
Hari berganti. Dini mengerjapkan matanya dan melihat Dimas di sampingnya masih tertidur dengan nyenyak.
Dini mendekat dan memberikan kecupan singkatnya di pipi Dimas.
Seketika Dimas membuka matanya dan tersenyum pada Dini.
"Apa aku bangunin kamu?" tanya Dini.
"Enggak," balas Dimas dengan melingkarkan tangannya di pinggang Dini dan menariknya, membuat Dini terjatuh di atas badan Dimas.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dimas berdering, membuat Dimas segera melepaskan Dini dari pelukannya. Dimas mengambil ponselnya dan terdiam beberapa saat sebelum menerima panggilan itu.
"Kamu mandi dulu sayang, aku pesen sarapan dulu!" ucap Dimas lalu keluar dari kamar dan menerima panggilan itu.
"Oke," balas Dini lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah Dini selesai mandi, ia segera menghampiri Dimas yang tampak gelisah.
"Ada apa?" tanya Dini pada Dimas.
"Kayaknya aku nggak bisa anterin kamu pulang sayang," jawab Dimas tak bersemangat.
"Nggak papa, aku bisa pulang sendiri kok," ucap Dini.
"Aku nggak mungkin biarin kamu pulang sendiri Andini," ucap Dimas.
"Aku ke sini karena aku kangen sama kamu, aku mengerti kesibukan kamu Dimas, aku nggak akan ganggu kamu selama aku di sini, jadi jangan khawatirin aku, oke?"
"Aku coba hubungi mama dulu, kamu bisa pulang sama mama dan papa nanti!" ucap Dimas lalu menghubungi sang mama.
Sialnya, mama dan papa Dimas sudah meninggalkan hotel sejak semalam. Mereka mengurungkan rencana mereka untuk bermalam di hotel kemarin.
"Aku mandi dulu sambil mikirin cara buat nggak ikut meeting nanti siang, kamu tunggu di depan ya, bentar lagi makanannya dateng!" ucap Dimas lalu masuk ke kamar mandi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk di sofa. Tak lama kemudian makanan pesanan Dimas datang, Dinipun menerimanya dan menaruhnya di meja.
Setelah beberapa lama menunggu, Dimaspun keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.
"Kamu mau meeting sekarang?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku harus temuin direktur perusahaan X buat kasih tau secara langsung kalau aku nggak bisa ikut meeting," jawab Dimas lalu duduk di samping Dini sambil membuka makanan pesanannya.
"Kenapa? itu pasti meeting penting kan?"
"Aku nggak akan biarin kamu pulang sendiri Andini, itu alasan terkuat yang aku punya," jawab Dimas.
"Tapi....."
"Ini, makan sarapan kamu dulu, setelah ini ikut aku!"
Dini menerima sandwich dari tangan Dimas, namun ia masih tidak setuju jika Dimas membatalkan meeting hanya karena untuk mengantarnya pulang.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Dimas berdiri di hadapan cermin dan memasang dasinya.
Dini lalu menghampiri Dimas, berdiri di hadapan Dimas dan menggantikan tangan Dimas untuk mengikat dasi.
"Aku tau meeting ini penting buat kamu Dimas, jadi jangan tinggalin meeting itu cuma buat nganterin aku pulang," ucap Dini.
"Aku ngelakuin itu karena bagiku cuma kamu yang terpenting dalam hidupku Andini, aku siap kehilangan apapun di dunia ini asalkan bukan orangtuaku dan kamu," balas Dimas.
"Tapi aku nggak akan jadi perempuan yang menghancurkan karir kamu Dimas, aku akan hidup dengan rasa bersalah kalau aku ngelakuin itu," ucap Dini.
Dimas mengusap wajahnya kasar lalu duduk di sofa diikuti Dini.
"ini emang meeting penting, kalau aku nggak datang, bisa jadi semuanya nggak akan berjalan sesuai rencana, kepulanganku bulan depan mungkin akan mundur dan pernikahan kita juga otomastis mundur," batin Dimas dalam hati.
