
Malam yang panjang bagi seorang laki laki yang tinggal seorang diri di sebuah apartemen. Beberapa map tampak bertumpuk di meja kerjanya, sedangkan ia sendiri masih fokus dengan layar di hadapannya.
Sesekali ia menghubungi seseorang yang ia harap bisa membantunya. Ia tau penolakan yang ia lakukan pada klien besarnya akan berdampak besar pada perusahaannya.
Dengan tekad yang kuat dan keteguhan hatinya, ia yakin bisa melewati semua masalah yang sedang ia hadapi saat itu.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Adit berdering, sebuah panggilan dari rumahnya. Firasatnya sudah terasa tidak baik, jika ada panggilan dari telepon rumah, sudah dipastikan sesuatu terjadi pada sang mama.
"Halo mbak, ada apa?" tanya Adit setelah ia menerima panggilan itu.
"Ibu di luar lagi mas, saya sudah minta ibu masuk tapi ibu malah marah dan banting alat lukisnya."
"Tolong jaga mama mbak, saya kesana sekarang," balas Adit lalu segera meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Adit segera menancap gas ke arah rumah mamanya. Sesampainya di sana ia segera masuk dan mendapati sang mama yang sedang termenung di tepi kolam renang dengan alat lukis yang berserakan dimana mana.
"Ma, Adit di sini," ucap Adit dengan berjalan pelan ke arah sang mama.
Mama Adit hanya diam, matanya menatap kosong ke arah gelapnya malam di halaman belakang rumahnya.
"Kita masuk ya ma," ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.
Mama Adit masih diam, air matanya jatuh membasahi pipinya. Adit segera menghapus air mata mamanya namun segera ditepis oleh sang mama.
"Seribu tahun pun mama menangis nggak akan cukup buat tebus dosa mama Adit!" ucap mama Adit.
"AmpunanNya lebih besar sebesar apapun dosa mama, mama udah menyesal dan Adit juga masih berusaha nyari dia ma," balas Adit.
"Kamu nggak tau perasaan mama Dit, kamu nggak tau apa apa, harusnya mama nggak ninggalin dia, harusnya mama lebih......"
"Mama menyesal karena udah pertahanin Adit? apa selama ini Adit nggak pernah berharga di mata mama?"
PLAAAKKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Adit. Terlihat wajah yang biasa teduh itu kini penuh dengan emosi. Adit hanya diam, benteng kesabarannya sudah goyah. Ia tau mamanya sangat menyayanginya, namun di saat seperti itu membuatnya berpikir jika sang mama tidak benar benar menginginkan dirinya.
"Adit minta maaf ma," ucap Adit dengan memeluk sang mama, namun mamanya menolak dan mendorong tubuh Adit dengan kuat.
"Pergi, anak durhaka!" ucap mama Adit penuh emosi.
Adit lalu bersimpuh di kaki mamanya, hatinya terasa perih melihat sang mama yang terlihat membencinya.
Mama Adit lalu mendorong tubuh Adit dengan kakinya dan mengambil vas bunga di dekatnya lalu melemparnya ke arah Adit.
Adit hanya diam dengan memegangi kepalanya yang terkena lemparan vas bunga dari mamanya. Sesaat, ia merasa pusing, namun ia kembali menghampiri sang mama dan memeluknya.
"Adit minta maaf ma, Adit minta maaf," ucap Adit penuh penyesalan.
Sang mama kembali mendorong Adit dengan kuat, membuat Adit terpental dan kepalanya terbentur sudut meja.
Mama Adit lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci dirinya di dalam kamar. Sedangkan Adit masih berusaha menjaga kesadarannya agar tidak pingsan di sana.
Adit lalu mengambil kunci cadangannya dan masuk ke kamar sang mama. Sesekali ia mengusap keningnya yang masih mengeluarkan darah hingga tercecer di lantai.
"Mas Adit nggak papa? apa perlu saya hubungi Dokter?" tanya salah seorang penjaga mamanya.
