
Dini masih berada di rumah Dimas. Ia memang masih memikirkan Andi, mengingat bagaimana Andi yang tampak sedih dengan keputusan Anita yang dinilainya tiba tiba.
Tapi bagaimanapun juga ia tidak boleh egois. Ia tidak mungkin meninggalkan Dimas, terlebih saat ia tau jika Dimas sengaja pulang ke rumahnya saat tengah malam demi bisa bertemu dirinya di pagi hari.
Dinipun melepaskan tangan Dimas yang menggandengnya keluar dari rumah, ia menghentikan langkahnya dan terdiam di tempatnya berdiri.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas menghampiri Dini.
"Aku mau di sini aja sama kamu," jawab Dini.
"Tapi Andi....."
"Aku bisa setiap hari ketemu Andi, tapi aku nggak bisa setiap hari sama kamu Dimas, selama kamu di sini aku mau ngabisin waktu sama kamu," ucap Dini.
Dimas tersenyum lalu mengecup kening Dini.
Tak lama kemudian mama Dimas datang dengan membawa banyak kantong belanja bersama asisten rumah tangga Dimas.
"Dini bantuin ma," ucap Dini membantu membawa kantong belanja dari tangan mama Dimas.
"Makasih sayang, kalian kenapa masih di rumah? nggak keluar?"
"Dini lagi pingin di rumah aja ma, mama mau masak?" jawab Dimas sekaligus bertanya.
"Iya, masak buat makan siang, kita makan siang bareng ya!"
"Iya ma," balas Dimas.
Dimas lalu menarik tangan Dini saat Dini mengeluarkan isi belanjaan dari kantong.
"Ikut aku sayang!" ajak Dimas.
"Aku mau bantuin mama masak, sekalian belajar dari mama," ucap Dini.
"Ya udah kalau gitu aku ke ruang kerja papa aja, nanti panggil ya!"
"Oke," balas Dini.
Dini lalu kembali membantu mama Dimas di dapur.
"Mama tiap hari masak sendiri?" tanya Dini pada mama Dimas.
"Kalau mama lagi nggak ada kerjaan aja, mama emang suka masak dari dulu," jawab mama Dimas.
"Dini juga pingin bisa masak ma, tapi Dini buruk banget kalau soal dapur," ucap Dini.
"Tenang aja Din, Dimas nggak akan nyuruh kamu masak, nggak semua perempuan harus bisa masak kok," balas mama Dimas.
"Tapi Dini bikin telur mata sapi aja nggak bisa ma," ucap Dini.
"Nggak masalah, mama dulu juga nggak bisa apa apa, tapi mama terus mencoba sampe akhirnya bisa dan jadi suka di dapur," ucap mama Dimas.
"mama hebat, mama bisa jadi pendamping papa di perusahaan, mama juga bisa jadi istri yang baik juga di rumah," batin Dini dalam hati.
"Setiap orang punya kelebihan di bidangnya masing-masing Din, nggak perlu terlalu dipikirin, mama juga bukan mertua yang kolot yang mengharuskan menantunya buat bisa masak, pendapatannya Dimas juga pasti cukup buat gaji asisten rumah tangga, iya kan?"
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia sangat beruntung bisa mengenal Dimas dan keluarganya yang sangat baik padanya.
Dinipun mulai membantu mama Dimas menyiapkan makan siang. Setelah beberapa lama berkutat di dapur, mereka akhirnya menyelesaikan menu makan siang mereka.
"Kamu panggil Dimas sama papa di atas ya!" ucap mama Dimas pada Dini.
"Iya ma," balas Dini lalu naik ke lantai dua.
Dini lalu mengetuk pintu ruang kerja papa Dimas beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka dari dalam.
"Makan siang udah siap," ucap Dini pada Dimas yang membuka pintu.
"Bentar lagi aku sama papa turun, kamu duluan aja," balas Dimas.
Dini menganggukkan kepalanya lalu kembali turun, sedangkan Dimas kembali masuk ke dalam.
