
Siang itu Adit dan mama Siska masih berada di rumah Ana.
"Mama jadi merasa bersalah sama Ana, dia pasti syok banget waktu mama datang," ucap mama Siska.
"Yang penting sekarang semuanya baik baik aja ma, Adit sangat berterima kasih sama mama karena udah mengerti keadaan Ana," balas Adit.
"Mama juga minta maaf sama kamu Dit, maaf atas sikap mama yang kasar sama kamu tadi," ucap mama Siska.
"Nggak papa ma, Adit mengerti, ini cuma salah paham," balas Adit.
"Lalu apa rencana kamu untuk Ana Dit? kasian dia kalau harus di rumah tanpa kamu bolehin keluar!"
"Buat sementara Adit minta Ana untuk tetap di rumah ma, sampai dia melahirkan, setelah itu Adit akan menikahinya, apa mama setuju?"
"Nggak ada alasan mama buat nggak setuju Dit, mama percaya Ana adalah perempuan yang baik buat kamu," jawab mama Siska.
"Terima kasih ma," ucap Adit dengan memeluk sang mama.
"Tapi apa mama boleh tau, kenapa kamu mau menikahi Ana setelah kamu tau apa yang terjadi sama Ana? kamu menikahi dia bukan cuma karena kasian sama dia kan?"
Adit melepaskan dirinya dari pelukan sang mama dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Adit udah lama nyimpen perasaan sama Ana ma, saat Adit tau Ana mau menikah Adit berusaha buat tetep jaga Ana di samping Adit, itu kenapa Adit nggak mau dia resign, tapi Adit juga nggak bisa egois jadi Adit lepasin Ana dan biarin dia keluar dari perusahaan, setelah Adit tau apa yang terjadi sama Ana dan Deva, Adit berjanji sama diri Adit sendiri kalau Adit akan jagain Ana dan anak dalam kandungannya, Adit nggak akan biarin Ana terluka untuk kedua kalinya," jawab Adit menjelaskan.
"Mama inget waktu pertama kali kamu kenalin Ana sebagai pacar kamu dulu, dari sorot mata kamu mama tau kalau kamu mencintai dia, tapi mama sangat kecewa saat mama tau kalau kalian cuma berbohong," ucap mama Siska.
"Maafin Adit ma," balas Adit.
"Adit, mama bangga sama kamu, kamu tumbuh dewasa tanpa cinta dan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua kamu tapi kamu bisa jadi sosok yang begitu membanggakan buat mama dan papa," ucap mama Siska.
"Mama dan papa adalah orangtua terbaik buat Adit, Adit nggak akan bisa jadi seperti sekarang kalau bukan karena cinta dan kasih sayang mama dan papa," balas Adit.
Mama Siska tersenyum bahagia lalu memeluk Adit. Anak laki lakinya sekarang tumbuh menjadi pria dewasa dengan segala kebaikan dalam dirinya.
Waktu terasa berlalu begitu cepat, anak kecil yang dulu ada dalam gendongannya sekarang sudah menemukan gadis yang dicintainya.
Mau tak mau, ia harus melepaskan Adit pergi, membiarkan Adit meniti jalan barunya bersama pilihan hidupnya. Sebagai orangtua ia hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan anak anaknya meski sebenarnya terasa berat jika harus membiarkan Adit jauh darinya.
"Kamu harus cari baby sitter Dit, kamu juga harus tambah asisten rumah tangga dan supir buat Ana," ucap mama Siska pada Adit.
"Iya ma, Adit kenal orang yang bisa bantuin Adit soal itu," balas Adit.
"Kamu juga harus persiapin semua kebutuhan setelah Ana melahirkan, nggak cuma buat bayinya tapi juga buat Ana," ucap mama Siska.
"Buat Ana? Adit cuma beli keperluan bayinya aja."
"Setelah ini mama akan antar kamu cari keperluan buat Ana setelah dia melahirkan," ucap mama Siska.
"Iya ma," balas Adit.
