Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menemui Mama (2)


__ADS_3

Bersama senja yang tergambar di ujung langit sore, Andi dan Aletta sudah sampai di rumah mama Siska.


Aletta masih diam di tempat ia duduk, ia kembali ragu untuk bertemu mama Siska. Andi lalu membuka pintu mobil, mengulurkan tangannya pada Aletta, menggenggamnya dan menggandengnya untuk turun dari mobil.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan, namun baru saja Andi melangkahkan kakinya di teras rumah, terdengar suara seseorang memanggil dari taman bunga.


"Andi!"


Andi dan Aletta kompak menoleh ke arah sumber suara. Aletta seketika melepaskan tangan Andi dari genggamannya saat ia melihat wanita paruh baya cantik diantara tanaman penuh kuncup bunga.


Andi tersenyum pada sang mama lalu kembali meraih tangan Aletta dan menggandengnya menuju ke arah sang mama.


"Maaf ma, Andi nggak liat mama di sini," ucap Andi pada sang mama.


"Pasti karena ada yang lebih menarik dari mama sampe kamu nggak liat mama di sini," balas mama Siska sambil membawa pandangannya pada Aletta.


"Ini Aletta ma, Ta, ini mama," ucap Andi saling memperkenalkan.


"Aletta tante," ucap Aletta dengan mengulurkan tangannya.


"Kamu suka bunga Aletta?" tanya mama Siska sambil menerima uluran tangan Aletta.


"Aletta....."


"Aletta nggak suka bunga ma, dia sukanya mainan cowok," sahut Andi yang seketika membuat Aletta reflek meninju lengan tangan Andi.


"Hahaha..... bener kan?" ucap Andi tertawa sambil menggosok lengan tangannya yang baru saja mendapat tinjuan dari Aletta entah yang keberapa kali.


"Aletta suka kok tante, tapi Aletta lebih suka tanam yang nggak ada bunganya jadi cuma daun daun aja," ucap Aletta pada mama Siska.


"Kenapa? bukannya lebih cantik kalau ada bunganya?" tanya mama Siska.


Aletta diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan mama Siska.


"karena Aletta seperti bunga itu tante, Aletta memang terlihat sama seperti perempuan pada umumnya, tapi Aletta nggak punya bunga yang indah, keindahan Aletta udah diambil oleh laki laki yang nggak bertanggung jawab dan...."


"Karena Aletta alergi serbuk bunga ma," ucap Andi menjawab pertanyaan sang mama untuk Aletta.


"Bener? kalau gitu jangan di sini, kita masuk aja!" ucap mama Siska lalu menarik tangan Aletta dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Aletta sedikit terkejut dengan apa yang mama Siska lakukan, tapi ia mengikuti mama Siska begitu saja.


Sedangkan Andi hanya tersenyum senang melihat sang mama yang bisa menerima Aletta dengan baik.


Kini mereka berada di ruang tamu, Mama Siska lalu meminta asisten rumah tangga agar menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk Aletta.


"Aku ganti baju bentar Ta," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Aletta.


Kini hanya ada Aletta bersama mama Andi di ruang tamu. Aletta hanya diam menyembunyikan kegugupannya, sedangkan mama Siska memperhatikan seperti apa gadis yang membuat anak keduanya tampak sedang jatuh cinta.


"Kamu udah lama kenal Andi?" tanya mama Siska.


"Kita kenal sejak kuliah tante," jawab Aletta.


"Satu fakultas?"


"Enggak tante, Aletta fakultas bahasa," jawab Aletta.


"Oh, Tante perhatiin kalian cukup dekat ya, padahal setau tante Andi itu nggak mudah dekat sama perempuan," ucap mama Siska.


"Mungkin karena kita dulu tinggal di tempat kos yang sama, Aletta juga kenal deket sama Dini," balas Aletta.


"Apa kamu juga kenal Anita?" tanya mama Siska yang membuat Aletta sedikit terkejut.


