
Tooookk Tooookk Tooookk
Pagi pagi sekali seseorang mengetuk pintu rumah Dini, saat ia dan ibunya hendak sarapan. Dini lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Dimas!"
"Pagi sayang, aku mau anter kamu berangkat kerja!"
"Aku baru mau sarapan sama ibu, ayo masuk!"
Dimas pun mengikuti Dini masuk ke dalam rumah.
"Eh Dimas, ayo sarapan bareng!" ajak ibu Dini.
"Terima kasih bu," balas Dimas lalu duduk di samping Dini.
"Ini ayam kecap favorit aku, nggak ada yang bisa bikin seenak ibu," ucap Dini sambil menaruh ayam kecap diatas nasi yang ia siapkan untuk Dimas.
"Kamu bisa masak sayang?" tanya Dimas.
Dini hanya tersenyum datar menjawab pertanyaan Dimas.
"Dini mana bisa masak, goreng tempe aja gosong, kalau nggak gosong hambar atau keasinan," sahut ibu Dini yang membuat Dimas terkekeh.
"Tapi aku bisa bikin mie kok, aku biasa bikin mie waktu kuliah dulu," ucap Dini membela diri.
"Apa kamu mau Dimas jadi keriting gara gara kamu bikinin mie tiap hari?" sahut ibu Dini.
"Nggak cuma keriting bu, bisa usus buntu hehe...." balas Dimas.
"Liat aja nanti, aku pasti bisa masak!"
"Oke, aku tunggu!"
Setelah selesai makan, Dimas dan Dini berpamitan untuk berangkat bekerja.
"Tumben kamu anterin aku," ucap Dini ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku nggak mau sia siain waktu sama kamu, sedetikpun!" balas Dimas.
Dini hanya tersipu mendengar ucapan Dimas.
Setelah Dimas mengantarkan Dini sampai di kantor, Dimas segera pergi ke home store. Sedangkan Dini masih berdiri di tepi jalan sampai mobil Dimas sudah tak terlihat lagi.
Saat hendak masuk ke dalam kantor, Dini melihat seseorang yang berada di sebrang jalan seolah sedang memperhatikannya.
Dini mengambil ponselnya untuk mengambil gambar orang itu sebelum Adit datang membuat Dini mengurungkan niatnya.
"Baru dateng Din!" ucap Adit.
"Ii... iya kak," jawab Dini terbata bata. Ia kembali melihat ke arah sebrang jalan, namun seseorang itu sudah tidak ada.
"Ayo masuk, nungguin siapa?"
Dini menggeleng lalu berjalan masuk bersama Adit.
"Akhir akhir ini kamu pernah ketemu Ana nggak? atau dia hubungi kamu mungkin?" tanya Adit pada Dini.
"Enggak kak, terakhir Dini ketemu mbak Ana waktu kak Adit pulang sama Jenny, setelah itu udah nggak pernah ketemu dan nggak pernah ada kabar lagi!"
"Kalau dia hubungi kamu, kasih tau kakak ya!"
"Emang kenapa? kak Adit berantem sama mbak Ana?"
"Emang kamu sama Dimas, dikit dikit berantem!" balas Adit lalu berjalan cepat meninggalkan Dini.
Dini hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Adit. Ia lalu masuk ke pantry untuk membuatkan minuman Adit sebelum ia masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi pak Adit, ini minuman buat pak Adit," ucap Dini sambil meletakkan minuman Adit di meja.
"Sejak kapan kamu jadi genit?" balas Adit bertanya.
Dini hanya tersenyum tipis lalu segera keluar dan masuk ke ruangannya untuk mengambil jadwal harian Adit dan memberikannya pada Adit.
"Ini jadwal harian pak Adit," ucap Dini.
"Saya ada janji sama siapa jam makan siang nanti?" tanya Adit pada Dini.
"Sama saya," jawab Dini dengan senyum manisnya.
"Sama kamu? apa saya pernah janjiin kamu makan siang?"
"Tidak, tapi pak Adit janji untuk memberikan penjelasan sama saya!"
Adit lalu tersenyum kecil dan meminta Dini untuk keluar.
