Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Ke Bioskop


__ADS_3

Jika cinta telah melekat, tertanam dan mengakar kuat dalam hati, maka tidak ada satu hal pun yang mampu memisahkan.


Ana dan Adit masih saling berhadapan sebelum kepulan asap semakin memenuhi dapur.


Saat baru menyadari kelalaian mereka, Adit segera membawa Ana keluar dari dapur dan segera mematikan kompor.


Beruntung tidak terjadi kebakaran di rumah itu, Ana dan Adit hanya tertawa karena menyadari kebodohan mereka.


Sedangkan Bu Desi dan Lisa segera membereskan dapur yang cukup kacau.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Adit pada Ana saat mereka sudah duduk di hadapan tv.


"Nggak papa," jawab Ana.


"An, aku sama Dini....."


"Jangan dibahas lagi, aku nggak mau rumah ini terbakar," ucap Ana dengan tersenyum.


"Aku nggak mau kamu salah paham."


"Maafin sikap ku yang terlalu childish," ucap Ana.


"Nggak papa, aku suka, itu artinya kamu beneran cinta sama aku," balas Adit.


"Enggak, aku nggak secinta itu sama kamu!"


"Dan aku akan bikin kamu secinta itu sama aku," balas Adit yang tak mau kalah.


Malam itu Adit kembali tidur di rumah Ana. Meski mereka tidur dalam satu ranjang, tak ada apapun yang mereka lakukan selain mengobrol sampai salah satu diantara mereka tertidur.


Pagi telah datang, membuat Adit harus segera kembali ke rumah sang mama.


Seperti biasa, Adit akan mandi dan bersiap untuk ke kantor.


"Kamu nggak pulang lagi?" tanya mama Siska yang hanya dibalas anggukan kepala Adit.


"Mama nggak akan melarang apapun yang kamu lakukan Dit, mama yakin kamu tau apa yang harus dan tidak harus kamu lakukan!" ucap mama Siska.


"Iya ma, Adit mengerti," balas Adit.


Tak lama kemudian Andi datang, merekapun menikmati sarapan mereka bersama.


Setelah selesai sarapan, Andi dan Adit bersiap untuk pergi ke tempat kerja masing masing. Adit sudah lebih dulu keluar setelah mencium kening mamanya.


"Mama tiba tiba takut Ndi," ucap mama Siska saat Andi hendak berpamitan.


"Kenapa ma? apa yang mama takutkan?"


"Adit, dia seperti menyembunyikan sesuatu dari mama," jawab mama Siska.


"Nanti Andi coba bicara sama dia ma," ucap Andi.


"Apa pacarnya bukan perempuan baik baik? apa Adit dan pacarnya sudah melakukan hubungan di luar batas? itu kenapa Adit nggak pernah tidur di rumah sekarang!"


"Ma, walaupun Andi baru kenal Adit, tapi Andi yakin dia bukan laki laki seperti itu, dia pasti punya alasan ma, dia..."


"Dia bahkan nggak kenalin mama sama pacarnya, kenapa?"


"Ini hal yang baru buat Adit ma, mama jangan terlalu khawatir, mama pasti sangat mengenal Adit kan? mama harus percaya sama Adit," ucap Andi berusaha menenangkan sang mama.


"Mama cuma takut dia bertemu perempuan yang salah," ucap mama Siska.


"Adit pasti tau pilihannya yang terbaik ma, kasih waktu Adit ma, dia pasti akan lebih terbuka sama mama kalau dia udah siap," balas Andi dengan menggenggam tangan mamanya.


Mama Siska hanya menganggukkan kepalanya dengan mengusap kepala Andi.


"Kalian anak anak mama yang sangat mama banggakan, mama percaya sama kalian," ucap mama Siska.


"Kalau gitu mama nggak boleh terlalu banyak berpikir negatif, oke?"


"Iya, mama mengerti," balas mama Siska.


"Kalau gitu Andi berangkat dulu ma," ucap Andi sambil mencium punggung tangan mamanya.