"Mama kenapa jadi wawancara Aletta sih!" ucap Andi yang tiba tiba datang dan duduk di samping Aletta.


"Minum dulu Ta," ucap Andi sambil memberikan segelas minuman di meja pada Aletta.


Aletta lalu menyeruput sedikit minuman itu dan mengembalikannya ke meja.


"Mama cuma mau tau aja sedeket apa hubungan kalian," ucap mama Siska tanpa basa basi.


"Sedeket ini," balas Andi sambil menggeser duduknya agar semakin dekat dengan Aletta.


Aletta hanya tersenyum dan memukul pelan paha Andi diikuti dengan tawa Andi.


Sedangkan mama Siska hanya tersenyum melihat kedekatan Andi dan Aletta. Dalam hatinya ia bahagia karena bisa melihat Andi tertawa tanpa beban bersama gadis yang ada di sampingnya.


"Ma, Adit......."


Adit menghentikan ucapannya saat melihat Andi yang sedang duduk bersama seorang gadis di ruang tamu.


Aditpun membawa langkahnya ke arah sang mama dan duduk di samping sang mama.


"Mama nggak kasih tau Adit kalau ada tamu," ucap Adit pada sang mama.


"Mereka baru dateng kok," balas mama Siska.


"Hai, Adit," ucap Adit sambil mengulurkan tangannya pada Aletta.


"Aletta," balas Aletta menerima uluran tangan Adit.

__ADS_1


"Kalian ngobrol aja dulu, mama mau siapin makan malam, kita makan malam bareng di sini," ucap mama Siska.


Kini hanya ada Aletta, Andi dan Adit di ruang tamu.


"Lo mau keluar kan? kenapa masih di sini?" tanya Andi pada Adit.


"Kan mama ngajak makan malem bareng," balas Adit.


"Apa lo merasa kedatangan gue ganggu kalian?" tanya Adit yang sengaja menggoda Andi.


"Iya, ganggu banget," balas Andi.


"Hahaha.... emang aku ganggu kamu Aletta?" tanya Adit pada Aletta.


"Enggak kok," jawab Aletta sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau boleh tau kamu kerja dimana? kayaknya aku pernah ketemu," tanya Adit pada Aletta.


"Di perusahaan fashion X, memang kebetulan pernah beberapa kali ketemu waktu meeting di daerah X," jawab Aletta.


"Oh iya aku inget, kamu yang jadi perwakilan dari Singapura itu ya?"


"Iya, pak Adit masih ingat?"


"Ingat dong, presentasi kamu waktu itu kan bagus banget," jawab Adit memuji.


"Dan waktu itu pak Adit pimpinan pertama yang menolak gagasan saya hehe...."


"Bukan menolak, cuma ada beberapa kritik yang harus aku sampaikan biar lebih baik lagi dan hasilnya emang jauh lebih baik kan?"


"Iya, berkat saran pak Adit hasilnya jadi lebih memuaskan," balas Aletta dengan tersenyum.


"Kalau kita di luar pekerjaan gini kamu bicara santai aja, panggil kakak juga boleh, biar nggak terlalu canggung," ucap Adit.


"Iya.... kak....." balas Aletta ragu.


"Hahaha.... good girl!" balas Adit dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Ta, aku...."


"Tapi kayaknya penampilan kamu berubah banget ya, kita terakhir ketemu kapan sih?" tanya Adit pada Aletta, membuat Andi menghentikan ucapannya.


"Terkahir ketemu tahun lalu kayaknya dan....."


"Jadi tahun kemarin kamu udah di sini dan nggak ngabarin aku?" tanya Andi memotong ucapan Aletta.


"Aku....."


"Penampilan kamu sangat berbeda dengan terakhir kali kita ketemu, apa kamu sehari hari emang kayak gini?" tanya Adit tiba tiba.


"Tapi tetep cantik kok," ucap Adit yang membuat Aletta tersipu.


Andi yang melihat hal itu hanya bisa mendengus kesal. Ia tidak tau jika Aletta dan Adit pernah bertemu dan berkerjasama sebelumnya.


