Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Andi dan Anita


__ADS_3

Malam masih belum terlalu larut untuk membuat mata mengantuk. Andi masih berada di rumah Dini setelah mereka makan malam bersama.


"Aku pasti bisa bikin nasi goreng kayak tadi sendirian!" ucap Dini.


"Kapan kamu mau bikin?" tanya Andi.


"Mmmm.... kalau ada waktu hehe....."


"Yang paling penting kamu harus hati hati biar nggak sampe luka lagi, aku bisa dimarahin Dimas kalau dia liat kamu luka karena masak sama aku!"


"Tenang aja, aku pasti hati hati kok," balas Dini.


Andi lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah akuarium kecil milik Dini.


"Apa dia harus dikasih temen biar nggak kesepian?" tanya Andi dengan memperhatikan ikan dalam akuarium Dini.


"Dia udah punya aku, itu udah cukup buat dia," jawab Dini lalu berjalan masuk ke kamarnya diikuti oleh Andi.


Dini mengambil charger dan mengisi daya ponselnya sebelum ponselnya benar benar mati.


Sedangkan Andi berjalan ke arah jendela kamar Dini dan duduk di sana.


"Kamu pasti sering liatin aku dari sini ya?" tanya Andi dengan memandang ke arah rumahnya.


"Iya, bahkan setelah kamu udah nggak di sini lagi," jawab Dini yang berdiri di samping Andi, ikut memandang ke arah rumah Andi.


"Kenapa?"


Dini lalu menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Aku kangen sama kamu, walaupun kita masih sering ketemu, tapi jauh dari kamu rasanya nggak enak banget, ada sesuatu yang hilang gitu aja," jawab Dini lalu duduk di tepi ranjangnya.


"Kita nggak bisa maksa takdir buat selalu berpihak sama kita Din, kalau aku boleh jujur aku juga nggak suka sama keadaan yang maksa kita buat jauh, tapi di sisi lain aku juga nggak mau jauh dari keluarga kandung ku, terlebih mama yang selama ini menderita karena rasa bersalahnya," ucap Andi.


"Iya aku tau, suatu saat nanti aku juga akan liat kamu sama seseorang di masa depan kamu, seseorang yang akan gantiin aku di hidup kamu, seseorang yang akan kasih kamu kebahagiaan dan saat itu tiba aku cuma berharap kalau aku masih ada dalam ingatan kamu, karena aku tau aku nggak bisa maksa takdir buat minta kamu selalu ada di sampingku," ucap Dini.


Andi lalu duduk di samping Dini, menarik tangan Dini dan membawanya menyentuh dadanya.


"Apa yang kamu rasain?" tanya Andi.


"Detak jantung kamu?"


"Iya, selama kamu masih bisa ngerasain ini, aku akan selalu ada buat kamu, aku akan selalu jadi milik kamu, sejauh apapun takdir memberikan jarak diantara kita aku akan selalu ada buat kamu Din," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Dini.


"apa kata kata kamu itu kata kata yang diucapkan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya? atau oleh seseorang yang mencintai sahabatnya? ucapan kamu terlalu manis untuk bikin aku salah paham Ndi," batin Dini dalam hati.


Dini tersenyum tipis lalu melepaskan tangannya dari Andi.


Malam semakin larut, Andipun meninggalkan rumah Dini dan pulang ke rumahnya.


**


Waktu berlalu merubah hari tanpa henti.


Siang itu Andi sengaja menunggu Anita di home store karena Anita akan datang saat jam makan siang.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.


"Bos, ada tamu," ucap Rama pada Andi.


Andi lalu beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangannya dengan memukul pelan lengan Rama.


"Jangan panggil kayak gitu!" ucap Andi yang membuat Rama hanya terkekeh.


"Hai," sapa Anita saat Andi menghampiri nya.


"Ayo naik," ajak Andi untuk naik ke lantai dua.


Andi dan Anita lalu berjalan ke arah balkon. Anita membuka kotak makannya dan memberikannya pada Andi.


"Hmmmmm..... baunya enak," ucap Andi memuji.


"Jangan tertipu sama baunya ya hehe...."


"Kalau baunya udah enak, rasanya juga pasti enak," ucap Andi lalu menyendok makanan di hadapannya dan memakannya.


Anita hanya diam memperhatikan Andi mengunyah makanan buatannya.


"Ini serius kamu masak sendiri?" tanya Andi.


"Iya, kenapa? ada yang aneh?"


"Ada, aneh banget," jawab Andi namun tak berhenti mengunyah makanan di hadapannya.


"Kalau nggak enak jangan dimakan Ndi, nanti kamu sakit perut," ucap Anita dengan menarik kotak makanannya, namun ditahan oleh Andi.


"Kenapa?" tanya Anita.


"Kamu mau juga?" balas Andi bertanya.


Anita menggeleng cepat dan kembali menarik kotak makanannya namun tetap ditahan oleh Andi.


"Aku beliin kamu makan siang aja buat gantinya, aku nggak mau kamu sakit perut gara gara makan makanan buatanku, bibi pasti bohong tadi waktu bilang masakanku enak, kalau tau gini aku nggak akan bawa ke sini, aku...."

