
Siang itu langit masih tampak memancarkan teriknya. Dimas yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya segera pergi ke kantin kantornya untuk makan siang.
Saat ia baru saja duduk, seseorang tiba tiba duduk di sampingnya begitu saja.
"Anita, kamu....."
"Aku bawa bekal lagi buat kamu, kali ini aku nggak telat kan?" ucap Anita sekaligus bertanya.
"Enggak, dia baru keluar dari ruangannya kok," sahut teman Dimas sebelum Dimas sempat menjawab.
"Pas banget, aku hari ini masak menu baru, kamu pasti suka," ucap Anita sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari dalam tas.
"Sebanyak ini?" tanya Dimas.
"Aku juga bawa buat temen kamu," jawab Anita lalu memberikan beberapa kotak pada teman Dimas yang ada di dekatnya.
"Waaahhh, makasih ya!" ucap teman Dimas pada Anita.
"Sama sama, mudah mudahan suka," balas Anita dengan senyum manisnya.
"Ini buat kamu," ucap Anita sambil membuka kotak makanan untuk Dimas.
Dimas tersenyum tipis lalu mengambil ponselnya dari saku dan mengirimkan pesan pada Dini, untuk memastikan jika Dini sedang tidak sibuk.
Setelah Dini membalas pesannya, ia pun melakukan panggilan video pada Dini dengan tujuan membuat Anita kesal dan segera pergi dari sana.
Namun saat panggilan video diterima, Dimas sedikit terkejut saat melihat Dini sedang bersama Adit, mereka bahkan duduk berdekatan.
"Apa aku ganggu kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Enggak, aku lagi makan siang sama kak Adit," jawab Dini.
"Hai Dim," sapa Adit sambil melanjutkan makan siangnya.
"H... hai..." balas Dimas canggung.
"Dimas, aku beliin minum dulu ya!" ucap Anita yang bisa didengar dengan jelas oleh Dini.
"Kayaknya aku deh yang ganggu kamu," ucap Dini yang hanya di dengar oleh Dimas karena Dimas menggunakan handsfree.
"Enggak sayang, aku...."
"Kak Adit mau minum?" tanya Dini pada Adit sambil memberikan Adit segelas air.
"Kakak belum...."
"Minum yang banyak ya kak," ucap Dini memotong ucapan Adit dan memaksa Adit untuk minum minuman dari tangannya.
Karena sengaja ingin membuat Dimas kesal, tanpa sengaja minuman itu tumpah di pakaian Adit.
Secara reflek Dini mengusap dada Adit yang basah, saat Adit melakukan hal yang sama tanpa sengaja tangannya memegang tangan Dini. Adit dan Dini lalu saling menatap dan tersenyum saat tangan mereka saling menyentuh.
Dimas yang melihat hal itu segera mengakhiri panggilannya dan pergi begitu saja meninggalkan kantin.
"Eh, lo mau kemana?" tanya teman Dimas, namun tidak dihiraukan oleh Dimas.
Dimas berjalan kembali ke ruangannya dengan kesal. Niatnya ingin membuat Anita kesal, malah ia sendiri yang dibuat kesal oleh perilaku Dini dan Adit.
Dimas lalu menghempaskan badannya di kursi dan kembali menghubungi Dini, namun tidak ada jawaban sampai beberapa kali ia coba, membuatnya semakin kesal.
Di sisi lain, Dini dan Adit hanya tertawa karena apa yang baru saja terjadi.
"Kemeja kak Adit jadi basah deh!" ucap Dini.
"Nggak papa, kakak bisa minta tolong Rudi buat beli!" balas Adit lalu segera menghubungi Rudi agar membelikannya kemeja.
"Itu nggak diangkat?" tanya Adit sambil membawa pandangannya pada ponsel Dini yang berkali kali berdering karena panggilan Dimas.
"Biarin aja, dia sendiri tadi yang matiin," jawab Dini.
"Itu karena dia cemburu liat kamu sama kakak!" ucap Adit.
