Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Sikap Dini


__ADS_3

Siang itu Dini, Andi dan Adit masih berada di kafe.


"Gimana? kalian setuju?" tanya Adit pada Andi dan Dini.


"Kak Adit cuma mau mengalihkan pembicaraan kan? kak Adit mau mengulur waktu buat cerita kan?" balas Dini bertanya.


"yaahhh, ketahuan hehehe...." batin Adit dalam hati.


"We have to make a deal Din, but it's up to you!" balas Adit.


"Oke, setuju," sahut Andi.


"Kalau kamu nggak mau, kakak cuma bisa cerita sama Andi," ucap Adit pada Dini.


Dini lalu menghembuskan napasnya kasar karena kesal.


"Oke, Dini setuju," balas Dini menyerah.


"Gitu dong, sekarang kita makan siang dulu, kakak udah laper hehe....." ucap Adit lalu menyantap pesanan mereka yang baru saja datang.


15 menit lagi jam makan siang akan selesai, Adit tersenyum tipis lalu berdiri dari duduknya.


"Jam makan siangnya tinggal bentar lagi, jadi kita ketemu lagi di sini nanti sore!" ucap Adit.


"Tapi kak....."


"Kita harus balik sekarang Din, sebelum kita telat!" ucap Adit memotong ucapan Dini.


"Ini pasti rencana kak Adit buat ngulur waktu kan?"


"Jangan negatif thinking dong, ayo balik, Ndi, kita duluan ya!"


Andi hanya menganggukkan kepalanya membiarkan Adit dan Dini pergi.


Dalam perjalanan ke kantor, Dini masih sangat kesal pada Adit.


"Kamu kenapa sih? nggak enak banget wajahnya!"


"Kak Adit emang licik banget," balas Dini dengan nada kesal.


"Hahaha.... kamu masih marah sama kakak?"


Dini hanya diam tidak menjawab pertanyaan Adit.


"Din, kakak ngelakuin ini juga buat kamu, demi hubungan kamu dan Andi," ucap Adit yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Adit.


"Mau sampe kapan kalian bertengkar? kakak tau kalian bersahabat dari kecil, kalian saling menyayangi dan tentu aja sikap Andi yang menurut kamu lebih bela Anita itu mengecewakan buat kamu, tapi kamu juga nggak bisa marah sama Andi terus terusan karena dia cuma mau kalian kembali bersahabat," lanjut Adit.


"Kak Adit nggak tau apa apa," ucap Dini.


"Kakak emang nggak tau apa apa dan bisa jadi Andi juga nggak tau," balas Adit.


"Maksud kak Adit?"


"Maaf Din, kakak udah cari tau masa lalu kalian berempat, kamu, Andi, Anita dan Dimas," jawab Adit.


"Kak Adit nggak perlu minta maaf, semua orang tau kok seperti apa masa lalu kita," ucap Dini.


"Masalahnya sekarang adalah Andi percaya sama Anita, tapi kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya Anita rencanain, entah dia beneran berubah atau dia punya maksud lain," ucap Adit.


"Walaupun Dini nggak sepenuhnya percaya sama Anita, tapi Dini mau kasih dia kesempatan kedua kak, kesempatan buat memperbaiki hubungan kita berempat, tapi Dimas nggak pernah mau terlibat hubungan apapun sama Anita dan sekarang setelah apa yang terjadi, Dini semakin ragu sama Anita," ucap Dini.


"Kamu mau tau gimana caranya buat tau apa yang sebenarnya Anita rencanain?"


"Kak Adit tau?"


"Enggak," jawab Adit singkat.


"Iiissshhh, kak Adiiiit!" balas Dini dengan memukul lengan Adit.


"Hahaha..... Din, kamu tau kan kemungkinan terburuk apa yang Anita rencanain?"


"Apa lagi kalau bukan rebut Dimas dari Dini, dia udah terobsesi sama Dimas dari dulu kak, kalau dilihat dari semua yang udah dia lakuin, pasti nggak mudah buat dia berhenti ngejar Dimas," jawab Dini.


"Ada lagi?"


"Apa?" balas Dini bertanya.


