
Dini masih berada di rumah Dimas. Ia masih duduk di gazebo bersama Dimas dan mama papanya.
"Kapan kamu mulai kerja Din?" tanya papa Dimas pada Dini.
"Besok pa," jawab Dini.
"Kalau ada apa apa di tempat kerja, kamu bisa hubungi papa Din, jangan sungkan sungkan!"
"Makasih Pa."
"Papa mau balik ke ruang kerja dulu ya!" ucap papa Dimas.
"Ikut pa!" sahut mama Dimas lalu berdiri mengikuti sang suami.
"Ikut aku sayang, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu!"
"Apa?"
"Ayo, ikut aja!"
Dimas lalu mengajak Dini ke kamarnya. Mereka duduk di tepi ranjang. Dimas kemudian menyalakan laptopnya dan menancapkan sebuah flashdisk di sana.
"Kayak flashdisk nya Andi," ucap Dini yang mengenali flashdisk milik Andi.
"Iya, emang punya dia, ada beberapa desain yang harus aku cek di sini jadi untuk sementara aku bawa dulu!"
"Aku udah liat kok desain yang dibuat Andi!"
"Bukan itu, ada folder yang di sembunyiin Andi di sini, kamu nggak penasaran sama isinya?"
"Enggak, aku nggak sekepo kamu Dimas!"
"Ayo lah sayang, siapa tau ada video video yang....."
"Buang jauh jauh deh pikiran kotor kamu itu!" ucap Dini yang sudah mengetahui isi pikiran Dimas.
"Hehehe..... ya mungkin aja kan?"
"Enggak, Andi nggak kayak gitu!"
"Kenal banget ya kamu!"
"Nggak ada orang lain yang lebih kenal Andi daripada aku!"
"Iya iya oke, emang kalian itu sahabat sejati, tak terpisahkan dari kecil sampai sekarang!" ucap Dimas yang mulai cemburu.
Melihat Dimas yang sedang cemburu, membuat Dini begitu gemas pada Dimas. Ia segera mendekat dan mencium pipi Dimas dengan cepat.
Dimas hanya tersenyum dan memandang lekat lekat gadis di hadapannya. Ia lalu menggenggam tangan Dini dan menciumnya.
"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas dengan berbisik sangat pelan.
"Aku lebih sayang sama kamu," balas Dini dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Nggak ada laki laki yang lebih sayang sama kamu daripada aku!"
"Aku percaya, jadi jaga hati kamu buat aku, begitu juga aku yang akan jaga hati aku buat kamu," balas Dini.
Dimas mengangguk lalu mengecup kening Dini dan membaringkan badannya di ranjang. Dinipun ikut berbaring di samping Dimas lalu menggeser posisinya dan membaringkan kepalanya di atas dada Dimas. Ia mendengar dengan jelas detak jantung Dimas yang tengah berdebar saat itu. Tanpa terasa mereka berdua pun tertidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Dimas terbangun dan mendapati Dini yang masih berada dalam dekapannya. Ia lalu menyibakkan rambut Dini yang menghalangi wajahnya membuat Dini menggeliat dan terbangun dari tidurnya.
"Aku ketiduran ya?"
"Tidur lagi aja sayang," ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini.
Bukannya kembali tidur, Dini malah mengangkat kepalanya lalu duduk.
"Kenapa sayang? ada yang salah?" tanya Dimas.
"Aku mau ke kamar mandi bentar," jawab Dini.
"Oh, oke!"
Dini lalu pergi ke kamar mandi yang berada di kamar Dimas. Entah mengapa ia malah mengingat Andi, ia ingat ketika ia mencium pipi Andi beberapa hari yang lalu.
Ia merasakan keindahan yang sama pada dua laki laki yang berbeda. Dimas yang merupakan cinta pertamanya dan Andi sahabat baiknya, atau mungkin cinta yang belum ia sadari kehadirannya.
