
Ibu dan ayah Andi membaca dengan seksama apa yang Adit berikan pada mereka. Mereka tak pernah menyangka jika mantan majikan mereka yang memberikan anaknya pada mereka mengalami hal buruk itu selama puluhan tahun lamanya.
"Om dan tante bisa klarifikasi laporan itu di rumah sakit buat membuktikan keasliannya, selama ini Adit berusaha cari Andi, tapi selalu menemui jalan buntu, sama seperti om dan tante yang sangat menyayangi Andi, Adit juga sangat menyayangi mama lebih dari diri Adit sendiri, apapun akan Adit lakukan buat kebahagiaan mama."
"Apa kalian mau ambil Andi dari kami?" tanya ayah Andi dengan suara bergetar.
Meski ia tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya pada Andi, namun dalam hatinya ia sangat menyayangi Andi, baginya Andi adalah anak semata wayangnya yang merupakan bagian dari dirinya.
"Adit cuma minta om sama tante jangan halangi Andi dan mama, biarkan Andi tau cerita yang sebenarnya dan biarkan Andi sendiri yang memilih kemana dia akan melanjutkan hidupnya, tapi Adit mohon sekali lagi, jangan halangi mama sama Andi," jawab Adit memohon.
"Andi anak kita yah, Andi masa depan kita, kita nggak mungkin biarin Andi pergi kan?" tanya ibu Andi pada sang suami.
"Ayah tau, tapi Andi juga berhak tau yang sebenarnya bu, dia juga berhak tau siapa keluarganya yang sebenarnya," jawab ayah Andi.
"Ibu nggak siap yah, ibu nggak siap kehilangan Andi," ucap ibu Andi dengan terisak.
Adit lalu mendekat dan menggengam tangan ibu Andi.
"Tante nggak akan kehilangan Andi bahkan kalau Andi pilih mama, kalian akan tetap jadi keluarga Andi, Adit yakin Andi juga nggak mau kehilangan ibu dan ayah seperti om dan tante," ucap Adit.
Ibu Andi hanya menangis, dadanya terasa sesak. Setelah 25 tahun menyembunyikan fakta itu dari Andi, akhirnya takdir mengungkapkan fakta itu begitu saja.
**
Di tempat lain, Dini dan Dimas sedang berada di halaman rumah sakit. Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di sana.
Entah kenapa Dini hanya memikirkan Andi saat itu. Ia mengingat dengan baik apa yang Andi katakan padanya beberapa hari yang lalu.
"Kamu adalah aku, kebahagiaan kamu itu kebahagiaan aku, begitu juga kesedihan kamu itu kesedihan aku juga, kamu itu dunia ku Din, selama kamu bahagia, dunia ku akan baik baik aja,"
Dini tersenyum kecil mengingat ucapan Andi saat itu. Sebuah kalimat yang terdengar begitu tulus dari seorang sahabat. Kalimat indah yang akan membuat siapapun yang mendengarnya akan jatuh cinta padanya.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Dini.
"Kenapa?" balas Dini bertanya.
"Kamu senyum senyum sendiri, mikirin apa?"
"Enggak, nggak mikirin apa apa, kamu kapan balik ke apartemen?"
"Mungkin nanti malem, aku nggak bisa izin terlalu lama," jawab Dimas.
Tak lama kemudian ibu Dini datang dengan membawa minuman dan memberikannya pada Dini dan Dimas.
"Din, ada hubungan apa atasan kamu sama keluarganya Andi?" tanya ibu Dini yang sudah penasaran sejak tadi.
"Dini juga nggak tau bu, sekarang bukan saat yang tepat buat nanyain itu ke kak Adit," jawab Dini.
"Iya juga, ibu harus pulang sekarang Din, ibu harus bikin kue pesanan bu RT," ucap ibu Dini.
"Dimas antar bu!" sahut Dimas.
"Nggak perlu, ibu bisa naik bus, kalian di sini aja dulu!"
"Naik taksi aja ya bu, Dini pesenin taksinya," ucap Dini.
"Iya, ibu pamit ibunya Andi dulu," balas ibu Dini.
Mereka lalu kembali menemui ibu dan ayah Andi. Setelah ibu Dini berpamitan, ibu Dini keluar dari rumah sakit karena taksi yang dipesan Dini sudah menunggu di luar.
"Kalian pulang aja nggak papa," ucap ibu Andi pada Dini, namun Dini dan Dimas masih bersikeras untuk menunggu Andi sadar.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dini dan Dimas masih duduk di depan ruangan Andi.
"Dimas, kamu mau balik sekarang?" tanya Dini pada Dimas.
"Kamu gimana?"
"Aku mau di sini dulu," jawab Dini.
"Aku anter kamu pulang ya, besok kamu bisa ke sini lagi!"
__ADS_1
"Enggak Dimas, aku bisa pulang sendiri nanti, aku mau di sini dulu."
"Kamu juga harus istirahat Andini, kamu harus jaga kesehatan kamu!"
"Aku baik baik aja kok, kamu tenang aja!" ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
"Tapi aku nggak bisa biarin kamu sendirian di sini," ucap Dimas.