"Karena dia udah terobsesi sama Dimas dan kamu adalah satu satunya perempuan yang Dimas cintai selain mamanya pastinya, bisa jadi kamu adalah perempuan yang paling dia benci dan kalau itu bener udah pasti dia nggak akan biarin kamu bahagia," jawab Adit.


"Kenapa kak Adit berpikir sejauh itu sih, ini bukan sinetron kak, alur yang kak Adit pikirin itu terlalu berlebihan," ucap Dini.


"Apa menurut kamu memanipulasi ingatan Dimas itu hal yang biasa? dia bahkan ninggalin kuliahnya demi bisa ikut Dimas ke sini, dia juga kerja sama sama psikopat buat dapetin Dimas dan apa itu belum cukup buat memperkuat kemungkinan yang kakak pikirin?" balas Adit yang membuat Dini cukup tercengang.


"Kak Adit tau semua itu?" tanya Dini tak percaya.


"Kakak tau semuanya Din," jawab Adit.


"Dia emang perempuan yang jahat Din, Jenny bahkan nggak sejahat itu dan kakak nggak mau Andi terpengaruh sama perempuan jahat itu," ucap Adit.


"Tapi gimana kalau dia emang udah berubah kak?"


"Kita nggak tau apa yang ada dipikiran nya Din, tapi yang pasti apa yang terjadi antara kamu dan Andi sekarang adalah salah satu tujuannya kalau memang dia masih punya rencana jahat buat kamu," ucap Adit.


Dini hanya diam memikirkan ucapan Adit. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Adit.


"Kakak nggak bermaksud buat menjelekkan dia di depan kamu, kakak cuma bicara kemungkinan buruknya aja, kakak nggak mau kamu, Andi ataupun Dimas masuk jebakannya lagi," ucap Adit.


"Dini tau apa yang harus Dini lakuin sekarang kak," ucap Dini.


"Tolong jangan bertindak gegabah Din, kita nggak tau apa yang dia rencanain sebenarnya, bisa jadi dia emang berubah buat bisa bersahabat lagi sama kalian, atau bisa jadi enggak."


"Dini tau kak, Dini nggak akan kalah kali ini," ucap Dini dengan tersenyum tipis.


"Senyum kamu bikin kakak ngeri," ucap Adit yang membuat Dini kembali memukul Adit.

__ADS_1


"aku ikuti permainan kamu Nit, kalau kamu emang mau kita kembali berteman, aku akan dengan senang hati berteman sama kamu, tapi kalau kamu rencanain sesuatu yang licik di belakangku, aku nggak akan tinggal diam," ucap Dini dalam hati.


"Jadi apa rencana kamu sekarang?" tanya Adit pada Dini.


"Kak Adit nggak perlu tau, Dini masih kesel sama kak Adit!" balas Dini.


"Masih marah gara gara tadi? kamu pikir kakak sengaja?"


"Iya, kak Adit pasti udah rencanain semuanya kan? kak Adit sengaja berlama lama di toilet ngebiarin Andi berdua sama Dini, terus bikin perjanjian yang nggak mungkin Andi tolak, iya kan?"


"Hehehe....."


"Dan yang paling penting, kak Adit sengaja mengulur waktu sampe jam makan siang habis biar kak Adit nggak jadi cerita, iya kan?"


"Bingo hahaha....."


"Liat aja nanti, kak Adit nggak akan bisa mengelak lagi, demi rahasia besar seorang Aditya Putra, Dini sama Andi akan kerja sama dengan baik," ucap Dini yang membuat Adit tertawa.


Sesampainya mereka di kantor, mereka segera masuk ke ruangan masing masing dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka.


Sampai jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dinipun menyimpan semua file yang sudah dikerjakannya dan membereskan meja kerjanya.


Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo sayang, kamu masih di kantor?"


"Iya, kenapa?"


"Tunggu aku, 10 menit lagi aku nyampe'!" jawab Dimas.


"Nyampe'? kamu ke sini?"


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Panggilan berakhir. Dini lalu mengirimkan pesan pada Dimas, namun belum terbaca oleh Dimas.


Tak lama kemudian Adit masuk ke ruangan Dini.