__ADS_1


"Sssstttt.... diem," ucap Andi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Anita membuat Anita seketika terdiam.


"Bibi kamu nggak bohong, ini nggak cuma enak, tapi enak banget," ucap Andi dengan melanjutkan melahap makanan buatan Anita.


"Kamu serius? tadi kamu bilang aneh!" tanya Anita tak percaya.


"Iya aneh, karena setauku kamu bikin telur mata sapi aja nggak bisa, tapi sekarang kamu bisa bikin makanan seenak ini, aneh banget kan!" jawab Andi.


Anita hanya tersenyum kecil lalu memukul lengan Andi.


"Kamu udah makan siang?" tanya Andi.


Anita menggeleng pelan.


"Aku tadi abis kursus bahasa Inggris, terus buru buru belanja dan masak, aku takut telat bawain ke sini jadi aku belum sempet makan siang," jawab Anita menjelaskan.


Andi lalu menyendok makanan itu dan memberikannya pada Anita. Tanpa ragu Anita membuka mulutnya namun Andi memakannya sendiri, membuat Anita kembali kesal dan memukul lengan Andi berkali kali.


"Hahaha....."


Andi hanya tertawa lalu kembali menyuapi Anita, namun Anita menolaknya. Andi meyakinkan Anita dengan menganggukkan kepalanya pelan membuat Anita kembali membuka mulutnya dan menerima suapan dari Andi.


Mereka pun makan siang berdua di balkon. Untuk pertama kalinya Andi melihat Anita tampak bahagia dengan senyum dan tawanya.


Ia berharap apa yang sudah ia lakukan pada Anita bisa membuat Anita melupakan Dimas dan berhenti menganggu hubungan Dimas dan Dini.


"Makasih makan siangnya," ucap Andi sambil menutup kotak makan.


"Ini nggak gratis loh!" balas Anita.


"Aku pasti harus bayar mahal untuk makanan seenak ini!" ucap Andi.


"Iya, kamu harus anter dan jemput aku kursus, bisa?"


"Kursus kamu jam berapa?" tanya Andi.


"Kamu bisa anter aku setelah kamu makan siang, kamu jemput aku setelah kamu pulang dari home store," jawab Anita.


"Oke, nggak masalah," ucap Andi.


"Beneran?"


Andi menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Apa aku harus anter kamu sekarang?" tanya Andi.


"Besok aja, aku bawa mobil sekarang, besok aku bawain kamu makan siang ke sini, terus kamu anter aku ke tempat kursus, oke?"


"Siap bos!" balas Andi.


**


Selama beberapa hari juga Andi mengantarkan Anita ke tempat kursus dan menjemputnya saat Andi sudah pulang dari home store.


Mereka semakin dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Anita pun mulai nyaman bersama Andi. Ia merasa hanya saat bersama Andi ia bisa menjadi dirinya sendiri.


Hanya Andi yang bisa mengerti dirinya, hanya Andi yang bisa menerima dirinya dengan semua masa lalunya dan hanya Andi yang bisa membuatnya merasa benar benar bahagia.


"aku tau aku nggak boleh jatuh cinta sama kamu Ndi, karena kalau sampai itu terjadi kebahagiaan ini nggak akan bertahan lama, aku tau aku cuma teman buat kamu dan aku pun cuma bisa berharap kalau kita akan bisa seperti ini selamanya," batin Anita dalam hati saat ia sedang menemani Andi makan siang.


"Ndi, nanti malem ada acara di alun alun kota, kita kesana ya!" ajak Anita.


"Kayaknya nggak bisa Nit, aku udah janji mau nemenin Dini cari buku," balas Andi.


"Ooh, ya udah nggak papa," ucap Anita dengan tersenyum tipis.


"Kamu marah?" tanya Andi.


"Enggak, aku nggak punya hak buat marah, aku bukan siapa siapa kamu, aku juga nggak lebih penting daripada Dini," jawab Anita.


"Jangan suka membandingkan diri kamu dengan orang lain Nit, kamu punya kelebihan kamu sendiri, kamu punya sisi menarik yang belum tentu orang lain punya dan kamu juga spesial di mata orang yang suka sama kamu," ucap Andi.


"apa orang itu kamu?" tanya Anita dalam hati.


"Kamu emang selalu bisa nyenengin aku Ndi," ucap Anita.


"Kamu harus bahagia Nit, bukan buat orang lain, buat diri kamu sendiri dulu, kalau kamu udah bahagia orang yang disekitar kamu pasti bisa rasain aura positif dari diri kamu!" ucap Andi.


Anita hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Andi.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Andi sedang dalam perjalanan ke arah toko buku bersama Dini.


"Kamu mau cari buku apa Din?" tanya Andi pada Dini.


"Banyak, aku udah bikin beberapa daftar buku yang kak Adit rekomendasiin," jawab Andi.


Sesampainya di toko buku, Andi dan Dini berpencar, mereka mencari buku yang mereka butuhkan sebelum akhirnya bertemu di depan kasir.


