Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Liburan Dini dan Dimas


__ADS_3

Flashback sebelum Adit menghubungi Dini


Andi yang baru saja pulang dari home store nya masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang letih.


Kepindahan home store cukup membuatnya sibuk dan lelah, belum lagi hubungannya dengan Dini yang masih dingin membuat pikirannya terbagi.


"Baru pulang sayang?" tanya mama Siska yang sedang membaca buku di ruang tamu.


"Iya ma," balas Andi.


"Langsung mandi ya, mama tunggu di meja makan," ucap mama Siska.


"Iya ma," balas Andi lalu menaiki tangga ke arah kamarnya.


Namun baru beberapa anak tangga terpijak, Andi terpeleset dan terjatuh sampai ke bawah. Mama Siska yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Andi bersama salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan juga melihat Andi terjatuh.


"Cepet panggil Lukman mbak!" perintah mama Siska pada asisten rumah tangganya.


"Mana yang sakit sayang? kamu masih bisa rasain kaki kamu kan?" tanya mama Siska yang begitu khawatir pada Andi.


"Andi nggak papa kok ma," jawab Andi sambil berusaha menggerakkan kakinya namun terasa begitu sakit.


Tak lama kemudian pak Lukman datang dan segera membantu Andi berdiri. Dengan sekuat tenaga Andi berusaha untuk tetap bisa berdiri dengan bantuan pak Lukman.


Ia tidak ingin membuat sang mama khawatir padanya.


Mereka lalu segera pergi ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, mama Siska tak henti hentinya menanyakan apa yang Andi rasakan, bagian mana yang terasa sakit dan lain sebagainya.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Andi dan beruntung tidak ada luka yang serius pada Andi.


Pak Lukman lalu segera menghubungi Adit untuk memberitahukan keadaan Andi pada Adit.


"Halo mas Adit, saya cuma mau kasih tau kalau mas Andi sekarang lagi di rumah sakit," ucap pak Lukman saat Adit sudah menerima panggilannya.


"Di rumah sakit? kenapa pak?" tanya Adit khawatir.


"Mas Andi jatuh dari tangga mas, tapi Dokter bilang keadaannya baik baik saja, tidak ada luka yang serius," jawab Pak Lukman menjelaskan.


"Apa saya bisa bicara sama Andi sekarang pak?"


"Bisa mas, sebentar," jawab pak Lukman lalu masuk ke ruangan Andi dan memberikan ponselnya pada Andi.


"Halo kak, ada apa?"


"Lo di rumah sakit? kenapa? jatuh dari tangga? mama tau? gimana keadaan lo?"


"Iya lagi di rumah sakit, tapi gue nggak papa kok, cuma terkilir aja kayaknya," jawab Andi.


"Lo jangan bohong deh sama gue, gue mau ngomong sama dokternya!"


"Lo nggak percaya sama gue? gue baik baik aja, mama aja yang khawatir banget sampe bawa ke rumah sakit, lo tau sendiri kan gimana mama," ucap Andi sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang mama.


Mama Siska hanya tersenyum dan memukul pelan lengan Andi.


"Mama ada di sana? gue mau ngomong sama mama!"


Andi lalu memberikan ponsel pak Lukman pada sang mama.


"Halo sayang, kamu dimana sekarang? udah di bandara?"


"Adit masih di jalan ma, Adit bisa ke rumah sakit sekarang kalau...."


"Jangan Dit, adik kamu baik baik aja kok, mama aja yang terlalu khawatir, Dokter bilang nggak ada luka yang serius, besok pagi dia udah boleh pulang," ucap mama Siska memotong ucapan Adit.


"Syukurlah kalau gitu, selalu kasih kabar Adit ya ma kalau ada apa apa!"


"Iya sayang, kamu jangan terlalu mikirin mama sama Andi, kamu puas puasin aja liburan kamu!"


"Makasih ma, Adit tutup dulu ya!"


"Iya sayang."


Klik. Sambungan berakhir. Mama Siska lalu mengembalikan ponsel pak Lukman.


"Kakak kamu khawatir banget sama kamu," ucap mama Siska pada Andi.


"Sama kayak mama, padahal Andi cuma terkilir tapi harus di ruang VIP," balas Andi.


"Mama cuma mau kasih yang terbaik buat kamu sayang," ucap mama Siska.


"Makasih ma," balas Andi.


Di sisi lain, Adit segera menghubungi Dini untuk memberi tau Dini jika Andi berada di rumah sakit.


"Halo kak, ada apa lagi, Dini nggak nerima perintah hari ini sampe....."


"Andi di rumah sakit," ucap Adit memotong ucapan Dini.


"Kak Adit jangan bercanda, nggak lucu!" balas Dini yang terdengar tidak percaya, namun khawatir.


"Kakak serius Din, kakak lagi di bandara sekarang, bentar lagi pesawat kakak take off, kamu bisa ke rumah sakit buat liat keadaannya kan?"


"Di rumah sakit mana kak?"


"Di rumah sakit X, kakak......"