"Ayo!" ajak Adit.


"Dini kayaknya nggak jadi ikut deh kak," balas Dini.


"Kenapa? kamu nggak jadi introgasi kakak?" tanya Adit.


"Dimas mau ke sini, bentar lagi dia nyampe'!" jawab Dini.


"Tiba tiba?"


Dini menganggukkan kepalanya pelan.


"Oke, kita bisa bicarain itu lain kali, ayo keluar!" balas Adit lalu keluar dari ruangan Dini diikuti oleh Dini.


"Pending, lain kali aja," ucap Adit pada Andi lalu pergi begitu saja.


"Maksudnya?" tanya Andi tak mengerti.


"Aku bisa ikut ke kafe Ndi, maaf," jawab Dini lalu berjalan meninggalkan Andi, namun Andi mencegah Dini dengan memegang tangan nya.


"Kenapa Din? apa kamu nggak mau masalah kita selesai?"


"Bukan itu Ndi, aku...."


"Sayang!" panggil Dimas yang berjalan menghampiri Dini dan Andi.


Andi lalu melepaskan tangan Dini dan membiarkan Dini menghampiri Dimas.


"Kenapa tiba tiba banget?" tanya Dini pada Dimas.


"Surprise," jawab Dimas dengan mencium kening Dini.


Andi yang melihat hal itu hanya bisa mengalihkan pandangannya meski ia sudah melihatnya.


"Hai Ndi, udah sehat?"


"Udah, lo udah pindah ke sini?" jawab Andi sekaligus bertanya.


"Pasti gue udah kasih tau lo kalau gue udah pindah, gue cuma dapet tugas buat ke sini aja," jawab Dimas.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dimas.


"Apa kalian mau keluar bareng?" tanya Dimas pada Dini dan Andi.


"Enggak kok, Andi cuma kebetulan aja ke sini," jawab Dini.


"Gue cuma mau ketemu kak Adit," sahut Andi.


"Oke, kalau gitu kita duluan ya Ndi!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Dimas dan Dini lalu pergi meninggalkan Andi yang masih berdiri di tempatnya.


"Kalian masih berantem?" tanya Dimas pada Dini.


Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


"Apa aku nggak seharusnya dateng?" tanya Dimas.


"Aku seneng kamu ke sini, kita mau kemana sekarang?"


"Nonton, mau?"


"Boleh, kamu berapa lama di sini?"


"Nggak lama sayang, nanti malem aku harus balik," jawab Dimas.

__ADS_1


"Kayaknya bener deh kata mama, kamu butuh supir," ucap Dini.


"Buat apa sayang? aku biasa bawa mobil sendiri," balas Dimas.


"Biar kamu nggak kecape'an Dimas, biar kamu bisa istirahat walaupun lagi dalam perjalanan," jawab Dini.


"Aku nggak papa sayang, aku lebih suka kayak gini, berdua aja sama kamu," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini dan menciumnya.


Sesampainya mereka di mall, mereka segera berjalan ke arah bioskop.


"Kamu mau nonton apa?" tanya Dimas.


"Mmmm.... yang horor aja gimana?"


"Kamu yakin?"


"Yakin banget, ini lagi rame banget loh di sosial media," jawab Dini yakin.


"Oke," balas Dimas lalu segera membeli tiket.


Setelah mendapatkan tiket dan membeli popcorn serta minuman, merekapun masuk karena tak lama lagi film akan segera diputar.


"Penuh banget ya, kita duduk dimana?" tanya Dini.


"Di sana sayang," jawab Dimas sambil menunjuk 4 bangku yang kosong.


Dini duduk di samping dinding, sedangkan Dimas duduk di sebelah dua bangku yang kosong.


Saat pertengahan film, seseorang datang dan duduk di samping Dimas. Seseorang itu tersenyum sangat senang melihat Dimas duduk di sampingnya.


Sedangkan Dimas hanya fokus pada film yang sedang diputar dan tidak memperhatikan seseorang yang duduk di sampingnya.


Saat adegan horor, tiba tiba seseorang disamping Dimas menarik lengan Dimas dan menyembunyikan kepalanya di balik lengan Dimas.