Andi lalu pergi ke home store bersama Rudi.


Saat jam makan siang tiba, Andi menghubungi Adit, ia mengajak Adit bertemu di kafe yang ada di dekat kantor Adit.


Tak lama setelah Andi menunggu di sana, Adit datang.


"Tumben ngajak makan siang bareng, ada apa?" tanya Adit yang sudah duduk di hadapan Andi.


"Makan dulu aja," balas Andi saat waiters baru saja menaruh beberapa makanan dan minuman di meja.


"Mama khawatir sama lo," ucap Andi saat ia sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Kenapa?" tanya Adit tak mengerti.


Andi lalu menjelaskan semua kekhawatiran sang mama yang tadi pagi Andi dengar. Adit yang mendengar hal itu menjadi merasa bersalah pada sang mama.


"Gue cuma bisa yakinin mama kalau semua pemikiran buruk mama itu nggak bener, tapi gue nggak bisa jamin kalau mama nggak kepikiran lagi tentang itu!" ucap Andi.


"Makasih udah kasih pengertian mama, gue akan bicara sama mama," balas Adit.


"Mau sampe kapan lo sembunyiin dia dari mama? mama nggak akan tenang sebelum mama tau siapa perempuan yang udah bikin lo nggak pulang tiap malem!"


"Gue nggak bisa kasih tau mama Ndi, tapi gue janji suatu saat nanti gue akan kasih tau mama dan semuanya, yang pasti dia perempuan baik baik, dia yang paling mengerti gue selama ini," ucap Adit.


"Gue percaya sama lo!" balas Andi lalu kembali menyeruput minuman di hadapannya.


"Lo udah ketemu temen gue?"


"Nanti sore gue ketemu dia, mudah mudahan ada gedung yang cocok," jawab Andi.


"Ya udah gue balik dulu, masih banyak kerjaan!"


"Oke!"


Adit lalu meninggalkan Andi di kafe itu, ia segera kembali ke kantor karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya agar tidak perlu lembur lagi.


Sedangkan Andi segera menghubungi Dini karena ia akan mengajak Dini membeli hadiah untuk ulang tahun Anita.


"Halo Din, kamu lagi sibuk?" tanya Andi saat Dini sudah menerima panggilannya.

__ADS_1


"Mmmm.... lumayan, ini aku makan siang sambil kerja," jawab Dini.


"Nanti sore aku jemput ya, ikut aku cari hadiah buat ulang tahunnya Anita!"


"Emang kapan ulang tahunnya?"


"Lusa, kamu lupa?"


"Hehe.... iyaa aku lupa, ya udah nanti jemput di kantor ya!"


"Oke."


Setelah menghubungi Dini, Andi segera meninggalkan kafe itu untuk menemui teman Adit.


Setelah mereka bertemu, Andi segera mengamati gedung di hadapannya bersama teman Adit.


30 menit berlalu, Andi dan teman Adit sudah mengitari dan memperhatikan setiap sudut gedung itu, namun sayangnya Andi belum merasa adanya kecocokan dengan gedung itu.


"Kalau lo mau, gue bisa tunjukin gedung lain tapi tempatnya lumayan jauh dari sini," ucap teman Adit.


"Di mana?"


"Di daerah X, kita bisa kesana sekarang kalau lo mau!"


"Tapi gue nggak bisa janjiin apa apa ya!"


"Tenang aja, gue nggak akan maksa," balas teman Adit.


Andi dan teman Adit lalu pergi ke daerah lain yang cukup jauh untuk melihat keadaan gedung itu.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Andi baru saja keluar dari gedung yang direkomendasikan oleh teman Adit.


"Hari ini cuma ini yang bisa gue kasih liat, kalau lo mau besok kita bisa ketemu lagi buat liat gedung yang lain!" ucap teman Adit.


"Oke, nggak papa," balas Andi.


Sepeninggalan teman Adit, Andi segera menghubungi Dini karena ia akan terlambat menjemput Dini.


"Din, kamu masih di kantor?" tanya Andi.