"Oh iya, mulai besok mama akan tinggal di sini sampai Ana melahirkan, mama juga bawa Lukman buat tinggal di sini, nggak papa kan?"
"Mmmmm...... Adit tanyain Ana dulu ya ma, Adit takut Ana nggak nyaman kalau terlalu banyak orang," jawab Adit.
"Iya nggak papa, kamu tanyain dulu sama dia," balas mama Siska.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tercium bau masakan dari dapur.
Mama Siska lalu pergi ke dapur untuk membantu Bu Desi memasak. Sedangkan Adit menemui Ana di kamarnya.
Adit duduk di samping Ana dan membelai wajahnya. Ia sangat bahagia karena akhirnya ia tidak perlu menyembunyikan Ana dari sang mama.
Ana lalu memegang perutnya dengan raut wajah yang tampak merintih.
Adit lalu mengusap perut Ana, ia merasakan gerakan bayi dalam perut Ana.
"Dia bangunin kamu buat makan siang An," ucap Adit pelan.
Ana lalu mengerjapkan matanya dan melihat Adit di sampingnya.
"Adiitt...."
"Iya, kenapa!"
"Apa aku terlalu lama tidur?"
"Enggak, tapi sekarang kamu harus bangun buat makan siang," jawab Adit lalu membantu Ana untuk bangun.
"Gimana keadaan kamu? apa masih ada yang kamu pikirkan?" tanya Adit.
"Mama Dit, mama Siska pasti sedih karena tau anaknya mencintai perempuan yang udah hamil dengan laki laki lain," jawab Ana.
"Justru mama mengkhawatirkan kamu An, kamu adalah perempuan terbaik yang mama percaya buat jadi masa depan aku, mama nggak peduli dengan masa lalu kamu, yang paling penting adalah kita saling mencintai, itu udah cukup buat mama bisa terima hubungan kita," ucap Adit.
"Tapi....."
"An, jangan pikirkan hal lain yang memberatkan kamu," ucap Adit dengan menggenggam tangan Ana.
Ana hanya diam dengan menganggukkan kepalanya.
"Nggak cuma aku yang sayang sama kamu An, mama dan Andi juga sayang sama kamu, mama malah pingin tinggal di sini biar bisa jagain kamu dan nemenin kamu," ucap Adit.
"Tinggal di sini?"
"Iya, itu kalau kamu nggak keberatan," jawab Adit.
__ADS_1
"Aku nggak keberatan, tapi apa mama nyaman tinggal di rumah ini? aku juga takut kalau aku akan ngrepotin mama nanti," balas Ana.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Pintu kamar di ketuk, mama Siska lalu membuka pintu dengan perlahan.
"Apa mama ganggu?" tanya mama Siska.
"Enggak ma," jawab Adit.
Mama Siska lalu berjalan ke arah Ana dan duduk di tepi ranjang Ana.
"Kaki kamu bengkak sayang," ucap mama Siska pada Ana.
"Iya ma, padahal Ana udah sering jalan jalan di sekitar rumah," balas Ana.
Mama Siska tanpa ragu menyentuh kaki Ana dan memijit pergelangan kaki Ana dengan pelan.
"Jangan ma, Ana nggak papa kok," ucap Ana yang merasa sungkan.
"Kamu nggak bisa jaga Ana dengan baik Dit, kenapa kamu biarin kakinya sampe bengkak kayak gini!"
"Adit.... Adit nggak tau ma," balas Adit.
"Kamu jangan terlalu sibuk di kantor sampe lupa sama Ana, dia juga butuh perhatian kamu Dit!" ucap mama Siska.
Adit dan Ana hanya saling pandang mendengar ucapan mama Siska. Ana tersenyum sumringah saat mama Siska mengomeli Adit.
Setelah selesai memijit kaki Ana, merekapun keluar dari kamar untuk makan siang.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dini baru saja keluar dari sebuah gedung bersama Jaka.
Dini menunggu Jaka yang masih mengambil mobil. Namun sampai 15 menit berlalu, Jaka belum juga menghampirinya.