__ADS_1


Tuuuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Sambungan terputus, Adit hanya menyunggingkan senyumnya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Kenapa senyum senyum gitu?" tanya Ana yang saat itu berada di samping Adit.


"Nggak papa, cuma heran aja sama Dini, dia sok cuek sama Andi padahal aku tau dia masih peduli sama Andi," jawab Adit.


"Tapi kenapa kamu bohong sama Dini? kita aja belum nyampe bandara, pesawat take off masih sejam lebih."


"Aku cuma pingin tau respon dia aja An dan ternyata bener, mereka itu nggak bisa beneran berantem, Dini pasti langsung pergi ke rumah sakit sekarang."


"Tapi kamu bikin Dini khawatir loh Dit!"


"Biarin aja, biar Dini nggak terus terusan menghindar dari Andi, biar masalah mereka cepet selesai," balas Adit tanpa rasa bersalah.


"Berat banget ya masalahnya?" tanya Ana penasaran.


"Berat atau enggaknya aku nggak bisa menilai An, walaupun aku tau masalahnya seperti apa, tapi mereka sendiri yang jalani, mereka yang ngerasain jadi aku nggak berhak buat menilai seberapa besar masalah mereka," jawab Adit.


"Kalau masalah kita?"


"Seberat apapun masalah kita, kita pasti bisa selesaiin semuanya selagi kita sama sama," jawab Adit dengan menggenggam tangan Ana.


Ana hanya tersenyum dan menggenggam tangan Adit yang menggenggam nya.


Flashback off


Dini dan Dimas masih berada di ruangan Andi malam itu. Satu jam lagi pesawat mereka akan take off, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk sampai di bandara sekitar 30 menit.


Jika saja Dini tidak harus ke luar negri malam itu, ia pasti lebih memilih untuk menemani Andi di sana.


Namun ia juga tidak ingin mengecewakan Dimas. Ia tidak boleh menghancurkan rencana liburan yang sudah Dimas siapkan dari beberapa hari sebelumnya.


"Kita berangkat sekarang," ucap Dini.


"Kalian mau liburan?" tanya Andi pada Dini dan Dimas.


"Iya, kita berangkat dulu Ndi, lo cepet sembuh ya!" balas Dimas.


"Iya, safe flight!" ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dimas.


"Dini sama Dimas permisi ma," ucap Dini yang dibalas anggukan kepala mama Siska.


Dini dan Dimas lalu meninggalkan ruangan Andi.


"Kamu baik baik aja?" tanya mama Siska pada Andi.


"enggak ma, Andi nggak baik baik aja, Andi sedih, Andi udah kecewain seseorang yang Andi cintai, Andi pingin cegah dia pergi ma, Andi nggak mau dia pergi," jawab Andi dalam hati.


Andi hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin mama Siska terlalu mengkhawatirkan keadaannya. Terlebih tidak ada Adit di sana, ia harus bisa menjaga sang mama dengan baik.


**


Waktu berlalu, Dini dan Dimas sudah berada di Changi Airport. Mereka berjalan dengan membawa tas dan koper mereka masing masing.


Dimas lalu membawa Dini menemui seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang mas Dimas dan mbak Dini, ini kunci mobil dan hotel yang sudah saya siapkan," ucap seorang laki laki paruh baya pada Dimas.


"Terima kasih banyak pak," balas Dimas.


"Kalau ada yang dibutuhkan lagi mas Dimas bisa hubungi saya lagi," ucap laki laki itu.


"Baik pak, sekali lagi terima kasih," balas Dimas.


"Sama sama mas, mari saya tunjukkan mobilnya."


Dimas lalu mengikuti laki laki itu bersama Dini. Laki laki itu lalu meninggalkan Dimas setelah memberi tau letak mobil yang akan Dimas pakai selama Dimas berada di sana.


"Ini mobil siapa?" tanya Dini saat mereka sudah memasukkan koper mereka ke dalam bagasi mobil.


"Kita akan pake mobil ini selama kita di sini," jawab Dimas lalu membukakan pintu untuk Dini.


"Bapak bapak itu tadi siapa?"


"Namanya pak Adam, orang kepercayaan papa di sini, aku sengaja minta pak Adam buat siapin semuanya, transport, apartemen dan tiket buat ke tempat wisata," jawab Dimas menjelaskan.


"Kamu suka banget sih ngerepotin orang!"


"Biar aku masih bisa fokus sama pekerjaan sayang," balas Dimas membela diri.


Tak lama setelah berkendara, mereka sampai di tempat tujuan, yaitu hotel yang akan menjadi tempat istirahat mereka selama beberapa malam di Singapura.


Dimas dan Dini lalu segera merebahkan badan mereka di ranjang saat mereka baru saja masuk ke kamar mereka.


"Besok mau kemana?" tanya Dini pada Dimas.


"Kamu ada rencana kemana?" balas Dimas bertanya.


"Aku nggak ada rencana kemana mana, aku ikut semua rencana kamu aja!" jawab Dini.


"Oke, besok pagi aku mau ajak kamu ke Merlion Park, siangnya ke Universal, malemnya kita ke Marina Bay Sands, oke?"


