


Andi sudah berkali kali berusaha untuk menemui Dini, namun Dini selalu menghindar dari Andi.


Entah kenapa Dini enggan untuk menemui sahabatnya itu meski ia tau Andi selalu mengkhawatirkan dirinya.


Andipun mengerti keadaan Dini, ia tidak pernah memaksa untuk bertemu Dini. Ia hanya datang ke rumah Dini untuk melihat keadaan Dini, jika Dini menolak untuk bertemu dengannya, dia hanya akan mengobrol dengan ibu Dini lalu kembali pulang.


**


Suatu malam, Andi sedang mengerjakan skripsinya di kamar. Ya, Andi belum menyelesaikan studinya karena terhambat dengan beberapa masalah berat yang ia alami.


Meski begitu ia berusaha untuk segera menyelesaikannya dengan baik meski sedikit terlambat.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Andi berdering, sebuah pesan dari ibu Dini yang membalas pesannya beberapa waktu yang lalu.


Dini baik baik aja Ndi, walaupun dia belum bisa senyum, setidaknya dia mau makan dan keluar dari kamarnya


Andi tersenyum senang membaca pesan dari ibu Dini. Andi lalu membuka folder penyimpanan yang ada di laptopnya.


Ia membuka foto foto kebersamaannya bersama Dini. Tiba tiba, sebuah suara membuat Andi segera mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Papa...." panggil Alana dari depan pintu yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Andi.


"Sini sayang," balas Andi sambil mengulurkan tangannya ke arah Alana.


Alana lalu berlari kecil dan menghambur dalam pelukan Andi.


"Kenapa belum tidur?" tanya Andi dengan membelai wajah cantik gadis mungilnya.


"Belum ngantuk, papa sibuk?" jawab Alana sekaligus bertanya.


"Enggak, kenapa? mau papa temenin tidur?"


Alana menganggukkan kepalanya, namun saat melihat layar laptop Andi, Alana mengurungkan niatnya untuk tidur.


"Itu siapa pa?" tanya Alana sambil menunjuk foto Dini yang ada di laptop.


Andi lalu mengangkat Alana ke atas pangkuannya dan memperlihatkan foto foto Dini bersamanya.


"Namanya tante Dini, dia sahabat papa," jawab Andi sambil memperlihatkan foto foto yang lain.


"Cantik kan?" lanjut Andi bertanya.


"Tapi Alana lebih cantik," jawab Alana dengan memberikan tatapan tajam pada Andi karena menyebut perempuan lain selain dirinya cantik.


"Iya... iya.... Alana emang paling cantik sedunia," balas Andi dengan memeluk erat gadis mungilnya.


"Itu siapa?" tanya Alana saat ia melihat foto Dimas bersama Dini dan sang papa.


"Ini.... dia sahabat papa juga, namanya om Dimas, tapi om Dimas udah di surga sekarang," jawab Andi menjelaskan.


"Om Dimas di surga sama mama Anita?" tanya Alana yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Andi.


"Berarti mama nggak sendirian dong? ada om Dimas yang nemenin mama!" ucap Alana dengan polosnya.


"Iya Alana bener, sekarang Alana harus tidur biar besok bisa bangun pagi buat jalan jalan sama papa," ucap Andi lalu menggendong Alana dan membaringkannya di ranjang.


"Pa, apa Alana bisa ketemu Tante Dini?" tanya Alana sebelum memejamkan matanya.


"Kenapa kamu mau ketemu tante Dini?"


"Alana mau lihat secantik apa Tante Dini, karena papa nggak pernah bilang kalau mama cantik, tapi papa malah bilang Tante Dini cantik," jawab Alana dengan raut wajah kesal.


Andi tersenyum tipis lalu menarik selimut untuk gadis mungilnya.


"Yang penting yang paling cantik sedunia kan Alana," balas Andi dengan mengusap kening Alana agar segera tertidur.


"Alana pingin ketemu tante Dini pa...." ucap Alana sambil menguap.


"Papa nggak bisa janji sayang, tapi besok papa akan ajak Alana ke rumah tante Dini," balas Andi.


"Janji?"


"Iya, papa janji, sekarang Alana harus tidur biar besok nggak kesiangan ke rumah tante Dini," ucap Andi lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Alana.

__ADS_1


Alana pun terpejam bersama mimpi indah yang sudah menunggunya.


Setelah Alana benar benar tertidur, Andi kembali melanjutkan kesibukannya sampai larut malam kemudian merebahkan dirinya di samping Alana.


Waktu berlalu, mentari pagi sudah menyapa saat Alana baru saja selesai mandi.


"Mbak Asih tolong ikat rambut Alana yang cantik ya, pake jepit rambut yang kemarin papa beliin juga," ucap Alana pada baby sitter nya.


