Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Libur


__ADS_3

Sinar mentari mulai menyapa pagi di hari libur saat itu. Dini mengerjapkan matanya, melihat indah ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.


Segaris senyum tergaris di bibirnya saat ia melihat Dimas yang masih terpejam di sampingnya. Entah siapa yang lebih dulu tertidur malam kemarin, tapi yang pasti tidurnya begitu nyenyak karena berada dalam dekapan Dimas.


Dini lalu memeluk Dimas, menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Dimas.


"Kamu udah bangun sayang?" tanya Dimas dengan mata yang masih tertutup.


"Iya, aku laper," jawab Dini.


"Bentar, aku masih kangen," ucap Dimas dengan semakin erat memeluk Dini.


Dini lalu menggelitiki pinggang Dimas, membuat Dimas melepaskan pelukannya pada Dini. Mereka lalu saling menggelitiki sampai tiba tiba ponsel Dini berdering.


Dini lalu mengambil ponselnya dan terlihat sebuah panggilan dari Andi.


"Siapa sayang?" tanya Dimas.


"Andi," jawab Dini.


Dini lalu keluar dari kamar Dimas untuk menerima panggilan dari Andi.


"Halo Ndi, ada apa?"


"Kamu dimana Din? ibu kamu bilang kamu nggak pulang semalam?" tanya Andi.


"Aku.... aku di rumah temenku, mungkin besok aku pulang," jawab Dini.


"Besok? temen siapa?"


"Kamu nggak kenal, aku matiin dulu ya!"


"Tunggu, tapi kamu baik baik aja kan?"


"Aku baik baik aja kok, kamu tenang aja," jawab Dini.


"Besok aku jemput ya?"


"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri."


"Ya udah kalau gitu, kabarin aku kalau ada apa apa!"


"Oke, bye Ndi!"


"Bye!"


Setelah panggilan terputus Dini lalu kembali ke kamar Dimas. Namun saat Dini hendak berbalik, Dimas memeluknya dari belakang.


"Kenapa kamu nggak jujur aja?" tanya Dimas.


"Aku takut Andi mikir aneh aneh kalau tau aku tidur sama kamu," jawab Dini.


"Andi pasti percaya sama kamu, dia kan sahabat kamu!"


"Dimas, pesen makan yuk, aku laper," ucap Dini mengalihkan pembicaraan.


Dimas hanya tersenyum lalu menggendong Dini dan membawanya ke kamar mandi.


"Kamu mandi dulu, kita makan di luar," ucap Dimas lalu keluar dari kamar mandi.


Setelah Dini selesai mandi, ia baru menyadari jika ia tidak mempunyai baju untuk ia kenakan di luar bersama Dimas.


Ia pun membuka pintu dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


"Dimas!" panggil Dini pada Dimas yang sedang sibuk di hadapan laptopnya.


"Iya sayang, kenapa?"


"Aku kan nggak punya baju," ucap Dini.


Dimas lalu menaruh laptopnya dan memberikan sebuah tas dengan logo merk fashion terkenal pada Dini.


"Kamu pake ini!" ucap Dimas tanpa berani melihat ke arah Dini.


Dini menerimanya lalu kembali masuk ke kamar mandi.


Tak lama kemudian ia keluar dengan mengenakan pakaian yang Dimas beli untuknya.


"Kamu siap siap dulu, aku mau mandi," ucap Dimas pada Dini.


Dini mengangguk, ia lalu memoles wajahnya dengan make up tipis seperti biasanya.


Setelah Dimas selesai mandi dan berganti pakaian, merekapun segera keluar meninggalkan apartemen.


Dimas membawa Dini ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan. Setelah itu Dimas mengajak Dini untuk berkeliling di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan Dini selama ia di apartemen Dimas.


**


Di tempat lain, Adit sedang dalam perjalanan ke rumah Deva. Ia membawa beberapa file yang sudah ia siapkan semalam.


Tak susah baginya untuk menemukan keberadaan Deva karena anak buahnya sudah memberinya informasi yang sangat lengkap tentang Deva.