"Tunggu tunggu, Marina Bay Sands?" tanya Dini meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, kamu bisa belanja apa aja di sana, kita juga bisa makan malam di Sands Skypark, kamu kan suka liat pemandangan dari rooftop!"


"Iya sih, tapi...."


"Nggak ada tapi tapi, sekarang kamu mandi, atau kita mandi bareng aja biar cepet?"


"Iiissshhh, dasar cowok mesum, aku mandi dulu!" balas Dini lalu segera mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.


Dimas lalu mengambil ponselnya dan memberi kabar pada sang mama jika ia sudah berada di hotel bersama Dini.


**


Malam berlalu, mentari pagi sudah menyambut Dini dan Dimas yang masih terlelap di dalam satu selimut yang sama.


Meski tidur dalam satu ranjang, tidak ada hal yang terjadi malam kemarin karena mereka sama sama tertidur setelah makan malam.


Dini mengerjapkan matanya dan mengambil ponselnya lalu membangunkan Dimas.


"Dimas, bangun, udah jam 8," ucap Dini dengan mata yang masih terpejam.


"Masih ngantuk sayang," balas Dimas lalu memeluk Dini.


"Tapi udah siang, kamu nggak mau abisin waktu kita cuma buat tidur di hotel kan?"


Dimas lalu membuka matanya, menatap wajah cantik di hadapannya dan tersenyum.


"Kamu juga masih ngantuk kan?" tanya Dimas dengan mencubit hidung Dini.


Dini hanya tersenyum lalu membuka matanya.


"Aku mau ambil dessert dulu," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.


Sedangkan Dini hanya diam dengan kembali memejamkan matanya. Dimas lalu mendekat dan mendaratkan kecupan singkatnya tepat di bibir Dini.


"Dessert yang manis," ucap Dimas yang membuat Dini tersipu.


"Aku mau mandi dulu!" ucap Dini lalu segera masuk ke kamar mandi.


Mereka lalu mandi bergantian dan bersiap untuk keluar dari hotel, menikmati liburan mereka yang hanya beberapa hari itu.


Seperti rencana Dimas di awal, Dimas akan mengajak Dini untuk berswafoto di ikon terkenal negara Singapura, yaitu patung Merlion di Merlion Park.


Saat mereka hendak kembali ke mobil, Dini menghentikan langkahnya. Ia melihat seseorang yang ia kenal berada diantara kerumunan.


"Ada apa sayang?" tanya Dimas.


"Aku kayak liat kak Adit," jawab Dini.


"Adit? atasan kamu?"


"Iya, tapi sama siapa? apa mbak Ana?"


"Kamu salah liat mungkin, ayo masuk ke mobil, kita ke Universal sekarang!"


Dini menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil. Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah Sentosa Gateway.


"Dimas, kamu nggak pernah cerita sama aku, selama kamu tinggal di sini dulu kamu ngapain aja?" tanya Dini.


"Nggak banyak yang bisa aku lakuin sayang, aku lebih sering baca baca buku papa atau pergi ke perpustakaan buat cari buku baru," jawab Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya. Meski ia ingin tau tentang Anita, ia tidak akan menanyakan nya pada Dimas. Ia tidak ingin merusak liburan mereka.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka menghabiskan waktu dengan mencoba hampir semua permainan yang ada di sana.


Setelah puas bermain, berfoto dan berkeliling, Dimas dan Dinipun meninggalkan tempat itu dan kembali ke hotel untuk beristirahat.


**


Langit malam itu tampak begitu ceria dengan gemerlap bintang dan sinar sang bulan. Dini tampak cantik dengan make up flawless nya.


Dimas lalu mengajak Dini untuk makan malam di Sands Skypark sesuai dengan rencana nya.


Sesampainya di sana, mereka menikmati makan malam mereka dengan pemandangan laut dan gemerlap lampu dari Garden by the Bay.


"Kamu bahagia sayang?" tanya Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya.


"Kamu selalu bisa bikin aku bahagia," jawab Dini.


"Aku selalu berusaha buat itu sayang, walaupun kadang apa terjadi nggak sesuai sama apa yang aku harapkan," ucap Dimas.


"Kamu selalu kasih aku hal hal indah yang nggak pernah bisa aku lupain, sejauh apapun kamu pergi, selama apapun waktu memisahkan kita," balas Dini.


Dimas lalu menggenggam tangan Dini dan menciumnya.


"Aku akan selesaiin semuanya secepat mungkin dan kita akan menikah secepatnya," ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


Saat Dini tengah mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat Adit di sana.


"Kak Adit!" ucap Dini.


Dimas lalu mengikuti arah mata Dini memandang dan benar saja ada Adit yang tampak sedang duduk seorang diri di sana.


"Dia sendirian?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Nggak mungkin, ada dua gelas di mejanya," jawab Dini.


Tak lama kemudian seseorang berjalan ke arah meja Adit dan duduk di hadapan Adit. Seseorang yang Dini kenal dan membuat Dini cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2