"Saya baik baik aja mbak, tolong bereskan semuanya ya!"
"Baik mas."
Adit lalu menghampiri mamanya yang sedang terbaring di ranjang. Adit menggenggam tangan mamanya lalu menciumnya.
"Adit tau mama sayang sama Adit, maafin Adit karena belum bisa penuhin keinginan mama," ucap Adit pada sang mama.
"Mama minum obat dulu ya, setelah mama minum obat, Adit akan pergi dari sini," lanjut Adit.
Mama Adit hanya diam, ia lalu duduk dan mengusap kening Adit yang masih berdarah.
Adit lalu mengambil minuman dan obat untuk sang mama. Setelah sang mama minum obat dan tertidur, Adit segera keluar dari kamar mamanya.
"Mbak, usahakan jangan pernah telat kasih obat mama ya, langsung hubungin saya kalau mama nggak mau minum obatnya!"
"Baik mas."
Saat hendak keluar dari rumah, Adit tiba tiba terjatuh. Dengan dibantu penjaga mamanya, Adit duduk di sofa ruang tamu.
"Saya panggilkan Dokter ya mas!"
"Nggak usah mbak, saya cuma sedikit pusing."
Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Ana.
"Lo gila Dit? ini udah tengah malem dan lo....."
"An, bantuin gue," ucap Adit dengan suara tertahan menahan sakit.
"Lo kenapa Dit? lo sekarang dimana?"
"Gue di rumah mama, gue......."
HP Adit jatuh bersama kesadarannya yang sudah hilang.
"Dit, jangan bikin gue khawatir Adit!" ucap Ana namun tak ada jawaban.
Tanpa pikir panjang Ana segera menuju ke rumah mama Adit.
Sedangkan Adit segera di bawa ke kamarnya oleh Lukman dan penjaga mama Aditpun segera menghubungi Dokter.
__ADS_1
Sesampainya Ana di rumah mama Adit, Dokter baru saja selesai mengobati luka di kepala dan kening Adit. Dokterpun berpamitan untuk pulang setelah ia berjanji untuk tidak memberitahukan hal itu pada mama Adit.
"Lo di sini?" tanya Adit dengan tersenyum pada Ana.
Ana hanya diam, ia menatap laki laki di hadapannya dengan mata berkaca kaca. Ia sangat mengenal Adit, ia tau semua cerita tentang Adit.
"Gue baik baik aja An," ucap Adit yang tak ingin Ana menangis.
"Lo selalu bilang kayak gitu Dit," ucap Ana dengan suara serak menahan tangisnya.
"Maaf udah ganggu waktu istirahat lo," ucap Adit masih dengan senyum di wajahnya.
"Kenapa lo bodoh banget sih Dit, kenapa lo nggak bisa ngerti artinya kata 'baik baik aja'? lo selalu bilang baik baik aja padahal gue tau kalau....."
Ana menghentikan ucapannya, matanya menatap langit langit kamar Adit untuk menahan air matanya yang siap tumpah.
"Ana," panggil Adit pelan dengan menggengam tangan Ana.
Seketika Ana tak dapat menahan air matanya lagi, ia memeluk Adit yang terbaring di ranjangnya dan menangis di atas dada Adit.
Adit hanya bisa memeluk Ana dan mengusap punggungnya dengan halus.
"jangan An, jangan menangis," ucap Adit dalam hati.
Untuk beberapa saat Ana masih menangis di dada Adit. Ia merasa begitu sedih melihat keadaan Adit. Ia tau bagaimana Adit sangat menyayangi mamanya, bagaimanapun keadaan mamanya.
"An, kalau calon suami lo liat kita kayak gini, dia bisa salah paham!" ucap Adit berusaha menghibur Ana.
"Gue nggak peduli," balas Ana yang masih terdengar sesenggukan.
"Tutup mata lo!" lanjut Ana sebelum ia bangun dari posisinya.
"Tunggu, lo nggak mau macem macem kan sama gue?"