Beruntung, karena sesampainya Adit di sana, ia melihat Deva yang sedang berada di depan rumahnya bersama dengan seorang perempuan yang tampak sedang hamil.


Adit pun segera menepikan mobilnya, lalu keluar dan menghampiri Deva.


Deva yang melihat kedatangan Adit seketika menjadi gugup. Ia tau Adit adalah atasan Ana di kantor dan sejauh yang ia tau Ana dan Adit memang memiliki hubungan yang cukup dekat di luar kantor. Dan Deva tau Adit tidak mungkin mendatangi rumahnya jika itu tidak berkaitan dengan Ana.


"Pagi Deva," sapa Adit dengan senyumnya yang menawan.


"Pa.... pagi," balas Deva gugup.


"Diajak masuk dulu mas temennya, aku buatin minum," ucap istri Deva.


"Nggak perlu, dia nggak akan lama karena mas mau berangkat kerja," ucap Deva pada istrinya.

__ADS_1


"Tapi mas....."


"Kamu masuk aja, kamu lagi masak kan?"


"Baik mas."


Istri Deva lalu masuk, meninggalkan Deva dan Adit.


"Ikut gue bentar," ucap Adit pelan.


"Gue nggak ada waktu, gue mau kerja," jawab Deva yang langsung berjalan ke arah sepeda motornya.


"Gue akan ganti gaji lo hari ini," ucap Adit.


"Apa mau lo sebenarnya?" tanya Deva.


"Lo mau gue jelasin di sini biar semua orang tau seberapa buruk diri lo yang sebenarnya?"


"Oke oke, gue ikut lo!"


Adit lalu mengajak Deva masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke sebuah kafe yang berada cukup jauh dari rumah Deva.


"Lo mau pesen apa?" tanya Adit.


"Nggak usah basa basi, gue nggak punya banyak waktu!"


"Oke, lo pasti tau kenapa gue kesini kan?"


Deva menggeleng.


"Asal lo tau Dev, gue emang punya perasaan lebih sama Ana, tapi dengan bodohnya dia malah mau bertahan sama lo yang bahkan nggak punya pekerjaan tetap," ucap Adit.


Deva hanya diam menanggapi ucapan Adit.


"Gue kesini cuma mau pastiin kalau lo nggak akan temui Ana lagi, termasuk anak yang ada dalam kandungan Ana, selamanya lo nggak akan bisa temui mereka," ucap Adit.


"Gue nggak peduli sama Ana ataupun anak itu, gue juga nggak yakin kalau itu anak gue!"


Adit menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat bersiap untuk menghajar laki laki di hadapannya.


Tiba tiba Waiters datang dan menaruh 2 gelas minuman di meja mereka. Tanpa basa basi, Deva segera meneguk minumannya.


"Lo beruntung karena gue nggak bisa hajar lo di sini, tapi apa lo nggak takut kalau minuman itu udah gue kasih racun?" tanya Adit dengan senyum yang mematikan.


Seketika Deva menaruh minumannya dengan cepat.


"Lo nggak serius kan?"


Adit hanya tersenyum lalu mengambil sebuah map dari tasnya dan memberikannya pada Deva.


"Apa ini?" tanya Deva.


Adit hanya diam, dengan menyeruput minuman miliknya.


Devapun membuka map itu, ada beberapa lembar kertas di dalamnya. Semua kertas itu bertuliskan semua kejahatan dan tindak kriminal yang pernah Deva lakukan.


"Mau lo apa? lo mau ngancam gue?" teriak Deva pada Adit.


"Gue udah pegang kartu AS lo, bukannya harusnya lo mohon mohon sama gue sekarang?"


"Lo liat keadaan istri gue Dit, dia lagi hamil besar, gue cuma buruh pabrik yang gajinya pas pasan, gue juga masih biayai sekolah adik adik gue Dit, gue......"