"Jangan lupa pak, itu janji makan siang yang penting," ucap Dini sebelum ia keluar dari ruangan Adit.
Adit hanya menganggukkan kepalanya dengan menyembunyikan tawanya melihat sikap Dini.
**
Jam makan siang tiba, Dini dan Adit keluar dari kantor bersama Rudi yang menjadi supir.
Siang itu, Adit mengajak Dini untuk makan siang di kedai mie ayam langganannya.
"Kamu nggak bosen kan kakak ajak kesini?" tanya Adit.
"Enggak kok, ayo buruan cerita sebelum kak Adit pura pura lupa!"
"Oke oke, tapi apa yang kamu mau tau sebenarnya?"
"Tentang video yang kak Adit bicarain sama Jenny, itu ada hubungannya sama Dini dan Dimas kan kak? kenapa bisa sampe berpengaruh sama keluarga Dimas juga?"
"Kamu yakin mau tau tentang hal itu?"
"Iya, Dini yakin!"
__ADS_1
"Oke, sebenarnya waktu kita ketemu Jenny di kafe, dia nunjukin video kakak sama kamu, video waktu kakak ngasih kamu bunga mawar merah di lobby, ingat nggak?"
"Itu kan bunga dari Dimas yang ketinggalan di taksi!"
"Betul, tapi di video itu nunjukin seolah olah kakak yang ngasih kamu bunga itu, masalahnya Jenny tau kalau kamu tunangan Dimas dan udah pasti akan jadi berita besar kalau sampe video itu tersebar ke media dan pastinya nggak cuma kamu, tapi media juga akan menghubungkan kejadian itu sama Dimas dan keluarganya, termasuk bisnis om Tama!"
"Apa itu yang dimanfaatin Jenny buat bisa deket sama kak Adit?" terka Dini.
"Tepat sekali, jadi kita bikin perjanjian, intinya kakak biarin dia deketin kakak supaya video itu nggak tersebar ke media!"
"Tapi waktu terakhir Jenny ke ruangan kak Adit kemarin, kak Adit usir dia kan?"
"Iya, karena kakak udah punya bukti kalau video yang ada di HP Jenny itu nggak bener, kakak datengin supir taksi yang waktu itu nganterin bunga kamu dan minta penjelasan lengkapnya buat ngelawan video milik Jenny dan yang seperti kamu liat waktu itu, kakak berhasil!"
"Apa itu yang bikin Jenny marah sama Dini?"
Adit mengangguk pelan.
"Maafin kakak karena udah bikin kamu terlibat sama masalah ini," ucap Adit.
"Kak Adit nggak salah kok, lagian semuanya udah berakhir kan, Jenny juga udah minta maaf!"
"Tapi pesan kakak, kamu jangan terlalu percaya sama dia, kamu harus tetap waspada dan hati hati, oke?"
Dini mengangguk pasti.
Setelah selesai menyantap makan siang mereka, mereka kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini sudah membereskan semua pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.
Sebelum itu, ia menghubungi Dimas terlebih dahulu.
"Halo, kamu dimana?" tanya Dini ketika Dimas sudah menerima panggilannya.
"Maaf sayang, aku lagi sibuk, nggak bisa jemput kamu, kamu sama Andi ya!"
"Oh, ya udah kalau gitu, nggak papa!"
Dinipun menghubungi Andi.
"Halo Ndi, kamu dimana?" tanya Dini ketika Andi sudah menerima panggilannya.
"Di jalan, mau jemput kamu, kamu pulang jam berapa?"
"Ini udah mau pulang kok!"
"Oke, tunggu di depan ya, aku udah mau nyampe'!"
"Oke!"
Dini lalu berlari kecil ke ruangan Adit untuk berpamitan.
"Nggak ada, kamu pulang aja!" ucap Adit ketika Dini baru saja membuka pintu ruangan Adit.
"Kakak udah hafal, buruan turun, Dimas udah nunggu kan di depan?"
"Enggak kok, Andi yang jemput Dini, ya udah Dini pulang ya kak!"
"Iya hati hati, pacarnya siapa yang jemput siapa," balas Adit menggerutu.