"Emang dia pikir Dini nggak cemburu liat dia sama Anita?" balas Dini.
"Apa masalah akan selesai kalau kalian saling bikin cemburu kayak gini? kakak yakin Dimas nggak bermaksud buat bikin kamu cemburu!"
"Iya Dini tau, tapi tetep aja kak, Dini cemburu dan nggak suka liat Dimas sama Anita!"
"Kalau kamu emang berteman sama Anita ya bicarain aja baik baik sama Anita!" ucap Adit.
"Dini udah pernah coba, tapi hasilnya Dini malah berantem sama Andi dan sekarang Dini nggak mau berantem sama Dimas karena kesalahan yang sama!"
"Situasinya kan beda Din, atau kalian ketemu berempat dan bicarain semuanya baik baik, biar nggak ada salah paham!"
Dini diam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Kak Adit bener, kalau Dini omongin hal itu waktu ada Andi dan Dimas, Anita pasti nggak bisa berulah lagi, dia nggak bisa alasan yang macem macem lagi!"
"Nah itu tau, sekarang kamu jangan bikin Dimas kesel lama lama, jangan sampe Anita gunain kesempatan itu buat deketin Dimas!"
"Iya kak, kalau gitu Dini keluar bentar!" ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu membiarkan Dini keluar dari ruangannya.
Dini masuk ke ruangannya lalu menghubungi Dimas.
"Halo Dimas, kamu dimana?"
__ADS_1
"Aku di ruanganku, maaf tadi aku matiin gitu aja video callnya," jawab Dimas.
"Nggak papa, aku juga minta maaf udah bikin kamu cemburu," balas Dini.
"Nggak papa sayang, kamu kayak gitu karena kamu kesel kan sama aku?"
"Sebenarnya aku kesel sama Anita, aku nggak suka dia deket deket kamu, padahal kamu juga nggak suka deket sama dia makanya kamu video call, iya kan?"
"Iya, tapi kamu malah bikin aku cemburu!"
"Aku minta maaf, sekarang dia dimana?"
"Nggak tau, aku langsung pergi setelah matiin video callnya tadi!"
"Apa nanti dia akan nunggu kamu di kantor lagi?"
"Aku nggak tau sayang, tapi aku harap sih enggak!" jawab Dimas.
Jam makan siang sudah selesai, Dini lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiba tiba Dini melihat seseorang masuk ke ruangan Adit, seseorang itu lalu duduk di hadapan Adit, mereka tampak berbincang serius.
Saat Dini sedang memperhatikan seseorang itu, seseorang itu tiba tiba melihat ke arahnya lalu tersenyum.
Dinipun segera mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada komputer di hadapannya.
Tak lama kemudian pintu ruangannya di ketuk, saat ia melihat ke arah pintu kaca, ia tersenyum lebar.
Seseorang lalu masuk dan duduk di depan meja kerja Dini.
"Ada apa? tumben ke sini?" tanya Dini.
"Aku barusan izin kak Adit buat ajak kamu pulang lebih awal," jawab Andi.
"Nggak mungkin diizinin kan?"
"Kata siapa? diizinin kok sama kak Adit!"
"Beneran?" tanya Dini tak percaya.
"Iya, aku udah bikin kesepakatan sama kak Adit biar kak Adit kasih izin kamu pulang cepet!"
"Tapi aku nggak bisa Ndi, lagi banyak kerjaan," ucap Dini.
"Emang kamu tau aku mau ajak kamu kemana?" tanya Dini.
"Kemana?"
"Ke kota X!" jawab Dimas.
"X? serius? kamu mau ajak aku ke sana? apa kamu mau ketemu Dimas?"
"Hmmmm...... tapi kerjaanku lagi banyak banget Ndi!" balas Dini tak bersemangat.
"Yang penting kak Adit udah kasih izin Din, kak Adit bilang terserah kamu, mau ikut apa enggak!"
Dini diam beberapa saat sebelum mengambil keputusan. Ia ingin ikut bersama Andi dan menemui Dimas agar Anita berhenti mengganggu Dimas.