"Ada ibu dan ayahnya Andi kok, kamu jangan khawatir!"
"Tapi sayang...."
"Kamu harus pulang Din!" ucap Adit yang tiba tiba datang menghampiri Dimas dan Dini.
"Kak Adit masih di sini?" tanya Dini.
"Kamu harus masuk kantor besok, jadi kamu harus pulang sekarang!"
"Tapi Andi belum sadar kak, Dini mau nungguin Andi di sini sampe dia sadar!" ucap Dini bersikeras dengan pendiriannya.
"Kantor butuh kamu Din, ada orangtuanya Andi yang jagain dia di sini, ada suster dan Dokter yang terus pantau keadaannya, jadi kamu nggak punya alasan buat ninggalin pekerjaan kamu!"
Dini lalu menundukkan kepalanya kesal pada dua laki laki di kanan dan kirinya.
"Kakak akan hubungi kamu kalau Andi udah sadar, kamu pulang ya!" ucap Adit dengan mengusap rambut Dini.
"Singkirin tangan lo!" ucap Dimas sambil menepuk tangan Adit di atas kepala Dini.
"Sorry," balas Adit lalu menarik tangannya.
"Aku anter kamu pulang ya!" ucap Dimas yang pada akhirnya dibalas anggukan kepala oleh Dini.
Dini dan Dimas lalu meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan pada Adit dan orangtua Andi.
Dalam perjalanan pulang, Dini dan Dimas tak banyak bicara. Sejak Andi dirawat di rumah sakit, Dini memang tak banyak bicara. Hal itu membuat Dimas sedikit kesal, namun ia harus bisa menahannya mengingat situasi yang sedang terjadi saat itu.
Ia tidak ingin membuat pikiran Dini semakin terbebani.
"Andini, aku boleh peluk kamu?" tanya Dimas.
"Kenapa kamu tanya gitu?" balas Dini bertanya.
"Aku cuma takut kamu tolak lagi," jawab Dimas yang terdengar begitu kecewa.
Dini lalu menggeser posisi duduknya dan mencium pipi Dimas.
"Maafin aku Dimas, aku nggak tau apa yang udah aku lakuin, aku....."
"Kepikiran Andi?"
Dini mengangguk kecil.
"Aku ngerti sayang, nggak papa," ucap Dimas lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Dini turun.
Dini lalu memeluk Dimas saat ia baru saja turun.
"Kamu marah?" tanya Dini yang masih memeluk Dimas.
"Enggak, kamu harus masuk sayang!" jawab Dimas sambil melepaskan pelukan Dini, namun Dini semakin erat memeluknya.
"Aku tau kamu kesel sama aku, maafin aku," ucap Dini.
Dimas hanya diam dan membalas pelukan Dini dengan erat lalu melepasnya. Dimas memegang kedua pipi Dini dan menatap kedua mata Dini dengan dalam.
"Aku tau kamu sedih, aku juga sedih, dia juga sahabat aku Andini," ucap Dimas.
Dini menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk Dimas.
"Aku balik dulu sayang, jaga diri kamu baik baik, kabarin aku kalau Andi udah sadar," ucap Dimas lalu mencium kening Dini dan meninggalkan rumah Dini.
**
__ADS_1
Waktu berlalu, hari berganti. Sudah 5 hari sejak transplantasi ginjal di lakukan, Andi belum juga sadar. Kini hanya ibu Andi dan orang suruhan Adit yang menjaga Andi di depan ruangannya.
Begitu juga mama Siska, hanya ada pak Lukman yang menjaganya di depan ruangannya.
Sedangkan Adit, Dini dan ayah Andi harus kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. Meski terasa begitu berat, hidup harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Untuk sementara keadaan itu membuat senyum dan keceriaan dari wajah orang orang itu memudar. Tak pernah terlintas dalam benak mereka jika hal buruk itu akan terjadi.
Hari itu, Dokter sudah mengizinkan pihak keluarga untuk masuk ke dalam ruangan Andi. Saat Dini tiba di sana, ia segera masuk menemui sahabatnya yang masih terpejam.
Ibu Andi yang menyadari kedatangan Dini segera keluar dari ruangan itu, ia harus memberikan waktu pada Dini untuk berdua dengan Andi.
Dini lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Andi. Ia menatap lekat lekat wajah sahabatnya itu. Ia menyentuh tangan Andi dengan gemetar. Kesedihan membuat air matanya mengalir begitu saja. Rasa sesak memenuhi dadanya saat ia melihat sahabatnya yang masih terpejam selama berhari hari di ranjang rumah sakit.
"Aku tau kamu pasti kuat Ndi, aku tau kamu sedang berjuang, tapi kamu juga harus tau kalau aku kangen sama kamu, rasanya menyakitkan karena cuma bisa liat kamu dari balik pintu, liat kamu terpejam tanpa aku tau kapan kamu akan bangun, aku nggak tau apa yang aku rasain ini karena aku sahabat kamu atau ada alasan lain di hatiku yang aku nggak bisa ngerti, aku mohon kamu bangun Ndi, jelasin semuanya sama aku, jelasin kalau apa yang aku rasain ini karena aku sahabat kamu, bukan karena ada perasaan lain yang nggak seharusnya ada," ucap Dini dengan terisak.
