
Waktu berlalu, hari berganti dengan cepat. Cukup terasa cepat bagi seseorang yang akan ditinggal pergi oleh sang kekasih hati.
Siang itu, di bawah terik mentari Dini dan Dimas bermain air di tepi pantai. Hari Minggu itu mereka habiskan untuk bermain di pantai, hanya berdua.
Setelah puas bermain air, Dini dan Dimas berlari ke arah kedai yang menjual es kelapa muda.
"Sayang, kamu sama Adit gimana?" tanya Dimas pada Dini.
"Aku sama kak Adit udah punya rencana buat jujur sama mama Siska kok, kamu tenang aja."
"Kalian yakin?"
"Yakin, keadaan mama Siska juga udah membaik, jadi nggak ada alasan lagi buat kak Adit lanjutin kebohongan ini."
"Emang kenapa dia nggak pacaran aja sih, pasti banyak cewek yang mau sama dia kan? apa jangan jangan dia sukanya sama kamu?"
"Kamu ngomong apa sih, kak Adit cuma anggap aku adiknya, lagian dia kan tau kalau aku udah sama kamu."
"Hati orang kan nggak ada yang tau Andini!"
"Kak Adit mau fokus sama perusahaan peninggalan papanya Dim, kalau bukan kak Adit yang jalanin perusahaan itu, siapa lagi?"
"Itu yang bikin dia nggak mau pacaran?"
Dini mengangguk pasti.
"Nanti malem aku mau ke rumah mama Siska sama kak Adit, nggak papa kan?"
"Berdua aja?"
"Iya, mungkin ini yang terakhir kalinya aku jalan berdua sama kak Adit di luar pekerjaan."
"Jaga hati kamu Andini, aku......"
CUUUPPPP
Sebuah kecupan mendarat di pipi Dimas, membuat Dimas menghentikan ucapannya.
"Aku akan jaga hati aku seperti kamu jaga hati kamu Dimas, kamu percaya kan sama aku?"
Dimas tak menjawab, dengan cepat ia mengecup bibir Dini lalu berdiri dan berlari meninggalkan Dini.
"Iiihhh cuuraang!!" teriak Dini lalu segera mengejar Dimas. Mereka pun berkejar kejaran di bawah teriak matahari siang itu.
**
Di tempat lain, Andi sedang mengerjakan pekerjaan di ruang tamu. Ia fokus pada laptop di hadapannya sampai sang ibu keluar dengan membawa kantong hitam yang cukup besar.
Entah kenapa Andi begitu penasaran dengan isi kantong itu.
"Ibu bawa apa?" tanya Andi sambil menghampiri sang ibu.
"Bukan apa apa," jawab ibu Andi sambil memasukkan kain perca ke dalam kantong.
"Mau di bawa ke mana bu?"
"Mau di bakar, udah nggak di pake kok!"
"Kok tumben ibu bakar kain perca nya, kenapa?"
"Ini udah numpuk dan nggak dipake Ndi, kalau kamu mau pake, ambil aja yang di bawah meja," jawab ibu Andi sambil berjalan keluar rumah, namun Andi mencegahnya.
Andi menarik kantong besar itu dari tangan ibunya.
"Kalau ibu nggak pake, ibu kasihkan orang yang butuh, jangan dibakar!" ucap Andi.
"Masih banyak yang lain Ndi, ini mau ibu bakar karena udah lama!"
"Tapi bu......"
KRAAAKKK
Kantong besar itu robek karena Andi dan ibunya saling tarik.
Andipun reflek membantu memungut kain kain yang tercecer.
"Kenapa ini ada di sini?" tanya Andi sambil mengambil kain bertuliskan nama "Siska".
"Itu.... ibu....."
"Kenapa ibu mau bakar kain ini? ini kan pemberian saudara ayah bu!"
"Itu udah lama nggak dipake Ndi, ibu....."
"Tetep aja ibu nggak boleh bakar kain ini, kalau ibu nggak mau nyimpen, biar Andi aja yang simpan!" ucap Andi sambil membawa kain itu masuk ke dalam kamarnya.