"Jorok banget sih otak lo, tutup mata lo buruan!"
"Hahaha.... oke oke!"
Adit lalu menutup matanya, sedangkan Ana segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Gue emang cantik karena make up doang, that's way gue nggak mau Adit liat gue tanpa make up, apa lagi make up hancur gara gara nangis," ucap Ana ketika ia bercermin di kamar mandi.
Baru saja ia mengeringkan wajahnya dengan tissue, ia ingat jika ia lupa membawa tasnya yang berisi make up. Ia bahkan tidak membawa ponsel atau apapun karena terlalu panik.
"Aaahhh siaaalll!!"
"An, lo baik baik aja?" tanya Adit yang mendengar teriakan Ana.
Ana lalu melepas sweater nya untuk menutupi wajahnya.
"Gue lupa bawa make up," ucap Ana lalu duduk di tepi ranjang Adit.
Adit lalu menarik sweater yang Ana gunakan untuk menutup wajahnya.
"Mata lo sakit?" balas Ana dengan kembali merebut sweaternya.
"Anterin gue pulang ke apartemen An, gue nggak mau mama liat gue di sini!"
Ana mengangguk, ia lalu keluar bersama Adit dengan masih menggunakan sweater untuk menutupi wajahnya.
Sesampainya di apartemen Adit, Ana segera pergi ke kamar mandi untuk menggunakan make up yang baru saja ia beli di mini market 24 jam.
"Mobil lo gimana Dit?" tanya Ana.
"Gue minta pak satpam buat bawa ke sini, lo bisa nginep di sini kalau lo mau!"
"Di sini? kan cuma ada satu kamar!"
"Gue nggak akan macem macem An, lo nggak percaya sama gue?"
"Percaya sih, tapi....."
"Ini udah malem banget, kalau lo nggak mau nginep, gue anter lo balik aja gimana?"
"Ya udah gue nginep!"
Akhirnya Ana memutuskan untuk menginap di apartemen Adit. Mereka tidur di atas ranjang yang sama namun terhalang guling di antara mereka berdua.
**
Di tempat lain Andi sedang mengerjakan pekerjaannya meski jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Entah kenapa ia merasa susah tidur. Ia sudah meminum obatnya yang memberikan efek rasa kantuk padanya, namun hatinya terasa tidak tenang dan gelisah.
Biiiip Biiiip Biiiip
Ponsel Andi berdering, panggilan dari Dini.
"Halo Din, ada apa? kamu belum tidur?" tanya Andi.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Aku.... kok kamu tau?"
"Lampu kamar kamu masih nyala," jawab Dini.
"Kamu dimana sekarang?"
"Di rumah."
Andi lalu membuka pintu jendela kamarnya dan melihat Dini yang sedang duduk di jendela kamarnya juga.
__ADS_1
"Udah malem Din, tutup jendela kamar kamu!" ucap Andi.
"Aku nggak bisa tidur Ndi," balas Dini.
"Tapi jangan duduk di jendela kamar juga Din, aku temenin kamu sampe kamu tidur!"
"Oke," balas Dini lalu melambaikan tangannya pada Andi, menutup jendelanya dan berbaring di ranjangnya.
Di tempat lain, Dimas yang masih belum memejamkan matanya memilih untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun percuma karena ia tidak bisa fokus sama sekali. Pikirannya hanya dipenuhi dengan Dini, ia benar benar merindukan gadis yang dicintainya itu.
Dimas lalu memutuskan untuk menghubungi Dini.
"sedang berada di panggilan lain? dia telfon siapa malem malem gini? Andi?" batin Dimas bertanya tanya.
Ia pun segera menghubungi Andi, sekedar untuk memastikan dugaannya. Benar saja, ia juga tidak dapat menghubungi Andi karena Andi sedang berada di panggilan lain.
Dimas hanya tersenyum tipis lalu melempar ponselnya ke arah dinding. Alhasil ponselnya pecah dan rusak.
**
Pagi telah datang menyapa, Adit sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sedangkan Ana masih tampak terlelap dalam tidurnya.