Dini mengambil ponselnya dan menghubungi Jaka, sialnya ponselnya kehabisan daya membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun saat itu.
"Pak Jaka kemana sih, aku juga nggak inget mobilnya lagi, harusnya tadi aku ikut ke basement!" ucap Dini kesal.
Dini masih menunggu sampai kakinya terasa pegal. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang seorang diri dengan menggunakan bus.
Dini berjalan ke arah halte yang tak jauh dari gedung itu. Saat baru saja duduk, sebuah mobil yang dikenalnya berhenti di depannya.
Dinipun berdiri dari duduknya dan si pemilik mobil keluar dari dalam mobil.
"Mau pulang?" tanya Andi.
"Iya," jawab Dini singkat. Ia masih agak canggung karena kejadian di bukit kemarin.
"Nggak papa, aku udah biasa kok," balas Dini menolak.
Andi lalu menarik tangan Dini dan satu tangannya membuka pintu mobilnya.
"Aku nggak mau bikin kemacetan di sini," ucap Andi dengan tersenyum lalu menutup pintu mobilnya.
Andi berlari kecil melewati depan mobilnya lalu masuk dan duduk di balik kemudi.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Andi.
"Aku.... aku lagi gantiin pertemuannya kak Adit," jawab Dini.
"Sendirian?" tanya Andi.
"Tadinya sama pak Jaka, tapi tiba tiba pak Jaka ngilang nggak tau kemana," jawab Dini yang sudah lebih bisa mengendalikan dirinya.
Tanpa Dini tau, sebelum Andi memutuskan untuk menghentikan mobilnya di hadapan Dini, ia juga bergulat dengan perasaannya sendiri.
Fakta bahwa sebentar lagi Dini akan menikah membuatnya lukanya terasa semakin perih, namun saat kejadian di bukit terulang di memorinya membuat jantungnya berdetak tak menentu.
Ia berusaha untuk bisa menguasai dirinya agar tidak canggung di hadapan Dini. Ia berusaha melupakan hal yang tidak seharusnya terjadi itu.
Biiiiippp biiiipp biiipp
Ponsel Andi berdering, Andipun menepikan mobilnya.
"Bentar ya Din," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Andi lalu menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan Rama.
"Halo bos, klien yang kemarin cerewet minta ketemu sekarang di kafe X," ucap Rama.
"Ibu ibu yang beberapa hari yang lalu marah marah?" tanya Andi.
"Iya bener, katanya mau langsung ketemu sama ownernya, dia bakalan minta ganti rugi atau tuntut clothing arts ke pengadilan kalau ownernya nggak temui dia!"
"Hahaha.... ada ada aja, kirim alamat kafenya, biar sekalian gue kasih tau dia syarat buat tuntut clothing arts biar diterima pengadilan!" ucap Andi menantang.
"Iiihhh serem," balas Rama lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt
"Halo, Rama!"
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
__ADS_1
Pesan masuk, Andi lalu mengecek pesan dari Rama yang menunjukkan lokasi kafe yang dimaksud.
"Ada apa Ndi?" tanya Dini.
"Kamu buru buru pulang nggak?" balas Andi bertanya.
"Enggak, kenapa?"
"Ikut aku bentar ya, aku harus ketemu klien di kafe deket sini," jawab Andi.
"Oke, tapi aku nanti duduk di meja lain ya, aku nggak mau ganggu kamu sama klien kamu!"
"Oke," balas Andi.
Andi lalu mengendarai mobilnya menuju ke kafe.
"Emang ada masalah apa?" tanya Dini penasaran.
"Dia klien ku dari bulan lalu, dia order pakaian buat karyawannya, aku udah bikin desain sesuai yang dia mau, tapi nggak pernah sesuai sama yang dia mau sampe aku berkali kali ganti desainnya dan ikutin detail yang dia mau walaupun aku tau jadinya nggak akan bagus, aku udah ingetin dia kalau hasilnya akan keliatan aneh, tapi dia kekeh dan akhirnya dia marah marah karena dia bilang hasilnya nggak sesuai sama perkiraan dia," jawab Andi menjelaskan.