"Aku nggak tau kenapa beberapa hari ini aku selalu ingat kata kata kamu malam itu 'kamu adalah aku, kebahagiaan kamu itu kebahagiaan aku, begitu juga kesedihan kamu itu kesedihan aku juga, kamu itu dunia ku Din, selama kamu bahagia, dunia ku akan baik baik aja'," ucap Dini menirukan ucapan Andi padanya beberapa hari yang lalu.
"Aku sayang sama Dimas Ndi, aku cinta sama dia, banyak yang udah kita lalui bersama, tapi kenapa aku nggak bisa lepasin kamu, aku nggak bisa cuma pilih Dimas dan ninggalin kamu, aku bahkan nggak mau kamu pergi dari aku dan aku sadar kalau ternyata aku masih egois."
"Kamu inget waktu kita masih kecil, kamu selalu berantem sama Dimas karena dia selalu gangguin aku, bahkan sampe kita SMA kamu masih suka berantem sama dia, tapi sekarang kalian bersahabat baik, kamu sama Dimas, kalian dua laki laki yang berharga di hidup aku, tapi......"
Dini menghentikan ucapannya. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya. Perasaan asing yang ia rasakan membuat hatinya terasa kacau.
"Andi, ada sesuatu yang asing di hati aku, perasaan yang aku nggak bisa ngerti, perasaan yang bikin aku goyah sama keputusanku, aku mau kamu bangun dan bantu aku jelasin semua ini Ndi, aku mohon."
"Bangun Ndi, aku di sini nungguin kamu, aku di sini ingin peluk kamu dan nggak akan lepasin kamu, rasa rindu yang aku rasain sekarang terlalu menyakitkan buat aku karena aku cuma bisa liat kamu terbaring dan terpejam tanpa aku bisa ngelakuin apapun," ucap Dini dengan terisak.
Dini memegang dadanya yang semakin terasa sesak. Rasa dalam hatinya untuk beberapa saat membuatnya bimbang.
Tiba tiba ia melihat jari Andi bergerak dengan pelan. Ia lalu membawa pandangannya ke arah Andi dan melihatnya tampak mengerjap dengan sangat pelan.
"Andi, kamu udah sadar? kamu bisa denger aku?"
Tanpa menunggu lama lagi, Dini menyeka air matanya dan segera menekan tombol di dekat ranjang Andi, membuat Dokter segera datang untuk melihat keadaan Andi.
Dinipun segera keluar dari ruangan Andi, menunggu di depan ruangan itu bersama ibu Andi.
Tak lama kemudian Dokter keluar dan menyampaikan jika Andi sudah siuman. Keadaannya sudah jauh lebih baik, namun masih butuh pantauan intens dari Dokter.
"Sebaiknya hanya satu orang yang masuk ke dalam, meski keadaanya sudah membaik, pasien tidak boleh mendapat tekanan yang bisa mengganggu pikirannya, jadi silakan bergantian untuk menemui pasien," ucap Dokter di akhir penjelasannya.
"Baik Dok, terima kasih," balas Dini.
Dini lalu membawa pandangannya pada ibu Andi dengan sebuah senyum. Mereka lalu berpelukan, ada sebuah rasa bahagia yang tak ternilai yang mereka rasakan.
"Dini akan tunggu di sini," ucap Dini pada ibu Andi.
"Kamu aja yang masuk Din," balas ibu Andi lalu duduk di samping Dini.
"Tapi....."
"Ibu mau nunggu ayah Andi," ucap ibu Andi memotong ucapan Dini.
Dini lalu menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam ruangan Andi.
Senyum yang telah memudar selama beberapa hari ini kembali terlukis indah di wajah cantiknya. Bunga bunga dalam hatinya seolah kembali bermekaran dengan wangi yang membahagiakan.
Dini lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Andi. Ia menggengam tangan Andi dan menatap nya dengan penuh kerinduan.
Untuk sesaat mereka hanya saling menatap tanpa bersuara. Sorot mata keduanya sudah cukup untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan saat itu. Tanpa sebuah ucapan, isi hati akan terungkap melalui sebuah pandang mata yang tulus.
Bulir air mata lalu jatuh dari kedua sudut mata Dini. Meski senyum masih terlihat dari bibirnya, rasa bahagia membuat air mata itu kembali tumpah.
Andi lalu menarik tangannya dari genggaman Dini dan mengusap air mata Dini.
"Jangan menangis," ucap Andi pelan.
Dini mengangguk lalu menggenggam tangan Andi. Mereka masih terdiam dengan mata yang saling memandang.
Alam seperti sedang menghentikan waktunya saat itu. Detik jam seolah terhenti menyaksikan dua anak manusia yang tengah dilanda rindu dalam hati mereka.
__ADS_1
Tiba tiba Dini mengingat ucapan Dokter jika ia tidak boleh terlalu membebani pikiran Andi, ia pun memutuskan untuk menyimpan semua pertanyaan yang menggangunya dan akan menanyakannya jika keadaan sudah lebih baik.