"Apa lo nggak liat keadaan Ana? dia kerja keras tiap hari buat nabung, buat biaya pernikahan kalian, buat ngasih lo uang modal yang nggak pernah ada hasilnya, dia bahkan ngasih lo satu satunya hal yang berharga dalam hidupnya dan sekarang dia sendirian, lo tinggalin dia dalam keadaan hamil anak lo, dimana hati nurani lo Dev?"


"Gue dijodohin sama ibu gue Dit, gue nggak punya pilihan lain karena cuma istri gue yang bisa kasih gue pekerjaan tetap di sini!"


"Tapi kenapa lo ngelakuin itu sama Ana? kenapa harus sejauh itu? kalau lo minta gue liat keadaan lo, lo juga harus tau keadaan Ana, dia bahkan nggak berani keluar rumah, cewek yang hamil di luar nikah akan jadi gunjingan tetangganya, apa lo nggak mikirin itu? apa lo nggak mikirin seberapa menderitanya Ana?"


"Gue nggak punya pilihan Dit, gue bener bener nggak punya pilihan!"


"Lo emang brengsek Dev, gue bisa hancurin hidup lo sekarang, tapi Ana mohon mohon sama gue buat nggak ganggu hidup lo, lo beruntung karena Ana cewek yang baik sekaligus bodoh karena udah cinta sama lo!"


"Gue minta maaf Dit, gue mohon kasihani gue, gue...."


"Gue akan jaga semua kebusukan lo, asal lo jangan pernah temui Ana lagi, bahkan saat anaknya udah lahir, anggap hubungan kalian nggak pernah terjadi!" ucap Adit.


"Gue janji gue nggak akan ganggu Ana lagi, gue nggak akan temui dia lagi!"


Adit lalu mengambil satu map lagi dari tasnya dan memberikannya pada Deva. Ia juga memberikan sebuah bolpen.


Tanpa bertanya Deva membuka map itu.


"Penyerahan hak asuh anak, sekedar buat berjaga jaga kalau lo bikin ulah di kemudian hari!" ucap Adit.


Tanpa pikir panjang Deva segera menandatanganinya. Begitu juga dengan surat perjanjian yang sudah Adit buat, ditandatangani oleh Deva.


Kini Deva tidak akan bisa lagi menemui Ana dan anaknya, apapun yang terjadi. Karena jika Deva melanggarnya, bukti yang Adit punya cukup kuat untuk menyeret Deva membusuk di penjara.


Setelah masalahnya dengan Deva selesai, Adit pun memberikan segepok uang pada Deva lalu pergi meninggalkan kafe itu tanpa Deva.


Adit segera menemui Ana di rumah barunya. Setelah beberapa jam perjalanan, ia akhirnya sampai.


"Selamat siang Pak Adit," sapa Candra yang dibalas senyum dan anggukan kepala Adit.


"Selamat siang Pak," sapa Agus yang sedang membersihkan kolam ikan.


Sebelum Adit masuk, Ana sudah lebih dulu keluar dan menghambur dalam pelukan Adit.


"Akhirnya kamu dateng," ucap Ana yang masih memeluk Adit manja.


Adit lalu mencium kening Ana dan mengajaknya masuk.


"Kamu udah makan siang?" tanya Adit pada Ana yang duduk di sampingnya dengan bersandar manja padanya.


"Belum, bu Desi masih masak," jawab Ana.

__ADS_1


"Mereka semua baik kan sama kamu? apa ada yang bikin kamu nggak nyaman?"


"Nggak ada, mereka semua baik," jawab Ana.


"Kamu dari mana? kayak kecape'an banget?" lanjut Ana bertanya.


"Aku.... aku cuma kurang tidur," jawab Adit berbohong. Ia sudah melakukan perjalanan panjang sejak pagi pagi buta dan itu cukup melelahkan baginya.


"Dit, bu Desi nggak mau belanja pake uangku, katanya kamu udah kasih bu Desi uang belanja, iya?"


"Iya, kamu nggak perlu mikirin itu, yang penting kamu harus sehat biar dia juga sehat," ucap Adit sambil mengusap perut Ana.


"Permisi mbak Ana, Pak Adit, makan siang sudah siap," ucap Lisa pada Ana dan Adit.