"Iya, kamu dimana? udah jemput?"


"Maaf Din, aku lagi di daerah X, aku ke sana sekarang ya!"


"Jangan, terlalu jauh, aku aja yang ke sana, kita ketemu di mall yang deket sama tempat kamu!"


"Apa aku minta pak Rudi buat jemput kamu?"


"Nggak perlu, aku bisa naik taksi," jawab Dini.


Setelah panggilan dari Andi berakhir, Dini segera menghubungi Dimas.


"Halo Dimas, kamu dimana?"


"Masih di kantor sayang, ada apa?"


"Aku mau nganterin Andi cari kado buat ulang tahun Anita, nggak papa kan?"


"Kenapa kamu harus izin sama aku Andini? apa aku pernah ngelarang kamu pergi sama Andi?"


"Nggak papa kamu pergi aja, apa yang kamu lakuin itu bikin hubungan kita bertiga canggung sayang, aku percaya kok sama kalian," ucap Dimas.


"Makasih Dimas, aku pergi dulu, love you!"


"Love you too sayang!"


Dini lalu mengemasi barang barangnya dan segera keluar dari ruangannya.


"Dini pulang dulu kak!" ucap Dini pada Adit yang masih berada di belakang meja kerjanya.


"Iya hati hati," balas Adit.


Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp


Tak lama setelah Dini pergi, ponsel Adit berdering. Sebuah panggilan dari Ana.


"Adit, masih sibuk?" tanya Ana


"Bentar lagi selesai kok," jawab Adit.


"Adit, apa aku boleh minta sesuatu?"


"Emang kamu mau minta apa?" balas Adit bertanya.


"Aku pingin nonton di bioskop, boleh ya!"


"Sekarang?"


"Iya, dianterin pak Agus," jawab Ana.


"Enggak, aku ke sana sekarang, kamu nonton sama aku, jangan sama pak Agus!" ucap Adit lalu menutup panggilan Ana dan segera meninggalkan meja kerjanya.


Adit lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Ana, sesampainya di sana sudah ada Ana yang bersiap untuk pergi ke bioskop bersama Adit.


Mereka pun segera pergi ke mall yang terdekat dari rumah Ana.


"Apa nggak ada masalah kalau aku ke mall sama kamu?" tanya Ana pada Adit.


"Apa masalahnya?" balas Adit bertanya.


"Mungkin mama kamu atau orang lain yang kamu kenal liat kita nanti," jawab Ana.


"Nggak mungkin An, kamu tau tempat ini jauh dari rumahku, mama nggak mungkin kesini," balas Adit.


"Iya sih, tapi......"


"Nggak ada tapi tapi, aku nggak mau kamu ke bioskop sama Agus!"


"Aku kan cuma minta anter aja, bukan ngajak pak Agus nonton berdua!"


"Mana mungkin juga Agus mau nonton sama kamu!" balas Adit dengan tersenyum tipis.


"Kenapa gitu?"

__ADS_1


"Kalau dia mau nonton berdua sama kamu, itu artinya dia udah kasih aku surat pengunduran diri," jawab Adit.


"Huuuu, dasar bos galak!"


"Galak gini, kamu suka kan?"


Ana hanya memalingkan wajahnya dengan tersenyum tipis mendengar ucapan Adit.


Sesampainya di mall, mereka segera menuju ke bioskop.


"Kamu yakin mau liat horor?" tanya Adit.


"Iya, ini film yang lagi happening loh," jawab Ana.


"Ya udah deh terserah kamu aja," balas Adit.


"Aku mau ke toilet bentar ya!" ucap Ana lalu segera meninggalkan Adit.


Saat berjalan ke arah toilet, tiba tiba seseorang memanggil namanya.


"Mbak Ana!"


Ana pun membawa pandangannya ke arah sumber suara dengan ragu.


"Andi, Dini?"


"Bener kan mbak Ana, Dini seneng banget ketemu mbak Ana di sini, mbak Ana apa kabar?" tanya Dini.


"Aku.... aku baik, hai Ndi, kalian cuma berdua?"


