
Andi dan Adit masih berbaring di lantai ruang tamu. Emosi sesaat membuat Andi tidak dapat mengendalikan dirinya.
Mereka berdua hanya diam dengan memandang langit langit sebelum suara mobil terdengar, membuat Andi dan Adit segera bangun dari posisinya.
"Mama!"
"Mama!" ucap Adit dan Andi bersamaan.
Adit dan Andi lalu segera berlari ke arah tangga untuk masuk ke kamar mereka masing masing sebelum sang mama mengetahui apa yang terjadi pada anak anaknya.
Namun sebelum itu, Adit menghampiri para asisten rumah tangganya agar tidak memberitahukan pada mama Siska tentang apa yang baru saja terjadi.
"Tolong jangan ada yang kasih tau mama, saya sama Andi baik baik aja kok, nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kalian pasti tau kan apa yang terjadi kalau mama tau tentang kejadian tadi?"
"Iya mas, kita nggak akan kasih tau ibu," balas salah satu dari mereka.
"Bagus," ucap Adit lalu segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Andi lalu menguncinya dari dalam.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Andi yang segera berdiri dari duduknya begitu melihat Adit masuk ke kamarnya.
"Sssstttt.... jangan berisik!" ucap Adit lalu mengambil tissue di meja Andi dan mengusap darah di bibirnya.
Andi lalu duduk di tepi ranjangnya. Melihat sudut bibir Adit yang berdarah, ia merasa sangat bersalah.
Andi lalu mengambil obat merah dari kotak P3K. Ia berdiri di hadapan Adit dan menarik tangan Adit yang masih membersihkan lukanya dengan tissue.
Andi mengusap pelan sudut bibir Adit dengan kapas yang sudah ia basahi dengan air sebelumnya lalu mengeringkannya sebelum ia oles dengan obat merah.
Adit menyeringai menahan perih di bibirnya.
"Mama pasti nanya nanti, lo mau jawab apa?" tanya Andi.
"Apa lagi, gue dihajar sama adik gue sendiri," jawab Adit.
"Nggak papa, lo emang harus jujur sama mama," ucap Andi.
"Gue sama sekali nggak ada niat buat deketin Dini, lo masih nggak percaya sama gue?"
"Gue liat kalian kalian pelukan di mobil," jawab Andi.
"Tadi siang? itu karena gue cuma mau tenangin dia, gue tau kalian lagi berantem, gue liat kalian waktu di depan kamar mandi, gue denger semuanya."
Andi lalu membawa pandangannya pada Adit dengan cepat. Ia tidak tau jika Adit melihatnya saat itu.
"Gue anggap Dini sebagai adik gue Ndi, gue sayang sama dia sebagai kakak, gue suka liat dia semangat kerja, liat dia ceria, jadi gue berusaha buat balikin moodnya dia aja," ucap Adit.
"Sorry, gue kebawa emosi," ucap Andi menyesali perbuatannya.
"Sampe kapan lo mau simpan sendiri perasaan lo, Dini juga berhak tau yang sebenarnya Ndi!" ucap Adit.
Andi hanya diam, kini ia sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi di hadapan Adit.
Bagaimanapun ia berusaha, nyatanya Adit sangat peka terhadap dirinya, membuat Adit menyadari dengan cepat apa yang sebenarnya Andi rasakan pada Dini.
"Kenapa lo nggak mau ungkapin perasaan lo Ndi?" tanya Adit.
"Dini udah bahagia sama Dimas, Dimas selalu bisa bikin Dini bahagia dan buat gue itu udah cukup," jawab Andi.
"Apa lo nggak akan ungkapin perasaan lo selamanya?"
"Gue cuma mau Dini bahagia, kalau dia tau perasaan gue itu cuma akan bikin dia bingung dan bimbang, masalah baru akan datang dan bisa jadi gue bakalan kehilangan Dini," jawab Andi.
"Itu cuma asumsi yang lo buat sendiri Ndi, lo nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi sebelum lo ngelakuin itu!"
"Gue nggak akan korbanin kebahagiaan Dini yang sekarang buat sesuatu yang belum pasti, gue tau gimana pengorbanan Dimas buat bisa sama Dini dan gue yakin Dimas lah yang terbaik buat Dini," ucap Andi penuh keyakinan.
"Terus sampai kapan lo mau simpan perasaan lo sendiri? sampai kapan lo akan siksa diri lo sendiri?"
"Gue nggak tau, gue nggak pernah mikirin itu, selama Dini bahagia dan baik baik aja, hidup gue juga akan baik baik aja," jawab Andi.
"Gue harap lo bisa bener bener bahagia Ndi!"
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Ada yang mau gue tanyain kak!" ucap Andi tiba tiba.
"Apa?"
"Mbak Ana sebenarnya udah nikah belum?" tanya Andi yang berhasil membuat Adit begitu terkejut.
"Kenapa lo tiba tiba nanyain Ana?" balas Adit canggung.
"Dini bilang mbak Ana mau nikah, tapi sampe sekarang belum ada undangan yang dateng," jawab Andi.
"Dia... dia nggak jadi nikah," ucap Adit.