Ana dan Aditpun segera ke meja makan. Setelah selesai makan siang, Adit dan Ana bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi.


"Aku ke kamar mandi bentar ya!" ucap Ana yang dibalas anggukan kepala Adit.


Saat Ana baru saja pergi, Bu Desi menghampiri Adit dengan membawa buah buahan.


"Silakan pak!"


"Makasih, mmmmm.... bu Desi, Adit mau tanya sesuatu?"


"Tanya apa pak?"


"Apa Ana bilang sesuatu sama bu Desi?"


"Enggak pak, mbak Ana nggak bilang apa apa, kenapa pak? apa ada yang salah?"


"Enggak, saya cuma agak heran aja, dia jadi manja sama saya," jawab Adit.


"Itu wajar pak, kalau perempuan hamil emang biasa begitu, lebih manja dan lebih suka diperhatikan," ucap bu Desi.


"Emang gitu ya bu?"


"Iya pak, itu wajar kok, biasanya selain manja juga lebih cemburuan, lebih sensitif, jadi gampang terbawa perasaan begitu kalau kata anak muda sekarang jadi baper hehe...."


"Ooohh, pantesan dia jadi gampang nangis sekarang."


"Pokoknya pak Adit harus ekstra sabar kalau hadapin perempuan hamil, biar suasana hati mbak Ana tetap baik!"


"Iya, makasih bu Desi."


"Saya permisi pak," ucap Bu Desi lalu meninggalkan Adit.


"Lagi ngomong apa sama Bu Desi? seru banget kayanya!" tanya Ana yang tiba tiba datang.


"Bukan apa apa, kamu mau apel?"


"Mau mau!" jawab Ana cepat.


Adit lalu memikirkan ide jahil untuk Ana.


"Nih!" ucap Adit sambil memberikan satu apel utuh pada Ana.


"Nggak dikupas? dipotong?" tanya Ana.


"Kamu bisa sendiri kan?"


"Oke, aku bisa sendiri," jawab Ana dengan nada kesal.


Ia lalu mengambil pisau dan mulai mengupas apel di hadapannya. Saat memotong apel itu, tanpa sengaja pisau itu mengenai jari Ana, membuat jarinya berdarah.


"Aaaawwww!!!" pekik Ana.


"Jari kamu.... Lisa, tolong ambil kotak P3K!" teriak Adit pada Lisa.


Adit lalu mengambil tissue di hadapannya untuk membersikan darah di jari Ana.


"Hati hati dong An, kamu...."


Adit menghentikan ucapannya begitu ia melihat Ana menangis.


"Apa sesakit itu?" tanya Adit yang dibalas gelengan kepala Ana.


"Terus?"


"Sakitnya di sini, kamu nggak mau kupasin apelnya buat aku," ucap Ana dengan terisak dan memegang dadanya.


"kamu nangis cuma karena aku nggak kupasin apel? apa kabar Ana yang biasa angkat galon sendiri? hehehe....." batin Adit terkekeh.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Ana yang semakin kencang menangis.


"Ssstttt.... aku nggak ketawa An, udah ya, aku minta maaf, oke?"


"Kamu jahat!"


"Aku minta maaf An, aku akan kupasin kamu semua apel ini, terus aku potong kecil kecil buat kamu!"


"Beneran?"


"Iya, sekarang aku obati dulu luka kamu!"


Setelah mengobati luka Ana, Adit mengupas 5 apel dan memotongnya kecil kecil.


"Udah selesai, silakan dinikmati Nona Ana!"


"Aku udah nggak pingin apel," jawab Ana sambil memasukkan anggur ke dalam mulutnya.


"Tapi aku udah kupas dan potong semuanya buat kamu!"


"Tapi aku pinginnya makan anggur Adit, nggak boleh?"


Adit menarik napasnya dalam dalam lalu tersenyum dan memeluk Ana.

__ADS_1


"Semuanya buat kamu, asal kamu senang," ucap Adit lalu mencium kening Ana.


Ana hanya tersenyum lalu menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Adit.


__ADS_2