"Kenapa kak?" tanya Dini yang samar samar mendengar ucapan Adit.
"Enggak, kamu hati hati di jalan!"
"Oke!"
Dinipun keluar dan berdiri di pinggir jalan untuk menunggu Andi.
Tiba tiba ada seorang laki laki yang mengenakan masker dan topi berjalan cepat ke arahnya. Dini menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ada siapapun di sana selain dirinya.
Jantung Dini mulai berdetak cepat, ia takut seseorang itu akan melakukan hal jahat padanya. Ia pun mengambil sebuah botol spray dari dalam tasnya. Botol itu sudah ia isi dengan air yang dicampur bubuk merica dan cabai sebelumnya.
Dini memegang erat erat botol itu dengan memperhatikan langkah laki laki yang semakin dekat dengannya.
Namun tiba tiba......
Tiiiiin Tiiiiin Tiiiiin
Suara klakson begitu mengagetkan Dini, membuat jantung Dini seakan terlepas dari dadanya.
"ANDI!!!" teriak Dini dengan memberikan pukulan bertubi tubi pada Andi yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hahaha..... sorry sorry, kamu ngelamun aja sih, jangan suka ngelamun di pinggir jalan, bahaya!"
Dini hanya mengerucutkan bibirnya kesal pada Andi. Ia lalu membawa pandangannya ke arah laki laki yang berjalan ke arahnya tadi, namun sudah tidak ada. Laki laki itu seolah menghilang begitu saja.
"Ada apa sih? kamu liat siapa?" tanya Andi.
"Udah ah, ayo pulang!" balas Dini dengan nada yang masih kesal.
Dini dan Andi pun pergi meninggalkan tempat itu.
**
Di sisi lain, sepulang dari kantor Adit pergi ke rumah Ana. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Ana yang sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar.
Berkali kali Adit menghubunginya, tak pernah tersambung, membuat Adit semakin khawatir, mengingat terakhir kali ia bertemu Ana dalam keadaan yang tidak baik.
Sesampainya Adit di rumah Ana, ia mengetuk pintu rumah Ana beberapa kali, namun tak ada tanda tanda siapapun di rumah itu.
Adit lalu menunggu di depan rumah selama hampir satu jam, namun tidak juga mendapatkan hasil.
Aditpun memutuskan untuk mencari Ana ke tempat lain, saat baru saja ia masuk ke dalam mobil, sebuah taksi berhenti di depan rumah Ana. Ana keluar dari dalam taksi dengan raut wajah yang pucat.
Aditpun segera menghampiri Ana.
__ADS_1
"Lo dari mana? lo sakit?" tanya Adit dengan menempelkan telapak tangannya di kening Ana, namun segera ditepis oleh Ana.
"Gue nggak papa, lo ngapain kesini?" jawab Ana sekaligus bertanya.
"Gue nunggu lo dari tadi, lo kenapa nggak bisa dihubungi sih?"
"HP gue rusak," jawab Ana.
"Mobil lo mana? kenapa pake taksi?"
"Lagi di servis, kenapa lo bawel banget sih Dit!"
"Gue khawatir sama lo An, nggak biasanya lo kayak gini!"
"Berlebihan lo, pulang aja sana, gue mau istirahat!"
"Lo udah makan? gue pesenin makanan ya, gue...."
"DIT, PULANG!" ucap Ana dengan berteriak.
"Lo kenapa sih An, ada masalah apa? kenapa lo....."
"Gue bilang pulang Dit, tinggalin gue sendirian!" ucap Ana dengan suara lirih.
"An, gue...."
"Gue mohon Dit," ucap Ana memohon.
"Oke gue pulang, lo jaga diri baik baik ya!" ucap Adit lalu pergi meninggalkan rumah Ana.
Meski ia ragu untuk pergi, pada akhirnya ia tetap pergi. Ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk tetap berada di sana menemani Ana, karena ia bukanlah siapa siapa dan Ana sudah memiliki seseorang yang akan menjadikannya miliknya seutuhnya.
**
Di tempat lain, Dimas sedang sibuk memilih baju di kamarnya. Hampir semua baju yang ada di dalam lemarinya ia keluarkan dan dicobanya satu per satu.