"Aku pernah ke sini sendiri Dimas, jadi aku bisa pulang sendiri, percaya sama aku," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini. Ia merasa menjadi laki laki yang jahat jika ia membiarkan Dini pulang seorang diri.
Ia lalu mengingat sesuatu, lebih tepatnya mengingat seseorang yang bisa membantunya.
Dimas lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Ndi, lo dimana?" tanya Dimas saat Andi sudah menerima panggilannya.
"Gue di rumah, kenapa?"
"Andini di apartemen gue sekarang, gue nggak bisa anter dia pulang karena ada meeting yang nggak bisa gue tinggalin, lo bisa jemput dia sekarang?"
"Bisa, gue kesana sekarang!" jawab Andi tanpa berpikir panjang.
Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt
Panggilan berakhir, Dimas tersenyum tipis lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Andi emang selalu cepat tanggap kalau soal kamu!" ucap Dimas pada Dini.
"Padahal aku bisa pulang sendiri loh!" balas Dini.
"Aku belajar bertanggung jawab sama kamu sayang, walaupun aku nggak bisa nganterin kamu ke rumah, tapi aku percaya Andi bisa jagain kamu dengan baik," ucap Dimas .
"Kamu yakin mau aku pulang sama Andi?" tanya Dini dengan mengernyitkan dahinya.
"Yakin lah, kenapa?"
__ADS_1
"Aku pikir kamu nggak suka kalau aku deket sama dia," jawab Dini mengingat sikap Dimas kemarin.
"Aku emang cemburu sama dia, tapi bukan berarti aku nggak suka sama dia, gimanapun juga dia sahabat kamu dan dia juga sahabat aku sayang, dia sahabat yang baik yang bisa jagain kamu selama aku nggak ada," ucap Dimas.
"Kamu nggak cemburu karena aku pulang sama Andi?"
"Mmmmm.... sedikit," jawab Dimas.
"Tuh kan, aku pulang sendiri aja Dimas, aku nggak mau kamu marah lagi kayak kemarin," ucap Dini lalu mengambil ponselnya di meja untuk menghubungi Andi.
Dimaspun segera merebut ponsel Dini dan kembali meletakkannya di meja.
"Aku minta maaf sayang, maaf kalau kemarin aku keterlaluan sama kamu, aku nggak akan kayak gitu lagi, aku janji!"
"Kamu nggak salah Dimas, wajar kalau kamu marah!"
"Enggak Andini, aku tau gimana persahabatan kamu dan Andi, aku tau hubungan kalian lebih dari orang lain, aku nggak akan marah lagi sama kamu Andini, aku janji!"
"Aku nggak mau bikin kamu cemburu Dimas," ucap Dini.
"Aku bisa kendaliin itu sayang, aku percaya sama kamu, aku percaya sama persahabatan kalian dan aku juga percaya sama Andi," ucap Dimas meyakinkan.
"Kamu yakin?"
Dimas menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
Dini lalu mendekat dan memeluk Dimas.
"Apa aku boleh kasih tau Andi tentang pembicaraan kita sama mama dan papa kemarin?" tanya Dini pada Dimas.
"Boleh, dia pasti kaget karena tau akan secepat itu!"
"Iya, aku juga nggak nyangka akan secepat itu," balas Dini.
3 jam berlalu, Dini masih menonton film bersama Dimas di apartemen. Tak lama kemudian bel berbunyi, Dimas lalu membuka pintu untuk Andi.
"Lo meeting jam berapa?" tanya Andi pada Dimas.
"Setelah jam makan siang, tapi gue harus berangkat sebelum jam makan siang buat siapin semuanya," jawab Dimas.
Setelah beberapa lama berbincang, Andi dan Dinipun berpamitan pulang karena Dimas juga akan bersiap untuk berangkat meeting.
Dimas memeluk Dini dengan erat lalu mencium keningnya sebelum Dini keluar bersama Andi.
"Jaga dia baik baik Ndi!" ucap Dimas pada Andi.
"Pasti, kita balik dulu Dim, sukses buat meeting lo!"