"Tapi Ndi....."
BRAAAKK
__ADS_1
Andi menutup pintu kamarnya dengan kasar. Entah kenapa ia sangat marah ketika sang ibu akan membakar kain itu. Ia merasa ingin melindungi kain itu, sebuah kain yang tidak ia tau dari mana datangnya.
Siang itu, Andi tertidur di meja belajarnya dengan masih menggengam kain bertuliskan "Siska" itu. Samar samar ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ia mengabaikan panggilan itu sampai sebuah tangan menyentuh pundaknya dengan lembut. Hangat napasnya sangat terasa saat seseorang memanggilnya dengan berbisik di telinga kanannya.
"Andi, mama kangen sama kamu sayang, mama kangen."
Sebuah suara yang terdengar begitu pilu hingga menusuk ke dalam hatinya. Dalam kelembutan suara itu, terasa sebuah kesedihan yang seolah tertanam dalam hati. Sebuah kesedihan yang terdengar begitu menyiksa dan menyayat hatinya.
Tiba tiba, sebuah tangan menggenggam tangannya dengan lembut. Hangat genggamannya terasa begitu menenangkan bagi Andi. Sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Andi ingin membuka matanya, memastikan mimpi yang sangat terasa nyata baginya. Namun ia seolah sudah ditarik sangat dalam ke dunia mimpi, membuatnya tidak bisa menyadarkan dirinya akan apa yang sedang terjadi padanya.
"kamu anak mama sayang, kamu Andi, anak mama yang sangat mama cintai."
Kembali bisikan itu terdengar jelas di telinganya. Ia yakin ia tidak sedang bermimpi saat itu, namun seberapa besar usahanya untuk bangun, ia tetap tidak bisa bangun.
Jangankan untuk bangun, sekedar mengangkat kepalanya dan menoleh saja ia tidak sanggup. Perlahan air matanya jatuh. Hatinya terasa perih dan pedih.
Ia ingin memeluk pemilik suara yang bahkan tidak ia kenal itu. Hatinya seolah berkata jika ia juga sangat mencintai si pemilik suara itu.
Tiba tiba matanya terbuka, ia melihat dirinya yang sedang berada di suatu tempat dengan begitu banyak lukisan bayi yang digantung di setiap sudut dinding ruangan itu.
"lukisan ini? aku pernah liat tempat ini, dimana?" batin Andi bertanya tanya.
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu dan datang menghampirinya. Karena ruangan itu cukup gelap, ia tidak dapat melihat wajah seseorang yang datang itu dengan jelas karena cahaya dari luar ruangan yang begitu menyilaukan matanya.
Seseorang itu semakin mendekat dan memeluk dirinya. Sebuah pelukan yang begitu hangat dan menenangkan. Dadanya bergetar, air matanya jatuh begitu saja tanpa ia tau kenapa.
Meski ia tidak mengetahui siapa sosok yang menghampirinya itu, ia tidak peduli. Ia membiarkan kehangatan dan kenyamanan menguasai hatinya saat itu.
Ia lalu memejamkan matanya dan saat ia membuka matanya, ia sadar jika ia baru saja bermimpi.
Andi terbangun dari tidurnya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
"aku mimpi apa tadi? kenapa hatiku rasanya nggak tenang gini, kenapa juga sampe nangis!"
Andi lalu berdiri dari duduknya, hendak mengambil laptop yang ia tinggal di ruang tamu. Ketika ia berdiri, sebuah kain jatuh dari pangkuannya.
"kain merah ini punya siapa sebenernya? Siska? saudara ayah? saudara yang mana? aku kenal semua saudara ayah sama ibu, tapi kenapa mereka nggak pernah cerita soal Siska? kenapa juga ibu mau buang kain ini?" batin Andi bertanya tanya.
Andi lalu menaruh kain itu di tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Ketika ia hendak mengambil laptopnya di ruang tamu, samar samar ia mendengar suara ibunya menangis di dalam kamar.
