Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kupon Ice Cream


__ADS_3

Mekar bunga berwarna warni tampak menghiasi setiap sudut ruangan. Di atas pelaminan dua sejoli telah sampai pada hubungan sakral yang diimpikan. Senyum bahagia tak pernah lelah mereka sajikan pada para tamu yang sudah memenuhi ruangan.


Di antara para tamu itu, Andi masih memperhatikan noda pada pakaian Anita, noda yang ia tau sama persis dengan noda pada pakaian Dimas.


Sama halnya dengan Andi, Dini juga memperhatikan hal itu.


"Anita, kamu......"


"Aku ketumpahan minuman tadi di belakang," ucap Anita berbohong.


"dari semua warna minuman yang bermacam macam? mungkin cuma kebetulan, iya bisa aja," batin Dini dalam hati.


"Ayo pulang!" ucap Dimas yang tiba tiba datang dan menarik tangan Dini.


"Sekarang? kita baru aja nyampe' Dimas, aku....."


"Pulang Andini!" ucap Dimas pelan namun tegas.


Dini mengangguk. Jika sudah begitu Dini tidak berani membantah lagi.


"Aku pamit sama Cika dulu ya," ucap Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.


"Gue duluan Ndi!" ucap Dimas pada Dini lalu segera meninggalkan tempat resepsi.


Dimas dan Dini berjalan ke area parkir tanpa banyak bicara. Dimas masih sangat kesal pada sikap Anita.


Dimas melajukan mobilnya ke arah pantai. Di sana mereka berjalan di atas pasir dengan bergandengan tangan namun masih saling membisu.


Dimas mengajak Dini duduk di tepi pantai, memandang deburan ombak yang memecah karang.


"Dimas, ada apa?" tanya Dini dengan menggenggam tangan Dimas.


"Maaf sayang, aku kebawa emosi," jawab Dimas.


"Karena?"


"Di kamar mandi tadi A....."


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, panggilan dari Andi.


"Lo dimana Dim?"


"Di pantai, ada apa?"


"Lo balik jam berapa? lo nggak nganterin Dini pulang kan?"


"Ntar gue kabarin, jemput Andini di home store aja!"


"Oke!"

__ADS_1


Dimas lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kamu tadi ketemu Anita di kamar mandi? dia juga abis ketumpahan minuman tadi," tanya Dini.


"Kamu percaya?"


"Maksud kamu?"


"Sayang, jauhin Anita, aku nggak mau dia ada diantara kita lagi, aku nggak mau dia ganggu hubungan kita lagi sayang!"


"Aku ngerti kenapa kamu belum bisa maafin dia, apa yang udah dia lakuin emang hal yang buruk, tapi apa salahnya kasih dia kesempatan buat......"


"Buat apa? buat ngerusak hubungan kita lagi? buat jauhin aku sama kamu? aku nggak mau itu terjadi Andini, tolong kamu ngerti!"


"Aku ngerti Dimas, tapi aku juga tau apa yang dia lakuin itu karena dia cinta sama kamu, dia nggak punya kendali atas perasaannya sendiri Dimas dan sekarang pelan pelan dia lupain kamu, dia berusaha biar hubungan kita balik lagi kayak dulu, dia......"


"Aku nggak percaya sama dia dan jangan paksa aku buat percaya sama dia!" ucap Dimas lalu berdiri dan melangkah pergi.


"Dan sekarang kamu ninggalin aku disini cuma karena itu? semua orang punya masa lalu buruk Dimas, termasuk kamu, kalau aku nggak kasih kamu kesempatan kita nggak akan disini sekarang!"


Dimas menghentikan langkahnya. Ucapan Dini mengingatkannya akan kesalahannya pada Dini di masa lalu. Bagaimana ia hidup dalam rasa bersalah, bagaimana ia berjuang untuk kembali bertemu Dini, bagaimana ia berusaha mendapatkan maaf Dini dan sampai saat ini ia masih berjuang dan berusaha untuk mempertahankan Dini dalam hidupnya.


Dimas berbalik, kembali menghampiri gadis yang dicintainya lalu memeluknya.


"Maaf sayang, maafin aku," ucap Dimas dengan masih memeluk Dini.


"Kamu ninggalin aku cuma karena hal ini Dimas?"


"Aku nggak pernah maksa kamu buat maafin Anita, tapi kamu juga jangan maksa aku buat ikutan benci sama dia, aku tau apa yang dia lakuin salah, tapi....."