"Iya, mbak Ana sama siapa?" balas Andi bertanya.


"Aku..... aku sama temenku, tapi dia belum dateng," jawab Ana berbohong.


"Kita nonton bareng yuk kalau gitu, film horor yang lagi rame itu!" ajak Dini.


"Kalian duluan aja, aku harus nunggu temenku dateng," balas Ana.


"Yaaahhh, sayang banget," ucap Dini menyayangkan.


"Aku duluan ya!" ucap Ana lalu pergi meninggalkan Dini dan Andi.


"Iya mbak hati hati," balas Dini.


Dini dan Andipun melanjutkan langkah mereka.


"Kamu kenapa tiba tiba diem?" tanya Dini pada Andi.


"Kamu liat kalung yang dipake mbak Ana tadi?"


"Iya liat, bagus banget," jawab Dini.


"Itu kalung yang aku lihat waktu itu," ucap Andi."


"Maksud kamu?"


"Kamu inget kan aku pernah bilang tentang kalung milik Adit, itu kalung yang aku liat Din, kalung yang dipake mbak Ana itu kalung yang Adit bawa waktu itu," jawab Andi.


"Kamu yakin? mungkin cuma mirip!"


"Enggak Din, aku yakin itu kalung yang sama, aku inget banget bentuk liontinnya," jawab Andi penuh keyakinan.


"Udah udah, jangan dibahas, ayo buruan beli tiket nya sebelum filmnya mulai!"


Andi dan Dini lalu membeli tiket film horor sesuai rencana mereka. Setelah mendapatkan tiket masing masing, mereka segera masuk karena film akan segera dimulai.


"Ngomong ngomong, mbak Ana keliatan gendutan ya!" ucap Dini berbisik pada Andi.


"Jangan body shaming Din!"


"Enggak gitu, aku cuma......"


"Sssstttt.... filmnya udah mulai!"


Dini menganggukkan kepalanya lalu mengedarkan pandangannya kesegala arah, memperhatikan suasana dalam bioskop yang tampak penuh.


Sudah tidak ada kursi kosong lagi selain kursi di sampingnya.


Dalam remang cahaya bioskop, Dini melihat laki laki yang dikenalnya di samping kursi kosong itu.


"Kak Adit!" ucap Dini pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Andi dan Adit.


Seketika Adit membawa pandangannya ke arah sampingnya dan begitu terkejut melihat Andi dan Dini.


"Kak Adit ngapain di sini?" tanya Dini.


"Ssssstttt..... jangan berisik," ucap Andi dengan mengarahkan pandangan Dini ke arah layar.


Sedangkan Adit segera memeriksa ponselnya yang sudah di mode senyap. Ternyata sudah ada beberapa panggilan dan pesan dari Ana.


Dit, aku nggak bisa masuk, Andi sama Dini ada di sana


Adit lalu membalas pesan Ana.


Iya, barusan mereka liat aku di sini, kamu dimana sekarang? aku kesana!


Jangan ke sini, kamu harus tetep di sana biar mereka nggak curiga, anggap aja kamu lagi nonton sendirian!


Tapi gimana sama kamu An? kamu sendirian di sana!


Aku nggak papa, aku lagi milih baju di sini, kamu jangan bikin mereka curiga!


Okey, tunggu aku ya!


Okay ❤️


Adit hanya tersenyum tipis lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Ia benar benar tidak menyangka akan melihat Andi dan Dini di tempat itu.


"banyak mall dan bioskop yang deket kantor, kenapa kalian harus ke sini sih, aaarrgghhh!!!" batin Adit yang begitu kesal dengan adanya Dini dan Andi di sampingnya.


Berbeda dengan Adit yang tidak bisa menikmati film yang sedang diputar, Andi dan Dini justru sangat menikmatinya meski sesekali Dini bersembunyi di balik lengan Andi karena takut.

__ADS_1


Adit yang melihat hal itu semakin kesal. Ia merasa sedang diejek secara tidak langsung oleh dua adiknya itu.


__ADS_2