"Dini nggak denger apa yang Dimas ucapin tadi kan pa?" tanya Dimas pada sang papa.
"Enggak lah, kamu tau ruang kerja papa kedap suara," jawab papa Dimas.
Dimaspun bisa bernapas lega karena ia khawatir jika Dini mendengar percakapannya bersama sang papa.
"Suatu saat nanti kamu harus siap kalau Dini akan tau semuanya Dim, bagaimanapun juga nggak ada bangkai yang bisa disembunyikan selamanya," ucap papa Dimas.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan sang papa.
"entah apa aku siapa atau enggak, tapi yang pasti apapun yang terjadi aku nggak mau kehilangan kamu Andini, aku nggak akan biarin kamu pergi dariku," batin Dimas dalam hati.
"Ayo, mereka pasti udah nunggu di bawah," ucap papa Dimas sambil menepuk pundak Dimas.
__ADS_1
Dimaspun beranjak dari duduknya dan mengikuti sang papa untuk keluar dari ruang kerja.
Mereka berjalan ke arah meja makan yang sudah dipenuhi berbagai macam masakan.
"Ini kamu yang masak sayang?" tanya Dimas sambil menggeser kursi di samping Dini.
"Menurut kamu?" balas Dini bertanya.
"Ini hasil kolaborasi mama sama Dini, pasti lebih enak dari biasanya," ucap mama Dimas.
"Dini cuma bantuin potong potong aja hehe...."
"Tapi kalau motongnya pake cinta hasilnya akan berbeda Din, iya kan ma?" sahut papa Dimas.
"Iya dong, ini ada bumbu bumbu cinta dari mama dan Dini, makanya rasanya pasti lebih enak," balas mama Dimas yang membuat Dini tersipu.
Merekapun menikmati makan siang mereka bersama. Dini sangat bahagia bisa merasakan kehangatan keluarga Dimas. Ia sangat bersyukur karena ia bisa berada di tengah tengah keharmonisan keluarga kecil itu.
Setelah selesai makan siang, mereka masih berada di meja makan untuk membicarakan banyak hal.
"Setelah kamu menikah sama Dimas, kamu bisa resign dari perusahaan Adit sayang, kamu bisa jadi personal assistan Dimas di perusahaan utama nanti!" ucap mama Dimas.
Dini lalu membawa pandangannya pada Dimas, seolah tidak setuju dengan ucapan mama Dimas.
"Tapi Dimas nggak masalah kok kalau Andini tetep kerja sama Adit, semua keputusan ada di tangan Andini," ucap Dimas sambil menggenggam tangan Dini di bawah meja.
"Tapi apa kata orang nanti Dimas, kalian suami istri tapi bekerja di perusahaan yang berbeda padahal si suami pemilik perusahaan besar!" ucap mama Dimas.
"Biar Dini dan Dimas yang memutuskan sendiri ma, kita sebagai orang tua nggak perlu terlalu ikut campur rumah tangga anak kita," sahut papa Dimas.
"Mama nggak memaksa kamu kok Din, semua keputusan memang ada di tangan kamu," ucap mama Dimas pada Dini.
"Dini belum mikirin itu ma, banyak hal yang masih harus Dini pelajari juga," balas Dini.
"Iya sayang, kalau kamu memutuskan buat jadi ibu rumah tangga aja juga nggak papa, iya kan Dim?"
"Iya, kamu mau tetep kerja sama Adit, sama aku atau kamu nggak kerja juga nggak papa, aku pasti sanggup buat penuhi kebutuhan kamu sama anak anak kita nanti," balas Dimas dengan mencubit hidung Dini.
Dini hanya tersenyum dan memukul pelan paha Dimas.
Setelah lama mengobrol, Dimas mengajak Dini untuk pergi ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus ia beli.
Merekapun menghabiskan hari bersama sampai tak terasa malampun tiba. Dimas mengantarkan Dini kembali ke rumahnya.