"Siap non," balas mbak Asih.


Setelah selesai, Alana kemudian berjalan ke depan cermin yang memantulkan bayangan dirinya.


"Alana sudah cantik kan mbak?" tanya Alana pada mbak Asih.


"Sudah non, cantik banget," jawab mbak Asih dengan bertepuk tangan kecil.


"Alana mau bangunin papa dulu ya mbak!" ucap Alana lalu keluar dari kamarnya.


"Iya non," balas mbak Asih.


Alana masuk ke kamar sang papa lalu menaiki ranjang sang papa. Pagi itu Alana memang sengaja bangun lebih pagi karena ingin segera bertemu dengan Tante Dini yang dianggap sang papa cantik.


"Papa, bangun!" ucap Alana lalu mencium pipi sang papa.


Karena Andi tidur menjelang pagi, ia masih terlelap saat Alana mencium pipinya, membuat Alana kesal kemudian memukul mukul badan Andi.


"Papa banguunnn!!" ucap Alana dengan berteriak.


"Mmmm.... bentar sayang, papa masih ngantuk," ucap Andi yang masih belum membuka matanya.


Raut wajah Alana berubah seketika, dengan sekejap saja ia menangis dengan kencang membuat Andi segera terbangun dari tidurnya.


"Kenapa sayang? ada apa?" tanya Andi panik.


"Papa kenapa nggak mau bangun? papa udah janji sama Alana semalem!"


Andi menghela nafasnya lalu membawa Alana ke dalam dekapannya.


"Papa minta maaf sayang, ya udah papa mandi dulu, Alana udah mandi?"


Alana hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang masih sedih.


"Anak papa udah cantik banget, pasti udah siap siap dari tadi ya?" tanya Andi berusaha mengembalikan mood anak gadisnya.


Lagi lagi Alana hanya menganggukkan kepalanya, yang berarti ia masih ngambek saat itu.


Andi sangat mengenal gadis mungilnya itu. Seiring berjalannya waktu, beberapa sifat Anita terlihat dari Alana.


Alana bisa dengan mudah dekat dengan orang lain, cenderung banyak berbicara, terbuka dan suka bercerita, persis seperti Anita.


"Ulang tahun Alana nanti, Alana mau apa?" tanya Andi yang masih berusaha menghilangkan kekesalan anaknya.


Mendengar pertanyaan Andi, seketika raut wajah Alana menjadi bersemangat.


"Oke, nanti papa akan kasih Alana boneka yang sangat besar, biar bisa Alana peluk kalau lagi tidur," balas Andi.


Alana menganggukan kepalanya lalu segera meminta sang papa untuk mandi.


Setelah selesai bersiap siap, merekapun sarapan bersama mama Siska. Alana menghabiskan makanannya dengan cepat karena ingin segera bertemu dengan Dini.


"Ayo pa, cepet!" ucap Alana pada sang papa.


"Iya sayang, minum dulu," balas Andi.


"Kalian mau kemana?" tanya mama Siska.


"Alana mau ketemu Dini ma," jawab Andi.


"Dini? kenapa tiba tiba mau ketemu Dini?"


"Karena papa bilang Tante Dini cantik," jawab Alana yang membuat mama Siska tersenyum gemas pada cucunya itu.


Andi dan Alana pun meninggalkan rumah dan pergi ke rumah Dini.


"Yeeeeyyyy jalan jalan....." ucap Alana bersorak senang.


"Alana mau kemana sekarang?" tanya Andi pada Alana yang duduk di car seat.


"Ke rumah tante Dini," jawab Alana penuh semangat.


"Iya bener.... pinter banget anak papa," balas Andi dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Tapi Alana harus janji ya sama papa, Alana nggak boleh sedih kalau nggak bisa ketemu Tante Dini!" ucap Andi pada Alana.


"Kenapa pa?"


"Mmmm..... mungkin Tante Dini lagi sibuk banget jadi nggak bisa temuin kita," jawab Andi beralasan.


"Nggak papa, tapi nanti kita ke rumah Tante Dini lagi ya pa kalau Tante Dini udah nggak sibuk!"


"Iya sayang," balas Andi.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai. Andipun turun dari mobil bersama Alana.


Tak lupa ia membawa cup cake yang tadi sempat dibelinya.


Andi berjalan ke arah pintu utama dengan menggandeng tangan Alana. Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu sudah terbuka.


"Pagi Bu," sapa Andi pada ibu Dini.


"Waaahhhh, ada tamu cantik rupanya," ucap ibu Dini dengan berjongkok di depan Alana.

__ADS_1


Alana hanya tersenyum malu dengan menyembunyikan dirinya dibalik tangan Andi.