"Lo mending pergi deh, daripada gue seret keluar!" ucap Andi pada Adit.


"Hai, jaga ucapan kamu anak kecil hahaha...." balas Adit yang disusul tawa Aletta.


"Apaan sih, nggak lucu!" ucap Andi yang terlihat kesal.


Adit dan Aletta hanya tertawa melihat Andi yang tampak kesal.


Tak lama kemudian makan malam siap, Aletta, Andi, Adit dan sang mama pun makan malam bersama.


"Ternyata dunia itu sempit banget ya Ta!" ucap Adit pada Aletta.


"Kenapa lo ikutan manggil Ta sih, itu kan panggilan gue!" sahut Andi sebelum Aletta sempat menjawab.


"Namanya kan Aletta, bener dong gue panggil Ta!" balas Adit dengan menyendokkan sayur di piring Aletta namun ditahan oleh Andi.


"Dia nggak suka sayur itu," ucap Andi.


"Kenapa kamu bilang dunia sempit? apa kalian udah pernah kenal sebelumnya?" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Adit dan Aletta.


"Adit pernah kerjasama sama perusahaan tempat Aletta kerja ma, jadi kita pernah ketemu beberapa kali, iya kan Al?"


"Iya bener, waktu itu kak Adit selalu meeting sama asisten yang namanya mbak Ana itu kan?"


Adit tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya.


"Personal assistan kak Adit sekarang udah bukan mbak Ana lagi Ta!" ucap Andi.


"Oh ya? padahal dulu kak Adit sama mbak Ana keliatan cocok banget loh!"


"Kamu pasti kenal kok sama asisten baruku!" ucap Adit.


"Siapa kak?" tanya Aletta penasaran.


"Dini," sahut Andi menjawab.


"Dini? Andini?" tanya Aletta yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan makan malam sampai selesai. Setelah selesai makan malam, mama Siska masuk ke dalam kamar, sedangkan Adit keluar rumah untuk menemui Ana.


Kini hanya ada Andi dan Aletta, mereka duduk di kursi yang ada di teras.


"Ternyata kak Adit seru juga ya, aku pikir dia tipe orang yang kaku dan selalu serius gitu," ucap Aletta pada Andi.


Andi hanya diam mendengarkan ucapan Aletta.


"Nggak nyangka juga kalau ternyata sosok pak Adit yang dulu sangat aku takuti sekarang bisa duduk dan ngobrol santai sama aku, seneng banget rasanya," lanjut Aletta kegirangan.


"Kamu tau nggak, kak Adit dulu....."


"Ta, kamu sadar nggak dari tadi kamu cuma ngomongin kak Adit terus, apa kamu seseneng itu sampe lupa kalau kamu lagi duduk sama aku disni!"


"Aku cuma excited aja Ndi, kak Adit itu CEO idola banyak perempuan dan nggak semua perempuan mendapatkan kesempatan berharga buat bisa ngobrol santai sama kak Adit kayak tadi," ucap Aletta.


Andi mendengus kesal lalu beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Aletta.


"Susulin Adit, kayaknya kamu lebih seneng ngobrol sama Adit daripada sama aku!" jawab Andi yang membuat Aletta terkekeh.


"Kamu cemburu?" tanya Aletta menggoda dengan beranjak dari duduknya.


Andi lalu berbalik dan menatap kedua mata Aletta dengan jarak yang sangat dekat.


"Iya," jawab Andi singkat dengan tatapan yang begitu tajam pada Aletta.


Aletta seketika terdiam mendapat tatapan tajam dari Andi dengan jarak yang sangat dekat. Jantungnya tiba tiba memompa dengan cepat tanpa terkendali.


Andi lalu memegang kedua bahu Aletta dan kembali mendudukkan Aletta di kursi.


"Apa kamu termasuk bagian dari cewek cewek itu?" tanya Andi membuyarkan lamunan Aletta.