"Kenapa?"
"Jodoh kan nggak bisa ditebak Ndi, Ana yang udah siap mau nikah aja bisa tiba tiba batal, lo yang nggak mau ungkapin perasaan lo sama Dini juga bisa tiba tiba nikah nanti," jawab Adit.
"Ya nggak mungkin tiba tiba lah!"
"Cinta itu punya jalannya sendiri Ndi, takdir yang menunjukkan jalannya tanpa lo bisa cegah ataupun lo atur semau lo sendiri!"
__ADS_1
"Lo bener, kegagalan pernikahan mbak Ana adalah salah satu jalan buat lo dapetin mbak Ana, itu kan maksudnya?"
Adit hanya tertawa kecil dengan mengalihkan pandangannya dari Andi.
"Gue liat mbak Ana pake kalung yang lo punya," ucap Andi.
"Mungkin cuma kebetulan sama," balas Adit.
"Terlalu banyak kebetulan waktu kita ketemu di bioskop kemarin, jadi jujur aja deh sebelum gue kasih tau mama tentang kecurigaan gue!"
"Dasar tukang ngadu!"
Andi hanya tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil memojokkan Adit.
"Apa kalian udah nikah diem diem?" tanya Andi.
"Enggaklah, hubungan kita belum sejauh itu," jawab Adit cepat.
"Berarti bener kan kalau kalian ada hubungan?"
Adit mendengus kesal lalu menganggukkan kepalanya.
"Beneran? waaaahhh, gila, jangan jangan lo yang bikin pernikahan mbak Ana batal!"
"Enggak lah, gue nggak segila itu, tapi seenggaknya gue berani ungkapin perasaan gue, nggak kayak lo!"
"Iya gue tau gue pengecut soal itu," balas Andi lalu merebahkan badannya di ranjang.
"Sorry kalau ucapan gue terlalu kasar tadi," ucap Adit yang menyesali ucapannya pada Andi.
"Nggak papa, jadi beneran lo pacaran sama mbak Ana?"
"Pacaran itu cuma buat anak kecil, nggak ada kata pacaran dalam kamus gue, yang ada komitmen, komitmen buat sama sama selamanya," jawab Andi.
"Kalau gitu kenapa nggak langsung nikah aja? kenapa juga harus disembunyiin dari mama?"
"Ada masalah yang belum bisa gue ceritain sama lo, jadi lo harus janji buat nggak kasih tau mama tentang hal ini."
"Kenapa kalau mama tau?"
"Gue takut kehilangan apa yang udah gue perjuangkan, jadi tolong jaga rahasia ini dari mama, bisa kan?"
"Oke, gue akan jadi adik yang baik kali ini, tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Lo harus ceritain semuanya sama gue, tentang hubungan lo sama mbak Ana," jawab Andi.
Adit diam beberapa saat, ia bukanlah tipe seseorang yang suka menceritakan masalah pribadinya. Tapi karena Andi adalah adiknya, ia bisa menceritakan nya pada Andi agar Andi juga bisa lebih terbuka padanya.
**
Waktu berlalu, pagi telah datang.
Dini keluar dari rumah, bersiap untuk berangkat ke kantor. Saat ia baru saja keluar, ia begitu terkejut karena melihat Dimas yang sudah menunggunya di depan rumah.
Dini segera berlari dan menghambur dalam pelukan Dimas.
"Kamu disini? aku nggak mimpi kan? apa aku terlalu kangen sama kamu sampe kebawa mimpi?" tanya Dini yang masih memeluk Dimas dengan erat.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium bibir Dini singkat.
"Kamu nggak mimpi," ucap Dimas lalu kembali memeluk Dini.
Setelah melepas rindu dengan berpelukan, mereka lalu masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kamu bisa di sini? pagi pagi lagi!" tanya Dini.
"Aku dapat tugas buat datang ke perusahaan pusat, tapi nanti siang harus balik lagi setelah jam makan siang," jawab Dimas.
"Kamu nyampe sini jam berapa? kenapa nggak kabarin aku?"
"Sebenarnya aku berangkat semalem dan langsung pulang ke rumah karena udah malem banget, aku nggak mau ganggu istirahat kamu!"
"Apa nanti siang kita bisa makan siang bareng?"
"Tentu, aku jemput kamu nanti siang," jawab Dimas yang membuat Dini bersorak kegirangan.
Sesampainya di kantor, Dini dan Dimas keluar dari mobil. Tak lupa Dimas memeluk dan mencium kening Dini sebelum Dimas pergi.
Setelah Dimas menghilang dari pandangannya, Dinipun masuk ke tempat kerja nya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dini sudah bersiap untuk segera menemui Dimas yang sudah menunggunya di lobby.
"Mau keluar?" tanya Adit yang baru saja masuk ke ruangan Dini.
"Dini mau makan siang sama Dimas, bye kak!" jawab Dini lalu berlari keluar meninggalkan Adit.
Sesampainya di lobby, Dini melihat Dimas yang duduk menunggunya. Ia pun menghampiri Dimas dan duduk di samping Dimas.
"Ayo berangkat," ucap Dimas dengan menggandeng tangan Dini.