"Emang seburuk itu hasilnya?" tanya Dini.
"Kamu ngatain desainku buruk?" balas Andi bertanya.
"Enggak, bukan itu maksud ku, maksudku desain dari orangnya yang kamu bilang aneh itu," jawab Dini yang membuat Andi terkekeh.
"Iya iya aku ngerti, nanti aku kasih tau kamu fotonya," balas Andi.
"Terus sekarang dia mau ngapain lagi ketemu kamu?"
"Rama bilang dia mau minta ganti rugi dan nuntut clothing arts ke jalur hukum," jawab Andi.
"Iiihhhh jahat banget, padahal kan dia yang salah," balas Dini.
Andi hanya tersenyum tipis. Saat mereka tiba di kafe, Andi dan Dinipun turun dari mobil.
Andi yang hendak menggandeng tangan Dini seperti biasanya tiba tiba menjadi ragu dan menahan tangannya.
"Kamu duduk di sini ya, aku kesana dulu," ucap Andi sambil menggeser kursi untuk Dini duduk, sedangkan ia sendiri menghampirinya seorang wanita yang duduk tak jauh dari meja Dini.
Dini duduk di kursinya sambil sesekali memperhatikan Andi dan kliennya. Dari yang ia lihat, tidak tampak ketegangan diantara mereka berdua. Ia malah melihat jika Andi dan kliennya sesekali tampak tertawa.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiipp
Ponsel Dini berdering, Dini mengambil ponsel dalam tasnya dan melihat sebuah nama di layar ponselnya.
Dini tersenyum dan menggeser tanda panah hijau di ponselnya.
"Halo sayang," sapa seorang laki laki dari ponselnya.
"Halo Dimas, kamu udah pulang?"
"Aku masih di kantor, kamu udah pulang?"
"Mmmm.... aku.... aku....."
Dini ragu untuk mengatakan yang sejujurnya. Ia takut jika Dimas akan salah paham dan marah padanya karena ia sedang bersama Andi saat itu, meskipun ia dan Andi tidak duduk di satu bangku.
Namun ia juga tidak ingin berbohong pada Dimas.
"Halo sayang, are you there?"
"Iya, maaf sinyalnya susah, aku udah pulang tapi belum nyampe rumah," jawab Dini.
"Lagi di bus!"
"Enggak sih, aku tadi ada pertemuan sama Pak Jaka di perusahaan X, tapi pak Jaka ninggalin aku dan nggak sengaja aku ketemu Andi terus dia anterin aku pulang," ucap Dini.
"Jadi kamu lagi sama Andi sekarang?"
"Iya, tapi dia lagi ketemu kliennya, jadi aku nunggu dia," jawab Dini.
"Kamu nemenin Andi ketemu kliennya?"
"Enggak, aku nggak nemenin dia, aku cuma ikut aja karena kebetulan tempat Andi ketemu kliennya nggak jauh dari tempatku meeting tadi, daripada Andi bolak balik jadi aku ikut aja, tapi kita beda bangku, aku nunggu dia di bangku lain," jawab Dini menjelaskan.
"Hahaha..... kenapa kamu detail banget sih jelasinnya!"
"Kok kamu malah ketawa sih, aku takut kamu salah paham dan marah lagi sama aku," ucap Dini.
"Enggak sayang, aku ngerti kok, aku percaya sama kamu," balas Dimas.
"Makasih Dimas," ucap Dini.
"Ya udah aku lanjut dulu ya, love you sayang!"
"Love you too," balas Dini.
Panggilan berkahir.
Di sisi lain, Andi mulai risih dengan percakapan nya dengan kliennya. Tak seperti dugaannya, kliennya bahkan tidak membicarakan tuntutan ataupun ganti rugi seperti yang Rama bilang.
"Apa dia pacar kamu?" tanya klien Andi.
"Iya, dia pacar saya," jawab Andi yang terpaksa berbohong.
__ADS_1