"Jangan terlalu dipikirin ucapan mama tadi ya, aku, mama ataupun papa nggak akan maksa kamu dalam hal apapun," ucap Dimas sambil memeluk Dini.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium kening Dini.
"Have a good night sayang, aku pulang dulu," ucap Dimas lalu masuk ke dalam mobil.
Dini melambaikan tangannya pada Dimas dan segera masuk ke dalam rumah saat mobil Dimas sudah tak terlihat lagi.
**
Hari demi hari telah terlalui, bulan berganti menemui tahun yang baru. Banyak hal yang sudah terlewati dan banyak cerita sudah terjadi.
Andi duduk di balkon home store dengan memandang ke arah matahari yang siap untuk kembali ke peraduannya.
"kamu kemana Nit? apa kamu bener bener lupain semuanya? kamu bahkan menghilang tanpa jejak, aku nggak pernah tau gimana keadaan kamu di sana, bibi ataupun Dokter Dewi mereka nggak pernah kasih aku jawaban atas semua pertanyaan ku tentang kamu," batin Andi dalam hati.
Sejak kepergian Anita, Andi tidak pernah mendapat kabar apapun dari Anita. Ia sudah mencoba menghubungi Anita berkali kali namun tidak pernah tersambung.
Andi bahkan menemui asisten rumah tangga Anita dan juga Dokter Dewi, namun mereka tidak pernah mengatakan dimana dan bagaimana keadaan Anita. Mereka seperti dipaksa bungkam oleh Anita.
Anita yang biasanya selalu aktif di media sosial pun kini tampak menghilang tiba tiba. Unggahan terakhir Anita di media sosial nya adalah saat ia dan Andi terjebak macet saat Andi menjemputnya dari tempat kursus.
Andipun menyerah untuk mencari keberadaan Anita. Ia hanya fokus untuk mengembangkan bisnisnya meski sesekali ia masih merindukan kebersamaanya bersama Anita.
Tentang Dini, Andi tak perlu khawatir lagi karena tak lama lagi Dimas akan segera kembali yang artinya pernikahan Dini dan Dimas akan segera terlaksana.
Melihat Dini yang selalu diliputi kebahagiaan membuat Andi ikut berbahagia. Meski luka dalam hatinya masih menganga lebar, senyum dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Dini membuat luka itu sembuh dengan sendirinya.
Bagi Andi, perih dan sakit dalam hatinya sudah menjadi teman dalam hidupnya. Cinta yang ada dalam hatinya memang sebuah kesalahan yang tidak seharusnya ada, apa lagi tumbuh semakin besar tanpa bisa ia cegah.
Dalam hidupnya, bahagia dan duka adalah dua hal yang berdampingan. Namun ia masih tetap terjaga bersama cinta dalam hatinya. Meski menyakitkan, ia masih tetap menjaganya karena baginya Dini adalah dunianya.
Bersama dengan langit senja di ujung barat, Andi menyesap kopi hitam di hadapannya. Merasakan setiap sentuhan pahit di lidahnya.
"Sejak kapan kamu suka minum kopi?"
Andi segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang ada di belakangnya.
"Kamu bikin aku kaget," ucap Andi lalu menarik tangan Dini agar duduk di sampingnya.
"Kamu dari tadi ngelamun sampe nggak sadar kalau aku udah di sini dari tadi!" ucap Dini.
__ADS_1
"Aku nggak ngelamun Din," balas Andi.
"Masih mikirin Anita?" tanya Dini.
Andi menggeleng pelan dengan kembali menyeruput kopi di tangannya.
"Jangan terlalu banyak minum kopi Ndi, bisa ketergantungan nanti, nggak baik," ucap Dini merebut cangkir dari tangan Andi.
"Aku baru minum sekali ini Din," ucap Andi.
"Hari ini baru sekali? biasanya? aku udah tanya Rama dan dia bilang akhir akhir ini kamu emang sering minum kopi bahkan berkali kali dalam satu hari!"