"Thanks and take care!" balas Dimas.
Andi dan Dinipun berjalan ke arah lift untuk turun. Saat berada di lobby, Andi melihat seseorang yang dikenalnya.
"Dokter Dewi?" tanya Dini.
"Iya," jawab Andi singkat lalu menghampiri Dokter Dewi bersama Dini.
Dokter Dewi yang menyadari kedatangan Andi berusaha untuk tetap bersikap biasa meski sebenarnya ia ingin menghindar dari Andi.
"Hai Ndi, hai Din," sapa Dokter Dewi.
"Dokter Dewi pasti tau kenapa Andi samperin Dokter Dewi kan?"
"Iya saya tau dan jawaban saya tetap sama, saya nggak tau dimana keberadaan Anita," jawab Dokter Dewi.
"Dok, tolong...."
"Anita udah bahagia dengan pilihannya Ndi, tolong kamu nggak ganggu dia lagi!"
"Saya nggak berniat buat ganggu dia kok, saya cuma mau tau keadaannya, kalaupun dia nggak mau bertemu saya lagi setidaknya saya bisa menghubungi nya," ucap Andi.
"Terserah kamu aja, saya baru pulang kerja, saya lelah jadi jangan ganggu saya!" ucap Dokter Dewi lalu pergi meninggalkan Andi dan Dini begitu saja.
Saat Andi hendak mengejar Dokter Dewi, Dini menahan tangan Andi.
"Percuma Ndi, Dokter Dewi nggak akan kasih tau kamu!" ucap Dini pada Andi.
Andi menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan ke arah basement bersama Dini.
Andi mengendari mobilnya meninggalkan kota X bersama Dini. Saat sudah setengah perjalanan, Andi mengajak Dini untuk makan siang.
"Kita makan siang dulu!" ucap Andi pada Dini.
"Oke," balas Dini.
Merekapun masuk ke dalam tempat makan, setelah menyelesaikan makanan mereka, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Din, aku pingin ngajak kamu ke bukit," ucap Andi pada Dini.
"Ke bukit deket rumah?" tanya Dini.
"Iya, aku kemarin dari sana dan nggak banyak yang berubah dari bukit itu," jawab Andi.
"Oke, aku udah lama nggak kesana," balas Dini.
Sesampainya di rumah Dini, Andi memarkirkan mobilnya di rumah Dini lalu berjalan bersama ke arah bukit.
"Hmmmm.... udaranya seger banget di sini," ucap Dini saat sudah berada di atas bukit.
__ADS_1
Dini menutup matanya dan berputar beberapa saat untuk memenuhi paru-parunya dengan udara segar dari bukit.
Andi lalu menghentikan Dini dengan memegang tangan Dini, membuat Dini berhenti berputar tiba tiba sehingga hampir saja terjatuh jika Andi tidak menangkapnya dengan sigap.
"Jangan lama lama nanti kamu pusing!" ucap Andi lalu membawa Dini duduk di bawah pohon.
Andi dan Dini duduk bersebelahan di bawah pohon rindang yang cukup untuk menghalau panas matahari.
Mereka masih terdiam menatap hamparan di hadapan mereka. Angin sejuk perlahan membuat rambut Dini sedikit berantakan.
Andi lalu menyentuh rambut Dini dan merapikannya, menaruhnya di belakang telinga Dini dengan pelan.
"cantik," batin Andi dalam hati.
Namun tiba tiba Dini menoleh seolah bisa mendengar apa yang Andi ucapkan dalam hati.
"Kenapa?" tanya Andi yang merasa dilihat Dini tiba tiba.
"Kamu bilang sesuatu tadi!" jawab Dini.
"Enggak, aku nggak bilang apa apa," ucap Andi.
"Mungkin perasaan aku aja, hehe..."
Andi lalu memegang bahu Dini dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Ndi, apa kamu masih kepikiran Anita?" tanya Dini.
"Terkadang," jawab Andi.
"Apa yang bikin kamu merasa kalau kepergian Anita itu karena kamu?" tanya Dini.
"Dia bikin surat sebelum dia mutusin buat pergi," jawab Andi.