"wajar kan kalau aku ngerasain hal itu, aku sama Andi udah nggak sedeket dulu jadi kalau tiba tiba aku ngelakuin itu wajar kan kalau jantungku jadi berdebar? dan Dimas....... sadar Din Andi sahabat kamu, Dimas tunangan kamu, nggak boleh ada perasaan aneh kayak gini, nggak boleh!" batin Dini dalam hati.
"Sayang, are you okay?" tanya Dimas dari depan pintu.
"Iya, bentar lagi keluar!"
"Aku mau pulang Dimas," ucap Dini pada Dimas.
"Sekarang?"
"Iya, nggak papa kan?"
"Kenapa?"
"Aku... aku mau siapin hari pertama ku kerja besok!"
"Ya udah ayo aku anter!"
Setelah berpamitan pada mama dan papa Dimas, Dimaspun mengantar Dini pulang.
Dini mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, aku udah jalan pulang, kamu dimana?"
"Aku juga di jalan pulang Din!"
"Ya udah kalau gitu, ketemu di tempat biasa ya!"
"Oke!"
__ADS_1
Tak lama kemudian Dimas dan Dini sampai di depan gang rumah Dini. Seperti sebelum sebelumnya, sudah ada Andi yang menunggu di sana.
Setelah berpamitan pada Dini dan Andi, Dimaspun kembali ke rumahnya.
"Dari tadi?" tanya Dini pada Andi.
"Barusan, gimana tadi di rumah Dimas?"
"Nggak gimana gimana, aku....."
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, panggilan dari Anita.
"Halo Nit, ada apa?"
"Kamu dimana Din? lagi sama Andi nggak?"
"Iya, kenapa?"
"Dari pagi aku hubungin dia nggak bisa, kenapa ya? apa HP nya rusak?"
"dari pagi? bukannya mereka baru aja ketemu, kenapa Anita nggak nanya Andi langsung?" batin Dini bertanya tanya.
"Halo Din, kamu masih di sana?"
"Eh, iya, gimana gimana?"
"Aku mau ketemu Andi Din, tapi aku nggak bisa hubungin dia!"
"Lanjut di chat aja ya Nit, bye!"
Dini lalu menanyakan pada Anita tentang pertemuannya dengan Andi beberapa waktu lalu, namun Anita menjawab jika ia terkahir kali bertemu Andi ketika mereka berada di acara resepsi pernikahan Cika.
"itu artinya Andi bohong? malam itu dia bilang mau ketemu Anita dan tadi pagi dia juga bilang mau ketemu Anita, jadi dia bohong? kenapa? kenapa kamu bohong Ndi?" batin Dini bertanya tanya.
"Ada apa Din? ada masalah?" tanya Andi.
"Ada, kenapa kamu bohong sama aku!"
"Bohong soal apa? aku......"
"Kamu bilang kamu mau ketemu Anita, tapi sebenernya enggak kan? Anita bilang dia terakhir kali ketemu kamu waktu resepsi nya Cika, itu artinya kamu dari kemarin bohong kan sama aku?"
Andi terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Dini.
"Kenapa Ndi? kenapa kamu harus bohong?"
"Aku minta maaf Din," ucap Andi menyesal.
"Aku nggak minta kamu minta maaf Ndi, aku cuma minta penjelasan kamu!"
"gimana aku bisa jelasin semuanya Din, aku sendiri nggak tau harus gimana, aku nggak tau kenapa aku nggak bisa lupain kamu dan semakin lama aku pendam perasaan aku, aku semakin ingin memiliki kamu, aku tau aku salah, tapi aku juga tersiksa sama perasaan ini Din," batin Andi dalam hati.
__ADS_1
Melihat Andi yang hanya diam, Dini lalu berlari pergi meninggalkan Andi, sedangkan Andi masih diam di tempatnya, ia sengaja membiarkan Dini pergi karena ia tak tau harus menjelaskan apa pada Dini.
"harusnya aku nggak egois, harusnya aku tau posisi ku, sadar Ndi, kebahagiaan Dini adalah tujuan kamu, jangan buat Dini bingung dengan sikap egois kamu itu, maafin aku Din," ucap Andi dalam hati lalu pulang ke rumahnya.