Andipun mengurungkan niatnya untuk mengambil laptop, ia berjalan mendekati pintu kamar sang ibu dengan sangat pelan. Dari yang ia dengar sang ibu tengah berbicara dengan sang ayah lewat telepon.
"Ibu cuma nggak mau dia pergi yah, dia anak ibu, ibu yang membesarkannya," ucap ibu Andi dengan terisak.
..................
..................
"Enggak, sampai kapanpun ibu nggak akan setuju sama ayah!"
...................
"Ibu sayang sama Andi yah, dia anak ibu."
Andi yang mendengarkan hal itu dari luar kamar ibunya hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.
"kehilangan? kenapa ibu harus kehilangan aku? apa yang ibu dan ayah perdebatkan sebenernya?" batin Andi bertanya tanya.
Andi lalu mengetuk pintu kamar ibunya. Ia ingin memastikan jika keadaan ibunya baik baik saja saat itu.
"Bu, Andi masuk ya!" ucap Andi setelah ia mengetuk pintu beberapa kali.
Tak ada jawaban, Andi lalu membuka pintu kamar sang ibu dengan pelan. Dilihatnya sang ibu yang sedang terbaring di ranjang dengan membelakanginya.
Andi lalu duduk di tepi ranjang ibunya, mengusap punggung ibunya dengan lembut.
"Andi sayang sama ibu, maaf kalau yang Andi lakukan tadi salah," ucap Andi mengingat apa yang ia lakukan tadi, memaksa sang ibu untuk tidak membuang kain merah yang sekarang ada di kamarnya.
Hening. Ibu Andi tampak memejamkan matanya meski tidak sedang tertidur. Ia hanya tidak ingin Andi melihatnya menangis, ia juga berharap Andi tidak mendengarkan percakapannya dengan sang suami.
Andi lalu berbaring di belakang ibunya dan memeluk sang ibu dari belakang. Mereka hanya diam dengan pikiran masing masing.
**
Di tempat lain, Adit sedang berada di taman bunga bersama sang mama. Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, keadaan mama Adit sudah tampak membaik.
"Mama mau nambah bunga mama lagi deh kayaknya," ucap mama Adit.
"Mama mau cari bunga sekarang?" tanya Adit.
Mama Siska menggeleng.
"Kapanpun mama mau beli bunga, Adit pasti bisa anterin mama kok," ucap Adit.
"Kamu kan sibuk di kantor Dit, palingan mama ngajak pak Lukman."
__ADS_1
"Maaf ya ma, Adit nggak bisa ninggalin kantor gitu aja," ucap Adit sambil memeluk sang mama yang sedang memetik daun daun kering.
"Iya sayang, mama mengerti, kamu emang mirip banget sama papa kamu, papa pasti bangga sama kamu!"
"Apa papa dulu jarang ada waktu buat mama?"
"Papa kamu memang selalu sibuk di kantor, tapi setiap weekend papa selalu ngasih waktunya penuh buat keluarganya."
"Itu yang bikin mama cinta banget sama papa?"
"Iya dong, sesibuk apapun papa, keluarga tetap nomor satu buat papa," jawab sang mama.
"Ma, ini bunganya layu ya? kenapa nggak dibuang aja?" tanya Adit ketika ia melihat satu bunga yang tampak layu.
"Kenapa harus dibuang? dia masih layu Adit, dia butuh di siram, bukan malah dibuang dan dibiarkan mati!"
"Tapi mama kan udah siram bunganya tiap hari, lainnya juga masih bagus, cuma ini yang layu!"
Mama Adit lalu mengambil pot bunga yang layu itu dan membawanya ke dalam rumah.
"Mau dibawa kemana ma?" tanya Adit sambil mengikuti sang mama.
"Dia butuh perhatian extra dari mama, jadi mama harus taruh dia di tempat yang spesial," jawab sang mama sambil menaruhnya di dekat kolam renang.