"Aku.... aku cuma kagum aja sama kak Adit, dia masih muda dan bisa kelola perusahaannya dengan sangat baik," jawab Aletta.


"Selain itu?"


"Keprofesionalan kak Adit di dunia kerja itu udah nggak diragukan lagi Ndi, itu yang bikin banyak orang suka kerja sama sama kak Adit dan lagi yang bikin aku seneng malam ini bukan cuma karena itu," jawab Aletta


"Karena?"


"Karena mama dan kakak kamu bisa menerima aku dengan sangat baik, aku sangat bersyukur karena hal itu," jawab Aletta.


Andi tersenyum tipis dan mengacak acak rambut Aletta.


Malam semakin larut, Andipun mengantarkan Aletta pulang.


**


Waktu berlalu dan hari hari telah berganti. Hari itu adalah hari terakhir Dini bekerja sebelum akhirnya ia cuti.


Ia sudah memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan Adit setelah ia menikah dengan Dimas.


Keputusannya itu tentu saja bukan tanpa alasan, tapi karena ia belum menemukan pengganti dirinya untuk Adit.


Meskipun Adit sudah memberinya izin untuk resign, Dini tetap tidak bisa meninggalkan perusahaan Adit begitu saja.


Terlebih saat Dini tau jika Adit akan kembali membawa Ana masuk ke perusahaannya setelah Adit resmi menikahi Ana.


Dini berpikir jika ia akan resign dari perusahaan Adit ketika Ana sudah siap untuk kembali berada di posisinya sebelumnya.


Tentu saja Dimas dan keluarganya tidak mempermasalahkan keputusan Dini asalkan mereka bisa menjaga rumah tangga mereka dengan baik.


Hari berlalu seperti mentari yang selalu datang dan kembali tanpa pernah terlambat. Bulan dan bintang yang menghiasi malam seperti telah siap menyambut hari bahagia Dini dan Dimas.


Bayangan pesta pernikahan mewah yang selama ini hanya ada dalam angan, kini sudah ada di depan mata.


Tak akan lama lagi seluruh dunia akan melihat Dimas mendapatkan dan memenangkan gadis yang selalu ia perjuangkan dalam hidupnya.


Tapi ia sadar, lika liku perjalanan panjangnya dengan Dini tidak akan berakhir hanya dengan pernikahan yang tak lama lagi akan terjadi.


Lembaran baru sudah siap ia buka, tangis bahagia dan kecewa akan siap untuk ia hadapi bersama gadis yang dicintainya.


Suka dan duka akan siap untuk mereka hadapi bersama dalam suatu ikatan suci yang akan Dimas ucapkan di hadapan penghulu.


Bagi Dimas, pernikahan bukanlah akhir dari perjuangannya untuk bisa bersama Dini.


Ia akan tetap berjuang untuk mempertahankan gadis yang dicintainya agar tetap bersamanya, bersama melewati semua halangan dan rintangan yang sudah menunggu di hadapan mereka.


"Sayang, mulai besok kita nggak akan ketemu buat sementara waktu," ucap Dimas pada Dini.


"Kita akan ketemu lagi saat hari bahagia kita," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Aku harap pernikahan kita nanti adalah pernikahan impian yang selalu kamu inginkan sayang," ucap Dimas.


"Tentu, karena nggak cuma aku yang siapin semuanya, tapi ada kamu, mama dan Andi yang siapin semuanya," balas Dini.


"Aku sangat bahagia Andini, bahkan sebelum hari pernikahan kita tiba," ucap Dimas.


"Dan kamu akan lebih bahagia saat hari itu tiba," balas Dini.

__ADS_1


Dimas lalu menarik tangan Dini ke dalam genggamannya dan menciumnya. Ia berjanji tak hanya pada Dini namun juga pada dirinya sendiri untuk menjadi pasangan hidup yang terbaik bagi Dini.


Saat tujuannya sudah berada di hadapannya, Dimas akan menjaganya dengan sangat baik, melakukan apapun demi tetap bisa bersama gadis dalam genggamannya itu.


__ADS_2