Karena tak ingin membangunkan Ana, Adit berangkat ke kantor sebelum Ana bangun.
Sesampainya di kantor, seperti biasa, air minum hangat sudah ada di meja kerjanya.
Tak lama kemudian Dini masuk dan memberinya jadwal harian seperti biasa.
"Pak Adit kenapa?" tanya Dini ketika ia melihat luka di kening Adit.
"Jatuh," jawab Adit singkat.
Dini sudah tidak bertanya apa apa lagi, karena saat itu masih jam kerja ia tidak akan bertanya lebih jauh lagi.
Dinipun kembali ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaanya.
Tak lama kemudian Ana datang ke ruangan Adit dengan marah, Dini tidak bisa mendengar apa yang Ana dan Adit bicarakan tapi tampak dari raut wajah Ana jika ia sedang emosi saat itu.
"Lo tuh harusnya ke rumah sakit bukan ke kantor Dit!"
"Cuma kening gue yang luka dan gue masih sehat An!"
"Oke kalau lo masih sehat, mana hasil CT scan lo?"
"Mmmmm.... masih di rumah sakit hehe....."
"Lo emang bener bener gila Dit, makan siang nanti ikut gue ambil hasilnya, gue nggak mau tau cancel semua jadwal makan siang lo, lo harus ke rumah sakit sama gue!" ucap Ana lalu segera keluar dari ruangan Adit.
Adit hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya melihat Ana yang datang ke ruangannya dengan masih mengenakan pakaian tidur dan sweater.
**
Di tempat lain, mama Adit sedang menikmati sarapannya di belakang rumah. Ia duduk di kursi yang berada tak jauh dari kolam renang.
Setelah menghabiskan sarapannya, ia baru menyadari ada noda darah di sudut meja yang ia gunakan untuk sarapan.
Matanya kemudian berkeliling mencari vas bunganya yang sudah tidak ada di tempatnya. Tak lama kemudian, ia menemukan serpihan vas bunga miliknya di sudut kolam renang.
"Mbak, apa semalam Adit kesini?" tanya mama Adit pada penjaganya.
"Tidak bu," jawabnya berbohong.
"Vas bunga saya yang di sini kok nggak ada ya?"
"Mmmm.... itu..... semalam jatuh bu, maaf saya nggak sengaja menyenggolnya," jawab si penjaga berbohong.
"Oohh, ya udah nggak papa."
Karena merasa ada yang aneh, mama Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Adit.
"Halo sayang, mama mau ketemu kamu sekarang!"
"Adit lagi sibuk ma, nanti pulang kerja Adit ke rumah," jawab Adit beralasan, ia tidak mungkin menghadap mamanya dengan luka di keningnya.
"Tapi Dit....."
"Maaf ma, Adit tutup dulu ya, love you ma!"
Klik. Adit memutus sambungan ponselnya.
Mama Adit lalu segera mengambil tasnya dan keluar dari rumah.
"Pak Lukman, antar saya ke kantor Adit!" ucap mama Adit.
"Baik bu," jawab Lukman.
Tanpa sepengetahuan mama Adit, Lukman memberi tahu Adit jika sang mama sedang menuju ke kantornya.
Di tengah perjalanan, mama Adit meminta Lukman untuk menghentikan mobilnya karena ia ingin membeli kue di seberang jalan.
"Saya belikan bu," ucap Lukman.
"Nggak perlu, kamu tunggu di mobil aja!"
"Tapi bu......."
Tiiiiiinnnn Tiiiiiinnnn Tiiiiiinnnn
Sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi nyaris saja menabrak mama Adit jika saja seseorang telat menarik tangan mama Adit.
__ADS_1
Seseorang yang tak sengaja lewat itu segera menarik tangan mama Adit, membuat keduanya terjatuh namun berhasil selamat dari pengemudi motor yang ugal-ugalan itu.
**Buat yang nunggu scene nya Dimas, sabar yaa 😘