"Udah sayang, jangan bahas dia lagi, nggak papa kalau emang kamu mau temenan lagi sama dia, tapi satu pesan ku, jangan percaya semua ucapan dia sebelum kamu tau kebenarannya," ucap Dimas dengan melepaskan Dini dari pelukannya dan memegang kedua pipi Dini.


Dini menganggukkan kepalanya lalu disambut kecupan hangat di keningnya.


Dimas lalu menarik tangan Dini dan menciumnya.


"Maafin aku sayang," ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala dan senyum manis Dini.


Mereka lalu segera kembali ke mobil dan menuju home store.


Di sana sudah ada Andi yang menunggu Dini.


"Anita mana?" tanya Dini pada Andi.


"Udah aku anter balik," jawab Andi.


"Dim, anter sampe depan gang dong, daripada naik taksi hehe...." ucap Andi pada Dimas.


"Ayo!"


Dini lalu pindah ke kursi belakang, sedangkan Andi duduk di kursi depan seperti biasa. Dini selalu melakukan hal itu ketika mereka berada di dalam mobil bertiga, agar suasana tidak menjadi canggung.

__ADS_1


**


Hari berganti, hari itu adalah hari Minggu. Dini dan Andi sedang berjalan ke kafe yang sedang melakukan opening. Kafe itu menyediakan kupon untuk mendapatkan ice cream gratis hari itu.


"Kamu tau aja sih Din ada yang gratisan gini!" ucap Andi.


"Tau dong, hidungku sensitif banget sama yang namanya gratisan, apalagi ice cream hehe...."


Merekapun segera antri untuk mendapatkan kupon.


"Maaf kak, kuponnya khusus untuk yang berpasangan," ucap salah seorang pegawai kafe pada laki laki di hadapan Dini.


"Laaaahh, gue jomblo nggak bisa dapet nih?"


"Maaf kak, mungkin lain waktu!"


Laki laki itupun keluar dari antrean, membuat Dini dan Andi hanya saling pandang. Dini lalu menarik tangan Andi dan menggandengnya.


"Sayang kamu mau yang rasa apa?" tanya Dini pada Andi, membuat Andi sedikit salah tingkah.


"Aa... aku... aku terserah kamu aja, sayang," jawab Andi gugup.


"Silakan kak kuponnya, semoga langgeng ya!" ucap sang pegawai sambil memberikan kuponnya pada Dini dan Andi.


Dini dan Andi pun segera masuk, menunggu ice cream pesanan mereka siap. Setelah mendapatkan ice cream pesanannya, Dini mengajak Andi duduk di bangku yang berada di luar kafe.


Saat sedang menikmati ice cream di hadapannya, Dini melihat seorang penjambret yang sedang melancarkan aksinya.


Diam diam laki laki dengan jaket kulit hitam dan bertopi hitam itu mengambil dompet seorang perempuan yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Tanpa pikir panjang Dini segera berjalan ke arah laki laki itu.


"Kemana Din?" tanya Andi namun Dini hanya diam.


"Jambret ya!" ucap Dini dengan memukul kepala laki laki itu menggunakan sandal yang ia pakai.


Karena terkejut, laki laki itu mengeluarkan pisau lipatnya dan mengenai lengan tangan Dini lalu segera melarikan diri.


Sedangkan si perempuan segera menutup tasnya yang terbuka dan melihat Dini yang berdiri dengan luka di lengan tangannya.


"Mbak nggak papa? ada yang hilang?" tanya Dini.


"Kamu terluka, ayo saya antar ke rumah sakit!" ucap si perempuan tanpa menjawab pertanyaan Dini.


Dini merasakan perih di tangannya, tapi ia tidak ingin melihatnya, ia masih merasa trauma melihat darah.


Andi yang baru menyadari apa yang terjadi segera berlari ke arah Dini. Sebelum itu, ia menyambar gunting yang ada di meja pembagian kupon dan menggunting lengan bajunya dengan dibantu si pegawai.


Andi segera melilitkan lengan bajunya yang sudah digunting tepat di atas luka Dini, menjaganya agar tidak semakin banyak darah yang keluar.


Dini hanya diam melihat apa yang dilakukan Andi padanya. Perhatian Andi tiba tiba membuat jantungnya berdebar, ia bahkan lupa pada perih yang ia rasakan di lengan tangannya.

__ADS_1


Tanpa ia sadar matanya tak berhenti menatap laki laki yang tampak khawatir itu, laki laki yang sudah menemaninya sepanjang hidupnya.


__ADS_2