Namun ia juga tidak tega membiarkan Adit menyelesaikan semua pekerjaan nya sendiri.
"Anita bilang dia lagi di apartemen Dokter Dewi dan setauku dokter Dewi sama Dimas tinggal di satu gedung apartemen yang sama, kamu yakin nggak mau temui Dimas?"
"Aku mau Ndi, mau banget, tapi aku nggak bisa, harusnya hari ini aku lembur sama kak Adit, kalau aku pulang lebih awal itu artinya kak Adit akan di sini sampe malem banget karena harus handle kerjaan ku!"
"Apa nggak ada orang lain yang bisa ngerjain kerjaan kamu?"
"Ada pak Jaka, tapi dia juga ikut lembur dan kerjaannya udah banyak juga!"
"Jadi kamu nggak bisa ikut aku? kamu yakin?"
Dini menganggukkan kepalanya tak bersemangat. Pekerjaan menahannya untuk ikut bersama Andi.
Bagaimanapun juga ia harus menunjukkan profesionalisme nya pada Adit.
"Ya udah nggak papa, aku akan jaga Dimas buat kamu," ucap Andi sambil mengusap rambut Dini.
Setelah Andi pergi, Dini menjatuhkan kepalanya di meja. Ia benar benar ingin ikut bersama Andi menemui Dimas, tapi ia tidak mungkin membiarkan Adit bekerja sampai larut malam seorang diri.
Adit yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis dan merasa bangga pada Dini.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Andi menghubungi Dimas untuk menanyakan keberadaan Dimas.
"Gue masih di kantor, ada apa?"
"Gue lagi di deket kantor lo sekarang!"
"Serius? lo sama Andini?"
"Enggak, gue sendirian, dia lagi sibuk sama pekerjaannya," jawab Andi.
"Lo bisa tolongin gue nggak?" tanya Dimas.
"Apa?"
"Bawa Anita pergi, dia lagi nungguin gue di lobby sekarang," jawab Dimas.
__ADS_1
"Ngapain dia nungguin lo?"
"Gue nggak tau, kemarin dia juga nungguin gue, dan sekarang gue nggak mau ketemu dia lagi Ndi, please bantuin gue!"
"Oke, gue kesana sekarang!"
"Thanks Ndi!"
Panggilan berakhir, Andi lalu menghubungi Anita.
"Halo Nit, kamu dimana?" tanya Andi saat Anita sudah menerima panggilannya.
"Aku.... aku di...."
"Aku di sekitar apartemen Dokter Dewi sekarang, kamu di sini kan?"
"Beneran? kenapa tiba tiba?"
"Nanti aku jelasin, aku bisa ketemu kamu sekarang?"
"Aku tunggu kamu di depan kantor Dimas ya, kamu tau kan?"
"Iya aku tau, ya udah aku kesana sekarang!"
"kali ini kamu bisa lepas lagi Dimas, kamu harus berterima kasih sama Andi, kalau bukan karena Andi aku nggak mungkin menyerah buat nunggu kamu di sini," batin Anita dalam hati.
Tak lama setelah Anita menunggu, Andi datang dan meminta Anita untuk naik ke mobilnya.
Andi lalu membawa mobilnya ke kafe yang tak jauh dari tempat Dimas bekerja.
Sesampainya di sana, mereka segera turun dan masuk ke dalam kafe.
"Kamu ngapain di kantor Dimas?" tanya Andi.
"Aku tadi bawain Dimas makan siang," jawab Anita.
"Kenapa kamu bawain dia makan siang? kalau Dini tau dia bisa cemburu loh Nit."
"Aku nggak ada niat apa apa kok, kamu kan tau aku kursus memasak, jadi aku cobain resep baru dan aku kasih ke Dimas, kan nggak mungkin aku sendiri yang nilai masakanku," ucap Anita berasalan.
"Tapi kenapa harus Dimas?"
"Cuma Dimas yang aku kenal di sini, mbak Dewi lagi sibuk di rumah sakit soalnya," jawab Anita.