Andi hanya tertawa kecil saat mengetahui Rama mengadukannya pada Dini.
"Sepatah hati itu kamu sampe minum kopi berlebihan?" tanya Dini.
"Enggak Din, ini nggak ada hubungannya sama patah hati, banyak yang harus aku kerjain, makanya aku minum kopi biar nggak ngantuk," jawab Andi.
"Beneran karena itu?" tanya Dini tak percaya.
Andi hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya menatap ke arah padatnya jalan raya.
Dini lalu ikut berdiri dan memeluk Andi dari belakang.
"Aku harap aku masih jadi sahabat yang bisa kasih kebahagiaan buat kamu Ndi dan aku juga berharap kalau aku masih jadi sahabat yang ada di hati kamu," ucap Dini.
Andi lalu berbalik dan memeluk Dini.
"Kamu sahabatku Din, kamu satu satunya yang ada di hati aku sampai detik ini dan adanya kamu di sini itu udah cukup buat bikin aku bahagia," ucap Andi lalu mencium kening Dini.
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan kembali duduk.
"Aku nggak mau liat kamu minum kopi lagi, bisa?"
Andi menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping Dini.
"Gimana sama Dimas? kapan dia pindah?" tanya Andi.
"Mungkin 2 atau 3 bulan lagi," jawab Dini.
"Aku nggak nyangka kamu akan nikah sama Dimas, padahal kalau diinget inget dia dulu suka banget gangguin kamu sampe kamu nangis, iya kan?"
"Iya dan aku benci banget sama dia, tukang bikin onar di sekolah yang suka semena mena karena dia anak orang kaya," balas Dini.
"Tapi sekarang dia bucin setengah mati sama kamu haha...."
"Anggap itu kutukan dari aku hehe...."
Andi dan Dini membicarakan banyak hal sampai langit mulai gelap. Perlahan sinar sang bulan tampak menerangi gelap di langit malam. Jejeran lampu jalan raya dan kendaraan mulai tampak menghiasi malam.
Senja telah pergi bersama kesedihan dalam hati. Membawa rindu tak berujung pergi meski akan kembali esok hari.
"Apa rencana kamu setelah menikah?" tanya Andi.
"Cariin kamu pacar," jawab Dini dengan menahan senyumnya.
"Aku bisa cari sendiri Din, kamu nggak tau aja banyak yang udah antri di luar sana!" ucap Andi penuh percaya diri.
"Kamu kebanyakan bergaul sama Dimas jadi over PD gini!" balas Dini yang membuat Andi hanya terkekeh.
"Aku belajar banyak hal dari Dimas Din, belajar bersosialisasi dan meningkatkan kepercayaan diri, kamu tau Dimas paling jago dalam hal itu kan?"
"Iya kamu bener, dia emang narsis dari dulu," balas Dini.
"Bikin aku gatel banget pingin nonjok wajah narsisnya!" ucap Andi.
"Kamu dari dulu emang hobi banget nonjok Dimas!"
"Jangankan Dimas, kak Adit aja aku tonjok hehe...."
"Dasar adik durhaka!"
"Hahaha....."
"Tapi aku bersyukur banget karena akhirnya kamu yang dulu nggak suka sama kak Adit sekarang malah jadi saudara kandung, kamu yang dulu nggak suka sama Dimas malah jadi sahabat deket," ucap Dini.
"Kita emang nggak pernah tau apa yang akan terjadi di depan nanti Din," balas Andi.
"Iya, kamu bener, kalau waktu SMA aku nggak ketemu lagi sama Dimas mungkin aku nggak akan menikah sama Dimas," ucap Dini.
"Emang kamu mau menikah sama siapa?" tanya Andi.
"Sama kamu aja, Andi Putra Prayoga," jawab Dini dengan senyum manisnya yang membuat Andi salah tingkah.
Tanpa Dini sadar ucapannya membuat Andi terdiam membeku.
__ADS_1
"sama kamu aja, Andi Putra Prayoga,"