"Buat kamu?"
Andi menganggukkan kepalanya.
"Apa isinya?" tanya Dini penasaran.
"Intinya dia udah lupain Dimas dan dia juga nanya apa dia boleh jatuh cinta sama aku?"
"Aku udah duga kalau dia akan jatuh cinta sama kamu," ucap Dini.
"Kenapa?"
"Karena sikap kamu, perhatian yang kamu kasih ke dia itu bikin dia nyaman dan akhirnya dia jatuh cinta sama kamu," jawab Dini.
"Tapi aku ngelakuin itu sebagai sahabat, apa yang aku lakuin itu supaya Anita berhenti cari perhatian dari Dimas dan....."
"Dan bikin dia jatuh cinta sama kamu tanpa kamu sadar," ucap Dini memotong ucapan Andi.
"Itu yang aku sesalkan Din, aku cuma mau kita berteman kayak dulu," ucap Andi.
"Kamu sama aja kayak Dimas, kalian nggak sadar kalau sikap kalian bisa bikin perempuan jatuh cinta," ucap Dini.
"Jangan samain aku sama Dimas Din, kita berbeda," ucap Andi kesal.
Dini tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Iya, kalian emang berbeda," ucap Dini dengan menatap Andi dan tersenyum manis.
Andi tersenyum tipis membalas senyum Dini. Dalam hatinya ia berpikir apakah ia harus mengikuti ucapan sang ibu padanya atau tidak.
Ia ragu, namun Adit juga sependapat dengan sang ibu.
"Din!"
"Ndi!"
Mereka saling memanggil dengan bersamaan.
"Kamu dulu!" ucap Dini.
"Kamu aja," ucap Andi.
"Oke, qku mau kasih tau kabar gembira, belum ada yang tau tentang hal ini selain aku dan Dimas, tapi karena kamu sahabat terbaik ku, kamu akan jadi orang pertama yang tau hal ini!" ucap Dini dengan raut bahagia di wajahnya.
"Apa?" tanya Andi.
"Dua bulan lagi aku akan menikah sama Dimas," ucap Dini dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Menikah? dua bulan lagi?" tanya Andi tak percaya.
Andi tau tak akan lama lagi Dimas pindah ke perusahaan utama yang artinya pernikahan Dini dan Dimas akan dilakukan tak lama setelah kepindahan Dimas.
Tapi ia tidak menyangka hal itu akan terjadi secepat itu. Saat ia memiliki keinginan untuk menyatakan perasaannya, takdir tiba tiba memaksa nya mundur jauh ke belakang, menyadarkan nya jika keinginan yang ia miliki itu salah dan tidak seharusnya dilakukan.
"Iya Ndi, bulan depan Dimas pindah dan satu bulan setelahnya kita menikah," jawab Dini bersemangat.
Andi terdiam dengan pandangan kosong menatap Dini. Tak lama lagi sahabat yang dicintainya itu akan semakin jauh meninggalkannya.
"Ndi, kamu kenapa diem aja? kamu nggak suka bentar lagi aku menikah?" tanya Dini yang melihat Andi hanya terdiam dengan pandangan kosong.
Andi tersenyum tipis lalu memeluk Dini dengan erat. Andi hanya diam tanpa mengucapkan apapun. Matanya berkaca kaca, lidahnya seolah terlalu lemah untuk bisa bersuara.
Hatinya terlalu sakit dan perih. Ia jatuh sedalam dalamnya dalam lubang kesakitan yang ia buat sendiri. Jika saja ia tidak berharap lebih, jika saja ia tidak menginginkan Dini menjadi miliknya, jika saja ia tidak merasa lebih dari Dimas, jika saja ia tidak egois ia tidak akan merasakan jatuh yang sesakit itu.
__ADS_1
Ia sudah menyimpan perasaan itu sangat lama dan membiarkannya hidup dalam hatinya tanpa ada sebuah harapan untuk memiliki Dini, namun saat ia baru saja berharap, ia seperti terpental jauh dari harapan yang dinilainya egois itu.