Dimas hanya diam membiarkan seseorang yang tampak ketakutan itu. Sedangkan Dini hanya sedikit terkejut dan masih fokus pada layar besar di hadapannya.


Hingga beberapa lama Dimaspun mulai tidak nyaman dengan perempuan di sampingnya.


"Sayang, cewek di sampingku ganggu banget," ucap Dimas pada Dini dengan berbisik.


"Biarin, mungkin dia takut," jawab Dini yang tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari film yang sedang diputar.


Dimaspun membiarkan perempuan di sampingnya sebelum ia melihat siapa yang duduk di bangku sebelah perempuan itu.


"Dokter Dewi?"


Dewi yang merasa namanya disebut segera menoleh ke arah sampingnya dan melihat Dimas.


"Dimas," ucap Dokter Dewi yang segera menarik Anita dari Dimas.


"Iiissshhh.... mbak Dewi kenapa sih, Anita takut mbak!" ucap Anita yang segera menyembunyikan kepalanya di belakang lengan Dewi.


Dimas lalu berdiri dan menarik tangan Dini untuk segera keluar meninggalkan bioskop. Dini yang terkejut hanya bisa mengikuti Dimas dengan tanda tanya dalam kepalanya.


"Kenapa Dimas? ada apa?" tanya Dini saat mereka sudah berada di luar bioskop.


"Maaf sayang, kita pulang sekarang ya!" jawab Dimas dengan kembali menarik tangan Dini, namun Dini menahannya.


"Kamu nggak jawab pertanyaan aku Dimas!"


"Aku jawab, tapi kita pergi dulu dari sini," balas Dimas yang kembali menarik tangan Dini, sebelum Anita memanggilnya.


"Dini, Dimas!" panggil Anita.


Dini segera membawa pandangannya ke arah Anita dan kembali menoleh ke arah Dimas.


"Karena dia?" tanya Dini pada Dimas.


Dimas hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dini.


"Kalian pasti pergi gara gara aku ya?" tanya Anita saat ia sudah berada di depan Dini.


"Aku nggak tau kalau ada kamu di sana," jawab Dini.


"Aku duduk di sebelah Dimas, tadinya aku juga nggak tau kalau kalian di sana," ucap Anita.


"duduk di sebelah Dimas? jadi cewek yang Dimas maksud tadi Anita?" tanya Dini dalam hati.


"Aku nggak tau kalau yang disebelahku dia Andini!" sahut Dimas.


"Ada yang harus aku bicarain sama kamu, kita duduk di sana!" ucap Dini pada Anita sambil menunjuk bangku kosong di depan stand ice cream.


"Oo... ke," balas Anita ragu.


"Dimas, aku mau ice cream," ucap Dini manja pada Dimas.


"Oke sayang," balas Dimas lalu membeli ice cream untuk Dini.


"Din, aku ke sini bukan buat ikutin kamu ataupun Dimas, tolong jangan salah paham," ucap Anita pada Dini.


"Kenapa kamu selalu berpikir kalau aku salah paham sama kamu Nit? aku belum bilang apa apa loh!"


"Aku cuma takut kamu makin marah sama aku karena....."


"Anita, satu aku nggak mau tau kamu ke sini mau ngapain, dua aku ajak kamu duduk di sini bukan buat bahas itu, tiga aku cuma mau kasih tau kamu kalau kamu mau kita berteman kayak dulu lagi tolong jaga sikap kamu di depan Dimas," ucap Dini dengan tegas.


"Dini, perlu kamu tau saya yang ajak Anita ke sini dan saya juga yang pilih filmnya, Anita takut liat film horor makanya dia nggak sengaja pegang tangan Dimas," ucap Dewi membela Anita.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum mendengar ucapan Dewi.


"Aku percaya sama kamu Nit," ucap Dini lalu berdiri dari duduknya.


"Ice cream nya sayang," ucap Dimas sambil memberikan ice cream pada Dini.


"Buat kamu, sebagai tanda pertemanan kita," ucap Dini sambil memberikan ice cream nya pada Anita lalu pergi begitu saja bersama Dimas.

__ADS_1


__ADS_2