Setelah mendapatkan buku yang mereka cari, merekapun keluar dari toko buku itu dan duduk di depan mini market yang bersebelahan dengan toko buku.


"Jadi kapan ruang baca kamu selesai?" tanya Dini pada Andi


"Baru dikerjain 50 persen Din, aku juga udah nggak sabar nunggu selesainya," jawab Andi.

__ADS_1


"Ndi, beberapa hari ini kamu sering banget sama Anita kayaknya!" ucap Dini.


"Kok tau?"


"Semua orang juga tau Ndi, tiap hari Anita posting foto kalian lagi berdua," jawab Dini dengan nada suara yang kesal.


"Kamu cemburu?" tanya Andi menggoda Dini.


"Enggak, nggak ada alasan buat aku cemburu," jawab Dini.


"Aku cuma anter jemput dia kursus kok, dia juga sering bawain aku makan siang jadi kita emang sering ketemu sekarang," ucap Andi.


"Ooohh," balas Dini dengan hanya membulatkan mulutnya.


"Yang penting kan aku selalu ada waktu buat kamu, kamu tetap jadi prioritas aku Din, tenang aja," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.


"Awas aja kalau tiba tiba pacaran!" ucap Dini dengan memanyunkan bibirnya.


"Hahaha.... nggak mungkin lah Din!"


"Nggak ada yang nggak mungkin Ndi, kamu dulu sama Aletta juga tiba tiba!"


"Itu karena kesalahanku Din, aku suka sama dia dan aku pikir itu udah cukup buat kita jalin hubungan, tapi ternyata aku salah, aku cuma nyakitin dia karena pada kenyataannya aku nggak bener bener jatuh cinta sama dia," ucap Andi.


"Tapi kamu nahan dia waktu dia mau pergi, aku inget banget kejadian itu," ucap Dini.


"rasanya perih banget kalau inget itu," lanjut Dini dalam hati.


"Aku juga nggak tau kenapa aku ngelakuin itu, aku emang nggak mau dia pergi karena aku tau kalau saat itu dia mutusin pergi itu bukan karena keinginannya tapi karena keadaan yang memaksanya pergi dan aku nggak mau dia pergi karena paksaan keadaan itu!"


"Waktu itu aku takut aku akan kehilangan kamu, aku takut kalau Aletta akan ambil kamu dari aku," ucap Dini dengan menundukkan kepala nya.


"Nggak ada seorangpun yang bisa ambil aku dari kamu Din, aku cuma buat kamu, aku milik kamu, karena aku...."


"aku cinta sama kamu Din, cuma kamu yang aku cintai selama hidupku," lanjut Andi dalam hati.


"Karena apa?" tanya Dini saat Andi menghentikan ucapannya.


"Karena aku.... aku.... sahabat kamu, iya karena kita bersahabat," jawab Andi dengan tersenyum canggung.


Dini hanya tertawa kecil mendengar ucapan Andi.


"iya aku tau kita sahabat, kamu nggak perlu menekankannya lagi," batin Dini dalam hati.


"Ndi, aku sebenarnya......"


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Andi berdering, membuat Dini mengehentikan ucapannya.


"Kenapa? kamu mau bilang apa?" tanya Andi pada Dini.


"Enggak, kamu angkat dulu siapa tau penting!"


"Nggak ada namanya, biarin aja!" ucap Andi.


Namun panggilan itu seolah tidak lelah menghubungi Andi, membuat Andi pada akhirnya menerima panggilan itu.


"Halo den, ini bibi, maaf mengganggu, bibi nggak tau harus hubungi siapa lagi karena nggak ada siapa siapa di sini!" ucap bibi yang bingung dengan ucapannya sendiri.


"Ada apa bi? coba bicara pelan pelan biar Andi ngerti!"


"Non Anita den, non Anita jatuh dari tangga, kebetulan pak satpam lagi nggak ada, tolongin non Anita den, bibi takut."


"Apa dia masih sadar bi? apa ada bagian yang berdarah?" tanya Andi khawatir.


"Kepalanya berdarah den, tapi non Anita masih sadar."


"Bibi tolong ikat bagian yang berdarah, bibi tekan sedikit biar darahnya berhenti keluar, bibi......"


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


"Bii.... halo bii....."


Panggilan terputus. Andi kembali menghubungi ke nomor yang baru saja menghubungi nya namun tidak tersambung.


Andi juga menghubungi Anita namun tak ada jawaban.


"Ada apa Ndi?" tanya Dini yang melihat Andi tampak gelisah.


"Anita jatuh dari tangga, di rumah nggak ada orang selain asisten rumah tangganya yang udah berumur," jawab Andi.


"Kamu mau kesana?" tanya Dini.


"Din, aku....."


"Nggak papa, kamu kesana aja, aku juga nggak mau dia kenapa napa!"


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu di sini, aku antar kamu pulang ya!"


"Aku bisa pulang sendiri Ndi, Anita lebih butuh kamu sekarang!"


"Tapi Din...."


"Nggak papa Ndi, aku bisa pulang sendiri," ucap Dini dengan berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Andi.


Dini menganggukkan kepalanya dengan senyum yang dipaksakan.


__ADS_2