"Ayo masuk Ndi!" ucap ibu Dini mempersilakan Andi masuk.


Andi dan Alanapun masuk kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Ibu panggil Dini dulu ya," ucap ibu Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Seperti biasa, ibu Dini kembali dengan raut wajah kecewa.


"Maaf Ndi, ibu belum bisa bujuk Dini," ucap ibu Dini pada Andi.


"Nggak papa Bu, jangan terlalu memaksa Dini, Andi mengerti," balas Andi.


"Kenapa pa? tante Dini masih sibuk?" tanya Alana pada sang papa.


"Iya sayang, Tante Dini masih sibuk," jawab Andi.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Rama.


"Bentar ya sayang!" ucap Andi pada Alana lalu berjalan sedikit menjauh untuk menerima panggilan Rama.


Andi kemudian kembali dan mengajak Alana untuk pulang karena ada sesuatu yang penting yang membuatnya harus segera ke home store.


"Alana nggak mau pulang pa, Alana mau nunggu Tante Dini," ucap Alana menolak.


"Tante Dini masih sibuk sayang, lain kali kita kesini lagi, ya!"


"Nggak mau pa, Alana mau ketemu Tante Dini sekarang!" balas Alana yang tampak mulai rewel.


"Alana kan udah janji tadi sama papa."


"Nggak mau pa, nggak mau......" ucap Alana kemudian menangis dengan kencang.


"Alana biar disini aja Ndi, nanti kamu bisa jemput dia lagi," ucap ibu Dini.


"Andi nggak tau kapan bisa jemput Alana Bu, nanti malah bikin repot kalau Alana disini!" balas Andi.


"Enggak, disini banyak orang yang bisa bantuin ibu jaga Alana," ucap ibu Dini.


Andi lalu membawa pandangannya pada Alana.


"Alana mau disini?" tanya Andi memastikan.


Alana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tapi nggak boleh nakal ya, nurut sama Oma Ranti!"


"Iya, Alana nggak akan nakal," balas Alana.


"Ya udah, papa pergi dulu," ucap Andi lalu memeluk dan mencium gadis mungilnya.


"Andi titip Alana ya Bu, ibu hubungi Andi kalau ada apa apa," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala ibu Dini.


Setelah kepergian Andi, ibu Dini mengajak Alana untuk menonton acara tv anak anak kesukaan Alana.


Waktu berlalu, hari semakin siang namun Andi belum juga kembali.


"Oma, Tante Dini masih sibuk?" tanya Alana pada ibu Dini.


"Mungkin Tante Dini udah tidur, Alana juga mau tidur?"


"Alana mau nunggu Tante Dini," jawab Alana.


"Papa kenapa belum jemput Alana?" lanjut Alana bertanya.


Ibu Dini kemudian menghubungi Andi, namun tak ada jawaban.


"mungkin lagi sibuk," batin ibu Dini.


"Papa mana......." tanya Alana dengan mata berkaca-kaca.


"Papa kamu masih sibuk sayang, mungkin bentar lagi dateng," balas ibu Dini mencoba menenangkan Alana.


"Papa..... papa....." ucap Alana yang mulai menangis.


"Alana mau main di taman? kita cari bunga di taman ya!"


"Papa...... papa......."


Tangis Alanapun semakin kencang, membuat ibu Dini cukup kewalahan untuk menenangkan Alana.


Di tempat lain, Dini baru saja melepas handsfree yang terpasang di telinganya lalu mengambil buku untuk dibacanya, namun samar samar ia mendengar suara tangisan anak kecil.


Ia kemudian membuka pintu kamarnya dan suara tangisan itu semakin terdengar jelas di telinganya.


"siapa?" tanya Dini dalam hati lalu melangkahkan kakinya ke arah sumber suara tangisan yang ia dengar.


Dilihatnya seorang gadis mungil sedang menangis memanggil papanya dan sang ibu yang berusaha untuk menenangkan tangisan gadis mungil itu.


Dini kemudian berjalan mendekat untuk membantu sang ibu menenangkan gadis mungil yang sedang menangis itu.


"Alana kenapa disini Bu? Andi mana?" tanya Dini pada sang ibu.


"Andi ada panggilan mendadak, kayaknya penting dan Alana nggak mau diajak pulang makanya dititipin disini," jawab ibu Dini.


"Papa..... papa........."


"Hai cantik, papa masih sibuk, sebentar lagi papa pasti kesini jemput Alana," ucap Dini pada Alana.

__ADS_1


"Papa..... papa......."


Dini lalu menggendong Alana yang masih menangis memanggil papanya. Dini membawa Alana ke arah kolam renang untuk diajaknya bermain air disana.


__ADS_2