__ADS_1
Merekapun meninggalkan kantor dan pergi makan siang di kafe yang tak jauh dari sana.
"Abis aku anter kamu balik ke kantor, aku juga harus balik ke tempat kerja ku sayang," ucap Dimas.
"Nggak bisa lebih lama lagi ya?"
"Weekend nanti kita bisa jauh lebih lama dari hari ini," jawab Dimas dengan menggenggam tangan Dini di atas meja.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Sayang, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dimas.
"Apa?"
"Kamu bilang kemarin mental kamu lagi nggak baik baik aja, kenapa?"
"Kita cuma ketemu sebentar Dimas, aku mau seneng seneng aja sama kamu, nggak mau bahas masalah ku!"
"Aku akan jadi pendengar yang baik buat kamu Andini, jangan pendam masalah kamu sendiri, kamu punya aku," ucap Dimas.
Dini lalu meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Dimas.
"Dimas, apa aku salah karena udah percaya sama Anita?" tanya Dini.
"Emang kenapa? apa dia ngelakuin sesuatu sama kamu?"
"Aku nggak tau ini cuma perasaan aku aja tau enggak, tapi aku ngerasa kalau dia masih ngejar kamu, dia selalu bilang kalau dia berusaha buat dapat maaf dari kamu, tapi sikapnya ke kamu bikin aku ragu sama ucapannya," jawab Dini menjelaskan.
"Aku nggak minta kamu buat nggak berteman sama Anita, tapi kamu harus hati hati sama dia, apa yang aku ceritain ke kamu itu bener bener terjadi, silakan kamu sendiri yang menilainya, apa yang dia lakuin itu wajar atau ada maksud lain yang dia sembunyikan!" ucap Dimas.
"Dia juga bikin aku sama Andi berantem," ucap Dini yang membuat Dimas sedikit terkejut.
"Kamu sama Andi berantem? kenapa?"
"Aku nggak tau Anita bicara apa aja sama Andi, tapi Andi lebih percaya sama Anita daripada aku," jawab Dini.
"Jadi bener apa yang Anita bilang? kamu nuduh Anita rebut Dimas dari kamu? dan kamu nggak percaya sama perubahan sikap Anita?"
Semua pertanyaan Andi kembali terngiang di kepala Dini, membuat dadanya kembali terasa sesak.
"Kamu sedih?" tanya Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
"Aku kecewa sama Andi, persahabatan kita ternyata cuma sebatas itu," ucap Dini.
"Kalian mungkin salah paham, aku tau seperti apa persahabatan kalian, Andi nggak mungkin nggak percaya sama kamu," ucap Dimas.
"Nggak ada kesalahpahaman apapun Dimas, persahabatan kita emang udah lama dan mungkin waktu yang bikin persahabatan kita nggak seerat dulu," balas Dini.
"Andi udah minta maaf sama kamu?"
Dini menganggukkan kepala nya.
"Minta maaf nggak akan hapus apa yang udah terjadi Dimas, minta maaf nggak akan merubah apa yang udah terjadi dan apa yang udah terjadi itu terlalu mengecewakan buat aku," ucap Dini.
"Aku akan coba bicara sama Andi, kamu jangan terlalu sedih, oke?"
"Iya, aku punya kamu di sini, aku nggak akan sedih selama ada kamu di sini," balas Dini dengan tersenyum.
"Dan setelah aku balik, kamu juga harus jaga senyum ini, aku nggak akan biarin Andi atau Anita hilangin senyum ini dari wajah kamu," ucap Dimas yang berusaha memperbaiki suasana hati Dini.
"Oh iya, kamu udah bilang ibu soal rencana liburan kita?" lanjut Dimas bertanya.
"Belum, nanti aku bilang ibu," jawab Dini.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Dimas lalu kembali mengantar Dini ke kantor.
"Ingat sayang, senyum ini nggak boleh hilang, oke?"
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis lalu mencium pipi Dimas sebelum keluar dari mobil.
Dimas lalu mengikuti Dini keluar dan memeluknya seperti biasa.
"Aku pergi dulu sayang, kamu jaga diri baik-baik!" ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
"Kamu juga jaga diri baik-baik!" balas Dini.
Dimas lalu kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke luar kota, ke arah tempat kerjanya.
Saat Dini melangkahkan kakinya untuk masuk, seseorang memanggil namanya.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Dini dan Dimas dari jauh.
Dini yang mengenali suara si pemanggil itu hanya diam, tanpa menoleh lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Namun seseorang itu segera menahan tangan Dini.
"Ada yang harus aku bicarain sama kamu!" ucap Andi.
"Aku mau kerja Ndi, lepasin!" balas Dini dengan menarik tangannya dari Andi.
"Kasih aku waktu sebentar Din, aku mohon!" ucap Andi memohon.
"Jam makan siang ku udah habis, aku harus balik kerja sebelum ke Adit marah sama aku," ucap Dini lalu melangkah pergi meninggalkan Andi begitu saja.
__ADS_1
"Aku tunggu kamu di sini Din!" ucap Andi setengah berteriak karena Dini yang sudah melangkah jauh meninggalkannya nya.