Adit hanya tersenyum, dalam hatinya ia senang melihat sang mama yang terlihat baik baik saja.
**
Mentari telah kembali pulang, berganti bulan dan bintang yang mulai datang.
Tepat jam 7 malam, Dini sudah bersiap dan menunggu Adit di depan rumahnya. Tak lama kemudian Adit datang, merekapun segera berangkat ke rumah mama Siska.
Sepanjang perjalanan, Dini memperhatikan Adit yang tampak tidak tenang dan gugup. Tiba tiba ia mengingat bagaimana kekacauan yang terjadi di rumah mama Siska beberapa waktu yang lalu.
Ia takut hal itu akan terulang lagi.
"Kak Adit baik baik aja?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Adit.
"Kalau kak Adit belum yakin, kita bisa lakuin ini lain kali kak!"
"Kakak nggak mau ganggu hubungan kamu sama Dimas lebih lama lagi Din."
"Kak Adit nggak ganggu kok, Dimas udah tau semuanya dan kita baik baik aja, dia nggak masalah kalau....."
"Itu di depan kamu, tapi di belakang kamu dia pasti cemburu dan berat buat nerima keadaan ini," ucap Adit memotong ucapan Dini.
Dini diam beberapa saat. Ia tau apa yang ia lakukan dengan Adit adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang terpaksa dan tiba tiba terjadi.
Meski begitu, ia tidak mungkin memutuskan hubungan palsunya dengan Adit begitu saja. Ia tidak ingin menyakiti mama Siska yang sudah begitu baik padanya. Terlebih, ketika ia tau jika kesehatan mental mama Siska sedang terganggu.
"Kak Adit yakin sama keputusan ini?" tanya Dini meyakinkan.
Adit mengangguk meski ia sebenarnya ragu. Ia takut hal itu akan kembali memperburuk keadaan mamanya. Namun ia tak punya pilihan, ia tidak bisa berada di tengah tengah hubungan Dini dan Dimas.
"Dimas mungkin cemburu, tapi Dini yakin Dimas bisa nerima hal ini, jadi kak Adit nggak perlu merasa bersalah, justru Dini akan merasa sangat bersalah kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama mama atau kak Adit," ucap Dini.
Adit menoleh ke arah Dini dan tersenyum.
"Jadi? apa kak Adit berubah pikiran?"
Adit menggeleng.
"Keputusan kakak sudah bulat Din, kakak cuma bisa berharap mama akan mengerti dan memahami pilihan kakak," ucap Adit.
"Kak Adit emang keras kepala banget!" gerutu Dini kesal.
"Kenapa kamu kesel gitu? kamu masih mau jadi pacar kakak?" goda Adit.
"Bukan gitu, Dini cuma takut mama syok denger hal ini dan Dini nggak mau liat kak Adit......."
Dini menghentikan ucapannya. Ia takut menyinggung perasaan Adit jika ia melanjutkan kata katanya.
"Kakak udah biasa Din, kamu tenang aja."
Sesampainya mereka di depan rumah mama Siska, Dini dan Adit segera turun dari mobil. Dengan bergandengan tangan, mereka memasuki rumah sang mama.
"Akhirnya kalian dateng, mama kangen banget sama kamu sayang," ucap mama Siska sambil memeluk Dini.
"Dini juga kangen sama mama," balas Dini.
Mereka lalu duduk dan mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan.
Setelah makan malam selesai, mereka duduk di sofa ruang tamu. Mereka duduk berdampingan dengan sang mama yang berada diantara Dini dan Adit.
"Ma, ada yang mau Adit sampe'in sama mama," ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.
"Ada apa sayang? kalian bikin mama gugup!"
Sebelum mengucapkan kejujurannya, Adit membawa pandangannya ke arah Dini dan dibalas gelengan kepala oleh Dini.
__ADS_1
"Sebenernya, Adit sama Dini nggak pacaran ma, Adit minta maaf udah bohong sama mama," ucap Adit dengan bersimpuh di kaki sang mama.