Tooookk Tooookk Tooookk
"Masuk!"
Mama Dimas masuk ke dalam kamar Dimas dengan menggeleng gelengkan kepalanya melihat kamar sang anak yang tampak seperti kapal pecah saat itu.
"Mama jangan protes dulu ya, Dimas lagi bingung ini!" ucap Dimas sambil melepas kemeja yang dipakainya dan mengambil kemeja lain untuk dipakainya.
"Kita cuma mau makan malam loh sayang, bukan kondangan!" balas mama Dimas.
"Justru itu, ini lebih penting daripada kondangan ma!"
"Kamu mau coba pake ini?" tanya mama Dimas sambil memberikan sebuah kemeja yang sudah disetrika dengan rapi.
"Dimas nggak pernah liat kemeja ini, mama baru beli?" tanya Dimas yang baru menyadari jika sang mama membawa kemeja.
"Iya, gimana? mau coba nggak?"
"Kenapa warna nya pink sih ma, nggak jantan banget dong!"
"Ini bukan pink sayang, ini dusty!"
"Sama aja ma, buat Dimas ini tetep warna pink!"
"Ya udah kalau kamu nggak mau, biar Dini sendiri yang pake warna ini!" ucap mama Dimas sambil berjalan keluar dari kamar Dimas.
"Tunggu ma, tunggu!" ucap Dimas menahan sang mama dengan cepat.
"Andini pake warna ini juga? mama beli buat Dimas sama Andini?"
"Iya, Dini sih suka, tapi kamunya nggak suka!"
"Suka kok, Dimas suka, Dimas pake ini aja!" ucap Dimas sambil merebut kemeja dari tangan sang mama.
"Ya udah buruan siap siap, pak Adi udah berangkat jemput Dini sama ibunya."
"Loh, bukan Dimas yang jemput?"
"Enggak, kamu nunggu di rumah aja!"
Dimas menganggukkan kepalanya lalu bersiap siap untuk menyambut gadisnya yang akan datang bersama calon mertuanya.
Setelah selesai, Dimas segera keluar dan menunggu di ruang tamu.
"Kok lama ya ma, pak Adi berangkat dari tadi kan?" tanya Dimas tidak sabar.
"Sabar dong sayang, bentar lagi juga nyampe!"
Benar saja, tak lama kemudian mobil yang dikendarai pak Adi datang. Dimas, mama dan papanya segera keluar untuk menyambut kedatangan Dini dan ibunya.
Dini turun dari dalam mobil dengan menggunakan mini dress yang berwarna senada dengan kemeja Dimas. Make up flawless Dini semakin memancarkan kecantikannya di bawah rembulan malam itu, membuat Dimas tak berkedip melihat gadis yang dicintainya itu.
"Selamat datang Bu Ranti, Dini!" ucap mama Dimas sambil memeluk Dini dan ibunya bergantian.
"Ayo masuk, makan malam sudah siap," ucap papa Dimas mempersilakan masuk.
Mereka pun masuk.
Papa Dimas duduk di ujung, sedangkan mama dan ibu Dini duduk bersebelahan di sebrang Dimas dan Dini.
"Kamu cantik banget," ucap Dimas berbisik pada Dini ketika menunggu makanan pembuka dihidangkan.
Dini hanya tersenyum, tersipu malu mendengar ucapan Dimas.
Setelah makanan sudah di atas meja semuanya, mereka mulai menikmati hidangan pembuka lalu dilanjutkan hidangan utama dan hidangan penutup.
Setelah selesai makan, mereka mulai berbincang bincang santai. Papa Dimas menjelaskan pada ibu Dini jika Dimas akan tinggal di luar kota sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan dan beruntung karena ibu Dini tidak mempermasalahkan hal itu.
"Yang penting komunikasi kalian jangan sampai putus, komunikasi itu paling penting dalam suatu hubungan," ucap ibu Dini pada Dimas dan Dini.
Malam itu, mereka duduk bersama seperti sebuah keluarga, keluarga bahagia yang sudah lama Dimas dan Dini impikan.
__ADS_1