"Aku tau maksud kamu baik, tapi kamu juga harus pikirin Dini Nit, dia bisa salah paham sama kamu dan akhirnya kalian akan berantem lagi!"
"Apa itu kesalahan ku kalau Dini salah paham sama aku? kan dia yang berpikiran buruk tentang aku!"
"Nggak ada yang salah dan benar Nit, tapi ada baiknya kamu cegah hal hal yang bisa bikin salah paham!"
Anita hanya diam tidak menjawab sepatah katapun.
"Apa kamu marah sama aku?" tanya Andi pada Anita yang tampak kesal padanya.
Anita hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.
"Aku ke sini mau ketemu Nit, senyum doang!"
Anita tersenyum tipis lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Gitu kan cantik!" ucap Andi.
"Awas jatuh cinta ya!" balas Anita.
Andi hanya tertawa kecil mendengar ucapan Anita.
"aku beruntung banget punya kamu Ndi, cuma kamu yang bisa mengerti keadaan ku, cuma kamu yang bisa hibur aku saat aku lagi sedih, kamu baik, sangat baik, andai aku bisa jatuh cinta sama kamu, mungkin aku nggak akan sesakit ini walaupun aku tau cinta kamu cuma buat Dini," batin Anita dalam hati.
"Nit, apa kamu tau di dunia ini ada hal yang lebih indah dari cinta?"
"Emang ada?"
"Ada, happiness, kebahagiaan jauh lebih indah dari cinta, karena nggak semua orang bisa beruntung mendapatkan cinta yang mereka impikan, tapi mereka akan sangat beruntung jika mereka punya kebahagiaan dalam diri mereka," ucap Andi menjelaskan.
"Dan hal yang bikin aku bahagia adalah cinta," ucap Anita.
"Kamu yakin?" tanya Andi.
"Iya, kita akan bahagia kalau kita bisa bersama orang yang kita cintai, bener kan?"
"Iya kamu bener, itu adalah salah satu orang yang beruntung dengan cintanya, tapi buat mereka yang kurang beruntung kayak aku, kebahagiaan itu adalah hal terindah, aku nggak beruntung sama kisah cintaku, tapi aku beruntung karena aku punya kebahagiaan dalam diri ku, rasa bahagia yang bikin aku nggak berharap apa apa lagi sama cinta ku, rasa bahagia karena lihat orang yang aku cintai bahagia, itu udah lebih dari cukup buat aku," jawab Andi panjang.
"Tapi nggak semua orang bisa menemukan kebahagiaan mereka Ndi, termasuk aku!" ucap Anita sendu.
Andi lalu menyentuh tangan Anita di atas meja dan menggenggamnya.
"Cari kebahagiaan kamu sendiri Nit, aku yakin kamu akan bahagia tanpa Dimas, selama ini kamu terlalu terpaku sama Dimas yang tanpa sadar itu bikin kamu menutup mata sama dunia luar yang jauh lebih indah," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Anita.
Untuk sesaat Anita hanya diam menatap laki laki di hadapannya. ia tau bagiamana Andi sangat mencintai Dini sampai ia merelakan Dini bersama Dimas demi kebahagiaan Dini.
Namun Anita bukanlah Andi, kegigihannya untuk mendapatkan Dimas tidak pernah runtuh bahkan sekuat apapun Dimas menolaknya.
Namun dalam hati kecilnya, ia juga ingin bahagia, ia lelah dengan semua kepalsuan nya selama ini.
"Aku nggak bisa seperti kamu Ndi," ucap Anita sambil menarik tangannya dari genggaman Andi, namun Andi menahannya dan menggenggamnya dengan kuat.
"Kamu bisa Nit, biarkan Dimas bahagia sama pilihannya dan kamu juga harus bahagia dengan jalan yang lain, aku yakin kamu pasti bisa," ucap Andi meyakinkan.
__ADS_1
"Jalan yang lain? kamu?" balas Anita dengan menatap ke dalam mata Andi.